
Di malam itu. Aku membawa Herry pergi ke salah satu Hotel yang di rasa aman untuk kami bertiga beristirahat. Iya, kami bertiga. Karena kamar hotel itu atas rekomendasi dari Zack. Dia ikut bersama ku membantu menyelamatkan Herry.
Awalnya aku bermaksud membawa Herry ke rumah sakit. Akan tetapi Zack melarang ku. Zack bilang jika rumah sakit ada di bawa pengawas salah satu geng mafia yang tengah berseteru. Yang berarti tidak akan semudah itu untuk berobat ke sana. Karena jelas akan ada interogasi terlebih dulu sebelum di perbolehkan berobat ke sana. Tidak terkecuali dengan luka-luka yang di dapat Herry. Jelas akan mempercepat Herry bertemu Tuhannya jika di bawa ke rumah sakit.
Akhirnya aku mengikuti Zack yang rekomendasi kamar hotel sebagai tempat beristirahat. Tempat untuk mengobati luka-luka Herry sendiri.
Iya, di malam itu dengan di bantu oleh Zack. Aku mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam tubuh Herry. Sebelum aku jahit bekas luka tembakan dan tusukan nya.
Selesai mengobati luka-luka Herry. Aku berlalu pergi dari sana dengan membawa Kotak obat yang Zack beli.
"Ganti pakaian nya."Suruh ku pada Zack.
Menunjuk dirinya,"Kenapa aku?Kau kan bisa."
Aku terdiam menatap dingin Zack,"Okay-okay aku ganti pakaian nya."Ucapnya yang akhirnya menuruti perintah ku,"Jika begini lebih baik aku yang mengobati lukanya dan kau yang ganti pakaiannya."Ngedumel nya kesal karena ku suruh mengganti pakaian kusam Herry yang kacau.
Aku berlalu pergi dari dalam kamar. Masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa kotak obat tadi. Dengan bantuan cermin kamar mandi. Aku yang sudah melepaskan pakaian ku, mulai mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam lengan tangan ku.
Next.....
Sesaat kemudian. Aku yang sudah duduk di ruang tamu di hampir oleh Zack yang baru keluar dari kamar tempat Herry istirahat.
"Dia sudah siuman?".Tanya ku yang masih duduk di Sova.
"Belum."Balas nya,"Aku akan keluar mencari makanan. Kau juga mau?".Lanjutnya.
Aku yang sudah beranjak berdiri dari tempat ku duduk,"Beli saja minum aku sudah pesan makanan."Balas ku berlalu pergi meninggalkan ruangan ini.
"Ya."Balas Zack sebelum berlalu meninggalkan kamar hotel ini.
Sementara Zack pergi keluar membeli minuman. Aku berlalu kembali ke kamar untuk mengambil ponsel ku yang tertinggal di kamar mandi.
Baru ingat jika sejak tadi malam ponsel ku mati daya. Saat baru ku nyalakan kembali begitu banyak notifikasi chat yang belum terbaca dan panggilan tidak terjawab yang masuk ke dalam ponsel pribadi ku.
Aku tidak terlalu kaget karena semua notifikasi masuk itu sudah biasa aku dapat dari sepupu ku. Aku menekan gagal telfon untuk menghubungi seseorang di seberang sana. Untuk menghilangkan rasa khawatirnya. Agar dapat fokus kembali dengan sidang kuliah.
*Bang***sat lu!Gue panik setengah jantung anjing. Lu sulit banget di hubungi di sana tidak ada apa-apa kan. Mafia-mafia breng****sek itu tidak menangkap lu kan."
*Tidak. Fokus saja dengan sidang kuliah atau lu tidak akan lulus."
*Gue akan lulus dan segera membunuh lu sepupu sialan yang selalu membuat gue khawatir."
Tepp... Panggilan di akhir sepihak oleh Ian di seberang sana.
++++
Selesai dengan panggilan telepon itu. Aku memasukkan ponsel ku ke dalam saku celana panjang ku. Sebelum akhirnya aku berlalu kembali ke ruang tamu.
Aku berlalu melewati kamar tempat Herry beristirahat. Melihat ia masih beristirahat. Aku pun berlalu pergi dari sana. Berlalu keluar kamar hotel untuk menemui Dion dan Felix yang pertemuan nya sempat ku tunda sejak tadi karena harus merawat manusia merepotkan ini.
++++
Beberapa jam kemudian. Aku yang baru saja kembali ke kamar hotel berjalan kembali melewati kamar Herry untuk pergi ke kamar ku sendiri. Baru ku selesai dari kamar mandi, aku yang akan ke ruang tamu melewati kamar tempat Herry beristirahat kembali. Di sinilah langkah kaki ku terhenti.
Atensi ku yang melihat Herry sudah siuman membuat kaki ku tergerak untuk masuk ke dalam ruang kamar,"Sudah jauh lebih baik?".Tanya ku sekedar basa basi pada Herry.
"Zack yang menganti pakaian mu."Balas ku,"Jika kau sudah baikan lekas bangun. Tunggu Zack kembali di ruang tamu untuk makan bersama."Ucap ku yang kembali bernada tinggi sebelum berlalu pergi keluar dari kamar Herry istirahat.
+++
Baru aku menginjak kaki di ruang tamu. Tiba-tiba pintu kamar hotel terbuka dari luar. Menampakkan sosok pria yang sedang kesal menatap ku.
"Kau memesan pizza di tempat ku bekerja?".
"Ya."
"CK uang tabungan ku habis untuk bayar pizza toping daging sapi pesanan mu yang harganya menguras uang kuuuu, CK aku tidak perduli lu siapa. Tapi lain kali pikir dulu sebelum pesan".Zack merana meratapi uang nya yang hangus untuk membayar pizza pesanan ku.
"Bukankah aku sudah memberi mu...". Langkah ku terpotong dengan Zack yang berjalan kesal melewati ku,"Stop, untung tadi ada uang cek itu coba tidak."Ucapnya.
Mengelus kotak pizza. Zack yang baru menyadari kehadiran Herry berdiri di samping ku,"Dia bangun, aku pikir kau mati."Ucapnya.
Yang dibalas dengan diam dingin respon Herry. Baik aku ataupun Herry ikut bergabung makan bersama di ruang tamu.
++++
Siang harinya. Aku sudah kembali ke rutinitas semula sebagai seorang CEO yang menjalankan bisnis perusahaan nya. Seseorang bos muda yang tinggal duduk di ruang kerja pribadi menyusun rencana dan menyeleksi ide-ide karyawan nya untuk kemajuan bisnis.
Sampai jam makan siang datang pun aku tetap enggan beranjak pergi dari ruangan ku untuk makan siang. Aku memilih untuk tetap melanjutkan pekerjaan ku dari pada harus istirahat makan siang dan menunda pekerjaan ku.
++++
Menyangga dagunya dengan kedua tangan yang saling melekat,"Pria itu adalah Yohan".Ucap pria style kemeja hitam polos.
"Siapa lagi kalau bukan dia."Lanjutnya menyungging senyum miring,"Berhati-hati dengannya, dan jangan beri ruang musuh kita untuk mengambil kesempatan mengambil keuntungan bekerjasama dengan nya."
"Maksud bos BM."
"Iya, breng****sek sialan itu pasti sedang menyusun strategi untuk bersekutu dengan Yohan."Kata Bos Ketua mafia FD. Nama salah satu dari geng mafia yang tengah berseteru,"CK drama ini harus ku mainkan sebaik mungkin."Batinnya.
+++
Malam harinya. Aku kembali ke hotel tadi bersama dengan Mark. Untuk menemui mereka berempat.
Di sinilah aku sekarang duduk di Sova tunggal di ruang tamu bersama dengan mereka berempat juga Mark.
"Bagaimana?Kalian setuju?".Tanya ku setelah membuat kesepakatan agar mereka ikut bergabung ke dalam kelompok gelap ku.
"Aku setuju. Aku penasaran dengan kehebatan Ketua mafia yang katanya pegerakan nya paling berpengaruh. Sampai pihak pemerintah pun tidak bisa sembarang menangkap nya."Ucap Zack terfokus pada ku.
Sementara atensi ku tenang memperhatikan. Enggan untuk diriku banyak berkomentar menangapi ucapan Zack tentang ku. Karena menangapi ucapan tugas seorang detektif internasional rahasia. Hanya buang-buang waktu tidak penting.
"Aku setuju."Balas Dion yang di susul oleh Herry.
"Aku ikut, lelah rasanya menjadi brandal setiap hari."Ucap Felix.
Mendapatkan semua telah setuju dengan negosiasi ku. Aku pun mulai menjelaskan rencana selanjutnya. Di mana menyusun rencana baru untuk melanjutkan permainan ku yang masih belum sempurna.