The Revengers

The Revengers
Eps.72



Satu Minggu setelah acara pernikahan. Nana telah berpindah tempat tinggal bersama dengan Yohan. Di kediaman rumah Yohan yang ada di Indonesia. Rumah mewah yang masih terjaga dengan baik walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Justru rumah ini semakin mewah karena mendapat renovasi sentuhan modern membuat kediaman rumah ini benar-benar istana modern sesungguhnya.


"Han",panggil Nana berjalan tergopoh-gopoh menyusul Yohan yang baru saja keluar kamar.


"Bekas mu tertinggal",menyodorkan flashdisk pada Yohan.


"Hampir saja aku meninggalkan data penting",ucap ku menerima flashdisk itu."Kamu jadi ke rumah sakit hari ini".


"Ehmm....aku mau berpamitan dengan mereka".


"Sebenarnya kamu tetap kerja jadi dokter juga tidak papa, lakukan apa yang menurut baik untuk mu. Namun tetap jangan lupa beritahu aku terlebih dahulu",tutur kata ku.


Tersenyum manis di susul,"Ini sudah menjadi keputusan terbaik ku, lagian nanti aku juga tetap akan berkunjung ke sana sesekali untuk mengunjungi teman-teman ku".


"Dan lagian aku juga mau fokus jadi ibu rumah tangga saja, juga fokus dengan toko bunga yang aku bangun dengan Rara".


Mengelus lembut surai rambut Nana,"Jadi butuh berapa uang buat buka toko?".


"Eh kemarin kamu tidak dengar",kata Nana terfokus tetap menatap manik mata pria ini."Aku akan menggunakan tabung ku sendiri, lagian uang yang kamu kasih kemarin masih banyak poll tersimpan di atm, uang mahar mala belum tersentuh sama sekali".


"Makannya buat belanja".


"Belanja apa lagi, semua yang aku mau sudah aku dapatkan".


Mendorong dada suaminya,"Sudah sana cepat berangkat nanti terlambat ke kantor".


++++++


Singkat cerita di malam hari nya. Yohan yang baru saja menyelesaikan tugas-tugas kantor. Berjalan berlalu pergi keluar ruang kerja nya untuk pergi ke kamar tidur nya.


Setibanya di sana, ia sudah mendapati istrinya sudah tertidur pulas di sana berbalut selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya.


Berlahan ia ikuti naik ke atas tempat tidur ikut merebahkan tubuhnya di sana. Tangan kecil iku tergerak merangkul pinggang. Sembaring bergumam,"Sudah selesai kerjaan nya?".


"Sudah".


Mengambil posisi tidur miring ke hadapan istri nya agar bisa mendekap tubu kecilnya.


+++++


Cepat-cepat buru-buru Nana beranjak dari tempat tidurnya. Ia membuka pintu kamar mandi yang langsung menjadi dua ruangan dengan kamar mandi.


"Yohan, Yohan kamu sudah berangkat kerja",tidak ada sautan di dalam kamar mandi. Ia membuka pintu kamar mandi yang kosong.


Lantas ia bergegas keluar kamar mandi, pergi ke lantai bawah. Masuk ke dalam liv, menekan-nekan pintu Liv kasar agar segera tergerak ke lantai satu rumah.


Setibanya di lantai bawah, tepat bersama dengan terbukanya pintu Liv. Nana yang masih terdiam di dalam liv tanpa terasa menitihkan air mata bahagia melihat seseorang yang ia cari-cari saat ini tengah berdiri di depan nya.


"Kamu kenapa menangis?",belum sempat mendapatkan jawaban Nana sudah terlebih dahulu berlari memeluk erat Yohan. Melingkar kedua tangan di atas bahu Yohan.


"Aku pikir kamu pergi kemana tadi, aku panik sekali tau".


"Panik kenapa?".


"Iya karena kamu pergi".


"Aku pergi oleh raga di halaman belakang rumah. Mumpung hari libur".


"Umm".


"Panik kenapa Na?Sampai nangis gini",Aku mengusap pipi Nana menghapus air mata yang membasahi pipi perempuan ini.


Nana menggeleng,"Bukan apa-apa".


Tidak ingin terlalu benyak mempertanyakan lagi, Yohan memilih untuk mengajak Nana kembali ke kamar. Untuk bebersih diri sebelum kembali turun ke lantai satu untuk sarapan bersama.


"Han",seru Nana.


"Hemm".


"Selesai sarapan ayo main voli di halaman belakang".


"Iya".


"Bolanya ada?".


"Ada saja",balas ku enteng tinggal nyuruh saja orang untuk membeli di hari itu juga dan sampai di hati itu juga.