The Revengers

The Revengers
Eps.39



Dua hari setelah kejadian. Aktivitas ku kembali berjalan normal seperti biasa. Seperti tidak pernah terjadi apapun. Bahkan saat aku berpapasan dengan seseorang yang aku temui waktu itu pun. Kami berdua tidak saling menyapa. Kami bersikap asing satu sama lain. Itulah perjanjian nya.


Anggap saja kalian tidak pernah bertemu dengan ku. Saat urusan kalian sudah selesai dengan ku. Dengan sedikit ada bumbu ancaman nya.


++++


Suasana Kota juga berlahan-lahan membaik. Karena kedua geng mafia sudah tidak menunjukan pergerakan apapun. Keduanya tiba-tiba menghilangkan dalam semalam.


Benar!Malam itu telah banyak mengubah segala hal. Tidak terkecuali menghilangnya dua Geng Mafia dalam semalam. Bukan berarti tidak ada pergerakan lagi. Akan tetapi kedua geng kembali ke jalan awal. Bergerak dalam kegelapan, itulah cari kerja seorang mafia. Tanpa menunjukkan intensitas kedudukan besar secara terang-terangan.


Akan tetapi. Aku tetap membiarkan Herry bekerja bersama Bastian. Di kala Herry tidak memiliki urusan terdalam rencana ku. Dan seperti pak tua itu juga sangat nyaman dengan penjaga Herry. Itu juga menjadi salah satu alasan ku tidak memperhatikan Herry.


++++


Menjelang malam harinya. Aku yang sudah selesai dengan kesibukan di Kantor. Tengah dalam perjalanan pulang mengendarai mobil pribadi milik ku.


Shett.....Aku menginjak rem mobil mendadak. Tepat di depan seseorang yang saat ini tengah berdiri di tengah jalan menghalangi laju mobil ku.


Orang itu dengan santainya membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang samping ku mengemudi. Siapa lagi yang berani melakukannya kalau bukan Lin. Pria yang mulai menua ini terkadang membuat ku jengkel dengan perilaku kekanak-kanakan nya.


Aku yang kembali menghidupkan mesin mobil ku,"Bosan hidup kau".Ucap ku fokus mengemudi mobil.


"Pertanyaan macam apa itu!Aku memang sudah mati sejak awal. Mau mati atau hidup bagiku sama saja".Kata Lin yang terduduk tenang di dalam kursi penumpang mobil ku,"Bukankah perasaan seperti itu yang kau rasakan".Lanjutnya.


Aku yang tetap mengemudikan mobil ku,"Kenapa kau tidak menghabiskan waktu tua mu bersama kedua putra mu?Kau tidak sendirian, kau berbeda dengan ku".


"CK".Umpat ku singkat,"Menurut kau juga tidak sendirian".


"Mau kau anggap apa sepupu berisik mu itu. Dia selalu berteriak-teriak khawatir tidak jelas pada mu".


"Kedua orang tua nya juga menyayangi mu".


Masih fokus mengemudi. Aku tertawa renyah singkat,"Kau sedang membahas drama cinta keluarga. CK, menyedihkan sekali masa tua mu".


"Kau akan mengerti jika keluarga sangat lah berharga".Ucap Lin,"Turunkan aku disini. Aku akan pergi ke Australia lebih dulu,"Aku menghentikan laju mobil ku. Mempersilahkan Lin untuk beranjak turun dari dalam mobil ku,"Semoga sukses. Sampai berjumpa lagi".Lin yang beranjak keluar dari dalam mobil ku.


Aku hanya diam tidak membalas. Dan mobil ku mulai berlalu pergi melanjutkan perjalanan.


+++++


Selama tiga hari. Aku masih di New York untuk menyelesaikan pekerjaan ku. Sebelum akhirnya aku tinggalkan untuk urusan lain ke Australia.


Bersamaan dengan itu, kemarin aku baru saja mengirim Jerry mengunakan pesawat pribadi ku ke suatu tempat yang menurut ku sangat di butuhkan.


Dan tepat di hari ini. Aku telah selesai dengan urusan ku di New York. Aku sudah mempersiapkan penerbangan ku ke Australia. Urusan baik pekerjaan ataupun urusan lainnya telah ku selesaikan dengan rapi. Kini giliran ku untuk melanjutkan permainan di benua Australia.


Pesawat pribadi ku mendaratkan dengan baik di landasan bandara Australia. Aku yang sudah ada di sana bergegas naik ke dalam pesawat. Di dalam pesawat ku, di ruang VIP sudah ada Ian sepupu ku yang tengah tertidur pulas.


Aku berlalu pergi begitu sama melewati kursi nya. Untuk pergi ke ruangan lain pesawat. Aku memilih untuk mengistirahatkan tubuh ku di kasur empuk pesawat sembaring menunggu pesawat ku mendarat di bandara Australia. Mungkin tidur sebentar tidak akan membuat ku tidak bangun lagi, bukan!?.