The Revengers

The Revengers
Eps.24



Atap gedung sekolah adalah tempat tersepi yang jarang untuk di kunjungi banyak orang. Dan di sinilah tempat ku dan Nana bertemu. Setelah kejadian di malam itu.


Nana menunduk, bersamaan dengan terangkat nya pandangan nya. Ia berkata,"Aku setuju dengan isi surat yang kau tulis. Lupakan yang terjadi anggap saja di malam itu hanyalah mimpi yang tidak pernah terjadi."


Fokus ku yang sudah tertuju pada lawan bicara ku,"Aku tidak setuju, aku tarik kembali semua kalimat yang aku tulis."


"Aku tidak ingat apa yang ku lakukan di malam itu. Aku hanya ingin aku ada di dapur untuk mengambil air minum di kulkas. Setelah itu aku tidak tau,"Masih terfokus pada lawan bicara ku,"Apapun yang terjadi di malam itu, aku akan bertanggung jawab jika aku....".Memotong ucapan ku cepat,"Tidak ada yang terjadi. Lupakan kejadian di malam itu."


"Kau serius dengan ucapan mu?".Aku menatap dalam sepasang atensi indah ini.


"Iya."


"Mata mu berkata lain kepada ku".Ucap ku melihat jawaban yang berbeda di dalam sana.


Menaikan nada bicara,"Tidak ada yang terjadi Yohan. Aku memohon pada mu lupakan yang terjadi dan jangan pernah beritahu siapapun tentang aku menolong mu di malam itu."


Nana hendak berlalu pergi meninggalkan ku. Aku lekas menggenggam lengannya menghentikan langkah kakinya,"Ada yang terjadi di malam itu. Jika tidak, kenapa kau marah?".


Nana terdiam cukup lama di tempat nya. Berdiri membelakangi ku.


"Bener kan?".


Membentak,"Iya."Balas nya berpaling menghadap diri ku kembali,"Di malam itu ada yang terjadi. Dan aku sangat-sangat memohon kepadamu,"Melakukan gerakan memohon dengan kedua tangan nya,"Lupakan apa yang terjadi. Aku tidak mau bertemu dengan mu lagi, aku mohon pergi jauh dari ku. Aku mohon Yohan, aku berusaha melupakan yang terlah terjadi di malam itu. Aku mohon."


"Tidak bisa, aku harus tanggung jawab dengan yang aku perbuat."


"Tidak. Aku menolaknya."Kata Nana tegas,"Aku tidak mau, aku tidak mau."Air mata yang mulai menetes tanpa suara isak tangis.


"Berjanji kepada ku untuk tidak mengungkit-ungkit kejadian di malam itu lagi. Aku ingin hidup tenang menjauh lah dari ku."


"Lalu bagaimana dengan dirimu. Bagaimana jika kau hamil anak ku."


Berjalan menjauh dari ku,"Aku akan rawat anak itu sendiri. Lagian ini jaman modern hamil tanpa suami hal biasa."Nana menghentikan langkah kakinya kembali. Membelakangi diriku.


"Aku tidak bisa berjanji Nana. Karena jika sampai terjadi aku akan mengatakan semuanya. Aku tidak akan meninggalkan mu".


"CK abang-abang ku akan membunuh mu. Sebelum kau bertanggung jawab".Ucapnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan ku.


"Aku tidak perduli."Kata ku yang entah masih di dengar Nana atau tidak.


Next masa sekarang......


Di malam ini aku mengatakan semuanya yang sudah terjadi antara aku dan Nana di malam itu. Tanpa memperdulikan tangan kedua Abang Nana yang sudah mengepal kuat siap untuk mengajar ku kapan pun.


Bakkk....Di tengah-tengah aku berbicara. Tiba-tiba tangan mengepal kuat dari dalam ruangan meninju pipi ku. Tubuh terdorong paksa begitu juga dengan arah pandang ku.


Tangan besar itu bergerak cepat berganti mencengkeram kuat erah kemeja putih ku,"Kau telah merusak kehormatan putriku. Kau menghancurkan kepercayaan om pada mu, Yohan."Nada suara berat tegas terdengar menggema marah. Yudha kembali meninju pipi Yohan tanpa mendapatkan perlawanan dari Yohan.


"Sudah yah, percuma marah kepadanya."Kata Nazil melerai ayah nya dan aku yang pasrah dengan apa yang mereka lakukan pada ku.


"Ayah lebih baik masuk, nanti kalau adik siuman bakal nyari ayah."Kata Nazil.


"Nana sudah siuman."Balas Yudha terdengar dingin tanpa memalingkan atensi tajamnya pada ku. Bahkan tangannya masih geram ingin menghajar ku.


"Om izin kan saya untuk bertemu dengan Nana."Minta ku yang sangat bodoh. Jelas aku tidak akan di perbolehkan.


"Tidak."Fazil menggenggam bahu ku. Mendorong ku paksa menjauh dari sana.


Aku melawan. Akan tetapi Nazil juga ikut menarik ku paksa menjauh dari sana.


Tidak ada kesempatan untuk ku melawan agar tetap di sana. Melawan pun harus memukul mereka berdua dan aku tidak mau melakukan nya,"Nana."Panggil ku berharap Nana akan mendengar suara panggilan ku.


Yudha melihat perlakuan kasar kedua putranya. Dan ia tidak memperdulikan itu, ia sangat marah dan kecewa pada Yohan. Ia sudah tidak perduli apa yang akan di lakukan kedua putranya pada Yohan.


Di dalam ruang rawat. Nana yang tertidur pulas membuka kembali kelopak matanya. Ia terbangun melihat sekeliling ruangan yang gelap, hanya cahaya remang-remang saja yang tersisa.


"Ma."Serunya pada mama nya yang masih setia menemani nya.


"Apa sayang?".


"Nyalakan lampunya ma."


"Iya."Alyah beranjak dari tempat duduknya untuk menyalahkan lampu kamar rawat yang tombol lampunya lumayan jauh dari ranjang pesakitan putrinya.


"Apa sayang?".Alyah yang sudah di kursi nya kembali. Salah satu tangan yang bergerak menyilakan surai rambut putri yang akan menutup perban luka di kening putrinya.


Nana terdiam, fokusnya berpaling melihat mamanya cukup lama.


"Mama tidak marah pada Nana?".


"Why angry?".


"Nana salah, Nana tidak bisa menjaga diri dengan baik."Kata Nana,"Mama pasti sudah tau soal kehamilan ku."Mengelus perut ratanya nya.


Alyah mengangguk ringan,"Iya."


"Aku bohong pada mama. Sebenarnya aku sudah pernah memeriksa kandungan ku, katanya dia sehat. Akan tetapi aku masih belum bisa melihat jenis kelamin nya."Kata Nana tersenyum manis pada mama nya.


Alyah terfokus melihat senyum itu, putrinya tetap tersenyum sangat manis walaupun terluka,"Hebat."Batinnya Alyah,"Mama boleh tanya sesuatu. Tapi Nana harus jawab jujur tidak boleh bohong lagi sama mama."


"Tergantung heheh.....".


Alyah tersenyum tipis sebelum bertanya,"Siapa ayahnya?".


Menyadari diamnya putrinya. Alyah menggenggam telapak tangan ini,"Mama sayang sama Nana, Mama tidak akan marah dengan Nana dan Nana tidak perlu takut dengan Mama."Alyah mencoba mengambil kepercayaan putrinya.


"Tidak bisa ma, maaf."Kata Nana,"Aku sayang dengan anak ini."


"Nana."Seru Alyah,"Maaf, tapi bayi itu sudah tidak ada. Kecelakaan itu membuat kamu keguguran sayang. Dan ayah dari bayi itu harus mengetahui nya".


Manik mata Nana membulat sempurna nya, matanya berkaca-kaca tanpa mengeluarkan air mata.


"Dia pergi?".Nada suara lirih Nana masih dengan tatapan yang sama kosong.


"Iya sayang."


Nana beranjak bangun dari tempat tidurnya, ia duduk dan merasakan nyeri luar biasa di perutnya. Di sinilah ia mulai meracau, ia menangis tanpa isak tangis seperti biasa,"Tidak, tidak, baru kemarin aku merasakan pegerakan nya, dokter itu bilang dia sehat. Tidak, tidak, mama bohong. Tidak mama bohong, mama bohong, anak ku sehat, di adalah anak ku di kuat dia sehat. Dokter itu bilang anak ku sehat. Dia bilang janin ku sehat."


Alyah beranjak dari tempat duduknya menarik tubuh itu ke dalam pelukan nya,"Istighfar sayang, istighfar."


"Dia baik-baik saja ma, dokter itu bilang dia baik-baik saja, dia sehat."Nana semakin meracu tanpa isak tangis.


Yudha yang baru memasuki ruangan. Melihat keadaan putrinya pun langsung melangkah mendekat cepat.


"Putri kita kenapa?".Yudha yang khawatir dengan keadaan Nana. Putrinya yang terlihat syok berat.


"Maaf, aku mengatakan tentang....".Alyah memotong ucapan nya.


"Panggil Dokter."Suruh Yudha. Alyah bergegas menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.


Yudha merangkul tubuh putrinya,"Tenang sayang, katakan pelan-pelan.Tenangkan diri kamu."


"Yohan, aku harus bertemu dengan nya."


"Kenapa?".Nada sura tinggi Yudha, berganti rendah,"Kenapa ingin bertemu dengan nya?".


"Aku harus menemuinya, aku harus meminta maaf padanya. Aku menyembunyikan semuanya padanya. Padahal waktu itu dia sudah berkata akan tanggung jawab. Aku menolaknya, karena aku tahu hal ini tidak akan terjadi. Dan walupun terjadi aku bisa mengatasinya sendiri."


"Tapi aku salah, aku gagal menjaga janin ku. Aku kehilangan anak ku. Apakah ini karma untuk ku yang berpikir akan menjauhkan nya dari ayahnya."


"Shutt....Nana tidak salah apa-apa, apa yang terjadi bukan sepenuhnya salahnya Nana."


"Yohan tidak tau apapun yah, aku berusaha menjauhkan dia dari anaknya. Padahal di malam itu bukan sepenuhnya salahnya, akan tetapi dia tetap bersikukuh akan tanggung jawab akan resiko yang akan terjadi. Aku, aku menolaknya."


"Malam itu?".Yudha mengulangi salah satu kalimat yang putrinya ucapkan.


"Waktu itu Yohan tidak sadar karena meminum air yang ia pikirkan air putih di dalam kulkas pondok Nana."


"Kenapa Yohan ada di sana?".


"Dia kehujanan, aku memberikan nya tempat berteduh."Bodong Nana soal Yohan yang terluka parah saat ada di pondok nya.


"Selamat malam."Salam seorang dokter yang memasuki ruangan kamar rawat Nana.