
Selesai dengan keributan di lapangan. Kami berdua keluar pintu pondok menghampiri mereka bertiga yang tengah menunggu kedatangan kami.
"Ayo pulang".Ajak Fazil pada adik nya.
"Tapi....,"Fazil langsung saja menarik pergelangan tangan adiknya untuk ikut bersamanya. Masuk ke dalam mobil nya.
Belum lama selepas kepergian. Nana aku mendudukkan tubuh ku di kursi panjang ini sembaring menggenggam perut ku yang mengeluarkan banyak darah.
Melihat itu Ian langsung membantu ku berdiri,"Sial kau".Umpat nya,"Kalian berdua bisa pergi obati luka kalian".Ian yang sudah memapah ku berlalu pergi.
+++++
Dokter telah selesai menjahit luka ku, akan tetapi aku tidak bisa langsung pergi di kala aku harus menunggu transfusi darah ini selesai.
Akibat dari banyak kehilangan darah, dengan terpaksa aku harus melakukan transfusi darah.
Selama itu, Ian masih setia menemani ku. Walaupun pada kenyataannya Ian tengah tertidur pulas di Sova panjang kamar rawat inap ini. Membiarkan ku yang tidak bisa tidur terjaga seorang diri.
++++++
+++++++++++
Malam menjelang pagi. Aku dan Ian sudah dalam perjalanan pulang. Setibanya di rumah aku sudah di tunggu oleh Kenzo dan Kenichi. Yang memang ku suruh untuk datang ke sini.
Aku yang sudah duduk di Sova panjang depan mereka,"Besok hari terakhir kalian berdua sekolah. Pastikan sudah tidak ada keributan lagi setelah kepergian kalian".
"Nanti sore aku akan mulai menyergap rumah....".
"Sudah cukup, tidak ada lagi penunda-penundaan. Aku ingin masalah ini segera usai".Aku dengan manik mata tajam membunuh.
+++++
Tibalah menjelang sore hari. Aku dan Ian mulai bergerak, hanya berdua. Dengan strategi yang pas tanpa harus sudah payah meminta bantuan yang lain.
Bukan karena tidak ingin meminta bantuan. Akan tetapi aku tidak ingin ada campur tangan orang lain di dalam nya. Masalah pribadi ku akan ku selesaikan sendiri. Dan akan akan ku bunuh sendiri musuh ku dengan tangan ku.
Aku bergerak menyelinap masuk ke dalam kediaman rumah yang sangat ketat penjagaan. Dengan langkah hati-hati aku terus berjalan mau seorang diri.
Menyimpan kembali pisau yang ku pergunakan, untuk kembali melanjutkan perjalanan setelah selesai memastikan situasi selanjutnya aman.
++++
Dermmm....Derummm....Nada panggilan telfon rumah berdering. Pria yang baru saja selesai mandi. Masih mengenakan handuk kimono, melangkah mendekat meja tempat telfon itu berbunyi.
*Ha?".
*Rumah Tuan telah di serang, aku menemui beberapa penjaga telah tewas".
"Benar sekali".Aku yang sudah menodongkan pisau belati di samping leher pria ini yang berlahan-lahan sudah mengucur sedikit bercak merah.
*Penyusup itu telah masuk ke dalam kamar ku".Ucap pria ini dalam panggilan telfon sebelum ia putuskan sepihak.
"Apa mau mu?".Tanpa pria ini pada ku.
Sedikit menekan benda tajam ini,"Watashi wa omae o korosu".Bisik ku pada di dekat telinga pria ini.
(Aku akan membunuh mu)
Mengucurkan sedikit keringat dingin di pelipis kepala nya. Tidak membuat pria ini, atau Tuan Zaken mati gaya untuk tidak menyungging senyum miring.
"Silakan".Di barengi gerakan cepat Tuan Zaken menggenggam memutar pergelangan tangan ku. Brakkk......Pukulan sangat kuat sampir saja membuat ku mati.
Aku cepat menyadari pergerakan Tuan Zaken sehingga dapat menghindar dengan baik dari serangan pertama Tuan Zaken untuknya.
Tuan Zaken terdiam sejenak atensi melihat sekilas ke arah pintu utama kamarnya. Aku yang melihat gelagat nya berkata,"Mereka tidak akan datang, aku sudah merusak Liv rumah mu".
"Jika saja kau berpikir cerdas mungkin kau juga akan membangun tangga rumah untuk evakuasi darurat".Kata ku pada Tuan Zaken.
Mengepalkan tangannya semakin kuat,"Berani sekali kau berandal!!".Tuan Zaken mulai bergerak kembali menyerang ku lebih dulu.
Tuan Zaken melompat, mengambil ancang-ancang untuk mendarat kan tendangan punggung kakinya. Setpop...Bakk....Tendang kaki punggung Tuan Zaken berhasil ku tahan dengan lengan tangan kanan ku.