
Komputer masa depan telah di nyalakan. Akan tetapi saat komputer mulai di operasikan. Tiba-tiba keluar gambar lain, yang tidak sesuai dengan kemauan profesor yang menyalah kan komputer ini.
Komputer ini justru menampilkan rekaman lain. Rekaman tentang kumpulan berita tentang wafatnya seorang miliarder pengusaha terkaya di dunia. Menampilkan beberapa potongan foto yang tidak jelas. Tentang kronologis kematian nya.
Dari semuanya yang syok juga panik melihat isi rekaman. Di lain sisi, Wolf justru mengepalkan kedua tangannya kuat. Tanpa membalikkan badannya menghadap Ian,"Tidak ku sangka kalian akan membuat drama sejauh ini".Wolf di barengi membalikan badannya menghadap Ian,"Kau sendiri telah memasukkan diri mu ke dalam kandang serigala. Melakukan hal bodoh dengan membunuh sepupu mu sendiri. Kau benar-benar mempermudah semua pekerjaan ku."Menjedah perkataan di susul tersenyum miring.
"Karena terget ku adalah membunuh Yohan....Aku sudah tau semuanya. Drama murahan ini, memancing ku keluar dengan merusak semua proyek ku. Kau pikir aku tidak tau.... ingatlah satu hal.....Sebelum Lucas mati. Aku sempat meminta bantuan nya untuk memberiku beberapa alat yang berguna. Terutama alat untuk melacak hacker genius sekalipun. Baji***ngan yang telah merusak semua proyek ku".
Ian masih terdiam di tempat nya. Dan suasana di dalam ruangan ini tiba-tiba saja terasa sangat panas seperti neraka. Padahal ruangan ini ada pendingin ruangan yang menyala. Tidak bisa di bayangkan apa yang akan selanjutnya terjadi di kala Wolf sudah mengetahui nya.
Karena drama Ian dan Yohan hanya berpura-pura bertengkar. Dan pengalihan saham palsu karena hanya nama perusahaan saja yang di ubah. Sementara keseluruhan nya masih atas nama Yohan Narendra. Pewaris tunggal saham Salvador. Yang tidak bisa tergantikan kecuali pada anak keturunan Yohan sendiri.
"Kenapa?Kaget?,"Moana yang masih terfokus pada Ian,"Jadi berapa orang yang ada di pulau ini....Biar ku tebak".
Menggerakkan tangan nya berpikir, bergerak menunjuk Ian,"Tujuh!".
"Benarkah?".Ian yang membalikan ucapan nya.
"Jangan main-main dengan ku bocah".Wolf bergerak melepaskan jas yang ia kenakan. Kakinya bergerak lincah ke arah Ian.
Ian yang belum siap akan serangan Wolf. Langsung terpental hanya dengan sekali tendang kaki.
Tubuh ini langsung membentur kuat dinding ruangan ini. Belum juga tersadar dengan serangan pertama. Wolf sudah kembali menyerang Ian. Menarik surai rambut Ian kasar.
"Otot-otot pria tua ini sangat gatal karena, penghambat pecundang seperti kalian!!".Wolf yang terus memberikan serangan brutal pada Ian yang terus berusaha menghindari dengan sisa tenaga nya. Yang tidak dapat menghindari dari babak belur karena di hajar Wolf yang memiliki kelincahan bertarung lebih hebat dari Ian.
Kalah telat. Ian yang babak belur oleh Wolf yang saat ini tengah mencengkeram lehernya sampai tubuhnya sedikit terangkat,"Leyahlah dari hadapan ku".Shemll....Brakkk....Tubuh Ian terlempar dan mendarat di atas komputer yang gagal dalam pembuatan nya. Atau kurang lebih telah gagal karena Yohan berhasil mengotak-atik komputer ini lebih dahulu dari mereka.
Tiduran di atas tumpukan komputer yang telah rusak karena tertimpa tubuhnya,"Kenapa selalu aku yang babak belur".Gumam Ian menahan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya.
"Cari para tikus itu, bawah kesini".Suruh Wolf pada para anak buah nya.
"Tidak perlu repot-repot, aku sudah di sini".Nada suara yang tidak asing untuk semua gendang telinga terima.
Wolf langsung berbalik badan untuk melihat sang sumber suara. Kedua tangan yang berbalut pembalut luka penuh bercak merah pekat. Satu tombak berlumuran darah di tangan kirinya. Cukup menjelaskan semuanya. Jika pria ini telah selesai menghabiskan seluruh penjaga di sini. Seorang diri. Dan hanya tersisa sedikit dari mereka yang masih ada di ruangan ini.
Siapa lagi dia kalau bukan Aku, Yohan. Walaupun tubuh ku sudah berlumuran darah. Aku tetap berdiri dengan baik di tempat kaki ku berpijak. Membiarkan diri ku menebar aura gelap dingin mencekam pada meraka.
Tapa ada aba-aba pergerakan. Aku bergerak cepat, lincah melesat kearah mereka semua yang menghalangi ku satu persatu. Untuk ku melumpuhkan pergerakan mereka. Bukan melumpuhkan melainkan membunuh mereka semua. Ku peli***ntir kepala mereka sampai berbalik arah. Menusuk tempurung kepala mereka dengan tombak besi yang ku bawa. Membiarkan merah pekat bersemburat kemana-mana.
Bahkan sampai ada suara tembakan pun aku tidak menghiraukan nya. Walupun tembakan itu dilakukan untuk menghentikan kegiatan ku. Aku yang telah kalap dengan emosional ku, tidak memperdulikan keselamatan ku sendiri.
Ian mencengkeram kuat pergelangan tangan Wolf, ia juga melilit kan lengannya pada leher Wolf. Wolf yang tidak mau kalah langsung melawan. Dengan mencengkeram balik lengan Ian. Mengambil ancang-ancang menjatuhkan pergerakan Ian. Keduanya sama-sama saling mengunci pergerakan.
Sayangnya perlawanan itu di menangkan oleh Ian lebih dulu menyadari kelanjutan nya. Ian bergerak lincah langsung membanting tubuh Wolf ke ubin lantai ini.
Melihat Wolf berhasil ia tumbangkan. Ian hendak bergerak melanjutkan kegiatan yang belum cukup memuaskan.
"Cukup".Aku yang sudah berdiri tidak terlalu jauh dari sini.
Mendengar itu. Ian memilih untuk terdiam di kala melihat begitu gelapnya aura mengerikan monster kematian dalam diri sepupunya yang masih menggila di dalam sana.
Aku yang sudah dekat dengan Wolf yang sudah akan beranjak dari tempat duduknya. Secepat kilat aku menancapkan tombak besi tadi tepat di samping Wolf berjongkok membuat pakaian. Bukan!Tapi telapak tangan Wolf ikut bersatu menancap di sana.
"Aaaaaaaaaaakkkkk........,"Teriak Wolf saat merasakan sakit yang luar biasa di tangan kirinya.
Menekan tombak itu agar lebih menancap,"Tinggal satu lagi, kalian dapat berkumpul bersama, di neraka."
Mendongak memperlihatkan kedua mata yang sudah memerah berkaca-kaca,"Kau!?".
Werkk.....Sapbrakk.....Belum juga melanjutkan perkataannya tangan ku jauh lebih dulu bergerak mempelanting kepala Wolf sampai menghadap ke arah lain.
Seketika itu tubuh tua bangka ini langsung tumbang tidak sadarkan diri lagi.
"Hanya membantu menghilangkan penderitaan nya".Aku dengan tatapan dingin sorot mata tajam elang ke arah Ian.
Menengok ke arah lain,"Hey, hey bro tuh mata kenapa lompat bahaya bola mata nya".
Mengabaikan basa basi Ian seperti biasa,"Ayo pergi, lima menit lagi pulau ini akan meledak".Ajak ku pada Ian. Atau aku yang sudah lebih dulu berjalan menjauh dari tempat ini.
+++
Sepanjang perjalanan keluar dari gedung ini. Membuat Ian harus selalu ingat untuk berpikir dua kali sebelum menjahili sepupunya. Karena sepanjang perjalanan, Ian di sungguh kan dengan pemandangan yang membuat nya semakin percaya bahwa sepupunya lebih mengerikan dari pada para iblis-iblis tadi.
Bagaimana tidak di sebut king monster. Di saat semua orang di gedung ini. Di bantai habis dalam sehari oleh satu orang yang cara pembantai nya dengan cara gila. Bukan dengan tembakan senjata api brutal atau apapun itu.
Akan tetapi hanya dengan mengunakan tangan kosong dan sebuah tombak besi. Seluruh orang di pulau ini lenyap. Dengan keadaan yang cukup tidak masuk di akal juga mengerikan. Mereka semua lenyap dengan keadaan kepala yang terpelintir, kepala yang terbelah, kepala yang hancur, jantung yang tertusuk, tubuh yang tertancap.
Next...
Berhasil keluar dari horornya pembantaian yang telah dilakukan sepupunya. Ian, aku, dan Zack juga kelima anak buah ku bergegas pergi menjauh dari sana mengunakan kapal selam. Baru sesaat kepergian kami langsung di sambut dengan suara ledakan dahsyat. Yang timbul akibat dari bom-bom yang terpasang di seluruh pulau telah meledak menghancurkan pulau. Sengaja ku hancur untuk menghancurkan semuanya.