The Revengers

The Revengers
Eps.69



Satu tahun pun berlalu. Akhirnya Yohan memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Untuk mengunjungi makam keluarga nya. Bersama dengan Ian yang seperti anak kecil memaksa ikut ayahnya.


Next.....


Selesai dari pemakaman. Yohan yang mengendarai mobil sendirian. Hendak beranjak masuk ke dalam mobil untuk meninggalkan area pemakaman. Namun kegiatan nya terhenti karena atensinya melihat seseorang yang tidak asing untuk nya lihat baru saja lewat di belakang mobil nya.


Lantas Yohan mengurungkan niatnya untuk berlalu pergi. Ia memutuskan untuk mengejar seseorang itu yang ternyata tengah berjalan masuk ke area pemakaman keluarga.



Perempuan mengenakan dress putih membawa bunga banyak itu terdiam di salah satu makam keluarga. Yang seperti itu adalah makam salah satu makam keluarga nya yang teleh berpulang.


"Sejak kapan om Yudha meninggal?",tanya ku yang sudah berdiri di samping perempuan ini berjongkok.


Perempuan ini hanya terdiam tidak membalas ucapan Yohan. Yohan yang tidak marah samasekali justru ikut berjongkok di sana mengirimkan doa untuk almarhum Om Yudha.


++++++


Kini keduanya sudah kembali ke parkiran mobil. Yohan pun masih setia bersama dengan perempuan ini.


"Na, kamu lupa dengan ku?",tanya ku pada perempuan bernama Nana.


Nana mendongak menyungging senyum tipis pada Yohan,"Gue duluan Han. Terimakasih ikut ziarah".


Namun sebelum Nana beranjak masuk ke dalam mobil Yohan cekatan menghentikan pergerakan nya dengan menggenggam tangan yang hendak membuka pintu mobil ini.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku Na?Dan jangan panggil lu gue".


"Ada yang salah, lu gue kan sama saja".


"Kamu kenapa Na?",tanya Yohan sekali lagi."Apa kamu sudah menyerah untuk menunggu ku, atau....".


Namun tidak semudah itu untuk pergi dari Yohan yang masih menggenggam erat pergelangan tangan nya.


"Aku mau bertemu anak kita. Kau pernah berjanji akan membawa ku bertemu dengan nya",kata ku terfokus melihat lawan bicara ku.


"Tidak bisa Han".


"Kenapa tidak bisa?",tanya ku masih terfokus menatap manik mata yang tidak menatap ku secara langsung."Apa kamu takut suami mu marah?".


Pakk.... tamparan keras mendarat di pipi Yohan memaksakan untuk menengok paksa.


"Tidak bisa lu menghargai gue sedikit saja. Lu pergi tanpa memberikan kabar sama sekali. Dan gue menunggu lu tanpa kepastian seperti orang gila. Di saat banyak sekali laki-laki yang gue tolak. Karena lu, dan lu sangat mudah sekali berkata gue sudah punya suami".


Menghela nafas kasar,"Sorry, aku terlalu memaksakan diri beberapa hari ini. Sorry Han biarkan aku sendiri untuk beberapa hari".Nana hendak masuk ke dalam mobil. Namun lagi-lagi Yohan menghentikan pergerakan nya.


"Biar ku antar. Aku tidak mau amarah mu mencelakai diri kamu",kata ku."Kamu harus mau Na?".


Belum juga membalas Yohan terlebih dulu menarik Nana untuk masuk ke dalam mobil Nana. Mendudukkan Nana di kursi penumpang samping nya. Sementara ia menyusul duduk di kursi penumpang. Ia yang sudah membawa kunci mobil Nana segera menyalahkan mesin mobil sebelum akhirnya tancap gas meninggalkan pekarangan pemakaman ini.


"Bagaimana dengan mobil mu?".


"Ian akan mengambil nya",balas ku santai fokus mengemudi mobil.


Sepanjang perjalanan Nana hanya diam saja melamun memperhatikan jalanan di luar jendela. Sikap nya jauh berbeda dari Nana yang dulu selalu cerewet tidak bisa diam.


Sesaat setibanya di halaman depan rumah. Yohan menghentikan mobil Nana,"Aku turun di sini, sampai di dalam langsung istirahat saja jangan melakukan apapun".


"Terima kasih",ucap Nana.


Selepas mematikan mesin mobil. Yohan beranjak turun dari dalam mobil Nana. Ia menghentikan mobil taksi yang kebetulan lewat. Ia beranjak masuk ke dalam mobil taksi kilat yang langsung membawanya pergi jauh dari gerbang depan rumah Nana.