
"Hallo my bestfriend ku, love you."Teriak Dani kebiasaan pagi yang selalu bersemangat saat awal pertama memasuki ruang kelas.
"Astaga noisy virus datang."Ujar Gita menghela nafas kasar.
"Apaan o'on aneh-aneh?".Tanya Jian pada Gita.
"Itu sejenis bahasa Inggris nya berisik yang di tambahin kalimat virus."Jelas Rara.
Menyangga dagunya fokus pada Rara yang duduk di samping nya,"Istri idaman memang pandai."
"Mata mu."Umpat Rara.
"Aaahh......kata-kata kasar itu akan sering ku rindukan. Dan suara tenang ini akan kau rindukan."Nada bicara buaya Ian dengan jurus-jurus nya yang sanggup membuat anak orang baper.
"Siapa-siapa yang kangen sama si ganteng ini."Dani yang berlalu duduk di bangku nya.
"Gak ada."
"Vano."Timpal Billal.
"CK, gue masih normal, sorry selera gue lebih bagus walaupun gue tidak pernah melihat nya."Atensi buaya Vano tertuju pada Jian yang mengabaikan keberadaan nya.
"Gila baru kali ini, pertama kali ini, gue lihat buaya Vano di tolak cewek."Dani menambahi suasana ini semakin ramai dengan tawa anak-anak yang lain yang menyaksikan.
Tidak terima di tertawakan,"Karena dia spesial untuk ku makanya sulit untuk ku dapatkan."
"Bisa ae lu buaya kali butek."Timpal Irgi menjinjing sebelas alisnya mendengar bualan Vano.
Next....
Suasana sekolah kembali seperti semula karena kembali Dani, happy virus nya kelas. Selepas pulang sekolah aku pulang lebih cepat dengan mengendarai sepeda angin milik ku.
Menyusuri jalan beraspal ini seorang diri untuk kembali ke kediaman ku. Akan tetapi tanpa aku sadari tiba-tiba Brak...sstt...bruk....Tubuh ku tiba-tiba melemah tidak memiliki tenaga. Alhasil aku terjatuh dari atas sepada ku membentur jalanan beraspal ini kuat. Sebelum kesadaran benar-benar hilang.
+++
"CK sudah ku duga hal ini akan terjadi."Dapp....Ian tinju dinding rumah tidak bersalah ini sebelum akhirnya ia bergegas keluar rumah.
Ian pergi ke garasi mengeluarkan mobil pribadi milik Yohan untuk segera ia kendaraan,"Pak siapapun yang datang jangan izin kan masuk ke dalam rumah tanpa seizin ku atau Yohan."
"Baik Tuan."Kata bodyguard rumah ini.
Ian kembali menutup kaca jendela mobil sebelum akhirnya tancap gas meninggalkan pekarangan rumah.
+++
Byurr.....air penuh satu tong di siram kan pada ku masih pingsan. Aku langsung terbangun saat merasakan tubuh ku basah. Dingin sekali di saat ingin menggerakkan tangan ku lah aku baru sadar jika tubuh ku sudah terikat kuat oleh tali.
Kedua tangan ku yang terikat tergantung menahan beban tubuh yang mengandung. Kedua kaki juga terikat. Sial umpat ku untuk saat ini.
"Hallo Tuan Drak."Sapa seseorang pria bercelana panjang jins dan kemeja lengan pendek batik bunga pada ku.
"Kenapa kau sangat ngebet sekali ingin menghentikan bisnis ku?Kau tau kan jika bisnis ini sangat banyak sekali menghasilkan uang."
"Dalam bisnis harus sedikit ada pengorbanan bukan."
"Lalu kenapa kau sangat ingin sekali menghancurkan bisnis ku. Tuan Yohan?".Menekan berat kalimat akhirnya.
Masih terlihat tenang dengan raut wajah datar,"Usaha seperti itu kau sebut dengan bisnis."Ucap ku.
Merentangkan tangan kanannya dan salah seorang anak buah memberikan nya cambuk,"Kau akan menyesali semua perbuatan mu di neraka."Ucap Moana bersiap mencambuk-cambuk tubuh ku.
Beberapa kali cambukan sudah di lakukan. Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memejamkan mata ku beberapa kali. Menahan sakit luar biasa cambukan ini.
Lima jam mencambuk i tubuh ku,"Lanjutkan sampai 6 jam lagi lalu buang tubuhnya ke jurang belakang bangunan ini".Kata Moana pada anak buahnya.
"Siap bos."
Selepas kepergian Moana. Anak buahnya mulai melanjutkan kegiatan nya mencambuki tubuh ku yang sudah tidak bisa aku rasakan lagi. Mati rasa tentunya.
"Jurang di belakang gedung kan sangat dalam. Mustahil untuk pria ini hidup kembali."Ucap salah seorang anak buah yang masih ada di sini.
+++
Fokus yang tertuju pada Lucky, Rohman, dan Haris,"Kalian bagi tugas sendiri sendiri, jika salah satu dari kalian menemukan keberadaan Yohan. Langsung hubungi aku jangan bertindak sendirian."Kata tegas Ian.
"Baik Tuan."Ucap mereka bertiga membubarkan diri berpencar mengendari motor mereka masing-masing.
"Aku serahkan semuanya pada mu yang lebih mengenal kota ini."Yang di balas anggukan kepala oleh Dani.
Ian berlalu pergi mencari Yohan dengan Dani yang menyetir motor nya.
+++
"Lempar di sini."Ucap pria anak buah Moana.
Kedua orang yang menggenggam kaki dan tangan ku membalas dengan anggukan ringan. Keduanya mulai mengayunkan tubuh lemah ku beberapa kali mengambil ancang-ancang. Sebelum akhirnya mereka lepas genggaman tangan mereka bersamaan. Membuat tubuh ku terjun bebas masuk ke dalam jurang ini.
"Ayo pergi. Bos menyuruh kita langsung kembali ke markas."Mereka yang langsung berlalu pergi meninggalkan tempat sunyi sepi dan gelap tentunya.
+++
"Tidak Abang, tidak ayah sama saja. Awas saja kalau mama sudah pulang dari rumah nenek aku akan adukan semuanya."Ngedumel Nana yang fokus menyetir mobil seorang diri di tengah malam,"Enak saja nyuruh ratu rumah kerja. Di suruh berangkat sendirian pula. CK."
Sett....Menginjak rem mobil mendadak membuat kepalanya membentur pelan setir mobil. Mendongak melihat dari dalam jendela depan mobil,"Anjing beda terbang apaan tadi?".
"Kayak orang deh. Mana ada hantu pakai kemeja putih-putih. Kenal celana jins pula."Nana melepaskan sabu pengaman mobil yang mengunci pergerakan.
+++
Sudah menjelang larut malam. Akan tetapi Ian dan Dani belum mendapatkan informasi apapun tentang keberadaan Yohan.
Menepi kan motor nya,"Yang tadi adalah tempat terakhir yang ku tau tempat markas Moana."Kata Dani.
Ian terdiam loading memikirkan sesuatu,"Kau tau di mana saja gedung atau tempat kosong di kota ini?".
Loading sedikit lebih lama,"Iya aku tau."Dani kembali menyalahkan mesin motor nya untuk berlalu ke tempat yang di maksudkan Ian.
Sementara Ian langsung menghubungi orang-orang suruhan di seberang sana.
+++
Nana seperti tidak memiliki rasa takut beranjak turun dari dalam mobil. Entah terbuat dari apa mental Nana. Sampai berani keluar dari dalam mobil seorang diri di jalanan yang sepi di malam hari.
Jika begini bisa di simpulkan jika darah pemberani Alyah dan Yudha mengalir dengan baik di dalam tubuh Nana.
Nana mulai melangkahkan kakinya mendekati semak-semak tempat sesosok misterius yang jatuh dari atas tadi. Ia bahkan membela-bela semak-semak tinggi ini dengan kedua tangannya.
Di bawah malam yang gelap. Nana yang seorang diri mencari benda terbang misterius masih sempat-sempatnya,"Aduh apaan sih tadi ko sulit banget di carinya."Di tengah-tengah pencarian nya.
Tiba-tiba,"Astaghfirullah, Allah huma sholi ala saidina Muhammad."Teriak Nana melihat tangan berlumuran darah yang menggenggam kaki kanannya.
Tidak lari setelah berteriak takut karena kakinya tidak dapat bergerak. Nana justru membuka semak-semak yang menutupi tubuh pemilik tangan yang masih menggenggam kakinya.
"Tuan."Ujar Nana berjongkok di samping seseorang yang tangannya menggenggam kakinya. Karena terlalu gelap Nana tidak bisa melihat jelas wajah seseorang ini. Tapi dapat di simpulan kalau pria ini adalah manusia.
Kilat gemuruh menyambar membuat cahaya sekilas. Lapp....Derr....,"Yohan. Kau Yohan?".Ucap Nana yang tidak salah lagi kalau pria di depannya adalah teman sekelasnya Yohan.
"Tunggu aku akan telfon bantuan."Nana yang hendak berlalu kembali ke mobil untuk mengambil ponsel akan tetap Yohan menghentikan pergerakan nya. Yohan menggenggam tangan Nana kuat.
Samar-samar dengan nada bicara serak berat Yohan berkata,"Jangan beritahu siapapun. Jangan beri...."Yohan memejamkan kedua matanya seperti sudah batasan sampai di sini saja.
"Tapi kalau aku ti..... Dia pingsan."Menyadari bercak darah Yohan,"Baiklah, aku akan membawa mu ke pondok."Nana yang berusaha membangunkan tubuh Yohan. Susah payah ia berhasil mendudukkan tubuh Yohan.
Mendekap mulutnya,"Astaga, habis ngapain dia luka ini."Nana yang melihat bekas luka cambukan yang cukup dalam di punggung Yohan.
Nana menaruh tangan kanan Yohan di atas punggung. Sementara ia merangkul pinggang Yohan,"Oky Nana gunakan otot mu."Berusaha berdiri dengan menopang tubuh Yohan yang lemah.
Ngedumel mengatur nafas menahan berat badan Yohan dua kali lipat ukuran tubuhnya,"Wasakah...wasakah.....",Menghela nafas singkat sembaring mulai berjalan berlahan-lahan. Nana pun mulai berjalan keluar dari semak-semak ini tidak lupa dengan menyeret tubuh Yohan dalam rangkulan nya.
+++