
Kejadian di malam itu benar-benar membuat ku jengkel. Aku berlari ke sana kemari seperti orang gila hanya demi menolong satu orang yang sangat menyusahkan. Bahkan karena kejadian semalam. Saat ini Herry tengah beristirahat pingsan tidak sadarkan diri. Itu karena luka tembakan dan tusukan yang ia terima. Syukurlah dia tidak mati, jika iya aku akan kesulitan mencari pengantin nya.
Di malam itu. Aku juga harus melakukan pertemuan lain dengan Dion dan Felix yang juga mendapatkan informasi yang aku butuhkan. Di tempat lain di danau buatan pinggir Kota. Dekat dengan pembuangan sampah.
Kejadian kemarin malam......
Aku berlari menerabas kelompok orang-orang yang berlari berlawanan arah dengan ku. Karena terlalu fokus dengan yang ada di depan. Aku sampai tidak menyadari ada seseorang pria yang menodongkan senjata api tepat di tempurung belakang kepala ku.
"Mau kemana?".Pria yang menodongkan senjata api pada ku.
Aku menjatuhkan tombak ku,"Mau pergi kesana....".Tanpa menghentikan ucapan ku. Aku bergerak cepat saat pria ini lengah mendengar ucapan ku. Aku putar lengan pria ini menjegal kaki nya. Sampai membuat tubuh nya membungkuk di depan ku. Aku tendang kuat dada pria ini dengan lutut ku. sampai ia pingsan dan aku merebut senjata api yang di bawa.
Berhasil mengalahkan satu lawan aku bergegas melanjutkan perjalanan. Dengan langkah hati-hati karena suasana stasiun ini sudah sunyi sepi dengan banyak kekacauan di mana-mana karena serangan gangster mafia.
Langkah ku terhenti di samping gang lain lorong stasiun yang ramai dengan kerumunan pria Outfit berpakaian hitam-hitam. CK, umpat ku yang mustahil jika aku menyerang seorang diri dan mengalahkan mereka berdua. Alhasil aku masih terdiam di tempat persembunyian ku, melihat situasi.
Saat memperhatikan situasi. Atensi ku justru pada seseorang pria yang tak asing untuk ku kenal berdiri berseberangan dengan persembunyian ku. Pria itu memegang senjata laras panjang otomatis. Ia sibuk memasukkan peluru ke dalam senjata. Terlihat jika pria itu, atau Herry akan bersikap untuk menyerang kerumunan gangster mafia itu seorang diri.
Aku yang masih terdiam di tempat persembunyian ku,"Cukup menghibur."Ucap ku melihat aksi Herry.
Herry berlari keluar persembunyiannya. Ia berganti bersembunyi di tumpukan tangki-tangki yang tersusun rapi. Di sinilah ia mulai mengatur posisi untuk menyerang musuhnya.
Ia beranjak dari tempat jongkoknya. Menggenggam erat senjata api Laras panjang otomatis nya. Dorr....Dorr.....Bomm......Herry menepak tepat tangki berisi kan solar di belakang para gangster. Apa yang ia lakukan menghasilkan ledakan dahsyat. Melukai hampir sebagian anggota gangster.
Tidak berhenti sampai di sini. Herry terus menembakkan timah panas pada mereka brutal. Aku yang menonton dari kejauhan, berkata,"Stupid crazy."Menyungging senyum miring.
Bakk.....Tanpa Herry sadari aku bergerak cepat ikut membantu dirinya yang hampir terbunuh oleh pukulan tongkat kasti pria ini.
Herry berpaling melihat ku sekilas. Akan tetapi lengah sebentar nya membuat dirinya tertembak tepat di perut nya Dorr....
"Kenapa kau kembali?".Tanyanya tidak memperdulikan rasa sakit yang baru saja ia dapatkan.
Aku yang mengambil ancang-ancang siap menerima serangan tiba-tiba datang,"Untuk mengajak mu ikut bergabung menjadi anggota ku."
Dorr....,"Fokus menembak lawan,"Anggota."
"Mafia."
"Yohan Narendra. Anda Tuan Yohan Ketua mafia yang paling berpengaruh."Ucap Herry membulat manik matanya sempurna.
"Awas bang****sat."Brakk...Aku tepaksa menendang tubuh Herry kuat sampai tubuhnya menubruk tumpukan tangki-tangki. Untuk menghindarkan Herry dari serangan bom yang melesat ke arah nya.
CK, sudah geram dan lelah bermain-main. Aku bersiap untuk serius mengakhiri keributan merepotkan ini.
Sementara Herry yang sudah kembali beranjak berdiri kembali lagi dari tempat jatuhnya,"Aku punya utang nyawa pada mu."Ucapnya kembali bergabung untuk berkelahi dengan ku.
"Jika begitu cepat akhirnya kekacauan yang kau perbuat."Aku berlari cepat hanya dengan mengandalkan tombak kayu dengan ujung pisau tajam. Aku melawan mereka lebih dulu.
Aku yang tidak asing dengan warna gaun yang di kenakan perempuan ini. Membuat perhatian ku teralis pada tali tombak ku.
Dorr....Jrepp.....Aku berjongkok cepat, menghentikan gerakan ku. Menyadari lengan tangan kanan ku yang tertembak.
Atensi ku melihat tajam ke arah darah yang mengalir deras dari dalam tubuh ku. Lantas aku beranjak dari tempat ku berjongkok. Fokus perhatian yang tertuju pada sekelompok gangster mafia,"Tetap lah di sini, sampai ku suruh keluar."Kata ku pada wanita yang bersembunyi di samping ku. Aku yang berdiri menghadap pada sekelompok gangster mafia.
Aku bergerak lebih gesit lagi melakukan gerakan parkour menghindar peluru-peluru tembakan. Bakk.... punggung kaki kanan ku menendang kuat pipi salah satu gangster.
Iya, aku yang sudah dekat dengan mereka langsung menggerakkan otot kelincahan ku menyerang mereka semua brutal seorang diri.
Dapp....Brakk....Aku melompat merentangkan kedua kakiku menendang langsung dua orang musuh.
Sesaat kemudian aku terdiam berdiri di kelilingi tubuh para gangster mafia yang sudah tidak bergerak lagi. Aku mengatur nafas ku belahan-lahan. Aku berpaling ke arah semula aku datang karena gendang telinga ku mendengar suara teriakan samar dari sana.
Baru aku berpaling,"Belakang mu."Teriak Yohan yang tengah berlari ke arah ku cepat.
Mendengarkan jelas Depp....Sett....Brugk....Aku menarik tangan seseorang di belakang ku. Menarik ku membanting tubuhnya ke depan dengan sekuat tenaga. Dengan sekali tarikan nafas singkat dari ku.
Pria ini langsung menggeliat kesakitan pada punggung nya. Merasa kasian aku melangkah mendekat menginjak dada kiri pria ini untuk mempercepat mengurangi rasa sakitnya. Bugk.....
Kalian pasti berpikir semuanya sudah selesai. Sayangnya belum karena sesaat kemudian masih ada dua pria gangster yang muncul dari samping gang lorong stasiun. Tepat di belakang Herry berdiri.
"Dua orang belakang mu."Ucap ku pada Herry di barengi dengan tangan kanan ku yang bergerak melemparkan tombak senjata ku yang masih ku bawa.
Shett......Tombak ku meluncur ke arah salah satu pria dengan cepat. Sementara Herry yang terlambat menyadari. Bakk....Herry meninju musuhnya. Yang di susul dengan tendangan di lutut membuat pria ini membungkuk. Memberikan Herry peluang untuk memberikan tendangan terakhir yang lebih kuat pada pelipis kepala musuhnya yang langsung tidak sadarkan diri menyusul rekannya yang sudah mati tertusuk tombak ku.
Akan tetapi sesaat kemudian. Herry ikut tersungkur tidak sadarkan diri. Aku yang tengah berjalan mendekati nya pun mempercepat langkah ku untuk segera mendekat.
Aku berjongkok di samping Herry tersungkur, membalikan tubuhnya,"Tertusuk."Ujar ku mencabut pisau yang menancap di perut Herry.
Teringat dengan wanita tadi,"Kau bisa keluar sekarang."Suruh ku.
Wanita ini beranjak keluar dari tempat persembunyian nya bersama seorang anak kecil dalam gandengan tangan nya.
"Bantu aku menaikan pria ini ke atas punggung ku."Minta ku pada wanita ini.
Next masa sekarang.....
Aku yang tengah duduk di Sova tamu,"Dia belum siuman?".Tanya ku pada Zack.
"Belum."Balasnya,"Aku sudah menganti pakaiannya. Aku akan keluar mencari makanan. Apa kau mau juga?".
Aku beranjak dari tempat duduk ku,"Beli saja minum aku sudah pesan makanan."Dan berlalu pergi dari ruang ini.
"Ya."Zack berlalu pergi meninggalkan ruang ini.