The Revengers

The Revengers
Eps.26



Nana masih di rumah sakit. Dan aku masih belum bisa menemui nya. Karena penjaga ketat dari kedua Abang Nana.


Akan tetapi itu tidak membuat ku putus asa dan menyerah. Karena jika sudah menjadi keinginan aku harus mewujudkan nya.


+++


"Ma, kenapa sih mama terus saja mencari alasan agar Rara tidak bertemu dengan Nana?".Rara yang terlihat sangat kesal sekali duduk di kursi makan.


"Nana adalah sahabat terbaik Rara. Mama kan tau kami bersahabat sejak kecil."


Fokus menata peralatan makan,"Dia bukan teman yang baik untuk kamu, dia bahkan sudah hamil di luar nikah."Kata Mama Rara,"Jangan pernah bertemu dan dekat-dekat dengannya lagi, masih banyak teman lain. Jauhi perempuan murahan itu."


"Perempuan murahan siapa Via?".Tanya Kevin yang baru memasuki ruang makan.


"Putri Alyah."Balas Via dingin,"Anaknya hamil duluan, murahan sekali, jal***a***ng. Makanya aku tidak mau putri kita dekat-dekat lagi dengan Nana."


Fokus Kevin yang sudah tertuju pada lawan bicara nya,"Murahan tidak terlalu buruk untuk ku. Justru yang brandal preman yang seharusnya di jauhi. Namun kamu tidak menjauhinya, kamu malah mau menikah dengan nya."


"Jangan lupa Via jika yang di lakukan Nana. Jauh lebih buruk dengan yang pernah aku lakukan."Kata Kevin berpaling melihat ke arah lain,"Nana masih di rumah sakit?".Tanyanya pada putrinya.


Yang di balas anggukan ringan oleh Rara,"Iya."


"Jenguk dia sampai salam ayah semoga lekas sembuh. Kasihan putri ayah tidak ada teman berantem."Kevin yang lebih mendudukkan putrinya.


Yang di balas oleh anggukan dan senyum sumringah putrinya.


"Biar Abang antar."Kata Arya yang entah sejak kapan sudah ada di ruang makan.


Berpaling melihat abangnya,"Abang kan belum sarapan?".


"Abang ada janji makan di luar."


Tanpa berpaling melihat putranya,"Lekas kenal orang tuanya, jangan lupa kenalkan pada ayah."Kata Kevin.


"CK ayah tidak biasakan aku menyembunyikan sesuatu padanya."Batin Arya tidak kaget dengan sifat ayahnya yang mudah menebak sesuai tanpa melihat nya.


Beranjak dari tempat duduknya,"Kalau gitu Rara pamit berangkat dulu."Rara beranjak dari tempat duduknya untuk mencium punggung tangan ayahnya.


Mengulurkan kening,"Ma."Minta Rara yang baru di respon oleh mama nya.


"Ayo berangkat."Selalu bersemangat adalah Rara.


+++


Arya yang fokus mengemudi mobil pribadi nya. Dan Rara yang duduk tenang di kursi penumpang samping abangnya mengemudi.


Berpaling melihat keluar jendela mobil,"Sudah lama tidak satu mobil sama Abang. Iya mau gimana lagi, Abang selalu sibuk kerja dan kerja dan kerja dan kerja."Ngedumel Rara memecah keheningan di dalam mobil.


Tetap fokus mengemudikan mobil,"Abang pikir kemarin kamu satu mobil sama Abang."


"Tidak, tidak, kemarin....iya kemarin Abang jemput Rara di rumah sakit."Kata Rara.


"Gimana pertandingan bolanya kemarin?".


"Mantap dong, pemain favorit ku aduhh ganteng banget bang main bola nya. Aku jadi tidak sabar menunggu suami voli ku ikut tanding."


Menjinjing alisnya,"Emang ada suami voli?".


"Ada lah. Ganteng bangett pokoknya, makannya kapan-kapan ikut nonton sama Rara tidak belikan tiketnya saja."


"Iya, kapan-kapan Abang akan ikut."


"Bener bang."


"Iya.


++++++++


++++++++++++


Dan selamat itu juga aku belum bisa bertemu dengan Nana. Ingin rasanya mengunakan cara kasar. Akan tidak, meminta maaf adalah attitude baik yang harus di lakukan dengan cara halus.


Dan yang aku lakukan saat ini adalah cara terakhir ku. Duduk berlutut di depan rumah Nana dengan harapan Nana akan keluar menemui ku. Karena masuk diam-diam pun gagal aku lakukan saking keras dan ketatnya abang-abang nya menyembunyikan Nana.


Entah kenapa aku sampai memiliki pemikiran untuk melakukan hal yang sangat menghina kehormatan ku sebagai Tuan Drak yang kejam.


Hujan-hujan rintik-rintik mulai turun, sebelum akhirnya semakin deras membasahi daerah ini. Dan aku yang tetap kuat pada pendirian berada di tempat walau hujan tengah menerjang.


Selama empat hari aku di sana dan aku tidak mendapatkan apapun. Aku hanya melihat Nana sekilas dari balik gorden tebal di lantai atas rumah nya tengah memperhatikan ku. Sekilas karena setelah itu Abang Nana menutup gordennya.


Fisik ku yang sudah berada di ujung batasan berlahan-lahan mulai terhuyat. Tubuh ku hendak jatuh membentur jalan paving ini. Hendak! Karena seseorang menyanggah keseimbangan tubuh ku.


Seseorang itu membantu ku beranjak berdiri dari sana,"Mengemis meminta maaf juga ada batasnya."Kata Ian pada ku.


Ian menopang keseimbangan tubuh ku, menuntut ku menjauh dari pekarangan rumah ini.


++++


Melihat sepupunya yang tengah terbaring di tempat tidur. Memejamkan kedua matanya tertidur sangat damai dengan raut wajah pucat.


"Baru kali ini gue lihat lu sesakit ini, baru kali ini juga gue lihat lu mengemis demi kalimat maaf."Gumam Ian sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan sepupu nya yang tengah beristirahat.


Ian turun mengunakan Liv rumah yang jarang sekali di pergunakan. Sampai di lantai bawah rumah, ia yang berpapasan dengan bibi pembantu rumah.


"Aku mau pergi, jika Yohan sudah bangun suruh dia untuk makan."


"Baik Den."


++++


Aku terbangun dari tidur ku, sulit sekali untuk ku beristirahat dengan tenang. Aku beranjak dari tempat tidur ku, dengan sesekali tangan ku bergerak memijat kening ku yang terasa pening.


Dan di sinilah aku sekarang. Di ruang kerja pribadi ku, aku menyalahkan laptop ku untuk melihat beberapa pekerjaan yang aku tinggal kan beberapa hari ini.


Tiba-tiba seseorang wanita setengah paru baya mengetuk pintu ruang kerja ku yang sengaja aku biarkan terbuka.


Ternyata itu hanya bibi pembantu ku yang membawakan nampan makanan untuk ku. Ah, sial aku sampai lupa jika aku belum makan apapun selama empat hari ini. Sepertinya makan di saat isi kepala sedang berperang tidak akan mempengaruhi peperangan nya bukan. Aku pun mengambil nampan itu dan mula memakan makanan yang sudah bibi pembantu ku siapkan.


+++


Semakin larut malam akan tetapi aku belum melihat batang hidung sepupu ku. Baru juga ku pikirkan, Ian muncul datang masuk ke dalam ruang kerja ku.


Aku yang masih sibuk dengan laptop-laptop di depan ku. Berkata,"Siapkan pesawat untuk penerbangan besok."


"Lu akan berangkat besok?".


"Ya."


"Gue besok ada sidang kuliah."


"Tidak ada hubungan antara keberangkatan ku dengan sidang kuliah mu."Ucap ku dingin.


"Hem, gue akan nyusul ke New York setelah sidang kuliah gue usai."Kata Ian,"Lalu bagaimana dengan Nana?".


"Aku tidak ingin memaksa sesuatu yang bukan milik ku."Ucap ku,"Dan perlu kau tau. Moana yang telah kita bunuh kemarin. Bukan Moana yang sebenarnya."


"Ha?".


Aku yang sudah fokus pada lawan bicara ku,"Moana yang kemarin terbunuh hanya anak buah Moana yang menggunakan nama Moana."


"Lalu di mana Moana yang asli?".


Aku hanya membalas dengan diam ku. Yang kembali fokus pada pekerjaan.


Kecewa dengan pejuang pengejaran kemarin,"Ck, sia-sia."Beranjak dari tempat duduknya,"Jangan tidur larut malam, gue tidak mau mama gue kerepotan karena lu sakit."Pesan Ian pada ku sebelum berlalu pergi meninggalkan ruang kerja ku.