The Revengers

The Revengers
Eps.21



Keesokan harinya. Selepas sarapan kami berdua bersiap untuk pergi kembali. Aku dan Ian hendak berangkat sekolah karena sudah kesiangan. Akan tetapi karena ada Tante Kalisa mama Ian yang tidak tau apa-apa. Kami berdua mencari alasan lain agar bisa pergi keluar.


Kami keluar dengan pakaian santai. Kami berjalan mendekati Tante Kalisa hendak pergi ke ruang keluarga. Ian merangkul bahu mama nya dari belakang,"Kami pamit ma."


"Mau kemana lagi, kalian berdua tega sekali meninggalkan mama sendirian."Kata Tante Kalisa,"Mama mau ajak kalian jalan-jalan, temenin mama belanja."


"Tidak bisa ma ini penting sekali."


"Lebih penting mana, mama sama urusan tidak jelas kalian berdua."


Ian terdiam,"Aku janji tidak akan pulang terlambat. Sampai rumah langsung temani Tante belanja."Kata ku.


"Kalian berdua jelas berbohong. Semalam saja kalian pulang larut malam."


"Yang ini tidak ma, janji."Ian mencium pipi kanan mama nya sekali sebelum akhirnya berlalu pergi mendorong tubuh ku agar segera berjalan menjauh.


"Inilah kenapa aku ingin punya anak perempuan."Gumam Kalisa menatap kepergian kedua anak-anak yang sudah dewasa.


++++


Jauh dari rumah, aku langsung menghentikan laju mobil ku. Tepat di depan sepeda motor pria yang tengah terparkir di depan ku. Aku dan Ian beranjak turun dari dalam mobil setelah memarkir mobil dengan baik.


"Ini kunci mobilnya, kau bisa pergi."Aku memberikan kunci mobil ku pada Lucky.


Selepas menukarkan kunci motornya dengan mobil ku,"Baik Tuan."Lucky berlalu pergi dari sana mengendarai mobil ku.


Atensi ku yang terfokus pada Ian,"Ayo."Aku berlalu berjalan kaki menjauh dari sana.


Kami berganti pakaian di toilet umum di daerah ini. Selepas berganti pakaian, kami langsung melanjutkan perjalanan pergi ke sekolah mengendarai motor Honda RC213V-S milik Lucky.


Aku mengendarai motor ini dengan kecepatan 800 cc sekali jalan. Untuk mengejar waktu sampai tepat waktu di sekolah. Di kala sisa waktu sebelum terlambat hanya tinggal 50 detik lagi.


"Bang***sat!!!Kalau sayang Tuhan jangan kayak gini juga Yohan."Ian sudah bodoh amat, entah siapa yang ia peluk saat ini. Karena keselamatan nyawanya jauh lebih penting.


Menyadari kecepatan motor jauh berlahan-lahan kembali normal. Ian langsung memperbaiki posisi duduknya. Tidak lupa ia mengepak kuat helm yang Yohan kenakan. Pakk....


Memperbaiki rambut yang sangat berantakan karena ia tidak memakai helm,"O'on Anjing!!!".Geram Ian mengepal-ngepalkan tangan nya ingin sekali membunuh sepupu biadab ini. Tatapan tajam itu tertuju pada ku yang Bodoamat dengan keadaan nya.


Selepas melepas helm aku yang selesai memarkir motor bergegas pergi dari sana untuk ke kelas. Karena 10detik lagi jam pelajaran di mulai.


+++


"Assalamualaikum."Teriak Rara membuat suasana rumah aman damai ini menjadi bergetar dengan suara cempreng nya.


Fazil Abang kedua Nana yang tengah sibuk menata berkas kerjaan nya di ruang tamu. Atensinya langsung tertuju berpaling melihat pintu utama rumah nya.


"Bolos lagi."Fazil yang tidak memperlihatkan ekspresi kaget sedikit pun dengan tingkah Rara.


"Iyaaa."Balas Rara,"Balas bang salam ku, udah kenceng banget tadi."


"Wassalamu'alaikum."Beranjak dari tempat duduknya.


"Nana di atas bang."


"Iya."


"Okay."Rara berlalu langsung naik ke lantai atas rumah ini.


Di tengah jalan Rara yang berpapasan dengan Abang pertama Nana,"Pagi bang!!".Tanpa mengehentikan langkah kaki kecilnya.


Menarik kerah pakaian belakang Rara, membuat tubuh tertarik kembali ke tempat semula.


Masih menggenggam kerah pakaian Rara,"Lepas bang, mentang-mentang Rara pendek berbuat eneknya saja."Rara melirik tajam.


Melepaskan genggamannya,"Mau kemana?".


"Ketemu Nana lah, iya masak ke temu Abang."


Tidak mendapatkan respon Rara pun tertawa renyah,"Hahhehahah....Abang mah tidak ada bedanya sama bang Arya. Di...Ngin!".


Tidak memperdulikan Rara lagi, Nazil berlalu pergi melanjutkan perjalanan nya turun ke lantai bawah.


Melihat kepergian Nazil,"Tuh sama kayak bang Arya."Ujar Rara tidak kaget.


Sampai di lantai kamar Nana. Rara melanjutkan langkah nya yang sedikit lagi sampai di kamar sahabat nya.


Di depan kamar Nana. Rara yang ingin membuka pintu kamar keduluan oleh seseorang yang membuka lebih dulu pintu ini dari dalam.


"Tante."Seru Rara melihat mama Nana keluar dari kamar Nana.


Melihat Rara yang mengenakan seragam sekolah,"Bolos."


"Padahal kamu anak....".


"Shutt...Tante."Memotong ucapan Tante Alyah,"Aku memang di buat oleh ayah dan mama yang sangattt terkenal pintar di akademik. Tapi....ingat Tante kalau Rara ini di ciptakan oleh siapa. Rara di ciptakan oleh Tuhan, jadi jangan samakan Rara dengan kedua orang tua Rara."


"Iya terserah kamu, sana masuk Nana tadi menunggu kamu katanya."Yang di balas anggukan kepala oleh Rara.


Selepas Tante Alyah berlalu pergi dari sana. Rara pun berlalu masuk ke dalam kamar Nana.


Bakk.....Sebuah bantal mendarat sempurna di wajah Rara menyambut ke datang Rara.


"Basi omongan lu."Ucap Nana yang duduk di atas tempat tidur nya.


Memayung kan bibirnya,"CK sahabat datang di suruh duduk dulu kek, di tawarin makan atau minum kek, ini malah di timpuk bantal."Ngedumel kesal Rara di depan pintu kamar Nana.


Masih tetap duduk di tempat tidurnya,"Sorry, sorry, lu tutup dah pintunya terus duduk sini-sini gue lihat kartun Spongebob nih. Yang tingkahnya aneh sama kayak lu".


Selesai menutup pintu kamar Rara berjalan kesal dan duduk kasar di tempat tidur Nana.


"Lu bisa marah?."


"Auah."


"Bawah pesanan gue?".


Langsung mengubah posisi duduk nya menghadap sahabatnya,"Lu bener-benar tidak isi kan?".


"CK pertanyaan apaan o'on."Ucap Nana terkesan tersinggung.


"Kalau iya nanti kita tidak bisa lihat pertandingan bola, gue udah punya tiket nya o'on Abang gue belikan kemarin."


"Serius!?".Nana bersemangat. Yang di balas anggukan kepala dari Rara.


"Oh iya, sini barang pesanan gue biar gue simpan."


Membuka tas ransel nya dan memberikan nya pada Nana,"Nih, nihh ganti aja dengan belikan gue jajan selama ada di dalam stadion."Memberikan alat tes kehamilan pada Nana.


Nana menerima nya dan menaruh alat itu di dalam laci meja samping tempat tidurnya,"Okay-okay."


"Bolos gini enaknya tidur."Merebahkan tubuh nya,"Gue numpang tidur sampai sore iya."Ucap Rara yang sudah tidur membelakangi Nana yang masih terduduk.


"Sampai malam pun tidak papa, gue tidak kaget sumpah."


+++


Entah kenapa hari ini terasa sangat lama sekali. Bahkan jam pulang sekolah pun sangat lama sekali. Aku sangat bosan sekali. Alhasil saat jam pelajaran terakhir aku tidak masuk kelas. Aku pergi ke atap dan tiduran di sana sambil menunggu bel pulang berbunyi.


Sampai nada panggil masuk ke dalam ponsel ku mengusik tidur ku. Aku menerima panggilan yang masuk tanpa mengubah posisi tidur ku.


*Tunggu!Ulangi ucapan mu."Aku yang langsung terbangun duduk setelah mendengar cerita yang mengusik ku di seberang sana.


*..........".


*Beberapa hari lagi aku akan terbang ke sana. Selama itu handel dulu semuanya sendirian, jika perlu apa-apa segera hubungi aku."


*Baik bos."


Panggil ku akhir sepihak.


Aku beranjak pergi ke kelas. Berjalan kembali turun ke kantai bawah.


Di tengah-tengah perjalanan ku. Sepp...Aku menangkap tas ransel yang terlempar ke arah ku.


"Jam pelajaran sudah usai sejak tadi tidak turun-turun. Lu lupa sama janji lu."


Aku masih terdiam di tempat ku tidak merespon,"Lu harus temenin mama gue belajar."


"Ada lu kenapa harus gue."


"CK ya kita berdua anjing."


"Gue sibuk."


"Tidak, untuk kali ini lu ikut gue."Mencengkram kuat pergelangan tangan ku,"Ayolah Yohan, mama gue sangat mengharapkan ku ikut. Lu mau mengecewakan mama gue."


"Ya."Aku menepis kasar tengah Ian dengan sekali hempasan,"Gue ikut."


"Sorry, kasar anjing."Ucap Ian mengelus punggung tangan nya yang memerah pink.


Aku berlalu pergi lebih dulu yang di susul dengan Ian yang berjalan beriringan dengan gue. Untuk bersiap kembali pulang.