
Senin
17, April 2045
Sejak kejadian di hari itu. Aku dan Nana sudah tidak saling bertukar kabar apapun. Karena aku telah memutuskan semua hubungan dengan semua orang yang dekat dengan ku selama di Indonesia. Dengan alasan sederhana, agar mereka baik-baik saja.
Saat ini aku tengah ada di New York. Karena salah satu cabang perusahaan ku yang di sana sedang dalam masalah.
Kota New York tengah di landa masalah karena akibat dari perselisihan antar dua Geng Mafia. Perselisihan itu membuat kekacauan di mana-mana, dan akibat nya tidak hanya pada luka fisik melainkan masalah finansial ekonomi yang menurun.
Terutama pada perusahaan besar milik ku. Yang ikut menjadi sasaran para mafia untuk jadi ladang pelampiasan. Sayangnya usaha mereka selalu berhasil di gagalkan oleh sekertaris ku, Mark.
Sekarang giliran ku untuk turun langsung menyudahi. Karena sekertaris ku sudah cukup kewalahan karena perintah ku.
Di sinilah saat ini aku. Duduk di kursi kebesaran ku, di ruang kerja pribadi ku. Mengerjakan beberapa pekerjaan ku sebagai CEO.
Suara ketukan pintu dari luar ruang kerja ku, Tokk....Tokk....,"Permisi Tuan, boleh aku masuk."Kata Mark sekertaris ku di luar pintu ruang keja ku.
Tanpa mengalihkan pandangan ku dari layar komputer yang menyalah di depan ku,"Masuk."
Saat sudah ada di dalam,"Aku sudah membawakan seseorang yang Tuan suruh."Kata nya tidak menatap langsung lawan bicara nya.
Mematikan layar komputer,"Suruh masuk."
Melihat ke luar ruang kerja ku,"Kalian bisa masuk."Suruh Mark pada seseorang di luar sana.
Sebelum ini, aku memang menyuruh Mark untuk mencarikan aku seseorang yang sangat aku butuhkan. Untuk ikut serta dalam rencana ku mendapatkan informasi yang lebih luas lagi.
Keempat pria masuk ke dalam ruang kerja ku. Ruang kerja yang kedap suara membuat ku leluasa untuk mengatakan apapun tanpa ada batasan. Walaupun akhirnya tidak semua. Tidak akan menjadi misteri jika aku mengatakan semua rencana ku.
"Perkenalan diri kalian."Suruh Mark pada mereka berempat.
Dari yang pertama ujung sebelah kanan. Pria dengan penampilan sangat sederhana,"Aku Zack, pengantar pizza."
Di lanjut dengan pria yang tertutup mengenakan masker hitam, yang menutupi sebagian wajahnya,"Aku Dion."
Atensi tajam ku yang tersorot pada seseorang yang baru saja memperkenalkan namanya,"Dion, seorang remaja 19 tahun yang di penjara 5 tahun karena membantai satu keluarga besarnya hanya karena masalah sepele pria baji***ngan. Julukan yang bagus."Kata Ku,"Lepas marker mu."Ucap ku bernada semakin dingin.
Ekspresi datar itu tertuju pada ku, akan tetapi tangannya bergerak melepaskan masker yang ia kenakan. Menuruti keinginan ku.
Di lanjut kan kembali. Oleh seorang pria berambut ikal terikat,"Aku Felix, brandal jalanan buronan polisi."
Di sambung dengan yang paling kecil, atau memiliki tinggi badan pendek dengan surai rambut terurai panjang sebahu,"Harry."Ucapnya singkat pada dari yang lain. Aura yang misterius terpancar menakutkan dari nya.
Langsung pada pokok inti tujuan mereka."Tujuan kalian memberikan aku informasi penting tentang dua mafia yang tengah berseteru. Aku bisa bayar banyak jika kalian bisa melakukan dengan baik tanpa di ketahui oleh siapapun."Kata Ku.
Fokus yang tertuju pada ku,"Kenapa kau menyuruh kami jika kau tidak mau ada seorang pun yang mengetahui rencana mu. Sementara kami bisa saja mengkhianati mu kapan pun."Kata Felix,"Kami adalah brandal yang bisa berbuat semau kami."
Aku masih terdiam menatap dingin Felix yang tengah berbicara,"Aku tidak perduli, aku tidak percaya siapapun."
"Jika tidak percaya kenapa menyuruh kami?".
"Karena kalian membutuh uang dan aku memiliki nya. Kalian akan melakukan apapun dengan baik jika ada uang."Kata Ku dingin,"30 miliar dolar untuk satu orang yang memberitahu bukti rekaman informasi. Pendengar ku kurang bagus jika mendengar langsung dari mulut kalian, aku lebih suka dengan rekaman suara atau video."
Menjinjing senyum miring,"Kau akan miskin jika mem.....". Memotong ucapan yang belum terselesaikan Felix,".....Nilai uang tidak penting untuk ku."Ucap ku.
Menyodorkan empat kartu nama ke depan meja kerjanya,"Hubungi aku jika kalian memiliki apa yang aku inginkan. Jangan beritahu siapapun, kalian pernah bertemu dengan ku."Kata ku.
Mereka berempat membubarkan diri meninggalkan ruang kerja pribadi ku,"Antar mereka."Ucap ku pada Mark.
Selepas kepergian mereka. Aku kembali melanjutkan pekerjaan ku yang sempat tertunda.
++++
"Akan ada meeting beberapa jam lagi dengan perusahaan Demon."Kata Mark pada ku.
"Baik Tuan, permisi."Mark berlalu meninggalkan ruang kerja ku.
Beberapa jam kemudian aku dan Mark dalam perjalanan pergi ke gedung meeting yang sudah di tentukan.
Sampai di ruang meeting yang mewah dengan lampu biru Dongker dan biru laut yang mendominasi. Kursi meeting yang berjalan otomatis mengatur posisi nya sendiri, dan pelayanan terbaik dari para robot-robot wanita.
"Astaga Tuan perempuan yang pertama kali menyambut kita, aku pikir perempuan beneran. Ternyata, robot. CK padahal cantik banget."Gumam Mark yang duduk di samping ku. Dalam diam ku berpikir, Mark sangat cocok sekali menjadi pengantin Ian yang berisik.
Datang menghampiri ku,"Welcome Mr.Yohan."Sang Tuan rumah yang menyambut kehadiran ku dengan ramah. Mengulurkan tangannya untuk menyambut ku juga.
Aku menerima nya tanpa menyungging senyum lebar. Hanya senyum tipis ku yang merespon perilaku nya.
"Jika Tuan membutuhkan apa-apa panggil saja pelayanan kami, produk kami berkembang cepat di pasar berkata donasi terbaik Tuan."Kata Tuan Bastian. CEO dari perusahaan robot terbesar di era saat ini. Yang memiliki banyak robot yang sudah tersebar luar di seluruh dunia. Dengan hasil penjualan yang fantastis setiap harinya. Mengalahkan perusahaan mobil mewah saat ini.
Acara meeting di mulai. Para tamu di persilahkan untuk duduk di kursi masih yang sudah tersedia. Begitu juga dengan ku.
Sayangnya tanpa mereka semua sadari, atensi ku tengah memperhatikan hal lain di depan ku. Pria setengah paru baya dengan jas biru Dongker yang ia kenakan. Jas mewah membuat nya terlihat tidak menua di saat usia nya tidak muda lagi.
"100 miliar dollar."Ucap pria itu. Sebuah robot anjing Samoyed berbulu putih salju. Yang di tawarkan dengan harga 100 miliar dollar. Yang langsung di beli oleh pak tua miliar ini.
Iya, perlu kalian ketahui jika meeting ini membahas soal promosi robot keluaran terbaru yang akan di pasar kan dengan jumlah yang tidak banyak. Hanya ada satu produksi. Lantas apa tujuan ku kesini sementara aku sendiri sudah mengetahui proyek ini sejak awal, bisa di bilang aku ikut seta mengawasi pembuatan robot ini.
Cukup di sayang aku tersenyum miring saat melihat sesosok itu begitu sumringah karena mendapat sanjungan pujian hangat dari mereka. Karena dapat membeli robot anjing Samoyed yang harga fantastis.
"600 miliar dollar."Ucap ku membuat seisi ruangan yang riyu terdiam.
"Woww. Robot Anjing Samoyed terjual kepada Tuan Yohan."Kata Sekertaris Tuan Bastian pada ku.
Kini giliran ku yang mendapatkan sanjungan, membuat pria tua itu nyengir menatap ku jengkel. Jujur itu membuat ku bahagia sekali, akan tetapi mereka tidak melihat nya. Ekspresi wajah ku terlalu datar untuk terlihat bahagia.
Dengan ekspresi inilah atensi ku terfokus pada pria tua itu,"Maaf, hati kecil ku tergerak ingin mendapatkannya. Robot itu sangat mirip dengan anjing pemberian almarhum om ku yang sudah, mati."
"Tidak papa, pria tua seperti ku untuk apa memiliki anjing robot."Ucap nya.
Yang ku balas hanya dengan tatapan dingin. Lelah mendengar bualan sampah pria tua ini.
Tahap penyerahan anjing robot itu kepada ku, berlangsung. Berjalan dengan baik, yang akhirnya berlanjut dengan pameran barang-barang lain. Akan tetapi aku tidak mengikuti sampai acara selesai.
Aku berpamitan untuk pergi lebih awal pada Tuan Bastian. Sebenarnya tidak berpamitan juga tidak penting untuk ku. Karena perusahaan Tuan Bastian adalah milik ku juga. Aku bilang begitu karena aku adalah donasi terbesar perusahaan ini. Dan Tuan Bastian masih aku hormati.
"Tuan...Tuan... pelan-pelan jalannya, robot ini tidak ringan."Kata Mark kerepotan membawa robot anjing Samoyed yang baru saja ku beli.
Aku menghentikan langkah ku, berpaling dingin menatap Mark. Sekertaris tanpa otak,"Turunkan."Suruh ku.
"Tuan mau meninggalkan robot ini di sini, Tuan tidak takut rugi."Cerocosnya.
"Turunkan."Tegas ku.
Mark akhirnya mengalah, ia menurunkan robot anjing Samoyed ke bawah,"Jujur aku kasihan dengan bulu-bulu halus nya akan kotor."Mark yang masih saja mengoceh.
Aku berjongkok di sana. Menekan kalung anjing terpakai di robot anjing ini.
Dalam bahasa Inggris,"The first identity is my Master whom I must guard."Ucap suara dalam robot ini bersamaan dengan kedua mata anjing ini yang mengeluarkan cahaya biru terang ke arah ku,"Jerry."Ucap ku.
Cahaya itu mati setelah bergerak naik turun mengindikasi ku untuk mendapatkan data memori kepemilikan. Mata anjing ini mulai bergerak, yang di susul oleh seluruh tubuhnya. Bergerak lincah langsung melompat ke arah ku. Menggonggong pada ku.
"Wauu....Dia adalah robot yang paling sempurna."Terpukau Mark dengan gerakan anjing ini yang sama sekali terlihat bukan anjing.
"Ayo kembali Jerry."Ucap ku memberikan nama Jerry pada anjing robot Samoyed ku.
Aku berlalu dari sana. Dengan di ikuti oleh Jerry yang sangat mirip seperti anjing asli pada umumnya.