
"Yohan awas."Yohan membungkuk kan badannya reflek Shett......sebuah balok kayu yang di ayunkan melewati atas tubuh Yohan dengan mulus dan baik sampai menerbangkan sedikit surai rambut Yohan.
Nana yang memegang sepeda Yohan pun hanya terdiam terpaku. Di tempat nya berdiri.
"Woy."Vano yang melihat hendak mengejar pelaku yang mengendarai motor.
"Jangan Vano."Larang Yohan yang sudah berdiri dengan baik kembali,"Biarkan pergi, mungkin orang tadi salah sasaran."Ucap ku enteng berlalu mendekati Nana yang masih terpaku di tempat nya.
Mengambil alih memegang sepeda,"Thanks sudah jaga sepeda gue."Ucap ku,"Lu pulang sendiri?".
"Gue nebeng motor Rara."Ucap Nana berpaling ke arah Rara berada,"Lu ben....".Memotong ucapan Nana aku berkata,"Gue duluan, gue sudah dapat bukunya tadi."Aku berlalu mengayunkan medal sepeda ku menjauh dari area sekolahan.
Sebelum kejadian tadi aku memang harus kembali masuk ke dalam sekolah lagi untuk mengambil buku ku yang tertinggal di dalam kelas.
Next....
"Na ayo keburu sore gue sampai rumah."Panggil Rara membuyarkan lamunan Nana.
"Eh, iya."Nana berlalu mendekati motor Rara dan duduk di bonceng motor nya.
"Gue ada janji sama Abang gue."Ucap Rara yang mulai menyalahkan mesin motor nya.
"Janji apaan?Tidak biasanya Abang lu buat janji-janji segalak. Banyak drama".
Rara yang sudah fokus menyetir motor,"Tau makanya ini gue pingin cepat-cepat pulang. Penasaran anjing."
Next....
Aku yang fokus menyetir sepada angin ku,"CK pegerakan senekat itu akan memberikan peluang lebih besar untuk ku segera mengakhiri nya."Batinku memikirkan kejadian tadi yang menurut ku semakin menantang untuk ku lanjutkan.
Sampai di kediaman rumah aku langsung di sambut oleh Ian yang sudah berdiri tepat di depan pintu. Aku yang terkejut membuat kerutan kecil di kening ku.
"O'on. Lu lihat, tadi lu hampir mati."Ucap Ian yang sudah mengetahui kejadian yang baru saja terjadi entah mendapatkan informasi dari siapa dia.
"Hmm."Aku hanya berdehem ringan sebelum akhirnya berlalu masuk ke dalam rumah.
"Gue baru saja mendapatkan kabar jika ada seseorang yang ingin menemui lu di Villa."Kata Ian.
"Tidak penting bunuh saja."Ucap ku tanpa menghentikan langkah kaki ku.
"Dia Dani."
Menghentikan langkah kaki ku,"Dia sudah tau tentang aku?".
"Belum. Dia hanya mengenal nama julukan lu."
"Siapkan mobil kita ke sana."
"Apakah kau tidak curiga dengan anak itu. Dia menghilangkan tiga hari dari sekolah dan tidak ada yang mengetahui kabarnya."
"Hmm."Aku yang terlalu tenang memainkan peran ku pun melanjutkan perjalanan untuk pergi ke lantai atas kamar ku.
"CK crazy."Ian menyungging senyum miring menatap kepergian Yohan.
Next......
Sampai di depan Villa,"Lu keluar lah duluan gue akan menyusul."
Faham akan maksud ku Ian membalas dengan anggukan ringan dan beranjak turun dari dalam mobil lebih dulu. Juga berlalu masuk ke dalam Villa lebih dulu meninggalkan aku yang baru akan beranjak turun dari dalam mobil.
"Apa masih lama?Di mana Tuan Drak?".
Geram dengan sikap Dani yang sejak awal datang,"Kau adalah tamu tapi sikap mu melebihi batasan sebagai seorang tamu."Ucap Haris.
"Belum ada perintah untuk membunuhnya?Tangan ku sangat gatal."Saut Rohman.
Sementara Lucky sudah tidak bisa di ganggu, karena ia tengah mati-matian duduk tenang untuk menjaga attitude nya tetap terjaga dengan baik. Walaupun tangan sudah mengepal kuat serasa ingin mengakhiri penderitaan tamu ini.
Baik Rohman, Lucky, Haris beranjak dari tempat duduknya memberikan hormat menyambut kedatangan Ian.
Ian duduk di samping Sova tunggal samping Sova tunggal kebesaran Yohan.
"Punya urusan apa kau mencari Tuan Drak?".Tanya Ian pada Dani.
"Kau Tuan Drak itu?".Dani yang terfokus pada lawan bicara.
Tidak mendapatkan balasan dari Ian lantas Dani melanjutkan tujuan sampai sejauh ini,"Aku ingin mengetahui informasi tentang residivis penjual barang haram terbesar yang selama beberapa bulan ini banyak membuat kekacauan di kota ini."
"Aku datang ke sini karena aku tau kau lebih banyak mengetahui tentang keberadaan nya dapat pihak berwajib."
"Apa yang tujuan mu jika sudah mengetahui keberadaan nya?".Saut nada suara lain yang baru memasuki ruangan ini.
"Yohan."Ujar pelan Dani melihat kedatangan Yohan dengan penampilan yang jauh berbeda di sekolah.
Apakah tujuan Dani datang menemui Tuan Drak?Dan kemana ia sampai tidak masuk sekolah tanpa surat keterangan apapun.
Aku masuk ke dalam ruangan untuk memastikan secara langsung keadaan di dalam. Itu pun setelah aku mendapatkan informasi lain dari anak buah ku yang lain. Aku menunda waktu juga hanya untuk menunggu informasi ini.
Dani yang terfokus pada ku,"Aku ingin membunuh residivis itu, menginjak kepala."Kedua sepasang mata yang memerah berkaca-kaca seakan-akan ada kesedihan luar biasa yang tengah ia sembunyikan.
"Jika itu mau mu, datanglah besok ke sini. Aku akan mengatakan semuanya besok".Ucap Ku,"Pastikan tidak ada yang mengetahui tentang pertemuan kau dan aku."
"Sampai mereka mengetahui identitas ku dan Ian, akan ku pastikan kepala mu yang akan ku injak."Manik mata tajam hasrat yang misterius tersorot tajam pada Dani yang terpaku diam di tempat nya.
Yang mendapatkan tatapan itu mengangguk ringan menyetujui semua perkataan ku.
"Ian ikut aku."Suruh ajak ku pada Ian. Aku berlalu pergi dari sana. Yang di ikuti oleh Ian.
Next.....
"Dani."Panggil Ian memanggil nama Dani.
Dani yang hendak pergi sama seperti yang lain yang sudah pergi pun menghentikan langkah kaki nya. Ia berpaling ke arah sumber suara.
"Bisa bicara sebentar?".
"Iya."
"Ibu mu masih hidup. Akan tetapi ayah dan adik mu tidak."
"Kau tau soal ibu ku?".Dani yang semakin tertarik ke dalam pembicaraan ini.
"Iya."Balas Ian,"Akan tetapi hanya ibu mu yang masih hidup."
Tertunduk kedua tangan yang mengepal kuat,"Iya aku sudah tau soal itu."
"Aku adalah pengecut yang gagal melindungi keluarga ku."Ucapnya,"CK, pengecut....Rasa sakit ku akan merasa tenang jika aku berhasil membunuh residivis itu dengan tangan ku sendiri. Membawa ibu ku kembali. Aku ingin arwah adik ku dan ayah ku pergi dengan tenang."
Ian tertawa kecil,"Jih.... Permainan dunia ini lebih asik dari pada permainan game online yang biasa kita mainkan. Benar bukan?".
"Iya, CK."
"Masuklah sekolah besok, teman-teman mu pada mencari."
"Mereka iya."Dani yang tertawa renyah hanya dengan mendengarkan perkataan itu.
Next....
Selepas kepergian Dani. Aku keluar menghampiri Ian yang masih berdiri di depan pintu keluar Villa.
Ian yang ternyata menyadari kehadiran ku sejak tadi berkata,"Ada api dendam menyalah dalam dirinya."
"Ayo pergi."Aku yang berlalu pergi meninggalkan Ian mengabaikan perkataan itu.