The Revengers

The Revengers
Eps.37



Malam hari telah tiba. Tepat di hari ini. Bulan purnama merah akan tejadi tengah malam nanti. Sehingga malam langit merah sudah membentang di atas sana membuat suasana malam berdarah.


Aku dan Mark tengah sibuk memantau situasi dari kamera pelacak yang telah aku pasangkan pada mereka semua yang tengah keluar mengejar mesin informasi ku.


Tanpa mereka ketahui aku juga sudah meletakkan alat pelacak lain pada musuh yang akan mereka lawan. Mudah untuk ku yang mendapatkan banyak orang dalam yang ku sebar secara diam-diam.


Bisa saja aku dengan mudah mendapatkan informasi dari orang dalam ku. Namun aku tidak mau mengambil resiko keselamatan nya. Karena masih banyak hal kebutuhan yang membutuhkan kehadiran mereka.


Di tengah-tengah sibuknya aku dan Mark memantau situasi dari layar komputer di markas rahasia kami. Lin datang iku menyaksikan keseruan aksi mereka. Itu katanya.


Next......


"Aku akan masuk lebih dulu dengan Dion".Ucap Johan dalam komunikasi jarak jauh mulai. Ia mulai melakukan pergerakan masuk ke dalam pekarangan tanah pembuangan pesawat yang luas.


Sementara Daniel dan Felix masih di tempat nya. Masih melihat-lihat situasi untuk mencari jalan lain untuk masuk. Keduanya masuk melalui pintu depan, sedang Johan dan Dion masuk melalui pintu belakang atau jalan paling belakang pekarangan pembuangan pesawat.


Kedua tim berjalan dengan mulus sampai di pertengahan jalan. Kedua juga mulai mengabaikan peringatan ku. Tentang robot-robot penyamar dan beberapa jebakan ranjau peledak.


"Awas".Daniel mendorong Felix menjauh dari tempat pijakan. Dan Bomm......tanah pijakan Felix hancur lebur bersemburat.


Bom ranjau tanpa sengaja Felix pijak. Untung nya Daniel cepat menyadari dan membantu nya. Akan tetapi Felix justru kesal dengan tindakan Daniel.


"Seharusnya kau membiarkan ku mati".Ucap Felix segera beranjak dari tempat nya duduk.


Daniel berdecak cuek, iya berlalu pergi meninggalkan Felix begitu saja. Ia tidak memiliki niat untuk berdebat ataupun merespon Felix.


++++


Tapp......Johan dan Dion berhasil masuk ke dalam markas ataupun kediaman rumah Qiong. Tangannya mengepal kuat Johan yang meremas pistol ingin rasanya segera bergerak membantai baji***ngan itu. Akan tetapi Dion menghentikan pergerakan nya.


"Peluang besar akan di dapatkan jika kau berhasil membawanya hidup-hidup".Ucap Dion bersiap menyergap.


Keduanya mulai bergerak kembali. Di sisi lain tanpa mereka semua sadari sudah ada ribuan robot ataupun manusia bersenjata mengepung mereka dari segala sisi.


Saat waktu sudah tepat. Atau? Ceklekkk.....Para senjata api otomatis sudah tertuju pada mereka. Dion dan Johan di ruang tamu. Daniel dan Felix di luar ruangan.


Mereka berempat sempat melawan. Sayangnya robot canggih itu terlalu sulit untuk mereka berempat lawan. Yang akhirnya membawa mereka berempat untuk di sekap ke dalam satu ruangan yang tidak terlalu luas. Tertutup sangat rapat dengan cahaya kuning remang-remang yang menerangi ruangan ini.


Kedua tangan mereka berempat terikat. Mereka berempat di biarkan terduduk sejajar di lantai.


Pria setengah paru baya atau om-om memasuki ruangan yang di jaga ketat ini. Pria ini berdiri tepat di depan mereka berempat.


Tanpa mengatakan sepatah katapun untuk mereka. Pria ini sudah lebih dulu mengangkat tangan kanannya yang menggenggam senjata kearah mereka.


Selelrtt..... Sebuah televisi tiba-tiba menyala dengan sendirinya. Menampilkan seseorang di dalam sana. Satu orang wanita dan satu anak perempuan yang tengah terikat di kursi plastik. Dan mulut ter lakban hitam. Tidak lupa dengan beberapa bekas luka memar di wajah wanita ini dan sepasang mata yang berair menahan tangis menatap kamera perekam.


Selama siaran itu berlangsung. Terdengar juga suara misterius dalam siaran misterius ini.


"Permainannya cukup menarik!".


"Ikutlah bersama mereka jika kau masih menyayangi istri dan gadis kecil cantik mu, Qiong."


Qiong membelak. Terlihat jelas raut wajah kaget itu. Akan tetapi perhatian cepat ia angkat kembali,"Lepaskan mereka".Suruhnya pada anak buahnya.


++++


Qiong pasrah di gelandang ikut bersama mereka berempat. Di luar rumah Zack langsung menjemput rekannya yang berhasil mengunakan helikopter yang akan mempercepat waktu. Yang sudah mendapatkan modifikasi kemodernan sedemikian rupa agar muat cukup banyak orang.


Sampai pada markas besar Yohan. Qiong menghentikan langkah kakinya, perhatian berpaling ke arah Johan dan Daniel yang sejak tadi memilih berjalan jauh dari nya. Mungkin mereka melakukan untuk menjaga jarak aman emosi nya.


Itu karena mereka berdua memiliki dendam pada Qiong. Keduanya memiliki keinginan kuat untuk membunuh Qiong yang sudah menjadi incaran sejak lama mereka berdua. Bahkan sampai membuat drama sebesar ini untuk membuat Qiong keluar dari tempat persembunyian. Akan tetapi yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil apapun.


Dan sekarang Yohan justru dengan mudah nya membuat Qiong keluar dari persembunyiannya. Sayangnya Yohan tidak menginginkan ada goresan apapun pada Qiong. Ya boleh saja, asal tidak menghancurkan tubuhnya.


Next....


Qiong terdiam berpaling ke arah mereka berdua,"Perlu kalian ketahui jika ayah kalian tidak mati saat itu, ayah kalian masih hidup dan Narendra mengetahuinya".Qiong sebelum melanjutkan perjalanan kembali.


Di dalam aula yang tertutup membentang luas ini lah perjalanan Qiong berhenti. Di sinilah sesosok Narendra atau Lin muncul. Membuat mereka yang ada di sana heran penuh pertanyaan. Lantaran kemana Yohan Narendra pergi. Kenapa orang lain yang muncul?Ia mereka semua, buka semua tidak mengenali siapa pria di depan mereka saat ini.


Lin atau Narendra. Yang mengunakan nama Yohan Narendra mulai berjalan sedikit mendekat pada Qiong.


"Senang bertemu kembali".Ucap Lin tersenyum miring pada Qiong yang terdiam datar.


"Ayah."Ujar Daniel membuat seisi orang dalam aula ini telah fokus pada nya.


Lin tidak merespon suara itu. Ia tetap fokus pada Qiong,"Dimana Wolf sekarang?".


"Aku tidak tau!".Dingin Qiong.


Tanpa membuang-buang tenaga untuk memaksa Qiong mengaku,"Mungkin melihat putra mu mati bisa membuat mulut mu lentur".Gerakan tangan Lin membuat layar lebar di sisi kanan menyalah.


Tidak perlu repot-repot berpikir!Linoner atau Lin. Adalah ayah kandung si kembar Johan Daniel. Yang telah lama tiada. Lin memalsukan kematiannya, dan kedua anak Lin menganggap Qiong adalah pembunuh ayahnya. Yang faktanya adalah....


Layar lebar itu memperlihatkan rekaman seorang remaja laki-laki yang baru pulang dari tempat nya kuliah.


"Tiga....Dua....Sa..tu,"Tangannya yang membentuk pistol terarah pada kepala remaja itu,"Bang!!".


Remaja dalam rekaman tumbang, terjatuh tengkurap di atas jalanan paving kampus. Bersamaan dengan darah segar merah pekat mengalir deras dari kepalanya. Dan siswa siswi yang berhamburan mendekati.


Manik mata Qiong membulat sempurna, matanya mulai memerah berkaca-kaca,"Aaahhh!!!!Iblis kau Lin!!!".Teriaknya lantang pada Lin.


Qiong hendak berlari menyerang. Sayangnya, tangannya yang terikat menghambat pergerakan nya. Lin justru menjegal langkah kaki Qiong membuat Qiong tersungkur. Wajahnya membentur ubin lantai cukup kuat Brugk....


"CuttCutt....".Lin menyungging senyum manis meledek pada Qiong.


Kedua putra Lin yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam terpaku dengan tatapan kosong syok. Ini adalah perlakuan terkejam yang belum pernah mereka berdua lihat. CK, munafik!!Mereka berdua telah menghabiskan banyak orang sekalipun. Apakah mereka berdua masih bisa syok seperti sekarang?


Menyadari tatapan itu. Lin berkata,"Lupakan tentang siapa aku bagi kalian. Karena ayah kalian telah meninggal lama bersama ibu kalian".Terucap dengan nada suara dingin toxic.