
Hampir seminggu lebih aku fokus pada rencana ku. Sampai aku mengabaikan kegiatan di sekolah. Bahkan sampai pertandingan basket di adakan pun aku tidak ikut bertanding. Aku tidak terlalu memperdulikan itu karena masih ada tim pengganti yang menggantikan posisi ku.
Dan di hari ini adalah titik puncak rencana ku. Aku pikir di hari ini adalah akhirnya rencana ku akan berjalan dengan lancar dan aku akan mendapatkan kabar baik. Sayangnya hasil nya sangat jauh dari ekspektasi ku.
Aku dan Ian ketahuan sebelum aku dan Ian berhasil mendapatkan informasi dari markas musuh ku. Membuat aku dan Ian terpojok berlari tak tentu ke dalam hutan untuk mencari perlindungan.
Apesnya lagi di tengah pelarian menyelamatkan diri aku dan Ian terpisah. Ian terperosok ke dalam lubang jalan lain hutan. Membuat aku dan Ian terpaksa berlari sendiri-sendiri mencari jalan keluar.
Sampai di titik puncak aku yang sudah tidak bisa terus-menerus hanya berlari pun mencari jalan lain. Mengeluarkan senjata akhir adalah cara terakhir ku untuk mempercepat drama merepotkan ini.
Sungguh aku sangat kesal sekali, sudah gagal tidak mendapatkan hasil apapun. Tertangkap pula menjadi sasaran pelarian. Sangat membuat ku jengkel.
Aku membunuh semua orang yang menyerang ku. Hanya satu orang yang aku biarkan hidup dengan kedua kaki yang sudah lumpuh, cacat.
Orang ini, atau pria ini bersujud-sujud memohon pengampunan pada ku. Namun aku terlalu baik jika membiarkan nya benar-benar hidup dengan keadaan cacat. Hatiku juga tertawa melihat ini, lucu bukan. Orang yang biasanya membunuh orang seperti menginjak semut tiba-tiba sekarang memohon-mohon untuk di biarkan keluar hidup-hidup. CK menyedihkan.
Lelah dan panas mendengar bualan pria ini. Aku langsung menekan tombol senjata laras panjang ku Jurkk......Darah segera bersembunyi tubuh yang memohon-mohon berlahan-lahan tumbang. Jangan lupakan dengan darah segar yang mengalir deras.
Aku segera berkemas untuk secepatnya menyusul Ian yang mungkin sudah sampai di ujung keluar hutan ini.
Next....
"Baji***ngan lu membuat gue berasumsi lu mati."Ucap Ian beranjak turun dari atas bantu besar tempat duduk menunggu kedatangan ku.
"Ett....,"Aku merintih kesakitan tangan kanan ku bergerak cepat menggenggam bawah lengan kiri ku.
Melihat darah dari selah pakaian ku,"Sini. Gue akan keluar pelurunya atau pendarahan itu tidak akan berhenti."Ian melepaskan tas ransel nya mengeluarkan beberapa peralatan obat pertolongan pertama untuk membersihkan luka tembak di lengan kanan ku.
Sepertinya aku tertembak tanpa sadar saat dalam pelarian menghindari para penjaga tadi.
Brakk......,"Sialannnn!!!".Ucap seorang pria dewasa memukul kuat meja kaca tebal ini sampai rentak.
"Anak kecil itu benar-benar menjadi ancaman besar untuk bisnis ku. Sial."Ucap Pria dewasa ini,"Dulu dia dan aku berhasil menghindari nya, sekarang dia. Merepotkan sekali anak itu."Nada bicara berlahan-lahan semakin meninggi.
"Permisi tuan."Salam pria lain yang baru memasuki ruangan.
"Cari tau tentang anak ini. Segeran informasikan jika sudah mengetahui nya. Cukup cari tau jangan berbuat apapun tanpa sepengetahuan ku."
"Baik tuan, permisi."Berlalu meninggalkan ruangan ini kembali.
Next.......
Malam hari nya aku masih sibuk dengan acara lain. Seperti sekarang duduk seorang diri di ruang tamu untuk menunggu kedatangan seseorang yang telah ku undang.
Belum lama aku menunggu akhirnya tamu ku datang berkunjung.
"Apa informasi nya?".
"Seberapa luas pegerakan mereka?".
"Dari informasi yang aku dapatkan. Usaha mereka berjalan dan berkembang dengan baik di sana."
"Yohan apa rencana lu?".Ian menatap ku seakan-akan aku sudah mendapatkan ide untuk rencana selanjutnya.
Aku terdiam cukup lama membalas tatapan itu,"Gue tanya bukan ngajak gelud."Ian yang melihat tatapan mengerikan yang memojokkan.
"Masih sama. Kalian tetap di posisi seperti biasa akan tetapi kalian harus lebih waspada. Karena setelah kejadian tadi anggota Moana akan pegerakan lebih hati-hati."
"Jika ada yang tidak perlu bantuan segera hubungi aku."
"Baik Tuan."Balas mereka serentak.
"Kalian bisa pergi."Kata ku kembali.
Mereka membungkuk hormat sekilas sebelum akhirnya berlalu pergi dari sini.
"Apa lu serius dengan ini. Apa tidak jauh lebih baik jika memperbanyak orang untuk menyerang akan jauh lebih cepat selesai."Kata Ian pada ku.
Atensi ku yang terfokus pada lawan bicara ku,"Tidak bisa di sebut balas dendam jika sasaran mati dengan cepat."
"Jalan pikiran crazy."Ucap Ian pada ku.
Next....
Tengah malam telah tiba. Dan jam istirahat orang-orang masih berjalan. Akan tetapi itu tidak berlaku untuk ku. Tentu tidak untuk seseorang yang sering bergadang seperti ku.
Aku masih sibuk memainkan jari jemari ku di atas dua laptop menyalah di depan ku. Rasanya panas sekali, bukan tangan tapi kedua mataku. Atensi ku melirik sekilas ke jam dinding kamar ku. CK sudah jam satu. Berarti sudah 8jam lamanya aku bermain laptop.
Tokk....Tokk....."Masuk."Ucap ku pada seseorang yang malam-malam mengetuk-ngetuk pintu kamar ku.
Pintu terbuka memperlihatkan keadaan kacau Ian dengan beberapa buku dalam gendongan tangan kanan nya.
Entah habis kesetrum di mana anak ini. Karena keadaan benar-benar kacau dengan surai rambut yang acak-acakan terangkat-angakat lurus. Kaos yang koar-koar kebesaran, celana panjang yang tidak ada bedanya dengan atasannya.
Berjalan mendekati ku,"Bantu gue mengerjakan ini, otak ini sudah di ambang batas meledak."Mendudukkan pantat di atas karpet depan ku duduk. Ian yang sudah menaruh buku-buku di atas meja depannya,"Sudah 9jam lamanya gue berusaha menyelesaikan, tapi anehnya jawaban tidak kunjung muncul. Sialan sekali."
"Yang mana?".Tanya ku nada rendah berat.
Menyodorkan buku-buku nya,"Semua."
Aku terdiam mengambil buku itu. Membuka beberapa lembar untuk mulai mengerjakan soal-soal yang belum terjawab yang sudah di berikan tanda lingkaran oleh Ian.
Selama aku mengerjakan. Yang punya tugas justru sudah menyelami alam mimpi. Di posisi yang tetap duduk. Kedua tangan yang bertumpu silang di atas meja sebagai bantalan. Ian terlelap dalam tidur.