
Sayup-sayup perempuan yang masih tertidur pulas berbalut selimut tebal membuka kelopak matanya. Nana melihat seisi ruangan yang sangat berantakan. Teringat dengan kejadian semalam Nana langsung mendudukkan dirinya.
"Itss...,"Rintihan Nana saat merasakan sakit luar biasa di bawah sana. Ia terduduk kedua tangan bergerak meremas selimut tebal ini. Pandangan nya yang tertunduk menitihkan air mata.
Untuk pertama kalinya suara isak tangis Nana terdengar. Perempuan ini menangis tersedu-sedu seorang diri mendekap tubuh erat.
Ia semakin menangis saat membaca selebar kertas yang tertancap pisau buah di atas meja kecil dekat tempat tidur nya.
..."Aku tau kamu tidak akan pernah memaafkan ku. Kamu boleh membenciku. Dan aku akan menganggap yang terjadi hanya mimpi yang tidak pernah ada." Isi kata-kata dalam lembaran surat ini....
"Aaaaaaaaaaahhhhhh.......baji***ngan kau Yohan".Nana menjerit mengeluarkan semua amarah kekesalan nya.
++++
Di luar sana di tepi jalanan beraspal jauh dari pondok penginapan.
"Akhirnya."Ian memeluk ku erat. Melepas pelukannya brukk....Dia meninju perutku kuat.
Tubuh ku sampai membungkuk reflek saking kuatnya tinjuan,"Anjing lu. Mulai sekarang jangan bertindak gegabah sendirian bang**sat. Nyusahin."
"Otak gue serasa mau meledak bang***sat. Udah gitu mama gue telfon kemarin. Lu tau bertambah gimana depresi nya gue mencari kalimat alasan."Nyerocoh Ian marah-marah tidak perduli tempat karena seperti aku memang pantas untuk di marahi.
"Sudah selesai?".Nada bicara dingin seperti biasa.
"CK, sudah sana masuk. Gue akan jelaskan selanjutnya di jalan."
"Biar gue yang nyetir."Ucap ku berlalu lebih dulu mengambil kemudi mobil.
Sepanjang perjalanan Ian menceritakan semuanya yang terjadi selama kepergian ku. Namun ada hal yang menganggu isi kepala ku.
"Yohan awas."Shett..... Mobil yang aku kendaraani melakukan drift sebelum akhirnya berhenti dengan baik di pinggir tebing, setelah menghindari truk besar yang akan ku tabrak.
"Lu kenapa anjing?".Tanya Ian.
"Tidak papa. Sorry gue kurang fokus tadi."Ucap ku melanjutkan perjalanan kembali.
Next......
"Selalu tidak ada di rumah."Ucap sesosok wanita yang duduk di Sova ruang tamu rumah Yohan.
"Tante."Ujar pelan Yohan melihat Tante Kalisa.
"Mama."Begitu juga Ian yang batinnya langsung berkata,"Astaga jika tadi Yohan belum ketemu gue akan bilang apa. Mama ku sulit di bohongi."
"Hy...kalian berdua kenapa?".Kalisa yang sudah beranjak dari tempat duduknya,"Ada yang kalian berdua sembunyikan."
Mengambil langkah maju,"Tidak mama. Mama kapan sampai?Kenapa tidak telfon Ian dulu?".Ian merangkul bahu mama nya.
Dekk.... Mendorong perut putranya dengan sikunya,"Tidak aneh-aneh, di telfon saja jawab berbelit-belit siapa yang tidak khawatir di sana."Ucap Kalisa.
"Mama kan tau publik speaks anaknya jelek."
"Hem...untung wajahnya tidak jelek."
"Mama."
"Lebih baik kamu mandi. Bau sekali tubuh mu, apakah selama datang ke sini kamu tidak mandi."Nada marah Kalisa,"Kamu juga sama Yohan?".
Yohan yang awalnya hanya terdiam memperhatikan mendapatkan bertanya itu,"Belum."
"Jorok. SECEPAT MANDI SEKARANG."Teriak kencang Kalisa tegas menyuruh dua pemuda ini.
Ian pontang panting berlari naik ke lantai atas, lalu ia kembali lagi ke bawah menarik Yohan yang jalannya lelet sekali.
"Cepat o'on lu mau di bunuh sama mama gue."Ucap Ian.
+++
Tokk....Tokk....Aku mengetuk-ngetuk pintu kamar Tante Kalisa,"Masuk."Mendengar sang pemilik mempersilakan masuk aku pun membuka pintu kamar ini.
"Katanya mau keluar sama Ian. Belum berangkat?".Kata Kalisa yang melepaskan kaca mata yang ia kenakan untuk membaca buku,"Nanti pulang kemalaman kalau tidak berangkat-berangkat."Lanjut.
Seakan mengerti diam ku. Tante Kalisa mempersilahkan aku untuk duduk di samping nya.
Aku berlalu mendudukkan pantat ku di sana,"Mau bicara apa?".
"Ada yang ingin aku tanyakan."Kata ku fokus pada lawan bicara ku.
Atensi Tante Kalisa melihat ku, beliau terdiam menunggu kalimat selanjutnya yang aku katakan.
"Apakah laki-laki harus wajib melindungi wanita? Sementara wanita sangat merepotkan".
Tante Kalisa tersenyum tipis mendengar pertanyaan ku,"Iya, walau mereka merepotkan."
"Siapa dia?".
"Siapa?."
"Hem,"Menyungging senyum tipis,"Kamu sudah dewasa sekarang. Sudah wajar jika kamu mulai tertarik dengan lawan jenis."Kata Tante Kalisa,"Mau tau soal perempuan. Perempuan itu sulit sekali di pahami. Apapun yang di lakukan laki-laki selalu salah di mata perempuan."
"Perempuan juga tidak mau di salahkan, membuat banyak laki-laki sering menyerah memahami mereka ataupun memperjuangkan mereka."
"Akan tetapi apapun kesalahan mereka sebagi seorang laki-laki kita juga harus tetap sabar. Bukan mengalah akan tetapi sabar. Perempuan akan luluh dengan mereka yang memiliki tutur kata yang lembut."
"Dan yang paling penting."Masih fokus pada manik mata ku,"Jangan pernah melakukan hubungan di luar nikah."
"Selain melindungi seorang laki-laki juga harus bisa menjaga kehormatan perempuan."
"Kehormatan perempuan sangat lah penting. Karena mereka yang kehormatan nya sudah rusak maka semuanya juga akan hancur. Sementara laki-laki tidak."
"Maksudnya?".Tanya ku.
"Perempuan yang kehormatan sudah rusak sering di buang dan di anggap sebagai wanita murahan. Sementara laki-laki entah mereka masih memiliki kehormatan atau tidak. Laki-laki tetap terlihat terhormat, dan baik. Walau mereka sudah kehilangan kehormatan nya beberapa kali."
Mengganti cepat tatapan sorot matanya menjadi tajam,"Jadi jangan pernah kamu merusak kehormatan perempuan. Hargai mereka jika kamu menyukai nya jaga jangan di rusak."
"Tante juga mengatakan hal sama kepada Ian berulang kali. Sampai Tante mendengar salah satu dari kalian merusak kehormatan perempuan."Tante Kalisa menampilkan aura mengerikan dalam dirinya sebagai seorang ibu,"Pelajaran mengerikan akan kalian dapatkan."
Aku menyungging senyum tipis,"Yohan."Seru Ian melangkah masuk ke dalam kamar mama nya.
"Gue cariin malah ngobrol di sini sama mama."Kata Ian,"Ayo berangkat."
"Sebenarnya mau kemana? Buru-buru sekali?".
"Aaammm.......,"Menyahut sendawa Ian,"Acara sama teman-teman."Kata ku.
"Hem...jangan pulang malam-malam, sekarang sering turun hujan bahaya demam."
"Siap ma."Ian berlalu pergi dari sana yang akhirnya aku susul ikut pergi meninggalkan kamar Tante Kalisa.
"Melihat mereka dewasa aku jadi takut sendiri. Di jaman sekarang godaan makin banyak."Kalisa kembali memasang kacamata nya untuk menyambung membaca buku yang tertunda.
+++
Baru keluar dari lantai atas,"Dik."Seru Nazil pada adiknya yang baru masuk ke dalam rumah.
"Kamu kenapa?Hy mata kamu bengkak".Menghentikan langkah adiknya, melihat sepasang mata bengkak itu.
"Di gigit nyamuk, minggir."Nana mendorong kasar tubuh abangnya yang menghalangi jalannya.
Yudha yang mendengar suara putrinya langsung beranjak dari tempat duduknya, keluar dari ruang keluarga untuk memastikan.
"Kenapa tidak telfon ayah kalau mau pulang."
"Mau telfon atau tidak aku tetap pulang sendiri."Nada bicara dingin Nana,"Aku mau istirahat jangan ganggu aku."Nana berlalu menyeret tas ransel nya baik ke lantai atas di mana kamar nya berada.
"Karena ayah adik jadi marah sama kita juga."Ucap Fazil yang berdiri di belakang ayahnya.
Sementara Yudha masih terdiam memperhatikan kepergian putrinya yang berlahan-lahan hilang dari pandangan mata nya. Ia hendak menyusul putrinya ke lantai atas. Akan tetapi Alyah yang baru keluar dari dapur berkata,"Sudah jangan di susul. Biar bunda saja."
"Kalian selalu berbuat seenaknya pada putri ku."Alyah berlalu pergi menyusul putrinya naik ke lantai atas.
Melihat ratu rumah ikut marah. Ketiga pemuda ini hanya bisa terdiam, karena membalas ucapan Alyah sama dengan mencari mati.