The Revengers

The Revengers
Eps.44



Apa yang di lihat belum bisa ia percaya secara logika. Membuat Moana seperti orang gila, terdiam berlutut lemas, meracau tidak jelas, dan manik mata yang masih membulat sempurna.


Terdengar langkah kaki mendekat. Moana langsung berpaling melihat sumber suara,"Siapa kau?Apa kau yang melakukan ini pada putra ku?".Sudah terfokus pada lawan bicaranya.


"Pemakaman seperti apa yang kau mau? Karena setelah ini kau butuh tempat terakhir untuk beristirahat bersama putra mu".Aku menatap dingin mengintimidasi Moana.


Tangan yang mengepal kuat,"Jadi benar!!Kau yang membunuh putra ku".Moana beranjak cepat dari tempat duduknya.


Ia cengkraman keras pakaian ku. Tatapan tajam yang membunuh ku hanya tertuju pada ku seorang. Para anak buah ku sudah akan bergerak membantu. Akan tetapi tangan ku lebih cepat memberikan aba-aba untuk tidak perlu ikut campur.


Tatapan gelap ini ku tunjukkan padanya,"Aku memiliki satu keinginan".Basa basi ku.


Brakk......Moana meninju wajah ku membuat tubuh ku sedikit terdorong mengikuti arah nya,"Baji***ngan!!".


Lagi-lagi anak buah ku sudah akan bergerak membantu dan aku kembali menolak. Karena ini urusan ku dan tidak ada yang boleh ikut campur.


"Monster kau beraninya kau!!".Teriak marah Moana pada ku.


Aku kembali berdiri dengan baik, mengelap sudut bibir yang berdarah ini jempol tangan ku,"Salah putra mu sendiri".Ucap ku.


"Salah dia kenapa meminum alkohol terlalu banyak. Maksud ku kenapa dia meminum minuman yang telah ku racik. Dia genius berpikir seperti anjing".Di malam itu aku sudah menyusun rencana. Menyuruh Ian untuk membuat Lucas mabuk, dan menyuruh Ian untuk membuat racikan lain minum untuk Lucas Ian melakukan, di saat Lucas sudah sangat mabuk. Ian pergi ke dapur membuat segelas minuman untuk Lucas. Lucas yang sudah tidak sadar meminumnya saja, tanpa menaruh kecurigaan.


Minuman yang di buat oleh Ian terdapat pil kecil, atau bom dengan rakitan kecil. Yang akan meledak jika kendali jarak jauh di tekan. Hal itulah yang membuat reaksi luas biasa sakit nya di perut sebelum. Lambung tempat pil itu berada mengembung meledak.


Next....


Lagi-lagi Moana langsung menyambut ku dengan tinju nya kembali. Dengan gesit aku menghindar dari serangan itu, menggenggam pergelangan tangan Moana. Mutarnya untuk mengunci pergerakan nya.


"Di mana Wolf?".


"Mau apa kau mencari baji***ngan itu?".


"Di mana dia?".Aku yang tetap mengulangi pertanyaan yang sama.


Moana tersenyum miring di posisi ini,"Cari mati mencarinya?".


"Masih ingat dengan pewaris tunggal keluarga Salvador".


Moana membulatkan manik matanya,"Kau putra Ezawa dan Riska".


"Iya, aku ada di sini untuk membalas semua kehancuran keluarga ku,"Menekan cengkraman tangan nya di belakang kepala Moana lebih kuat lagi,"Membalas kematian kedua orang tua ku yang telah kalian bunuh. Om ku yang kalian hancur kan".


Moana meringis kesakitan. Sayangnya aku tidak memperdulikan suara erangan kesakitan itu,"Perlu kau ketahui yang ku lakukan sekarang tidak membuat aku merasa puas".


"Ketahui satu hal, jika anak kecil tidak selamanya percaya dengan ucapan orang dewasa. CK, mati kecelakaan. Kalian yang telah membunuh nya bukan karena kecelakaan.....Om ku menutupi semuanya dari ku. Bahkan sampai ajal menjemputnya, ia belum pernah mengatakan yang sebenarnya.....Kalian para baji***ngan harus membayar semua nya."Nada marah ku tersulut emosi tiba-tiba. Seketika itu attitude lenyap.


Aku semakin mengeratkan cengkraman tangan ku,"Hutang nyawa harus di bayar dengan nyawa,"Shett.....Aku menarik surai sambut itu. Sebelum akhirnya aku banting sekeras mungkin kepala ini pada ubin lantai.


Terus menerus sampai merah pekat keluar banyak. Aku tetap tidak menghentikan kegiatan ku. Dalam diam aku terus membentur-benturkan kepala Moana ke ubin lantai ini walaupun tangan lemahnya terus meronta berusaha melepaskan cengkraman kuat tangan ku.


Sesaat kemudian puasa melihat bercak merah pekat sudah membasahi semuanya. Baik pakaian ku ataupun ubin lantai ini. Aku beranjak dari sana mengeluarkan senjata api dan menembak beberapa peluru ke kepala tubuh yang tidak bergerak lagi, Moana.


"Langsung kremasi, buang abu nya ke laut".Aku berlalu pergi dari sana meninggalkan anak-anak buah ku yang masih tertunduk menghormat pada ku.


Di dalam Villa. Pria berkemeja putih yang dia kenakan dengan tiga kancing atas yang tidak di rekatkan membiarkan perban luka yang melilit sebagian tubuhnya terlihat, dan perban luka di kepala nya. Ia menyambut kehadiran ku yang baru memasuki ruang tengah Villa. Berdiri tidak jauh dari ku.


"Kenapa tidak langsung ke kantor?".Tanya ku dingin melepaskan jas yang ku kenakan.


Ian memutar bola matanya menghela nafas sabar,"Setelah ini aku akan berangkat".


Aku mengabaikan ucapan itu dan melanjutkan langkah kaki ku untuk masuk ke dalam liv. Akan tetapi lagi-lagi ucapan Ian menghentikan langkah ku,"Jangan lupa makan, kau belum makan bukan. Mama ku baru saja mengirim pesan singkat, jika kau mengabaikan telfon nya be....".Memotong ucapan Ian yang belum terselesaikan,"....Akan ku telfon setelah ini, lebih baik kau cepat pergi ke kantor bukankah kantor itu sudah menjadi milik mu".


Yang di respon senyum miring oleh Ian.


++++


Di Kantor Narendra atau sekarang sudah kenal dengan kantor Walsekai. Ian yang sudah menjadi pemilik sah seluruh saham ini berarti ia pun sudah menjadi pengurus utama seluruh saham Narendra. Tepat di hari ini juga ia sudah menjalani kegiatan sebagai seorang bos pada normal nya.


Sementara aku. Selepas pergi dari villa tadi. Kini aku tengah duduk santai seorang diri di salah satu kedai makanan sembaring menikmati beberapa menu makanan yang telah ku pesan.


Di tengah-tengah sibuk ku yang menikmati menu makan malam, lebih tepatnya. Seseorang pria berjaket abu-abu tua duduk di depan ku. Satu meja dengan ku tiba-tiba. Aku yang tidak memperdulikan itu, tetap berlanjut menikmati menu makanan ku. Dengan suasana malam hari yang menenangkan.


Sampai pria ini membuka suara,"Kau lupa dengan ku?".


Atensi tetap fokus pada menu makanan,"Ada keperluan apa kau kesini?".


"Seperti biasa, kau pasti sudah tau siapa yang ku cari karena yang tujuan kita sama sejak awal".


"Maka urus saja urusan mu. Kenapa kau justru menemui ku?".Aku beranjak dari tempat duduk ku, berlalu pergi ke robot penjaga kasir untuk membayar semua makanan yang telah ku pesan.


Akan tetapi pria ini justru mengikuti langkah kaki ku. Aku yang merasa sangat tidak nyaman dengan sikap pria ini segera menghentikan langkah dan berpaling ke arah belakang.


"Apa mau mu?".Tanya ku dingin.


"Kerja sama."


"Aku menolaknya".


"Maka aku akan terus mengikuti mu untuk mencari tau sendiri keberadaan Wolf".


Aku terdiam lama menatap pria di depan ku dingin. Juga malas mendengar kan bualan nya.


Sampai akhir,"Kau akan menyelidiki nya seorang diri".


"Detektif selalu bergerak anonim di dalam bayangan kegelapan".


"Kau bisa ikut akan tetapi kau tidak akan ikut campur rencana ku. Kau hanya akan diam menonton mengumpulkan informasi".


"Sayangnya aku tidak bisa berjanji".


"Maka aku juga tidak bisa janji kau akan pergi hidup-hidup dari ku".Aku yang masih menatap dingin pria ini. Atau Zack, detektif rahasia yang bergabung dengan Dinas Intelejen Rahasia DIR.


Zack tersenyum miring pada ku,"Oky".


Aku dan Zack berlalu pergi dari sana. Dan sejak hari itu Zack tinggal di kediaman rumah ku. Di kala ia mengemis tempat tinggal pada ku.


Dan Ian tetap tinggal di hotel tempat nya menginap awal. Karena semuanya belum selesai dan belum saatnya aku menjelaskan ke rincian alur episode ini.