The Revengers

The Revengers
Eps.56



Karena suasana sangat berbahaya untuk Nana yang memaksa untuk tetap ada di sini, untuk membantu. Aku yang sangat malas untuk basa-basi ataupun tidak ada niatan berdebat dengan Nana. Langsung saja menarik kerah pakaian belakang Nana, membuat tubuh Nana terangkat dan terlampir ke belakang.


Di belakang Ian bergegas tergopoh-gopoh menangkap tubuh Nana. Tidak terkecuali Arya yang juga ikut panik dengan tindakan ku.


Dan Fazil yang hanya terdiam memperhatikan ke belakang sekilas, sebelum kembali terfokus ke depan.


Arya menghela nafas lega. Begitu juga dengan Ian yang berhasil menangkap tubuh Nana. Membawa Nana dalam gendongan nya,"Kau tidak papa?",Terfokus pada raut wajah syok Nana,"Benar-benar Yohan anak orang di lempar seperti barang".


Ian dan Arya segera berlalu menjauh dari tempat ini. Mencari tempat yang aman untuk Nana singgah.


+++


Tidak kusangka akan semudah ini untuk ku bertemu dengan anak seseorang pria yang sangat-sangat ku tunggu kehadiran nya.


Sejak kepergian Ian dan Arya tadi. Kini kami berdua sudah beradu tinjuan dengan mereka. Tidak terkecuali aku yang langsung tertuju pada target ku. Hanji ketua geng yang berlambang manusia kertas tanpa kepala. Dalang dari banyaknya keributan di seluruh kota.


Stapp....Aku lancarkan tendangan tumit kaki ku yang berhasil Hanji tangkis.


Hanji tersenyum miring sebelum akhirnya membalas serangan ku. Ia menarik pergelangan tangan ku. Hendak membanting tubuh ku, aku bergerak cepat mengoyakkan keseimbangan nya berpijak.


Stapp....krakk.....


Fazil langsung melayani dua orang sekaligus yang menyerang keroyokan. Sama halnya dengan yang di lakukan oleh Kenzo dan Kenichi.


++++


"Turun, Turun kan aku".Minta Nana meronta dengan terpaksa Ian pun menurunkan Nana dari gendongan nya.


"Sudah jauh juga. Aku mau menunggu Abang ku disini".Nana berlalu duduk di kursi tralis besi yang tersedia.


Kami berdua mengikuti keinginan Nana. Dan duduk bersama Nana di kursi panjang tralis besi,"Sebenarnya siapa mereka?".Tanya Nana membuka obrolan. Pertanyaan yang jelas tertuju pada ku.


"Nana bertanya kepada mu".Arya membuat ku gagal mengabaikan pertanyaan itu.


Ian menghela nafas kasar,"Biasa masalah pria yang banyak pekerjaan".


"Hmm".Dehem Nana tidak terlalu kaget dengan jawab itu dan tidak bertanya apapun lagi.


"Kau tidak kangen sama nyonya Ian".Goda Nana pada Ian.


Ian berpaling sembaring mengangkat sebelah alisnya. Mencerna siapa yang Nana maksud.


Menyadari Ian melupakan sahabat nya,"Dasar buaya, baru beberapa tahun sudah lupa".Umpat nya berpaling melihat pemandangan lain.


Menunjuk Nana,"Ingat aku, jangan sebut aku buaya".Ucap Ian,"Mana mungkin aku melupakan perempuan galak yang telah menendang ku".


Tertawa renyah,"Hahahh......Rara cerita soal itu kepada ku. Kasihan sekali kau".


Arya yang sudah terfokus pada Ian,"Apa hubungan nya dengan adik ku?".


"Eh?Adik?".Ian yang sudah terfokus pada Arya.


Berganti melihat Ian dan Arya,"Pasti saat kamu ke rumah Rara tidak ada bang Arya".Kata Nana.


"Abang?".


"Iya, Bang Arya Abang Rara. Kakak laki-laki Rara".Nana memperjelas.


Seketika itu juga Ian langsung terdiam. Dari attitude pencilaan Ian lenyap berganti menjadi si pendiam yang dewasa.


"Woww,"Nana yang menyadari posisi nya sebagai dinding pemisah kedua pria yang seperti tidak akur setelah mengetahui kenyataan nya.


+++++


Kembali ke pada ku yang masih melakukan duwel perkelahian dengan Hanji. Yang ternyata memiliki keahlian cukup menarik dalam dunia silat ataupun Boxing dan taekwondo. Membuat ku sedikit kewalahan sekaligus senang mendapatkan musuh yang sepada dengan ku.


Sayangnya aku tidak memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang. Lantas aku semakin menseriusi perkalian ini agar lekas selesai.


Krekk.....Gagal memberikan aku serangan. Hanji menyobek kemeja yang ku kenakan. Membuat tato lambang naga di dada kiri ku terlihat.


Aku terdiam merendahkan emosi ku. Sebelum aku bergerak cepat menyerang nya lebih dulu. Menendang dada nya dengan lutut ku sampai tubuh nya terpental beberapa kali.


Menyadari Hanji sudah tidak berdaya dengan banyaknya luka memar yang ia dapatkan,"Di mana ayah mu bersembunyi".


Tangan Hanji bergerak cepat tanpa ku sadari menusuk perut ku dengan pisau. Aku terdiam merasakan benda tajam membuat tubuh ku mengeluarkan darah. Tanpa aku melepaskan cengkraman tangan ku dari surai rambut Hanji.


Hanji semakin menekan pisau yang menusuk perut ku. Aku genggam pergelangan tangan yang menusuk ku. Genggaman yang kuat sampai mematahkan tulang pergelangan tangan Hanji.


"Aaaaaaa......".Hanji berteriak kencang sekali di kala rasa sakit luar bisa karena ku mematahkan pergelangan tangan nya.


Aku cabut pisau yang menancap perut ku,"Leyahlah Baji***ngan!!". Depp....Ku tancapkan pisau itu tepat di dada kiri Hanji. Menekan sedalam mungkin pisau yang sudah menancap sampai genggaman tangan Hanji yang satunya berlahan-lahan melonggar.


Apa yang baru saja terjadi di saksikan langsung oleh Fazil yang sudah lebih dulu tenang karena sudah lebih dulu selesai melumpuhkan mereka yang mengeroyoknya. Tidak jauh berbeda dengan Kenzo dan Kenichi yang berdiri tidak terlalu jauh dari Fazil.


Aku beranjak dari tempat ku berjongkok. Berpaling ke arah tempat Fazil berdiri. Sett....aku melempar pisau yang telah berlumuran darah ke arah Fazil berdiri. Depp....Brugkk....Fazil berpaling melihat ke belakang nya, cepat. Di mana tempat pisau itu mendarat pada seorang pria yang hendak membunuh dirinya. Akan tetapi di gagalkan oleh ku.


Dan apa yang baru saja ku lakukan membuat Kenzo dan Kenichi sedikit tegang. Akan tindakan tiba-tiba ku yang bisa saja melukai Fazil jika meleset dari sasaran.


"Ayo pergi sebelum bala bantuan datang".Ajak ku pada mereka bertiga.


Aku berlalu mengambil jas ku yang tergeletak di paving lapangan. Untuk ku kenakan agar kemeja sobek ini tidak terlihat menonjol.