The Revengers

The Revengers
Eps.73



Huahh.... mendudukkan pantat nya di kursi panjang yang tersedia di belakang rumah. Menghela nafas panjang nya kelelahan sehabis bermain bola Voli bersama Yohan.


Menyodorkan sebotol minuman,"Minum" .


Nana langsung mengambil menenggak air mineral itu habis,"Waaw....seger".


"Kalau kau libur gini terus kan enak aku jadi tidak sendirian".


"Kalau sendirian iya keluar jalan-jalan".


"Enggak ahh malas, panass",


"Makin hari makin panas saja kota ini".


Tetap duduk di samping istrinya,"Masuk saja nyalakan AC nya",aku fokus memantul-mantulkan bola voli.


"Iya",


+++++


++++++++++


Tidak terasa sudah 4 bulan lamanya Yohan dan Nana resmi menjadi suami istri. Tinggal serumah di kediaman rumah peninggalan keluarga Yohan. Selama itu kedua saling membantu dan saling memahami satu sama lain. Walaupun selama itu keduanya sangat jarang sekali bertemu.


Baik Yohan ataupun Nana tetap menyisihkan waktu untuk bisa tetap mengobrol berdua. Bertukar cerita banyak hal, walau pada akhirnya Nana lah yang paling banyak membutuh Yohan sebagai pendengar.


Sampai di suatu hari. Yohan yang baru saja pulang dari tugas dinas nya di luar negeri. Beranjak turun dari dalam mobil, setelah pintu mobil otomatis ini terbuka.


Ia menenteng jas nya berjalan masuk ke dalam rumah mewah ini.


Nana yang baru saja keluar dari dapur menghampiri Yohan,"Udah pulang saja".


Merangkul istri kedalam pelukan nya,"Kenapa seperti tidak suka sekali saat aku pulang kerja cepat".


"Bukan tidak suka",kata Nana masih dalam rangkulan istrinya yang menuntut ia untuk ikut berjalan dan duduk di sova ruang tamu."Cuma agak berbeda saja dengan suami-suami yang lain".


"Maksudnya?".


"Contohnya Ian, saat Ian dinas kerja keluar kota tidak pernah tuh dia pulang secepat kilat seperti kamu yang baru izin tadi pagi dan pulang sore hari. Jadi konsepnya luar negeri seperti luar kota, Yohan".


"Iyakan aku pakai pesawat pribadi".


"Iyaaa".


"Sudah masak?".


"Han",Nana yang justru berseru.


"Kamu kenapa tidak pernah bertanya. Apakah aku sudah hamil atau belum. Apakah kamu tidak mau punya anak?".


Nada bicara yang terdengar itu terlalu polos membuat Yohan tergeletak tawa renyah.


Menyipitkan kedua kelopak matanya menatap suaminya,"Apa yang lucu Han?".


"Cara bicara mu",di susul senyum manis lembar tulusnya."Aku tidak mau bertanya karena aku tidak mau membebani pikiran mu. Lagian ada ataupun tidak seorang anak aku tidak akan mempermasalahkan nya.....Jika pun tidak aku tidak akan memaksa, jika pun kamu memilih untuk mengadopsi seorang anak. Aku tidak mempermasalahkan nya".


"Yohan",manik mata berkaca-kaca antara senang dan beruntung Yohan hadir di kehidupan nya. Karena sudah empat bulan menikah tidak di karuniai seorang anak, membuat Nana terkadang merasa sangat bersalah walau Yohan tidak pernah mempertanyakan,"Tapi kalau sudah ada gimana Han?".


"Maksud mu?",aku terfokus menatap serius.


"Han".


"Di sana anak ku, serius kau Nana?".


Nana mengangguk ringan,"Iya Han".


Yohan tergerak memeluk erat istrinya, cukup lama sekali, lalu di susul dengan ucapan,"Terima kasih Na".


Membalas pelukan hangatnya mengelus lembut punggung suaminya.


+++++++++++


Semenjak mengetahui istri tengah mengandung buah hatinya. Yohan menjadi berubah lebih keras membagi waktu nya, antar lekas membereskan pekerjaan dengan baik dan benar. Dan lekas pulang ke rumah bertemu dengan istri tanpa beban pekerjaan kantor lagi.


Semuanya berjalan dengan baik sampai menjelang 8 bulan kehamilan Nana. Namun berjalan sangat buruk saat mendekati 9 bulan usia kehamilan Nana.


Di waktu itu. Siang hari yang mendung yang membuat hujan gerimis kecil berjatuhan. Tanpa takut masuk angin Nana duduk santai di halaman belakang rumah nya. Duduk di teras depan kolam renang. Sembaring membaca buku dalam genggaman kedua tangannya.


"Permisi nyonya",ucap pembantu yang sudah berdiri di samping nya duduk.


Pembantu ini menyodorkan ponsel milik Nana yang tengah bebunyian menandakan nada panggilan telepon masuk.


Nana segera meraih benda pipi di tangan pembantunya untuk segera mengangkat panggilan telfon yang masuk. Menempelkan ponsel nya di daun telinga nya.


Tersambung


*Han nanti pulang bawakan aku roti bakar, aku pingin".


*...........".


*....................".


Brakk...... Ponsel itu meluncur sangat baik terlepas dari genggaman tangan nya, jatuh membentur lantai ini.