
Selasa
9, Mei 2045
Musim di dingin telah berlalu. Berganti dengan musim semi yang menyejukkan. Suasana yang indah di tanggal muda, 9 Mei.
Pesawat ku sudah sampai di Australia sejak kemarin. Aku yang sudah sampai sejak kemarin, banyak menghabiskan waktu beraktivitas normal seperti biasa orang lain mengisi waktu liburan ke luar negeri.
Sejak kemarin, aku menyetop semua akses. Aku menghentikan semua pekerjaan. Lebih tepatnya aku mengabaikan semua pekerjaan ku. Sepupu ku Ian sangat marah pada ku hari ini. Di kala apa yang aku lakukan akan membuat perusahaan mengalami penurunan saham dan kerugian puluhan miliar.
Karena sudah menunda mengabaikan semuanya. Aku jadi banyak waktu seharian untuk hidup tenang berjalan-jalan di museum seni. Namun seketika semuanya hancur karena kehadiran Ian perusahaan pemandangan ku.
Di bawah lobi museum seni ini lah. Disinilah aku dan Ian saling beradu argumen.
Menjulurkan tangannya kesal,"Hey, hey Narendra".Nada sura marah nya mencoba menghentikan langkah kaki ku yang hendak keluar dari lobi kantor.
Atensi pada pengunjung museum langsung tertuju pada ku dan Ian. CK, suasana di museum juga sangat ramai di hari ini. Merepotkan!!
"Jangan pura-pura mengabaikan ku, idi**ot!!".
Aku langsung terdiam berbalik pada melihat sang sumber suara.
"Apa??Marah kau!!".Nada suara yang masih tinggi,"Tidak bertanggung jawab!!Bodoh!!Di jadikan CEO. Hancur sudah semuanya!! Seharusnya aku yang menjadi CEO bukan kau, si bodoh".
"Aku kesana kemarin ngurus perusahaan kayak orang gila. Dan kau cuma duduk santai seperti orang bodoh tidak berguna. Murahan pengangguran!!".
Bakk....Tinjuan kuat mendarat tepat di wajah Ian. Membuat tubuh sedikit terhuyat.
Tubuh nya sedikit membungkuk menahan sakit. Ian pun beranjak berdiri dengan baik kembali, tanpa memperdulikan merah pekat yang keluar dari dalam hidung nya.
Menjinjing sebelas alisnya,"Cukup membuktikan!!".Tersenyum miring,"Menghajar mu di sini tidak akan memberikan ku apapun. Dengan itu, aku ganti dengan merebut semua saham mu. Akan ku pastikan semuanya menjadi milik ku, miliarder be***go!!".Bentak Ian sebelum berlalu pergi dengan ekspresi kesal dan amarah yang masih membara.
"Jih!!".Aku tersenyum miring sebelah akhirnya berlalu pergi dari tempat ini.
++++
"Butuh bantuan Tuan?".Tanya seorang pria yang sudah berdiri tepat di samping Ian berdiri menyadarkan tubuhnya dengan memperhatikan lalu lalang pejalan kaki.
Ian mengabaikan kehadiran pria ini. Ia langsung beranjak pergi dari sana. Sementara pria ini tetap mengikuti langkah Ian pergi.
"Perkelahian kecil tadi cukup menarik perhatian ku".
"Aku bisa membantu mu mendapatkan saham pria tadi atau teman mu dengan hitungan detik".
"Jika pun kau mau?".Menghentikan langkah kakinya, bersamaan dengan Ian yang sudah terfokus padanya dengan tatapan dingin.
"Tidak ada minat untuk membagi-bagikan hasil kerja keras ku pada otak murahan seperti mu".Savage Ian sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Meninggalkan pria yang terdiam terpaku,"Dalam hitungan menit dari sekarang aku pastikan kau akan mencari ku kembali".Ucap pria ini menatap kepergian Ian.
++++
Menjelang malam hari. Dengan beberapa koper dan tas ransel yang ia bawa. Ian di sibukkan membuka pintu kamar hotel yang akan ia tempati mulai dari sekarang dengan amarah yang membara-bara.
Masukkan kartu kamar dengan kasar dan menekan-nekan tombol password dengan kasar,"Akan ku bunuh kau, akan ku bunuh kau. CK sepupu Sialannnn!!!!Beraninya dia mengusir ku!!!".Gumam Ian memaki-maki.
"Sorry, excuse me".Ucap suara yang membuat Ian menghentikan kegiatan marah-marah yang ia lampiaskan pada gagang pintu yang tidak kunjung bisa di buka-buka.
Melirik ke nomer kamar yang ada di depan pintu,"This is my room".Ucap pria ini,"Oh my god. Kau orang yang tadi. Suatu kebetulan. Seper....".Ian berlalu dari sana berganti ke kamar sebelah yang ternyata ini nomer kamarnya.
Ian bergegas memasukkan password kamarnya, dan lekas masuk ke dalam kamar. Mengabaikan pria tadi yang masih mencoba untuk berbicara dengan nya.
Berhasil menutup pintu kamar kembali,"CK sialan!".Umpatnya bergegas berlalu lebih ke dalam kamar hotel miliknya.
++++
Percakapan dalam sambutan telefon jarak jauh.
*Hallo, Dad".
*Aku memiliki mangsa yang sangat menarik. Sepertinya ini akan menjadi mangsa terakhir ku".
*Kenapa begitu? Bukankah sulit untuk kita jauh dari uang".
*CK, Dad. Terget ku ini seorang miliarder dengan puluhan triliun saham. Dan itu semua lebaran kertas Dollar Daddy".
*Wuw!!jika begitu maka akan besar resikonya".
*Jangan remehkan putra mu Dad, ku tepis semua hambatan dengan sekali ketikan dan bumbu pemanis."
*Munafik".
*Sudah dulu, good night Daddy".
++++
Malam harinya. Atau lebih tepatnya tengah malam. Aku keluar dengan pakaian tertutup. Kupluk jaket orange, masker hitam, dan topi putih. Yang menutupi identitas wajah ku.
Aku berjalan cepat menyusuri jalanan setapak pejalan kaki. Langkah kaki jengkal panjang ku berlahan-lahan melambat. Aku berteduh di bawah pohon mapel yang dedaunan nya baru bersemi rindang. Di bawah cahaya lampu jalanan setapak.
"Sesuai rencana".Ucap sesosok di balik sisi kegelapan pohon ini.
"Bagus".
"Kau yakin akan melakukan".
"Hemm".Balas ku berdehem,"Lekas kembali ada yang mengawasi".Ucap ku berlalu melanjutkan perjalanan. Begitu juga dengan sosok di balik kegelapan.
"CK sial".Ucap seorang pria yang benar ada tengah mengawasi pergerakan ku.
+++
Sejak kejadian di malam itu. Aku bekerja jauh lebih hati-hati. Di ruangan rahasia markas besar ku yang sudah di lengkapi dengan peralatan canggih yang aku butuhkan.
"Bagaimana Nona Nella, sudah dapatkan jaringan nya?".Tanya ku pada Nona Antonella atau Nona Nella.
Cantik dan genius komputer jaringan,"Sudah".
"Mereka sedang mengerjakan projek membuat mesin waktu yang dapat melihat masa depan".
"Sayangnya saya belum bisa mengambil alih semua jaringan karena sistem password sangat lah kuat. Kesalahan kecil saja alarm sensor pelacak dapat mengetahui keberadaan tuan. Hanya dengan hitungan detik Tuan akan tertangkap oleh mereka".
"Sudah sejauh mana prosesnya. Apakah kau dapat melihat nya?".Tanya ku fokus pada layar besar komputer.
"Hanya sebagai, kesimpulan ku sudah 70persen".
Hening menemani ruangan ini. Yang hanya ada aku dan Nella di dalam sini. Aku yang terdiam loading mengelola isi kotak ku. Untuk mencari jalan tercepat menghancurkan projek musuh. Kurang lebih untuk mengacak-acak file yang berisikan rancangan projek.
Sedikit membungkuk badan menyamakan tinggi komputer kecil. Jari-jari mulai bergerak mengambil alih memainkan mos juga keyboard,"Biar aku ambil alih".Aku terfokus pada pegerakan data di layar komputer yang bergerak dengan cepat mencari file data nama pendek yang ku cari.
Sesaat kemudian. Setelah beberapa menit menunggu memperhatikan ku yang bergulung dengan file-file pendek judul akun di layar komputer. Juga beberapa password sadap untuk mencari cara mengambil rancangan file musuh tanpa di ketahui jika di rusak ataupun di ambil yang asli.
"Wahh!!Anda genius sekali".Melihat datar target yang berhasil di bobol tanpa di ketahui pemilik untuk menganti rangkaian desain pembuatan mesin,"Saya sangat kesulitan sejak tadi, bahkan lima gelas kopi saya habiskan,akan tetapi saya tetap tidak bisa".
Ekspresi wajah datar seperti biasa yang aku tunjukkan,"Acak-acakan rancangan ini, lalu segera simpan kembali ke data semulanya. Simpan data aslinya di file kita, lalu hapus yang ada di sana".
"Selesainya kau bisa langsung kembali tidak perlu mengatur apapun".
"Siap Tuan".Nona Nella yang kembali fokus mengambil alih ruangannya kembali.
Sementara aku bergegas berlalu pergi dari sana. Untuk menyelesaikan yang lain, karena walaupun hambatan pertama sudah berhasil ku selesai. Masih ada satu lagi hambatan lain. Yaitu putra sulung Moana yang ternyata ada di Kota G yang saat ini ku tempati.
Akan tetapi menurut informasi yang ku dapatkan dari orang terdalam ku. Putra sulung Moana, atau Adya Lucas Fernando, Lucas. Belum mengetahui keberadaan ku ada di Kota G. Seperti mereka berhasil menutup rapi biodata asli ku.