The Revengers

The Revengers
Eps.41



Kehancuran sistem. Bukan!Akan tetapi perdebatan kecil kemarin merubah banyak hal. Baik aku, ataupun Ian sudah tidak saling bertemu. Kami sama-sama bekerja, dan berjalan di jalan kami sendiri-sendiri.


Kehancuran sistem!Aku telah berhasil menggagalkan proyek gila Tuan Wolf. Yang berencana membuat komputer gila yang seharusnya mustahil ada. Maksud ku dia bermaksud membuat komputer yang dapat melihat masa depan.


Proyek semacam itu sebelumnya pernah di lakukan secara resmi. Akan tetapi di gagal di pertengahan pembuatan. Oleh pihak keamanan dunia(PBB). Dengan alasan sesuatu percobaan juga memiliki batasan nya. Termaksud kemajuan teknologi juga ada batasan nya.


Next...


Orang dalam ku berkata, jika proyek itu sudah gagal. Dan mesin pembuatan nya meledak saat pertama kali di nyalakan. Wolf menyadari kerusakan itu di sebabkan karena ada perubahan pada rancangan proyek.


Dan saat ini ia sudah mengetahui perubahan itu karena apa. Di sinilah bagusnya! Wolf tidak bisa menemukan dalang dari seseorang yang telah merubah desain proyek nya.


Sedikit senang mendengar kabar itu. Iya....sedikit. Aku belum cukup merasa senang sebelum aku benar-benar berhasil menjatuhkan nya. Kegagalan nya kemarin membuat Wolf semakin bertekad memperkuat keamanan untuk melanjutkan proyek nya. Walaupun ia akan memulai nya kembali dari titik nol. Suatu hal yang memberikan ku ruang banyak untuk menyusun rencana lebih baik lagi.


++++


Lorong jalanan pintu belakang Kantor ku. Brugk....Aku mencengkeram kuat leher Ian. Mendorong tubuhnya sampai punggung Ian membentur dinding. Tidak hanya itu tubuhnya pun ikut sedikit terangkat mengikuti pergerakan tangan ku.


"Cari mati kau?".Mengeratkan cengkraman tangan ku.


"Kau pikir dengan mencuri lebaran kertas tidak berguna ini akan membawa mu pada mimpi bodoh mu".


Bakk....Tangan ku yang menggenggam lembar kertas mengepal kuat dan meninju pipi Ian.


Nada suara merendah berat,"Hey!!".Mendekatkan diri ku, berbisik di dekat telinganya,"Kalau sudah bosan hidup bilang, jangan kau berbelit-belit seperti ini".


Aku melepaskan cengkraman tangan ku, membuat Ian langsung terjatuh mendudukkan dirinya di depan ku. Mengatur nafasnya yang terpatah-patah.


Aku merogoh kantong celana ku. Mengeluarkan korek api. Tangan kanan ku yang sembaring tadi menggenggam dua lembar kertas terangkat sedikit ke atas. Ku dekatkan lembaran kertas itu pada api yang sudah ku nyalakan.


"Tidak ada yang berharga, bahkan dengan lembaran kertas ini".Aku membakar habis dua lembar kertas ini. Lembar kertas yang bertuliskan wasiat kepemilikan saham keluarga ku. Yang telah Ian curi untuk ia alih nama kan menjadi atas nama dirinya. Sayangnya rencana berhasil aku gagalkan sebelum ia mendapatkan nya.


"Dasar kau baji***ngan!!".Bakk....Tinju Ian bergerak cepat meninju pipi kanan ku. Membuat ku menengok paksa.


Menarik kerah kemeja ku,"Bodoh!Hah??.....Jika kau membakarnya maka saham mu tidak akan lagi menjadi milik mu. Aku akan jauh lebih mudah mendapatkan keinginan ku".


Tatapan mata yang gelap mengintimidasi,"Kau jauh lebih bodoh dari yang ku pikirkan".Balas ku menyungging senyum miring.


Bakk....Brugk....Aku menendang kuat perut Ian. Membuat tubuh kembali membentur dinding tembok ini.


Langkah kecil ku berjalan berlahan mendekati nya yang meringis menahan sakit. Slapp......,"Sudahi semuanya, kau tidak mau kan kedua orang tua mu menghadiri pemakaman mu".Bisik ku sebelum berlalu meninggalkan Ian di tempat ini seorang diri.


"Breng***sek sialan!!".Brakk.....Ian yang masih terduduk. Tangan mengepal kuat nya memukul dinding kokoh di samping nya.


++++


Menjelang sore hari. Di langit cerah yang menjadi orange ke kebiruan. Jalanan kota yang mulai ramai dengan banyaknya perjalan kaki yang mengenakan sepatu roda untuk untuk mempercepat jalan pulang, naik skuter listrik, sepeda listrik. Ahh jaman sebah bahan bakar ramah listrik.


Next....


Jalanan yang riyu dengan hiruk pikuk para manusia dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Di tengah jalanan inilah. Ian berjalan seorang diri dengan sesekali tangan nya tergerak menyentuh luka memar di sudut bibir nya.


Ia yang sudah menyadari seseorang penguntit di belakang pun menghentikan langkah kaki nya. Tepat saat ia baru memasuki jalanan sempit yang sepi,"Keluar kau, aku tau kau mengikuti ku sejak tadi".Ucap Ian tanpa berpaling ke arah belakang arah jalanan yang ia lalui.


"Ketauan deh".Ucap pria ini melangkahkan kakinya untuk keluar dari balik dinding pagar tikungan jalan. Di susul dengan senyuman sumringah.


"Apakah masih berlaku?".Ian berbalik badan menghadap lawan bicara nya.


Pria ini tersenyum sumringah dan mengulurkan tangan kanannya. Ian mengulurkan tangan nya menerima salam perkenalan itu,"I'm Lucas".


"Ian".


Memasang ekspresi wajah datar,"Cukup basa basi nya!Apa rencana mu?".


"Sudah dapat, sayangnya aku membutuhkan tempat yang nyaman untuk mengatakan nya".Yang di respon dengan ekspresi datar Ian.


"Okay...ke kamar hotel ku saja, aku memiliki peralatan lengkap di sana".Ajak Lucas yang tetap di respon diam oleh Ian yang tiba-tiba menjadi sisi pria dingin.


++++


Baru sampai di dalam kamar hotel miliknya. Lucas langsung bergegas mengambil laptop miliknya. Menyalahkan layar laptop nya di atas meja yang tersedia, jari-jari nya mulai bergerak mengotak-atik keyboard laptop. Sampai tersambung pada jaringan khusus file dokumen penting milik Narendra.


"Nama pria itu Narendra Anata. Nama perusahaan nya mengunakan nama depan Narendra. Apakah benar?".


"Hemm.... langsung bobol saja tidak perlu bertele-tele".


"Eh tidak semudah itu, kau harus menghubungi nya terlebih dahulu. Buatlah kata-kata manis, agar dia mau ketemuan dengan mu di suatu tempat".Kata Lucas,"Oh!Atau aku saja yang mengatur tempat pertemuan nya".


"Untuk apa?Kau jangan membuat semuanya berbelit-belit".


Mengalahkan kedua tangan nya setinggi dada, dan melambai-lambai,"Eh tidak, tidak, setiap pengalihan saham kan membutuhkan TTD pemilik asli. Sebagai bukti jika saham itu telah di serahkan pada mu. Makanya kau harus membujuk nya, dan itu membuat kata-kata pemanis agar dia mau bertemu dengan mu. Semacam menawarkan sesuatu yang memerlukan TTD dari nya".


"Jangan aku, jika kau mau semua berjalan sesuai keinginan mu".Ucap Ian,"Aku berseteru hebat dengan nya, mustahil breng***sek itu memaafkan ku ataupun bekerja sama dengan ku lagi".


Memutar manik matanya,"Jadi harus aku semua yang melakukan".Yang di respon diam oleh Ian.


"Baiklah aku akan suruh orang ku untuk menghubungi nya, menawarkan kontrak kerja yang bagus". Mengulurkan tangannya meminta kepada Ian.


Ian yang melihat itu,"Apa anjing?".


"CK, iya nomer telfon nya be***go. Apakah aku harus hacker semua biodata nya".


Ian merogoh kantong celana panjang nya. Menyebutkan nomor telfon Yohan cepat. Membuat Lucas tergopoh-gopoh menjari alat tulis untuk menulis nomer yang Ian sebutkan.


Kesal berantakan,"Hoy bang***sat, pelan-pelan gue belum menulis apapun".


"0816, ......, 1443".


"Siap!!".Lucas bergegas memasukkan nomer tadi ke dalam ponsel nya.


Sementara Lucas sibuk mengubungi seseorang di seberang sana. Ian sibuk berkeliling kamar Lucas yang terbilang cukup rapi dan bersih. Sebelum akhirnya ia dudukkan tubuh di Sova tunggal yang tersedia dan memainkan tas selempang yang tergeletak sembarangan.


"Dah selesai kau bisa pergi".


"Hanya itu".


"Iya, emang kau mau apa?".


"Sebenarnya aku mengharapkan minuman. Sayangnya...aku sudah tidak berselera. Mendengar ucapan mu cukup membuat ku sadar jika kau sangat miskin. Aku ambil kesimpulan minuman di kulkas mu hanyalah air seni kuda".Ian yang sudah berdiri dari tempat duduknya berjalan berlalu pergi dari sana.


Lucas yang terbawah suasana,"Weew breng**sek!!Duduk lagi, aku akan mengambil yang kau bilang air seni kuda itu".


Berlalu pergi ke dapur kecil kamar hotel yang tersedia untuk mengambil minuman yang ada di dalam kulkas nya,"Sepertinya Bombay Sapphire Revelation, Armand de Brignac Midas, dan wine 1992 mungkin cukup menutup mulut mu yang harus air seni kuda".


Ian mengedipkan bahu nya,"Apakah hanya itu?Maksud ku?Makanannya".


Melemparkan salah satu botol bada Ian,"Akan ku ambil kan".Lucas berlalu ke dapur untuk mengambil camilan.


Ian kembali duduk di Sova tadi. Dengan tangan kanan yang menggenggam botol minuman. Tangannya mulai tergerak untuk membuka salah satu botol yang pertama kali akan ia minum.