
Daji bangkit dari tempat nya terjatuh. Tatapan tajam elangnya tersorot lurus ke arah ku membunuh. Ia meludahkan darah dari sudut bibir nya yang terluka.
Melihat aku sudah memasang kuda-kuda melayaninya, tidak membuat Daji merasa takut untuk menyudahi perkelahian. Ia justru bergerak cepat ke arah ku. Sangat cepat membuat ku terlambat membaca gerakan serangannya. Sehingga aku mendapatkan tinjuan kuat mendarat di pipi ku. Sampai tubuh ku terpental membentur dinding bangkai mobil tua. Cukup kuat terlihat dari dinding bangkai mobil tua yang penyok.
Menaikan nada meledek,"Bangun Tuan,"Daji di susul senyum tipis,"Aku akan mendengarkan mu dengan baik saat kau berhasil mengalahkan ku".Kesepakatan yang Daji buat pada ku.
Dengan berpegangan pada dinding mobil ini, aku kembali bangkit. Dan yang kali ini aku sudah tidak bermain-main lagi, aku akan melakukan dengan sedikit serius agar lekas usai.
"Ayo bos Daji hajar dia!!".
"Bunuh dia boss!!".
"Bunuh!!Bunuh!!!".
Teriak mereka semua yang mulai kembali riuh.
Brakk.....Kami berdua kembali beradu aksi pukulan masing-masing. Beberapa Daji mendapatkan tinjuan tidak membuat nya menyerah. Walaupun keadaan sudah babak belur.
Aku mengambil langkah mundur saat berhasil membuat Daji lumpuh dengan tinju pelipis kepala ku. Sedikit kehilangan kesadaran nya Daji ku manfaatkan. Dengan mengambil ancang-ancang melakukan tendangan punggung kaki pada yang ku daratkan di pipi Daji Brakk.....Tubuh Daji langsung tersungkur di bawah sana.
Aku terdiam di dekatnya memperhatikan Daji yang sudah tidak bergerak lagi. Aku melihat sekeliling untuk mencari keberadaan seseorang,"Bantu dia bangun,"Suruhku pada Ian.
Memasang wajah datar,"CK babu".Ngedumel kesal Ian bergegas membantu Daji untuk bangun dari sana.
Sudah dalam keadaan menimpa berat badan Daji,"Terus ini gimana, tidak mungkin kan aku seperti ini terus".
"Bawa saja ke ruangan sana, di sana tempat yang nyaman untuk Tuan Daji beristirahat".Kata pemuda yang tadi berkelahi dengan Ian.
Sementara Ian malah melihat Yohan. Yang akhirnya ku balas dengan,"Cepat bawa ke sana kalau berat be**go".
"Y".Ian yang mulai berlalu pergi ke sana,"Kau juga bantu weew".Suruh Ian pada pria yang tadi berkelahi dengannya.
Aku melepaskan jas kotor karena perkelahian tadi. Dan mulai berjalan menyusul Ian tanpa memperdulikan tatapan sepasang mata yang masih memperhatikan pergerakkan ku. Sampai di dalam ruangan tempat Daji sudah di istirahatkan di atas kursi.
Aku tidak memperdulikan perban tangan ku yang berdarah bercak darah milik Daji. Aku dan Ian yang berdiri sejajar memperhatikan pria yang masih tergeletak pingsan di depan ku.
"Kau tau?Logika ku selalu mengatakan bunuh, bunuh,"Menjedah ucapan nya,"Tapi batin ku. Jangan!Tidak akan adil jika kau membunuhnya lebih cepat".
"****!!Psikopat".Ujar Ian di susul senyum miringnya.
Pertanyaan polos kembali terucap dari mulut ku,"Jika aku psikopat. Kau apa?".
"Kau tadi dari mana?".Tanya Ian yang menyadari betul ke terlambat Yohan.
"Tidak ada untuk membuat lekas bangun,"Aku yang mengabaikan pertanyaan yang baru saja Ian katakan untuk ku.
Kelahan nafas kasar terdengar dari Ian sebelum berlalu pergi meninggalkan ku.
++++
Byurrr.....Ian langsung mengguyurkan air putih pada muka Daji. Membuat Daji langsung terbangun siuman.
"CK, jadi aku kalah".Umpatnya beranjak duduk dengan benar.
"Di mana ketua asli organisasi tanpa kepala?".
"Club Icha-Icha pinggir kota Tokyo. Kau akan bertemu dengan dia di sana".
"Namaema?".
"Aku tidak pernah tau, bahkan wajahnya pun aku tidak pernah tau. Karena dia selalu menutupi wajahnya dengan topeng".
Sial! Ternyata bukan Daji orang yang ku cari.
++++++
++++++++++++
Sejak kejadian kemarin. Kini aku tengah melangkahkan kaki jengkal ku berlahan-lahan untuk masuk ke dalam dapur. Menengok segelas air putih.
"Yohan".Seru Ian yang baru saja datang menghampiri ku,"Hari ini ada meeting penting jadi kau tidak bisa seenaknya pergi meninggalkan kantor".
"Hem"
"Jadi kau kemarin malam dari mana?".Ian yang mengulangi pertanyaan yang belum terjawab kan oleh Yohan.
"Aku mengantar seseorang yang telah ku tabrak kembali ke rumahnya".Yohan sebelum melangkah pergi dari ruangan dapur. Berlalu masuk ke dalam liv kembali untuk pergi kembali ke kamarnya.
Sesaat loading. Ian yang baru nyambung berpaling hendak mengemukakan ucapan nya akan tetapi ia sudah tidak melihat batang hidung Yohan lagi.