
Berdiri di samping meja makan kedai pinggir jalan,"Hai Yohan",sapa sesosok perempuan anggun dengan dress pink yang di kenakan."Boleh ikut gabung?".Perempuan ini berganti bertanya.
"Iya".Sikap dingin ku menangapi.
Gilenova Askarla, atau Nova. Perempuan berdarah Jepang Rusia. Cantik, dan kepintaran nya sudah tidak ragukan lagi. Karena ia satu angkatan dengan sekolah elit Yohan dulu.
Kini kedua duduk bersama, berhadap-hadapan dalam satu meja. Untuk menikmati menu makan siang.
"Kerja di mana sekarang?Sejak lulus kau sudah terlihat lagi".Nova basa basi untuk menghilangkan keheningan antar keduanya. Karena Yohan sendiri terlihat tidak memiliki minat basa basi dengan Nova. Walau perempuan di hadapan setara bidadari sekalipun.
"Kemana Han?".Tanya Nova kembali.
Tanpa berpaling melihat lawan bicara,"Kerja".
"Hemm....kamu masih marah sama aku?".Satu pertanyaan yang membuat Yohan mendongak mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?".Aku berbalik bertanya pada Nova.
Menatap pria di depannya,"Kamu lupa soal hubungan kita?".
"Hubungan apa kita cuma teman tidak lebih. Soal waktu itu kamu berduaan dengan pria lain di depan ku. Aku seneng, akhirnya sahabat ku sudah memiliki sosok laki-laki yang bisa menjaganya".Kata ku dengan tenang dan santai karena memang faktanya aku tidak pernah menyimpan rasa pada Nova lebih dari sahabat.
Beranjak dari tempat duduknya,"Aku harap ku tidak salah faham".Aku sebelum berlalu pergi meninggalkan Nova setelah selesai makan siang. Untuk kembali ke kantor lagi melanjutkan pekerjaan ku.
++++++
Malam harinya. Aku mengemudi dengan kecepatan sedang di jalanan setapak yang tidak terlalu ramai di malam hari menjelang tengah malam.
Sampai getaran di ponsel nya membuat ku tanpa menghentikan laju mobil ku. Menyambungkan nya saat selesai menekan tombol di bawa kemudian mobil. Yang langsung menyambungkan dirinya dengan nada sambung telfon dalam ponsel nya.
*Kami sudah depan informasi nya bos".
*Iya tunggu, aku sudah dalam perjalanan pulang".
+++++++
Setelah mendengarkan semua penjelasan Messi dan melihat buktinya di Neymar. Aku mulai mengambil alih pembicaraan saat setelah selesai berpikir sejenak. Beralih melihat foto seseorang di dalam layar komputer Neymar.
Sedikit bingung juga harus bagaimana selanjutnya. Itulah yang saat ini ada di dalam pikiran Yohan. Sampai akhir Yohan memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana tanpa perduli siapa seseorang dalam foto itu.
Melihat bergantian kedua orang kepercayaan nya,"Tetap pada rencana".
"Bos serius dia kan..",memotong ucapan Neymar."Jangan libatkan urusan pribadi dengan urusan ini. Aku tidak perduli siapa dia, karena dia anak bang**sat itu maka dia juga musuh ku".
Messi dan Neymar terdiam mendengar nada bicara bos nya yang tidak bisa di bantah.
+++++++
+++++++++++
Dua hari telah berlalu. Pertemuan di malam itu tidak membuat Yohan untuk menghentikan niatannya. Untuk berhenti membalaskan dendam keluarga yang di hancurkan. Membuat nya kehilangan semuanya selama belasan tahun tanpa kehadiran mereka orang-orang kesayangan Yohan.
Pagi-pagi sekali aku sudah mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang melewati jalanan beraspal ini sendirian. Seperti hari-hari biasanya untuk pergi ke kantor.
Sampai tiba-tiba seseorang menelfon ku. Ia menekan tombol menyambungkan tanpa mengehentikan laju mobil nya.
*Bos bunga kesukaan nya apa?Aku lupa".Tanya seseorang pria pada ku di seberang sini.
*Krisna kuning".
*Thanks bos".
Panggil di akhir sepihak oleh seseorang pria di seberang sana.