The Revengers

The Revengers
Eps.34



Aku berencana menitipkan Jerry pada Bastian. Sayangnya saat aku sampai di kediaman rumahnya, ia tidak ada di kediaman rumahnya. Melainkan ada di rumah utama. Di Kota Fly New York. Sebuah kota kedua New York yang terbang (terapung di udara) di atas gedung perusahaan Demon.


Kota Fly New York sudah sangat terkenal, karena sudah banyak orang yang berpindah tempat tinggal ke atas sana. Di tambah lagi dengan situasi kekacauan sekarang keluarga-keluarga yang ber uang langsung berbondong-bondong membeli rumah di sana.


Next....


Aku yang baru saja sampai di kediaman rumah Bastian. Langsung di sambut pelukan hangat olehnya. Dia merangkul bahu ku mengajak ku berjalan beriringan dengannya masuk ke dalam rumah sembaring mengajak ku mengobrol santai.


Kalian pasti berpikir Bastian adalah orang kaya raya yang paling beruntung. Secara finansial atau kehangatan keluarga. Akan tetapi semua tuduhan itu sangatlah keliru. Karena sebelum seperti sekarang. Bastian, atau pria tua ini pernah berada di titik terendah kehidupan nya. Yaitu kehilangan keluarga kecil dalam sepersekian detik. Juga di jatuhkan miskin sepersekian detik.


Istri dan anak Bastian yang baru berusia lima tahun mati di dalam mobil yang terhantam bom. Keduanya menjadi korban perang saudara di Negera B. Titik terkelam Bastian adalah harus tetap kuat saat ia di turun berjalan seorang diri harus mengubur jenazah kedua orang tersayang nya. Ia juga harus ikut pergi dari sana berkelana ke negara lain. Terombang-ambing dalam perjalanan, sebelum akhirnya bisa sesukses sekarang.


Aku yang sudah menghidupkan Jerry kembali. Berjongkok di depan nya,"Baik-baik bersama Pak Bastian. Aku akan segera menjemput mu."Ucap ku di barengi dengan mengacak-acak bulu-bulu harus lehernya.


Yang di balas oleh jenggong dan bulatan lembut. Aku melepaskan genggaman tangan ku yang mengacak-acak bulu-bulu halusnya. Seperti sudah cukup untuk ku menyiksa robot anjing ini.



"Apa cukup aman untuk anda?".


"Cukup. Herry cukup membantu dan melindungi ku."Kata Bastian,"Jika bukan karena nya mungkin serangan tadi siang akan berakibat fatal pada ku."


Atensi ku yang sudah terfokus pada Herry,"Aku serahkan keamanan di sini pada mu."


"Iya."Balas nya. Herry yang masih terfokus pada ku,"Bolehkah aku meminta sesuatu?".


"Aku akan transfer uang lebih untuk mu."Ucap ku.


"Bukan, aku tidak menginginkan uang mu."Katanya,"Aku ingin meminta izin bolehkah aku membawa ibu ku ikut bersama ku. Karena selama aku di atas sini aku tidak bisa pulang setiap hari melindungi ibu ku".


"Boleh."Timpal Bastian,"Bawa saja ibu mu bersama mu, anak baik."Lanjutnya.


Berganti melihat ku,"Perbolehkan Yohan."


"Ya."Balas ku dingin,"Aku tidak bisa lama-lama. Permisi."Aku yang langsung berlalu pergi dari sana.


Baru beberapa langkah Jerry berlari menyusul. Lagi-lagi aku harus membujuk robot ini untuk tetap di sini. Beberapa kali, sebelum akhirnya robot ini mengerti dengan keinginan ku demi keamanan. Jerry pun memilih untuk tetap terdiam menjulur-julurkan lidah nya memperhatikan kepergian ku.


Aku belum memberitahu kalian, jika Herry aku tugasnya untuk menjadi bodyguard pribadi Pak Bastian. Sementara sisanya tetap ikut bersama misi gabungan ku. Namun untuk saat ini aku menyuruh mereka bertiga mengumpulkan informasi-informasi tentang identitas beberapa nama yang telah ku beritahu kepada mereka.


+++++


++++++++++


Salju terus turun sejak tadi pagi. Sampai menjelang siang hari. Setitik-titik putih tetap berjatuhan. Membuat gundukan putih semakin tinggi, dan membuat beberapa jalanan terpaksa harus di blokir sementara.


Karena itu juga hawa dingin semakin menusuk kulit. Akan tetapi sedingin apapun di luaran saja aku harus tetap berangkat ke Kantor. Tidak, hari ini aku tidak pergi ke Kantor.


Sejak tadi pagi. Aku di sibukkan dengan urusan pribadi ku di luar kantor. Terutama dengan beberapa orang misterius suruhan ku.


"Good Afternoon Narendra".Sapa pria penjaga toko.


Aku mengangkat tangan kanan ku sebagai gerakan balasan. Tanpa mengehentikan langkah kaki ku yang terus masuk ke dalam toko. Dan langkah kaki ku kembali terhenti di dalam kamar mandi toko.


Aku menghentikan langkah kaki ku di depan urinal paling ujung. Berlahan urinal mengeluarkan cahaya pendeteksi sensor cahaya. Sebelum akhirnya urinal berbalik menjadi pintu yang terbuka mempersilahkan aku untuk masuk ke dalamnya.


Suasana warna emas dengan motif daun warna coklat tua menyambut kedatangan ku. Di dalam ruangan ini sudah ada seorang pria yang tengah duduk santai membuat kepulan asap-asap smoking.


"Sudah lama menunggu?".Tanya ku basa basi sebelum ikut duduk di kursi panjang yang masih kosong.


Tanpa memperbaiki posisi duduknya dengan benar,"Punya mata?Jika ada kau pasti sudah tau aku sudah lama di sini."


Memang sudah tau dari banyaknya batang rokok di dalam asbak. Juga botol anggur yang tinggal separuh. Hanya saja aku yang tidak punya topik ingin basa basi.


Masih di posisi duduk yang tidak baik,"Apakah kau yang mengeluarkan ku dari penjara?".Tanya pria ini.


"Hmm."Dehem ku merespon dan fokus menuangkan anggur ke dalam gelas yang masih kosong.


Memperbaiki posisi duduknya dengan benar menghadap ku,"Apakah sudah di mulai. CK apakah kau sudah menghabisi nya?".


Aku terdiam tengah menegak minuman anggur ini. Di susul kerutan kecil di kening ku,"CK bodoh."Mengambil kembali botol anggur yang ku ambil,"Masih belia di larangan minum."


"Tahun berapa wine ini?",Tanya ku,"Rasanya seperti air seni kuda."


Menjinjing sebelas alisnya,"Enak tidak enak terserah ku. Dan emang kau pernah minum air seni kuda?".Ucap ketus pria ini.


"Jih, orang tua."Ucap ku menyungging senyum miring.


Pria ini adalah Linoner, atau Lin. Tahan nomer 117 penjara KFP,"Hmm.....sekarang apa rencana mu?". Memasang suasana serius.


Aku yang terfokus pada lawan bicara ku,"Tidak tau. Aku belum mendapatkan informasi apapun tentang keberadaan sebenarnya iblis itu."


"Bagaimana dengan informasi yang ku berikan kemarin?".


"Kau berhasil membuat detektif muda itu syok."


"Ck, pria seperti dia jadi detektif profesional. Hancur sudah derajat detektif."Di susul tawa menggema nya.


Berlahan menghentikan tawa nya,"Aku sudah mendapatkan informasi tempat iblis itu tinggal. Akan tetapi..."Menjedah ucapannya. Semakin serius menatap ku ragu,"Aku ragu kau akan berhasil melawan serigala berburu buah itu."


"Akan ku hapus keraguan mu dengan menghadiahkan kepada nya."Ucap ku Savege tanpa sengaja mengucapkan perjanjian.


"Tidak perlu repot-repot karena aku akan menonton sendiri dari kejauhan".Ucap Lin,"Cuma mengingat kembali, jika kau benar-benar akan melenyapkan nya, maka lengkap kan juga keluarganya. Jangan membuat kesalahan dengan membiarkan salah satu dari keluarga tetap hidup".


"Hem."