The Revengers

The Revengers
Eps.5



Rencana kami berjalan di hari ini. Selepas pulang sekolah kami langsung berganti pakaian bergegas pergi kembali. Dengan mengendari motor Vario milik om ku.


Ian yang sudah canggih menyetir motor. Kini tengah menyetir motor dengan kecepatan di atas rata-rata melaju membelah jalanan kota S yang tengah di guyur hujan gerimis malam.


Next....


Saat sudah turun dari motor. Aku langsung bergerak ke posisi ku. Di sini aku mengambil tali untuk memanjat dinding menjulang tinggi ini.


Berhasil di puncak dinding. Aku mengumpat kecil melihat pecahan-pecahan kaca yang sengaja di pasang. Lantas dengan hati-hati aku menghindari pecahan kaca ini. Bekk.... Berhasil masuk ke dalam pekarangan rumah aku bergegas. Mengendap-endap masuk ke dalam rumah.


Langkah ku terhenti di perempatan lorong rumah. Aku melanjutkan langkah setelah melihat sekilas peta yang aku bawa.


Menyadari suasana rumah terlalu sepi, aku bergerak dengan hati-hati.


Dalam alat komunikasi jarak jauh,"Mereka semua tidak ada di rumah. Suatu keberuntungan bukan. Mereka semuanya pergi menghadiri pesta makan malam."Kata Ian di seberang sana.


Walau mendapatkan kabar yang memuaskan. Aku tetap tidak bergerak gegabah.


+++++++


+++++++++++


Keesokan hari nya. Aku sudah siap dengan pakaian rapi kerja ku. Sementara Ian sudah siap dengan pakaian rapi sekolah nya.


Ian sibuk mengenakan helm nya,"Semoga sukses."


"Iya."Balas ku cuek berlalu pergi lebih dulu mengendarai mobil pribadi ku.


+++


Acara pameran khusus di hadiri orang khusus. Dengan derajat tinggi-tinggi. Yang di adakan di salah satu gedung ternama tengah kota. Tempat para konglomerak berkumpul untuk menghabiskan uang.


Aku hadir dalam acara ini. Dengan alasan tertentu, seperti menyaksikan sesuatu yang membuat ku tertarik. Jika tidak mustahil untuk ku menghadiri acara yang tidak penting ini. Cik.


Para komlomerak dari yang paling kaya raya sampai yang pura-pura kaya raya. Iya, di jaman gini gaya paling penting bukan. Entah ada uang ataupun tidak ada yang penting bergaya.


Aku berjalan masuk seorang diri melewati karpet merah ini. Sampai di dalam aku mencari tempat duduk yang masih kosong.


"Yohan kemari."Panggil sosok yang tidak asing untuk ku.


Aku berjalan ke sosok yang mengambil nama ku. Lebih tepatnya ikut bergabung di mejanya.


"Sejak kapan di Indonesia?".Tanya Jefri pencinta barang-barang antik .


"Kemarin, mungkin nanti malam aku akan kembali pulang."Kata ku,"Om sendirian?".


"Dari dulu kalau kemana-mana kan om memang sendirian. Kau jangan terlalu mengingat ku untuk cepat-cepat menikah di usia ku yang tidak muda lagi". Mendengar itu aku hanya tertawa kecil. Melihat hanya Om Jefri saja lah dari sahabat-sahabat dekat om ku yang belum menikah.


Kami bercengkerama akrab walaupun usia kami terpaut sangat jauh.


Next....


Acara pembukaan seharusnya sudah di mulai jam 8. Namun sudah jam 9 lewat acara tidak kunjung di mulai. Om Jefri yang mulai menyadari tundaan waktu yang cukup lama mulai nya acara. Beranjak dari tempat duduknya,"Seperti harus turun tangan."Ucapnya berbasa basi sebelum beranjak menjauh dari meja ini.


Aku duduk seorang diri memperhatikan sekitar ku dalam diam. Ada beberapa sepasang mata yang memperhatikan ku. Sayangnya aku tidak tertarik dengan mereka, aku lebih tertarik dengan yang akan terjadi sebentar lagi.


"Permisi."Nada suara pengganggu. Aku mendongak menatap datar sang pemilik suara.


"Boleh kami iku bergabung di sini?".Cik belum juga aku menjawab kedua pengganggu ini sudah lebih dulu duduk di kursi kosong depan ku.


"Tuan pendatang baru di kota ini?".Tanya basa basi Tante yang duduk tepat di depan ku.


"Sudah berapa banyak pria yang Tante peloroti hartanya?".Aku menatap datar wanita ini,"Kenapa kau mau saja di jadikan alat pencari uang untuk ibu mu sementara kau punya kehidupan yang jauh lebih baik dari ini."Atensi ku terfokus pada wanita cantik dengan riasan tipis yang menghiasi wajahnya.


"Yohan."Panggil om Jefri pada ku,"Ikut aku."Ajak nya.


Next.....


Aku dalam perjalanan pulang dengan suasana hati yang sangat luar biasa puas. Kenapa?Kalian tau acara pameran barang antik yang baru saja aku hadiri. Di sana aku memilih suatu kejadian yang sangat memuaskan bagi ku.


Di mana seseorang yang sok kaya raya jatuh di hadapan ku. Bukan jatuh tersungkur melainkan jatuh miskin karena harus menganti rugi permata zamrud biru yang sangat langkah. Permata langkah dengan harga puluhan miliar yang di hilangkan oleh nya.


Sementara yang menemukan permata itu adalah komlomerak terkaya di kota ini. Menemukan permata itu ada di dalam tas yang tergeletak di pinggir jalanan kompleks nya.


Sepertinya kurang jelas. Aku akan menceritakan nya dengan baik dari awal.


Jadi malam hari sebelum acara pameran barang antik. Aku dan Ian berencana untuk mencuri permata zamrud biru. Kami mencuri permata mahal itu bukan untuk di jual dan bersenang-senang. Melainkan untuk kami buang di jalanan.


Aku dengan sengaja membuang tas berisikan permata zamrud biru itu di jalan depan rumah konglomerat terkenal di kota ini. Aku melakukan nya agar saat di acara nanti.


Di acara pameran barang antik. Seorang pemilik atau seseorang yang diamanatkan di berikan kepercayaan untuk menjaga permata Zamrud biru sampai menjelang acara barang antik di laksanakan.


Pasti bisa di lihat betapa paniknya seseorang itu saat menyadari batu permata zamrud biru hilang dalam keamanan rumahnya yang sangat rumit.


Aku melakukannya tidak lain hanya karena masalah sepele. Namun sangat penting untuk ku membalasnya dengan cara kerja pintar.


Tas yang aku aku jatuhkan di depan rumah komlomerak di ketemukan oleh pemilik rumah itu sendiri. Beruntung nya aku. Karena kejadian itulah saat acara pameran barang antik tadi seseorang yang di berikan amanat langsung di panggilkan polisi. Seseorang itu langsung di masukkan penjara tanpa ada pembelaan.


Yang aku dengar dari pemilik sebenarnya batu permata zamrud biru. Akan langsung memenjarakan seseorang ini. Atau pria tua yang menyeleweng dari amanatnya.


Senengnya lagi, pria itu akan di penjara seumur hidup. Membuat diri ku memiliki cukup ruang luas untuk memberinya sedikit pelajaran lagi.


Next.....


Di suatu tempat. Ruangan tempat temu jumpa tahanan penjara kelas kakap. Seseorang pria yang tengah menunggu tahanan penjara mendatangi mejanya.


Tahanan dengan nomer pakaian 27 duduk di depan seseorang pria ini,"Ada tugas?".


"Hem, bos ingin kau menghajar habis pria ini."Menunjukkan sebuah foto di layar ponsel nya.


Pria dengan nomer tahanan 27 menyinggung senyum miring,"Bilang ke bos. Aku akan melakukan dengan cara halus."


"Iya, dan ini pesanan kau tempo hari."Memberikan kotak kue.


Membuka isi kotak itu,"Humm....rasa favorit ku."Menyungging senyum miring sekali kali.


Next.......


"Oi."Panggil Ian pada ku.


"Kapan lu pulang?".


"Barusan."Balasnya,"Bagaimana tadi?".Tanyanya penasaran.


"Berjalan dengan baik."


"CK rencana siapa, lagian gue sangat tidak sabar melihat koruptor itu membusuk di penjara."


"Sayangnya dia di penjara bukan karena kasus itu."Ucap ku sedikit kurang puas.


Ian tersenyum tipis,"Bodoamat yang penting berhasil masuk lubang."


"Hmm."Aku berlalu pergi dari sana. Meninggalkan Ian yang masih menikmati keberhasilan.


Di dalam kamar pribadi ku. Aku yang sudah menutup dan mengunci pintu kamar dari dalam. Langsung mendudukkan pantat ku di atas tempat tidur.


Aku angkat salah satu kaki ku, melepaskan berlahan sepatu yang aku kenakan. Juga kaos kakinya. Merah keunguan memar belahan-lahan terlihat di pergelangan kaki ku.


Seperti aku terlalu memaksakan diri. Jadi beginilah akibatnya yang impas untuk ku dapatkan. Yaitu luka cidra yang semakin parah.