
Keesokan paginya. Aku bagun lebih cepat dari biasanya. Hanya untuk membuat sarapan untuk ku dan Ian. Seperti bukan aku, tapi aku harus melakukannya. Karena hanya aku yang bisa memasak di sini. Dan Ian hanya bisa mengebom dapur ini. Jika aku menyuruhnya membuat sarapan.
Bukan hanya alasan itu, akan tetapi karena kejadian semalam juga menjadi alasan ku untuk membuat sarapan. Tenaga ku hampiri terkuras habis hanya untuk menahan sesak. Membuat ku sangat kelaparan di pagi hari nya.
Next....
"Waduh-waduh seorang Yohan Narendra yang kejam dan keji saat ini tengah membuat sarapan. Mengenakan piyama pink pula."Ledek Ian yang baru datang ke dapur.
Shett......Pisau dapur yang tajam terlempar tepat ke arah Ian duduk Weerr......, reflek cepat sadar Ian langsung memiringkan tubuhnya untuk menghindar dari pisau yang lewat dengan mulus di atas nya,"Astaga."Manik mata yang sudah membulat sempurna.
Kembali ke tempat duduk semula,"Mau bunuh saudara sendiri?".
Aku yang sibuk dengan masakan ku,"Membunuh orang gue bisa kenapa membunuh saudara sendiri tidak bisa."
"Waduh cuaca hari dingin sekali."Ucap Ian,"Lu masak apa?".Tanya mencari topik lain karena yang tadi sudah terlalu panas.
Membawa mangkuk berisikan sup ke atas meja makan. Di susul oleh sepiring nasi.
"Ko cuma satu nasinya buat gue?".Tanya Ian yang melihat aku hanya membawa sepiring nasi untuk diri ku sendiri.
Lantas atensi ku terfokus pada Ian dingin. Mendapatkan tatap itu Ian segera beranjak dari tempat duduknya,"Ingat Ian lu itu sudah di masak kan masih minta ngelunjak."Ian berlalu untuk mengambil nasi sendiri.
Sebelum akhirnya bergabung dengan ku kembali untuk menikmati menu makan pagi buatan ku.
Next.....
"Serius mau naik sepeda?".Tanya Ian ragu kepada ku yang hendak berangkat sekolah mengunakan sepeda angin.
"Iya, lu pakai saja motor om gue. Tapi jangan sampai lecet."
"Iya."Balas Ian,"Kalau ada apa-apa di jalan segera telfon gue."
"Hmm."
Aku dan Ian pun berangkat sekolah dengan cara kami masing-masing. Ian berangkat lebih dulu mengendarai motor Vario. Dan aku berangkat tertinggal menaiki sepeda angin. Dengan jarak tempuh ke sekolah yang lumayan menurut ku.
Next....
"Yohan."Teriak seseorang memanggil nama ku.
Seseorang itu sama mengendarai sepeda angin sama seperti ku. Ia mengayunkan medal sepeda nya sampai sejajar dengan jalan ku.
"Ian mana?".Tanya seseorang itu, Irgi.
"Duluan."
"Dani tidak masuk sekolah?".
"Tidak."Balas Irgi,"Kemarin sore gue ke rumah buat pinjem buku matematika, tapi iya sama kayak yang di omongin Brian. Kalau rumahnya sepi."
"Apa jangan-jangan Dani pindah sekolah."Kata Irgi memukul gagang setir sepedanya,"CK awas saja kalau beneran pindah dan tidak pamit."
"Emang kenapa?".
"Teman itu harus saling mendukung rekannya."
"Apa maksudnya?".Batin ku yang di buat bingung dengan cara bicara Irgi.
Next....
Sesampainya di sekolah. Aku segera berlalu masuk ke kelas bersama dengan Irgi. Di ruang kelas ku yang selalu ramai dengan para siswa siswi nya yang sangat berisikan.
Terutama Nana dan Rara. Entah kenapa anak itu tiba-tiba terlihat sangat bersemangat. Padahal sejak awal aku masuk ke dalam sekolah ini aku selalu melihat Nana tidur. Dan tidur di setiap pagi dan jam istirahat, pelajaran pun iya.
"Mana musiknya mas Vano."Teriak Nana yang di tanggapi oleh suara tangan-tangan lincah Vano yang memainkan meja belajar nya.
Pakak...Ketpakk...Pakpak...BakkBakak......Bekbek.....,"Asek....aahahah....Asek.....".Suara Billal yang ikut mendukung suasana.
"Eehh stop."Vano yang menghentikan musik nya. Atensi terfokus pada Jian,"Lu tidak boleh ikut, duduk lu."
Menjinjing sebelas bibirnya,"Siapa gue lu ngatur-ngatur."
"Gue pacar lu sekarang, jadi cepat patuhi perintah gue cepat duduk."Nada bicara Vano membuat seisi kelas terdiam hening seketika. Namun tiba-tiba,"Na."Panggil ku pada Nana.
"Hmm?".
"Tugas matematika lu belum."
"Serius."Nana bergegas kembali ke habitat nya.
"Uhuk...Tegang bener nih suasana."Ucap Billal mencairkan suasana mencekam yang datang.
"Ra."Panggil seseorang siswa perempuan pada Rara.
"Apa?".
"Antar gue ke toilet."Kata siswi ini, Gita.
Aku yang masih duduk di tempat biasanya. Berkata pelan,"Lain kali kalau bermain jangan kayak gitu. Perempuan harus terlihat misterius untuk melindungi harga dirinya."
Nana yang mendengar itu langsung menghentikan kegiatan menulis dan berpaling ke arah sumber suara.
"Faham kan?".Ucap ku menyungging senyum tipis sekilas.
"Dasar buaya darat."Ucap Jian kembali duduk di bangku nya.
Tertunduk lesung,"Gue berusaha menghilangkan julukan itu dan berusaha untuk setia dengan yang ini, tapi sesulit ini ternyata."Gumam Vano merajut putus asa.
Menepuk bahu Vano,"Sabar bro."Ucap Ian.
"CK lu datang-datang sabar, sabar, sabar muluk kosakata yang lu ucapkan."Ngegas Vano beranjak kembali ke habitat nya semula.
Bingung salahnya di mana,"Salah gue di mana?".
"Salah lu ikut campur."Timpal Billal yang duduk di samping bangku ku.
Next......
"Yohan."Panggil Brian pada ku.
"Kalau nganggur mau ikut gue bentar?".
"Kemana?".
"Perpustakaan."
"Ya."Aku beranjak dari tempat duduk berlalu pergi meninggalkan ruang yang tidak terlalu ramai karena sedang jam istirahat.
Aku berjalan beriringan dengan Brian yang mau pergi ke perpustakaan sekolah.
Baru ada di ambang pintu masuk,"Yohan di mana?".Tanya Ian yang baru saja memasuki ruang kelas.
"Keluar sama....".Jawab siswi perempuan.
"..Brian ke perpustakaan."Timpal yang lain.
Ian kembali berlalu meninggalkan ruang kelas.
"Btw kalau tidak bisa dapat yang satunya yang barusan juga tidak papa."Ucap para ciwik-ciwik.
"CK mata lu."
Menyangga dagunya,"Yang satu adem banget di lihat, yang satu cerah banget di lihat."
"Terus target lu kedua Abang Nana gimana?".
Menunduk lesung,"Menaklukkan adiknya saja sulit sekali."
"Waduh, waduh sedang membicarakan siapa nih ikut gabung topik gosipnya."Rara yang langsung asal duduk saja.
"Jangan Harap dapat Abang gue Gita."Timpal Nana yang tetap duduk di bangku nya.
"Hmm."
Nana yang melihat itu menyungging senyum miring melihat tingkah sahabatnya yang suka mengganggu acara serius yang lain. Serius gosip bukan yang lain.
Next......
"Ian."Panggil seseorang memanggil nama Ian.
Ian yang tengah berjalan seorang diri di lorong sekolah menghentikan langkah nya,"Kemana?".
"Perpustakaan."
"Mau apa lu kesana?Belajar di internet saja bisa".Ucap Vano pemilik suara ini.
Merubah ekspresi wajah 180 derajat menjadi datar,"Internet memang mudah untuk di pelajari materinya, akan tetapi kekurangan internet lebih beresiko. Merusak mata dan resiko buruknya terjun ke jaringan lain."
"Menurut ku membaca buku jauh lebih santai dan nyaman."
"Kenapa sini?".Tanya ku pada Ian.
"Barusan mau gue susul sudah kembali saja."
Brian menunjukkan bukunya,"Gue sudah dapat bukunya."
"CK kalian berdua benar-benar. Etss...gimana Vano."Ian melempar ucap nya pada Vano.
Vano yang ikut memperhatikan,"Gak tau tapi di sini dingin sekali."
"Gue tidak tau kalian berdua terbuat dari apa. Sikap kalian berdua benar-benar....ayo, ayo ke kelas."Ajak ku yang tidak sanggup lagi melihat ekspresi datar kedua pemuda yang terlihat seperti sebongkah es yang tampan.