The Revengers

The Revengers
Eps.74



Berusaha untuk tetap tenang agar kondisi tetap baik-baik saja. Dengan terus mengingat-ingat pesan-pesan suaminya. Agar ia tetap bisa tenang walau angin puti beliung baru saja menamparnya.


"Bi tolong ambilkan ponsel ku",minta Nana yang memang sudah sangat sulit untuk membungkuk badan.


Setelah mendapatkan ponsel kembali Nana segera menghubungi seseorang di seberang sana. Untuk segera datang menemaninya. Karena sekuat apapun dirinya ia tetap membutuhkan pendamping untuk menemani nya yang sudah sangat sulit sekali bergerak bebas.


Di tunggu, di tunggu, akhirnya seseorang itu sampai di kediaman rumah Nana. Ia segera berlari berjalan cepat mendekati Nana.


"Langsung ke rumah sakit bang",minta Nana pada kakak laki-laki kedua nya.


Fazil hanya terdiam membalas dengan anggukan kepala, sembaring ia menuntun adiknya yang tengah hamil besar itu berjalan keluar rumah.


"Sudah dapat kabar apa lagi dari pihak rumah sakit tentang Yohan?",tanya Fazil yang fokus mengemudi mobil dengan kecepatan sedang melewati jalanan beraspal yang basah karena air hujan.


Nana yang masih terlihat sangat tegar,"Belum tau bang".


"Tidak tau kenapa, seperti Yohan benar-benar sangat menjaga mu dengan baik",kata Fazil tanpa memalingkan fokusnya."Kakak menjadi sangat percaya padanya".


Nana hanya terdiam memperhatikan jalanan di depan, dengan tetap mengatur control dirinya agar tetap tenang.


Sesekali ia memejamkan matanya sebentar,"Na, jika sewaktu-waktu ada berita yang tidak mengenakan jangan terlalu di pikir iya. Langsung ceritakan sama aku. Akan tetapi kalau aku tidak ada kamu harus tetap tenang dan jangan terlalu di pikirkan".


"Segala sesuatu akan berjalan dengan baik-baik saja jika kamu menjalaninya dengan pemikiran yang tenang".


"Yang di dalam sana juga harus sama, jangan pernah merepotkan mama mu saat ayah tidak berada di samping kalian",mengelus lembut perut buncit yang semakin membesar istrinya.


Nana membuang nafas panjang berlahan-lahan, ia mulai beranjak turun dari dalam mobil di bantu oleh Fazil.


Fazil kembali menuntut adik berjalan masuk ke dalam lobi rumah sakit. Di sana Fazil langsung menanyakan tentang korban kecelakaan tunggal yang baru saja terjadi atas nama. Tentu kalian sudah mengetahui atas nama siapa pasien tersebut.


++++++


Setibanya di ruang IGD. Nana yang belum masuk ke dalam ruangan masih tetap bisa melihat seseorang yang tengah terbaring lemah di dalam sana. Dari balik jendela kaca besar ruangan ini.


Dokter di dalam yang menyadari kedatangan pihak keluarga pasien. Berjalan keluar kamar menghampiri pihak keluarga.


"Tidak ada luka serius lain selain di saraf kedua kakinya. Karena benturan keras di kepala membuat saraf gerak kedua kakinya sedikit tidak berfungsi dengan baik. Hal itu akan membuat Tuan Yohan lumpuh untuk sementara waktu".


"Pemeriksaan sudah selesai kami lakukan keseluruhan, kami akan segera memindahkan pasien ke kamar inap agar nyonya dapat menemui nya".


"Saya permisi".


Selepas kepergian dokter yang merawat Yohan,"Syukurlah Tuhan. Terimakasih keajaiban nya",Nana yang menitihkan air mata bahagia mendengar suami-suami dalam keadaan baik-baik saja. Walaupun suaminya akan mengalami lumpuh untuk sementara waktu.


Namun tiba-tiba saja Nana tergerak mencengkeram lengan pakaian Fazil kuat. Sementara tangan yang satunya memegang perutnya.


Fazil yang menyadari itu,"Kamu akan melahirkan dik",paniknya.


"Sus, sus, Dokter, dokter tolong!!!adik ku mau melahirkan",teriaknya kencang masih dengan tetap merangkul adiknya agar tetap dalam keadaan berdiri dengan baik.


Salah seorang perawat yang di ikuti oleh dokter, langsung membawakan kursi roda untuk Nana. Setelan mendudukkan Nana di kursi roda, perawat itu langsung mendorong kursi itu menjauh dari ruang IGD ke ruang persalinan.


Selepas menyerahkan perpindahan kamar rawat inap Yohan pada dokter. Fazil yang seorang diri langsung berlari menyusul adiknya yang belum jauh darinya. Sembaring fokus sesekali melihat layar ponsel untuk menghubungi orang rumah.


Karena situasi saat ini tidak bisa tangani seorang diri. Di tambah lagi perlengkapan persalinan bayi masih belum di bawa. Membuat Fazil yang tidak mengetahui apapun atau tidak mengerti apapun kebingungan.


Ia semakin bingung bercampur khawatir mendengar suara kesakitan adiknya di dalam ruang persalinan. Tanpa ia bisa berbuat apa-apa. Sampai akhir seorang pria datang terburu-buru menghampiri Fazil. Memberikan sebuah tas yang ia bawa kepada dokter ini.


"Cepat kau datang?".


"Iya,"mengatur nafas yang masih tidak beraturan,"Pinjem motor tetangga".


"Yohan bagaimana?".


"Dia akan di pindah ke kamar rawat inap, namun ia akan mengalami lumpuh untuk sementara".


"Syukurlah dia baik-baik saja, seenggaknya ia tidak membuat Nana sedih",kata Nazil,"Mama dan Linda akan menyusul ke sini sebentar lagi".