
Sementara Yohan tengah di tangani oleh dokter di dalam ruang operasi. Ian yang masih sangat khawatir tidak bisa duduk dengan tenang walau hanya sebentar saja. Ia terus berdiri berjalan-jalan di depan pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.
"Bodoh anjing".
"Aku bilang juga apa?Ini adalah ide bodoh. Dasar sepupu sialan, akan ku bunuh kau kalau sudah siuman. Enaknya buat diriku panik seperti sekarang".Batin Ian marah-marah.
Akhirnya yang di tunggu lampu operasi padam dan dokter di dalam keluar untuk memberitahukan hasil nya.
"Operasi pengambilan peluru dalam tubuh Tuan Yohan berjalan dengan baik. Tuan Yohan selamat dari mau, akan tetapi..".
"Tidak perlu bertele-tele langsung pada intinya".Geram Ian yang di landa khawatir kecemasan sejak tadi.
"Tuan Yohan sudah melewati masa kritis. Walaupun ia memiliki luka yang serius di paru-paru nya."
"Ada peluru yang menggores dinding paru-paru Tuan Yohan yang mengakibatkan pendarahan yang cukup hebat di luar dinding paru-paru. Juga benturan di kepala beberapa kali yang tidak sampai berakibat fatal pada nya. Dalam kasus seperti ini seseorang yang terkena pasti akan meningal. Namun Tuan Yohan berhasil bertahan walau peluru itu sudah hampir menyobek paru-paru nya. Juga luka pukulan di kelapa nya".
"Kami akan segera memindahkan Tuan Yohan ke kamar rawat inap. Permisi".
"Monster".Gumam Ian bernafas lega mendengar sepupunya baik-baik saja. Dan berhasil melewati masa kritis dengan baik.
++++++++
Mengobrol di ambang pintu kamar kamar rawat inap Yohan,"Maaf Tuan Ian. Zaken dan anak buahnya berhasil lolos dari kejaran kami".
Terfokus pada Kazuo yang sudah berdiri di depan nya,"Biarkan, sampaikan terimakasih ku pada Tuan Yuki".Kata Ian memberikan pesan kepada Kazuo untuk menyampaikan pesan terima kasih nya pada Tuan Yuki seorang pemimpin Yakuza saat ini.
"Baik Tuan Ian, permisi".Kazuo membungkuk hormat sekilas sebelum berlalu pergi meninggalkan kamar rawat inap Yohan.
"Iya".
Ian kembali berjalan mendekati bankar ranjang pesakitan Yohan. Tanpa ia sadari Yohan yang sudah siuman,"Dia berhasil kabur".Ucap nya.
Ian beranjak duduk di kursi samping ranjang pesakitan Yohan terbaring,"Hemm".
"Kau fokus saja dengan kesembuhan mu, kau hampir mati bang***sat".
Terfokus melihat langit-langit kamarnya,"Tidak ada yang lebih sakit dari luka ku. Sebanyak apapun luka yang ku dapatkan luka di hati jauh lebih sakit. Kau tidak akan mengerti, kau terlahir di keluarga yang sempurna. Sementara aku, kehilangan semuanya, ayah, bunda, om, lalu sekarang kakek. Sekarang aku benar-benar sendirian dan semakin sakit".Kata Jovan tanpa melihat lawan bicara.
Ian yang terfokus dengan tatapan tajam itu,"Sakit kan!".
"Gitu kau bilang tidak sakit. Kau pikir aku tidak sakit anjing. CK seharusnya aku biarkan kau mati. Agar aku tidak mendengar ucapan seenaknya saja berkata sendirian tidak punya siapa-siapa. Terus ku anggap aku apaan?Kau berutang banyak dengan sepupu mu ini".
"****...".Meringis tersenyum miring.
"Urusan saja urusan mu setelah kau sembuh".Kata Ian,"Aku tidak mau mama ku bersedih karena mendapat kabar kau tiada. Mama ku sangat menyayangi mu lebih dari ku, putranya sendiri. Jadi jangan pernah anggap dirimu tidak memiliki siapapun, jangan lupakan kasihan kedua orang tua ku yang menyayangi mu".
"Dia lebih banyak bertanya soal kabar mu dari pada kabar ku saat mereka menghubungi ku".
"Jangan buat orang tua ku khawatir. Akan ku bunuh kau sampai membuat mereka bersedih".
"Kau tidak sedih mereka berdua menyayangi ku dari pada kau?".Tanya Yohan pada Ian.
"Sedih tidak!Cuma pingin bunuh mu itu saja".
"CK".
Tertawa terbahak-bahak melihat respon Yohan,"Hahahhh....tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan. Iya gimana iya, iya...iya....kau adalah mesin ATM ku. Tempat aku mendapatkan uang jajan tambahan. Jika seandainya aku membunuh mu aku tidak akan pernah lagi mendapatkan uang jajan tambahan".
"Bukan kah jauh lebih baik kau membunuh ku, dengan begitu kau akan mendapatkan seluruh saham keluarga tanpa mengemis pada ku".
"Ck sempit sekali pikiran mu".Beranjak dari tempat duduknya,"Kau tidak butuh apa-apa?".Tanya Ian yang sudah berdiri di samping ranjang pesakitan Yohan.
"Tidak".
"Aku akan tidur, jika butuh sesuatu teriak saja. Bangunkan seluruh rumah sakit".Ian berlalu mendekati sova panjang ruangan ini. Untuk merebahkan tubuhnya di sana dan beristirahat.
Baru juga duduk,"Seenggaknya kau punya otak untuk berpikir berganti pakaian sebelum tidur jorok".Kata Yohan membutuh Ian sadar bahwa ia masih mengenakan pakaian penuh bercak darah Yohan.
Menghela nafas kasar,"Bodohlah males pulang dan kembali lagi ke sini".Ian yang tidak perduli memilih untuk segera membaringkan tubuhnya.
+++++