
"Wew!!Baji***ngan".Mencengkeram kuat kerah pakaian Zoa. Ia yang tertidur langsung terbangun karena tubuhnya yang tiba-tiba terangkat paksa.
Masih dengan mencengkeram kerah kemeja Zoa,"Baji***ngan masih baru sudah mencari gara-gara".Slapp....Zoa menahan tinjuan itu dengan tangan kanan nya. Mencengkram kuat pergelangan tangan pemuda di depannya.
Pemuda ini langsung berkeringat dingin seketika karena menahan rasa sakit luar biasa di pergelangan tangannya. Bahkan tangan nya yang mencengkeram kemeja Zoa, kini berganti berusaha melepaskan genggaman kuat tangan Zoa.
"Berisik bodoh!!".Tangan lain Zoa yang bergerak hendak menunju perut pemuda ini. Slemm.....tapp....Syukurlah Ichi kembali dari toilet tepat pada waktunya. Sehingga ia bisa menahan serangan kakak nya.
Mendapatkan tatapan tajam elang sang kakak. Ichi justru membalas tatapan itu dengan senyuman hangat nya,"Cukup bang, kau mau kita di keluar di hari pertama sekolah. Ingat bang kedua orang tua kita sudah lelah memindah balik kan kita yang terus saja di keluar sekolahan lebih dulu".Basa basi Ichi pembuatan dialog palsu yang handal.
Melonggar genggaman tangan nya,"Suruh dia untuk tidak menganggu ku".Zoa yang kembali duduk dengan baik untuk menyambung tidurnya yang tertunda.
Menepuk bahu pemuda ini, atau Fuji,"Hey bro kau tidak tuli kan, jadi tidak perlu repot-repot aku mengulangi nya lagi.....Kali ini ku selamat karena ada aku, coba tadi tidak ada aku. Watashi wa anata ga shinde iru to kakushin shite imasu".
Next terjemahan(aku yakin kau sudah mati)
"Dah sekarang lebih baik kau antar aku ke kantin. Aku sangat lapar".Ichi merangkul bahu Fuji untuk ia ajak pergi ke kantin sekolah ini.
Menyadari atensi mata yang masih tertuju pada sang kakak yang tertidur,"Jangan melihat seperti itu jika kalian masih ingin memperpanjang umur".Basa basi Ichi yang tetap geladak Fuji untuk mengikuti langkah kakinya.
+++++
"Sialan banyak sekali pekerjaan kantor".Ucap Ian yang duduk tenang di depan sekotak flashdisk berisikan dokumen-dokumen pekerjaan yang harus ia periksa.
"Tadi malam aku minum banyak sekali. Gila efek kepala pening ku mulai terasa".Memijat-mijat berlahan-lahan pelipis kepala nya.
"Manja".Aku yang baru saja datang ke meja kerja Ian,"Lain kali kalau tidak kuat jangan minum, merepotkan".
"Lagian ada kau yang tidak mungkin menelantarkan diriku".
"Ide bagus, jika terulang lagi aku akan melakukan hal semacam itu".Savage ku,"Berikan aku rekap data yang kemarin".
Menyodorkan flashdisk,"Nihh cepat pergi kau. Sepupu sialan tidak buat aku makin baik, malah makin stress otak ku".Ngedumel kesal Ian.
Di ruangan ku, aku langsung menghubungi seseorang di seberang sana yang ingin aku temui nanti malam. Sembaring aku menunggu informasi dari Kazuo dan Kenichi.
++++++
Fokus menyantap makanan nya,"Ingat dengan Haruno".Ichi yang duduk satu meja berhadap-hadapan dengan Fuji. Pemuda rambut botak dengan ukiran goresan di samping kanan kepalanya.
Fuji langsung terfokus menatap Ichi dengan tatapan manik mata yang membulat sempurna.
"Hey tidak perlu syok seperti itu, aku hanya tanya tentang keberadaan nya saja".
Menundukkan kepalanya berbicara dengan nada suara pelan,"Dia sudah mati bunuh diri".
Sedikit condor ke depan untuk ikut berbisik-bisik,"Karena apa?".
"Koban bullying bang Yuken".
"Yuken siapa?".
"Hadeh apa kau benar-benar tidak tau. Dia sangat terkenal akhir-akhir ini".
Menguyah daging di mulutnya,"Aku anak rumahan yang baik hati, jadi tidak tau apapun".
"Shitt....".
"Ayolah cerita".
"Banyak yang bilang dia putra tunggal Tuan Kasano. Pria yang di penjara seumur hidup karena membantai satu keluarga Yakuza yang telah membunuh ibu dan adik perempuan nya,"Cerita Fuji bernada pelan pada Ichi.
"Wuh..keren juga ayah nya berani membantai keluarga Yakuza".
"Aku dengar-dengar bang Yuken dulunya korban bullying juga...Tapi sekarang jangan kan bullying dia, ketemu dia saja langsung mati. Sulit banget deketin dia atau masuk ke dalam gengnya".
"Satu lagi, menurut informasi yang aku dengar. Sebenarnya bukan Bang Yuken yang sering bullying anak-anak itu".
Semakin fokus dengan inti pembicaraan,"Tapi Bang Daji....Belum pernah ada yang lihat bagaimana wujudnya, yang jelas semua yang terjadi atas kemauan nya".
"Jadi ketua geng manusia kertas tanpa kepala itu Da...",Fuji bergerak cepat membungkam mulut ku. Akan tetapi tidak dengan atensi-atensi mata yang sudah terfokus pada ku dan Fuji.
Tersenyum canggung,"Maaf, maaf, yang mau dia sebut adalah dai icha icha makanya langsung aku sumpel. Gomen, gomen".
"Hey kau mau ku bunuh tidak mau melepaskan ini".Ichi yang mulutnya masih di bekap dengan telapak tangan Fuji.
Fuji langsung meleyakan tangannya,"Gomen, gomen, lain kali tolong jangan bicara sembarangan, gomen".
"Iya".Beranjak dari tempat duduknya. Aku berlalu pergi dari sana meninggalkan Fuji seorang diri.
"Tunggu kau mau kemana?".Tidak mendapatkan balasan, lantas Fuji berlari menyusul Ichi yang sudah berjalan jauh.
+++++
"Mau kemana Yohan malam-malam".Batin Ian yang baru saja keluar dari ruang dapur. Lantas ia bergegas berlalu pergi menyusul Yohan diam-diam. Sampai mengikuti mobil Yohan pun Ian lakukan. Karena terlalu penasaran sementara sepupunya itu tidak pernah bercerita apapun beberapa hari ini.
Mungkin Ian takut jika Yohan melakukan sesuatu di luar nalar, di kala Yohan adalah seorang miliarder yang dapat berbuat semaunya seenaknya.
Next....
Mobil Bugatti hitam Yohan masuk ke dalam parkiran mobil umum. Sementara Ian masih menunggu di luar gedung parkiran mobil.
Sampai akhir Ian memutuskan untuk masuk ke dalam di kala target nya tidak kunjung keluar. Di dalam gedung parkiran. Ian melihat mobil Bugatti hitam Yohan sudah terparkir dengan baik tanpa penumpang.
Lantas ia yang sudah beranjak dari dalam mobil pun melihat sekeliling yang tidak ada aktivitas apapun selain deretan mobil yang terparkir rapi. Hingga saat Ian balik badan Ceklak..... Seseorang pria sudah menyodorkan senjata api tepat di pelipis kepala nya,"Sedang mencari siapa?".
"Lepaskan dia".Aku yang baru keluar dari tempat persembunyian ku.
"Dia orang yang mengikuti mu".
"Dia sepupu ku".
"Sepupu?".
"Aku sepupu nya, Ian".
Melepaskan gerakan mengancamnya,"Sumimasen, Tuan,"Mengambil langkah mudur sedikit menjauh dari Ian.
"Kau kenapa kemarin?".
"Target terakhir ku ada di negara kelahirannya".
"Dia!?".
"Hmm".
"CK kenapa tidak memberitahu ku.....Yasudahlah sudah sampai mana?".Ian yang tau betul percuma marah-marah dengan sepupunya ini.
"Masih mengumpulkan informasi".
"Terus dia?".
Membungkuk memberi hormat,"Aku Dino, detektif rahasia yang bekerja mengamankan penjahat terkemuka, dan penjaga penjara kelas D".
Kelas D, sebuah penjara tempat penjahat kelas kakap berkumpul.
"Umm...apa urusan kau sama dia?".Ian yang sudah terfokus pada lawan bicara.
"Dia mata-mata dalam keamanan negara ku".
"Hemm....Terus kalian mau bahas apa kesini tengah malam".
"Nanti ku jelaskan di rumah,"Terfokus pada Dino,"Kau bisa pergi Dino".
Membungkuk memberi hormat sekilas,"Iya, tuan. Permisi".Dino yang langsung lenyap di balik kegelapan malam.
Atensi mata yang sudah terfokus pada ku,"Kau berhutang banyak penjelasan".
"Lebih baik kita segera pergi sebelum ada yang melihat keberadaan kita. Karena sepuluh menit lagi CCTV nya akan aktif normal kembali".Aku yang berlalu lebih dulu masuk ke dalam mobil Bugatti hitam ku.
Melakukan pertemuan kecil diam-diam saja. Aku sampai melakukan hacker CCTV gedung ini. Agar keamanan pertemuan kecil ku terjamin dengan aman. Tanpa ada seorang pun yang mengetahui nya.
++++