
Dua bulan sejak peristiwa waktu itu. Aku dan Ian tinggal di Jepang. Lebih tempat nya sejak sepeninggal kakek Mamoto. Iya, kakek Mamoto yang jatuh sakit sudah lama. Akhirnya menghembuskan nafas terakhir nya di rumah sakit di usia beliau yang ke 88 tahun.
Karena Kakek Mamoto sudah tidak ada lagi. Kakek Yoshi di paksa untuk ikut bersama Ayah dan mama Ian kembali ke Korsel. Di sini kakek Yoshi akan sendirian jauh dari seorang anak-anak yang merawat nya. Maka dari itu sejak akhir bulan kemarin kakek Yoshi sudah terbang kembali ke Korea Selatan bersama Ayah dan Mama Ian.
Sementara kami berdua tetap tinggal di sini untuk mengurusi beberapa bisnis juga beberapa aset peninggalan kakek Mamoto yang otomatis langsung jatuh ke pada pewaris tunggal nya. Cucu satu-satunya beliau, Yohan Narendra.
Di hari menjelang sore. Ian tengah dalam perjalanan ke kediaman kakek Mamoto. Lebih tepatnya rumah utama pertemuan para anggota Yakuza. Kakek Mamoto adalah seorang mantan ketua Yakuza. Beliau sudah pensiun sejak lama, akan tetapi kehadiran beliau masih sangat di segani.
Ian pergi seorang diri ke sana untuk menghadiri sebuah pertemuan kecil. Aku tidak ikut bersamanya karena ada urusan lain yang tidak bisa ku tinggalkan. Padahal pertemuan kecil ini sangat wajib untuk ku hadiri. Mungkin aku akan tetap hadir walaupun terlambat.
++++
Mobil Ian memasuki pekarangan rumah tradisional Jepang yang super megah mewah modern. Mobil BMW hitam ini terparkir dengan baik di depan rumah. Kehadiran Ian beranjak turun dari dalam mobil langsung di sambut dengan baik oleh para anggota Yakuza dan mafia ini sana, juga tamu-tamu penting lainnya di sana.
"Selamat sore Tuan Ian".Seorang pria lebih tua dari Ian yang memberikan hormat membukakan badannya menyambut kedatangan Ian.
"Anda tidak perlu melakukan itu, lebih baik kalian berdiri dengan baik".Ucap Ian pada mereka yang membungkuk menghormati kehadiran nya.
Sudah berdiri dengan baik, tidak lupa dengan menjaga jarak pandang kontak mata secara langsung,"Tuan Yohan tidak ikut menghadir?".
"Dia akan datang terlambat".Balas Ian singkat berlalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Di dalam Ian langsung oleh para ketua Yakuza ataupun ketua mafia yang saat ini menjabat. Mereka semua memang ketua. Akan tetapi Ian adalah cucu penting orang berpengaruh di sejarah geng mereka. Serentak mereka yang hadir langsung beranjak dari tempat duduknya menyambut kedatangan Ian.
"Beri Hormat pada ketua".
"Selamat datang Tuan".Ucap serentak mereka yang membungkukkan badan memberikan hormat.
"Ah.....sial!! inilah alasan tidak seharusnya aku nurutin kemauan sepupu ku".Batin Ian merasa kurang nyaman dengan penyambutan ini. Akan tetapi sikap ketidak nyamanan itu langsung sirna di saat atensi mata nya melihat sosok pria setengah paru baya yang masih sanggup hadir di tempat ini di kala...
"CK,"Umpat pelan Ian berlalu duduk di kursi yang tersedia bergabung dengan mereka.
"Tuan Yohan tidak ikut datang?".Tanya ketua Yakuza definisi saat ini.
Belum juga Ian menjawab salah seorang pria menyahut,"Jelas tidak mungkin anak seperti dia ikut menghadiri undangan orang-orang tua ini. Astaga lupa!Dia bahkan tidak punya orang tua makanya anak brandal seperti dia tidak mengerti sopan santun tentang menghormati orang yang jauh lebih tua".
Seketika tangan Ian mengepal erat, rasa pasti sangat panas berada di posisi Ian saat ini. Walaupun kita tahu bukan Ian yang terhina di sini.
"Anda pikir anak yang memiliki orang tua juga memiliki attitude yang baik....Jangan melupakan zaman apa sekarang Tuan",Ian tersenyum miring tipis dari sudut bibir menatap pria setengah paru baya tadi,"Ini adalah zaman kami. Di mana kami hanya menghormati mereka yang menghargai kehadiran kami. Tanpa memandang usia ataupun tahta.....Apa yang akan kami laku....,"Memotong perkataan Ian,".....Sudah diam".Nada suara dingin yang terdengar berat nan dingin menggema. Membuat mereka yang terfokus pada perdebatan langsung berpaling ke arah sumber utama, arah pintu utama.
Mereka semua bergegas beranjak dari tempat duduknya masing-masing untuk melakukan hal yang sama seperti saat pertama menyambut kedatangan Ian. Yang saat ini mereka lakukan pada cucu seseorang yang paling berpengaruh untuk mereka.
"Silakan duduk Tuan Yohan".Ucap ketua Yakuza pada ku yang baru saja sampai di tempat pertemuan.
Mereka semua masih membungkuk hormat pada ku. Aku mengabaikan ucapan itu. Aku bergegas Tam....tam...Tam.....berjalan cepat, slampp.... mencengkeram kuat pergelangan tangan yang hendak membuat keributan ini,"Cukup".
Masih tersulut emosi,"Aku ingin membantu nya lepas dari beban hidup. Salahkah? Menurutku sudah benar yang ku lakukan".Nada marah Ian yang hendak menyerang pria setengah paru baya pembuatan onar tadi,"Mulut nya".Ian yang memperkuat mencengkeram rahang pria ini.
Dan aku yang masih menggenggam pergelangan tangan ini,"Kembali duduk".Bentak ku tegas menatap tajam atensi tajam Ian.
"Maaf atas ke tidak nyamannya. Silakan di lanjutkan".Aku menujuk ketua Yakuza utama penyelenggaraan pertemuan ini.
+++
Kami duduk melanjutkan acara, untuk membahas inti dari pertemuan ini di lakukan. Acara ini berlanjut selama beberapa jam lama nya. Sampai akhir jarum jam menunjukkan jam 12 tengah malam. Acara pun di akhir para ketua mulai berpergian kembali ke kediamannya masing-masing. Tidak terkecuali dengan ku.
Aku berlalu pergi dari sana mengendarai mobil BMW hitam milik Ian. Sementara mobil ku tadi di bawa pulang lebih dulu oleh supir pribadi ku. Karena aku tahu hal seperti ini akan terjadi. Di mana Ian mabuk karena terlalu banyak minum.
Aku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, dengan sesekali tangan ku yang terbebas memijat pelipis kepala ku yang sedikit pening. Padahal aku tidak ikut minum akan tetapi kepala ku terasa sangat pening sekali. Apakah ini efek dari beberapa hari ini. Karena aku kurang istirahat dengan baik beberapa hari ini. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku. Sampai mengabaikan waktu untuk beristirahat.
Next......
Melepaskan kasar lengan tangan Ian yang melingkar di bahu nya. Membuat tubuh sepupunya terhempas kasar ke atas tempat tidur.
Gumam Ian yang belum tersadar,"Aduh!! Nyamannya".Tidak mau mendengarkan basa basi sepupu ku. Aku yang langsung melangkah pergi meninggalkan ruang kamar ini tanpa memperbaiki posisi tidur sepupu ku terlebih dahulu.
++++
Di lantai satu rumah. Di mana sudah ada dua orang kepercayaan ku yang tengah menunggu kedatangan ku kembali ke lantai satu. Mereka berdua adalah Kazuo dan Kenichi.
Beranjak duduk di Sova tunggal yang tersedia,"Katakan informasi apa yang kalian dapatkan".
"Seperti yang engkau suruh. Kami sudah mendapatkan informasi jika Geng CB sudah bubar sejak lama. Dan organisasi baru dengan lambang manusia kertas tanpa kepala yang saat ini tengah memimpin".Jelas Kazuo,"Pergerakan mereka sudah mengambil hampir seluruh sekolah di daerah ini. Jadi tidak heran jika semakin tinggi nya tindakan bullying yang tertutup rapat. Juga semakin tinggi nya tindakan bunuh diri. Karena pergerakan organisasi ini terbilang sangatlah berpengaruh. Semua yang terjadi mereka anggap seperti tidak pernah terjadi."
"Dan menurut informasi yang ku dapatkan, organisasi geng ini di pimpinan oleh seorang Yakuza yang gagal menjadi ketua Yakuza karena....".Menjedah ucapan nya.
Setelah hening sesaat waktu ku untuk mencerna semua kalimat yang terucap,"Aku ingin kalian berdua masuk ke dalam sekolah yang sangat hancur saat ini. Aku ingin kalian menjadi murid sementara waktu di sana. Tugas kalian berdua mencari.....".
+++++
++++++++
Keesokan harinya. Di sinilah mereka berdua sekarang. Berada di SMA Sanshain yang terkenal paling disiplin dan paling terkenal dengan kecerdasan di akademik dan non-akademik murid-murid nya. Sayangnya SMA ini sekarang sudah tidak di pandang seperti itu. Karena SMA ini sekarang menjadi sangat kacau. Dan lebih di kenal sebagai sekolah parah murid brandal brutal yang suka membuat onar.
Di hari adalah hari pertama Kazuo dan Kenichi bersekolah dengan menggunakan identitas baru. Dengan nama Izanami Zuo dan Ichi Azaya. Mereka berdua akan menjadi siswa baru kelas dua Bahasa.
"Silakan perkenalan nama kalian".Suruh pak guru pengajar.
"Ichi Azaya, salam kenal semua".Kepribadian yang selalu bersemangat,"Dia Izanami Zoa, kakak ku".Ucap Ichi memperkenalkan saudara kembar sebongkah es nya.
"Baiklah silakan duduk di bangku yang masih kosong karena pelajaran akan segera saya mulai".Kata pak guru pengajar.
Perlu kalian ketahui, jika banyak yang kagum dengan kehadiran mereka berdua. Dan banyak juga yang tidak menyukai kehadiran mereka berdua. Seperti sekarang baru juga ingin pergi ke bangku yang masih kosong. Zoa yang memimpin jalan menyadari betul kaki panjang di depannya. klakk....Zoa menginjak tulang kering kaki ini. Membuat pemuda pemilik kaki langsung mendekat kuat mulutnya.
Keduanya duduk di bangku paling belakang dekat dengan jendela luar sekolah. Duduk dengan tenang fokus mengikuti pelajaran seperti murid-murid yang lain.