The Revengers

The Revengers
Eps.61



LA pukul 19.52. Hari Selasa.


Pria berpakaian jas kerja rapi tengah berjalan keluar dari dalam Liv apartemen. Berjalan turun ke lantai satu lobi gedung apartemen mewah. Masuk ke dalam mobil BMW hitam yang sudah terparkir di depan pintu utama masuk gedung apartemen.


Sudah duduk dengan baik di dalam mobil. Pria ini segera menyalahkan mesin mobil, tancap gas meninggalkan pekarangan apartemen.


Keluar di jalanan umum, ia mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang. Sampai berhenti di tujuan. Gedung perusahaan Walsekai selesai memarkir mobil nya dengan baik di parkiran mobil yang tersedia. Pria ini beranjak turun dari dalam mobil. Kaki jenjang panjangnya mulai berjalan meninggalkan parkiran.


Ian berlalu masuk ke dalam gedung perusahaan Walsekai. Di dalam aku, Yohan Narendra langsung di sambut oleh beberapa karyawan nya yang sudah hadir dalam perusahaan.


Sampai salah seorang perempuan menghampiri ku. Giselle namanya. Dia adalah sekertaris pribadi ku di LA.


"Selamat pagi Tuan".


"Sudah kau siapkan flashdisk nya?".Aku yang langsung pada tujuan ku datang ke sini. Pertanyaan yang mengabaikan sapaan ramah sekertaris ku.


"Sudah Tuan".


++++++


Malam semakin larut. Dan aku masih di sibukkan dengan peralatan pekerjaan ku di ruang kerja pribadi ku. Melirik arloji yang melingkar di tangan nya. Jarum jam yang menunjukkan pukul 23.20 malam.


Aku beranjak dari tempat duduk ku, mematikan layar laptop yang menyala. Merai jas yang tersampir tidak terlalu jauh dari tempat ku duduk. Aku kenakan jas itu sebelum berlalu pergi meninggalkan ruang kerja ku.


Melihat ruang kerja Giselle yang masih menyala membuat langkah kakiku tergerak ke sana. Sudah berada di dalam ruang kerjanya aku melihat Giselle yang tertidur pulas di posisi duduknya.


"Nona Giselle".Panggil ku yang tidak mendapatkan respon. Aku mengambil salah satu berkas menekuk sampai menjadi tabung panjang.


Aku gunakan benda itu untuk membangunkan nya,"Nona Giselle".Panggil ku sekali lagi.


Ia langsung melonjak bangun, mata merah melotot melihat ku,"Tuan".Seru nya di barengi mengusap sudut bibir dengan punggung tangannya.


"Lebih baik kau pulang jam kerja sudah selesai sejak tadi".


Kembali menatap ku melotot,"Astaga lupa!Hari ini ulangtahun putra ku Tuan".Giselle buru-buru segera berkemas tancap gas meninggalkan ruang kerjanya meninggalkan atasannya yang masih terdiam di sana memperhatikan respon nya.


++++


Aku yang sudah membawa kotak obat lantas segera membuka kotak itu. Sebelum ku memulai melakukan kegiatan ku membersihkan luka nya dan menganti perban luka nya.


Sesaat kemudian ia membasuh mukanya, dengan wajah yang masih basah aku mendongak melihat ke arah cermin. Yang mulai memperlihatkan bekas luka kemarin yang masih ada. Luka itu ku tutupi dengan sedikit make up agar tidak terlalu nonjok.


"Sudah sedikit membaik lebih baik besok tidak perlu menggunakan nya", memperhatikan bekas luka-luka di wajahnya dari pantulan kaca cermin."CK sial!Muka ku babak belur oleh pria tua".Umpat ku yang masih melihat pantulan cermin bayangan ku.


+++++


Langkah kaki jenjang panjang ku melangkah pergi ke sova ruang tamu. Tak lupa dengan kedua tangan yang sudah membawa keperluan masing-masing. Koran, juga segelas minuman hangat yang telah ku buat.


Di temani kedua benda nyaman itu. Aku mendudukkan pantat ku di sova panjang ruang tamu. Tidak lupa juga untuk menyalakan televisi agar kesepian ini sedikit menghilang.


Drumm....Drumm.....nada panggilan masuk menggetarkan ponsel milik ku yang ku biarkan tergeletak di atas meja depan ku.


Aku merai beda pipi yang layar nya menyalah. Menggeser gagang telfon yang bergetar-getar untuk menerima panggilan telfon.


Tersambung.


*Kami sudah mendapatkan informasi yang bos butuhkan".


*Apakah kami harus memberikan nya ke pada anda sekarang?".


*Tidak perlu. Besok saja saat jam makan siang temui aku di .....".


*Baik Bos."


Panggil ku akhir sepihak dari seberang sini.


Selesai menyudahi panggilan telfon yang masuk. Aku kembali melanjutkan menikmati dunia perdamaian ku yang sempat terganggu.