
Aku menceritakan semuanya pada Ian selama aku menghilang beberapa kemarin. Ian yang mendengar kan cerita ku memiliki rencana matang untuk menangkap Moana.
Posisi ku saat ini membagi rencana dengan kedua rekanku. Selesai membagi tugas masing-masing dari kami. Aku, Ian, dan Dani bersiap bergerak ke tujuan kami.
Entah kenapa malam ini langit malam sangat cerah. Membuat pegerakan kami lebih leluasa.
Kami bertiga akan pergi ke markas besar Moana. Di danau Biru daerah F. Kami sampai di sana jam 11 malam. Tujuan kami datang jauh-jauh ke sana adalah membalas dendam pada Moana. Dan menyelamatkan anak-anak tidak bersalah yang di culik Moana.
Di tujuan ini lah kami bertiga langsung memisahkan diri untuk pergi ke posisi masing-masing.
Ian lewat pintu belakang. Ia melompati pagar dingin yang menjulang tinggi ini. Sementara aku dan Dani lewat dua pintu utama depan.
Keamanan rumah ini tidak terlalu ketat. Mungkin Moana menganggap diri ku benar-benar sudah mati di dalam jurang itu. Alhasil ia sangat lengah sekali mengatur keamanan.
Aku berhasil menyelundup masuk ke dalam dengan baik. Namun saat aku melihat situasi di sekeliling ku. Atensi mata ku tertuju pada Dani yang sudah menodongkan senjata pada Moana,"Tidak Dani."Ucap ku berlari secepat mungkin mendorong tubuh Dani bersamaan dengan ku. Untuk menyelamatkan Dani dari anak buah Moana yang siap meledak kepalanya.
Aku bangkit dari tempat ku jatuh dengan cepat. Memasang kuda untuk membalas tembakan. Tidak lupa tangan ku juga bergerak menyeret Dani untuk ikut bersama ku. Menjauh dari ruangan ini.
Aku dan Dani berhasil menghindar pergi dari sana. Moana mengangkat tangan memberikan aba-aba untuk tidak perlu mengejar,"Jangan!!Susun dulu rencana kali sebelum mengejarnya."Kata Moana tanpa sadar mengakui keberadaan berpengaruh diri ku.
+++
"Ingin balas dendam mu cepat terlaksana membuat mu akan mati lebih cepat."Kata ku pada Dani yang terduduk lesung di depan ku.
Tubuh sangat syok dan bergetar takut. Ia terduduk menyender pada dinding tiang ini.
"Pengecut."Ucap ku,"Pantas ayah dan adik mu mati."Srekk....Brekk.....Dani bangkit dari tempat duduknya dengan cepat. Ia mencengkeram erat kerah pakaian ku mendorong tubuh ku sampai membentur dinding di belakang ku.
Aku tatap dalam sepasang mata yang berkaca-kaca itu,"Mau pukul?".
Dani melonggarkan cengkraman nya. Ia tundukkan perhatian menjauh dari ku.
"Bersiaplah, waktu kita 45detik sebelum pihak berwajib datang."Kata ku mempersiapkan senjata lain untuk ku gunakan. Karena senjata ku yang tadi tertinggal.
Pegerakan kami mengejar waktu. Kami tidak ingin ikut urusan dengan pihak berwajib. Tujuan kami bukan menangkap akan tetapi membalas dendam.
Next....
Kami mulai bergerak kembali. Memantau situasi dan melumpuhkan beberapa penjaga tanpa ada yang mengetahui. Tidak heran kami juga langsung membunuh penjara yang melawan di tempat agar tidak sampai membuat keributan.
Ian sudah sampai di posisi nya sejak tadi. Ia hanya tinggal menunggu situasi aman untuk keluar dari persembunyiannya. Untuk menyelamatkan para anak-anak yang di culik.
"CK lama sekali mereka. Jangan-jangan mereka tertangkap. Ahh tidak mungkin kalau tertangkap. Sepupu iblis kayak dia mana mungkin bisa di tangkap."Gumam Dani memantau situasi dari tempat persembunyian nya.
+++
"Nana mama boleh masuk?".Alyah yang masih berdiri di luar kamar putrinya yang tertutup.
Tidak mendapatkan balasan dari putri. Lantas Alyah langsung saja menerobos masuk ke dalam kamar putrinya. Tanpa seizin putrinya.
Melihat putri yang sudah tertidur menutupi hampir seluruh tubuh dengan selimut. Tidak membuat Alyah mengurungkan niatnya untuk mendekat putrinya.
Alyah duduk di samping tempat tidur putrinya,"Nana kenapa?Coba cerita sama mama?Mama tidak akan marah dengan apapun cerita kamu. Mama adalah sahabat kamu, pendengar terbaik kamu?".
Belum ada balasan dari putri yang tidur membelakangi dirinya. Tangan Alyah bergerak mengelus lembut surai rambut putrinya,"Nana. Mama tau kamu belum tidur. Ayo berbalik mama mau lihat putri mama dulu kalau lagi marah sama abang-abang dan ayah nya gimana."Goda Alyah membujuk putrinya. Mengikuti naluri hati yang mengatakan hal lain tentang keadaan putrinya saat ini.
Tiba-tiba bangun dan langsung memeluk erat mama nya. Nana menyembunyikan wajah bengkaknya di balik pelukan itu.
Namun naluri Alyah sebagian seorang mama sudah menyadari nya, ia mengelus punggung putrinya lembut yang teriak menangis,"Keluar saja semuanya. Ceritanya nanti saja, mama akan tetapi di sini menemani Nana."
+++
Tidak jauh berbeda dengan Dani, di tambah dengan beberapa luka memar di wajahnya.
Berhasil menuntaskan yang di sini,"Ikut aku."Ucap ku berlalu pergi lebih dulu dari sana memimpin jalan.
"Berhenti di tempat mu, Tuan Drak."Ucap lantang seorang pria pada
Baik langkah ku ataupun Dani terhenti di pertengahan jalan. Aku melihat sekeliling ku yang sudah di penuhi para pria bersenjata yang menyodorkan senjatanya pada ku dan Dani.
"Menyerah lah Tuan Yohan peluru-peluru laras panjang itu siap meledak kapala mu, kapan pun aku ingin kan."Kata Moana pada ku.
Dani bersiap menyerang, aku cekatan mengehentikan pergerakannya. Berhenti pegerakan ku dan Dani bersamaan dengan berhentinya mereka menarik senjatanya.
Aku menjatuhkan senjata ku,"Jatuhkan senjata mu."Suruh ku pada Dani.
"Dia akan membunuh kita!Apa kau gila!?"."
"Justru mereka akan membunuh mu jika kau tidak menjatuhkan senjata mu."Kata ku menatap tajam sepasang mata ini.
"Aku pikir seseorang pria yang memiliki julukan Tuan Drak adalah seorang pria yang sangat menakutkan,"Tertawa singkat,"Ternyata dia hanya seorang pria dewasa dengan mental seorang anak kecil hahhhahh...."
Aku masih terdiam di tempat ku, diam di depan Dani yang sangat ingin segera menginjak kepala Moana.
"Tangkap mereka. Mereka juga bisa menghasilkan uang untuk ku."Suruh Moana pada para anak buahnya.
"CK."Aku tersenyum miring sangat tipis sangat tipis sekali.
Para anak buah Moana yang bersenjata langsung mendekati ku dan Dani. Bodoh!Itu adalah julukan yang pantas untuk mereka.
Tanpa memasang kuda-kuda untuk menyerang, secepat kilat kaki ku bergerak mendengan salah satu dari mereka. Bakk.....Menyadari ada yang hendak mengenakan senjata api yang di bawah. Aku melompat melakukan tendangan memutar. Memutar tubuh ku 180derajat tangan ku bergerak cepat merebut senjata api itu menarik senjata itu membuat tubuh pemilik nya membungkuk berlutut membentur lulut ku yang siap melukai hati nya.
Pria ini langsung tidak sadarkan diri di depan ku. Dan tangan kanan ku berhasil menggenggam salah satu senjata api yang mereka pergunakan untuk menodongkan ku dan Dani.
Aku masih berdiri membelakangi yang lain. Moana terdiam di tempat, melihat sekali gerakan ku yang dapat melumpuhkan hampir separuh dari anak buahnya dengan tangan kosong.
Tidak jauh berbeda dari Moana Dani rekan pun ikut tercengang melihat pegerakan secepat ku. Aku berbalik badan menghadap mereka,"Mari akhir sekarang."Kata ku menggenggam erat senjata api ini. Melemparkan senjata api itu pada Dani.
Dani reflek menerima senjata itu. Baik aku dan Dani berlari menyerang lebih dulu. Melawan senapan laras panjang yang berterbangan.
Aku berlari cepat, menjatuhkan diri dengan kaki kanan yang terbujur lurus menendang kaki salah satu pemegang senjata.
Mengambil senjata api lagi aku menembakkan senjata itu tepat pada sasaran ku. CK, seperti pelajaran mengunakan senjata yang pernah ku lakukan sangat berguna untuk ku.
Aku berhasil melumpuhkan mereka semua, dorr....,"Sial."Umpat Dani merasakan tertembak di perut nya.
Aku yang melihat itu langsung melayang peluru terakhir ku pada musuh yang menembak Dani. Di susul dengan lari ku. Karena atensi ku menangkap pergerakan Moana yang hendak melarikan diri. Aku berlari memijakkan kaki kanan tumpuanku di atas meja. Tubuh ku melayang memutar dengan kaki yang berakhir mendarat pada atas kepala Moana. Yang hendak kabur dari ku.
Moana terjatuh tersungkur tepat di depan aku mendarat kan pijakan kaki ku dengan benar. Aku angkat tangan ku yang menggenggam senjata api,"Jangan."Larang seseorang berteriak pada ku.
Tangan kanan yang menggenggam perut yang tertembak. Dani berjalan lewat mendahului ku, ia mendekati Moana. Tangan Dani tarik kerah pakaian Moana yang tidak berdaya karena tendangan ku tadi.
"Biarkan aku yang mengakhiri."Atensi Dani terfokus hanya pada Moana seorang,"Aku ingin kau mati di tangan ku. Kau telah membunuh adik ku, menghancurkan tubuhnya sampai tidak bisa di kenali lagi. Kau juga telah membunuh ayah ku. Kau menghancurkan keluarga ku Moana."Dani dengan tangan yang sudah bergerak memberikan tinjuan beberapa kali pada wajah Moana kuat sampai merah pekat mulai bercucuran dari wajah Moana pun tidak menghentikan pergerakan Dani yang tenggelam dalam dendam nya.
Belum puas melihat luka-luka itu,"Welcome to neraka."Jelepp......Dani menusukkan pisau tepat pada jantung Moana.
Melihat Moana sudah sekarat tidak membuat Dani segera menyudahi permainan nya. Ia semakin menekan pisau itu dengan kaki kanannya menekan lebih dalam lagi menusuk jantung Moana. Membuat Moana semakin tersiksa sebelum akhirnya kesadaran Moana hilang. Puasa Moana sudah tidak sadarkan diri, Dani mencabut kembali pisaunya.
"Aku harap kau menerima hadiah indah di neraka."Kata Dani tanpa merubah ekspresi wajah datar nya.
Aku tidak perlu dengan apapun yang di lakukan Dani,"Ayo pergi, Ian sudah menunggu."Kata ku pada Dani.