The Revengers

The Revengers
Eps.11



Tiga hari setelah mengambil izin untuk tidak masuk sekolah. Untuk kali ini aku mulai kembali ke sekolah. Menjalani hari-hari ku seperti siswa sekolah SMA biasanya.


"Yohan."Panggil seseorang memanggil nama ku.


Aku berpaling ke arah sumber suara setelah memberikan helm yang aku kenakan pada Ian yang akan berlalu memarkirkan motor ku.


Irgi yang memanggil nama ku berjalan mendekat ke tempat ku berdiri,"Dari mana anjing?Kemarin kita hampir kalah syukurlah Ian dapat membalikan keadaan."


"Hmm."Aku yang tidak mengetahui apapun soal lomba basket antar sekolah kemarin. Aku sendiri tidak memiliki niat untuk menanyakan hal itu pada Ian. Cik menyedihkan sekali diri ku, terlalu pandai bersikap cuek dengan hal di sekeliling ku membuat ku hampir tidak memiliki teman sama sekali.


"Jangan bilang lu tidak tau apa-apa soal hasil pertandingan kemarin."Kata Irgi menatap ku penuh tau.


Aku yang memang tidak tau apapun hendak mengangguk iya, akan tetapi tiba-tiba Ian datang merangkul bahu ku dan berkata,"Lu jangan tanya dia."


"Dia pandai bersikap soak tak tau, padahal mah udah tau kalau tim kita menang dan bakal di traktir bakso Bu....siapa namanya....".Ian yang langsung berucap merubah suasana.


"Bu Hani."Timpal Brian.


"Lu baru datang?Mimpi apa gue semalam ngeliat lu datang siang."Irgi dengan basa basi kagetnya melihat siswa teladan Brian berangkat siang.


Sementara Brian menangapi angin itu dengan ekspresi wajah datar dan suasana dingin.


Ian yang menyadari sikap Brian hampir mirip dengan pemuda di sebelahnya,"Waduh...Ayo masuk kelas. Ingat nanti bakal di traktir makan bakso semuanya sama Yohan."


"Beneran satu kelas kah?".Irgi yang bersemangat menunggu jawaban kepastian.


"Iya."Ian yang fokus pada lawan bicara tanpa melirik Yohan yang sudah pasti tengah memberikan nya tatapan membunuh.


Next.....


Suasana kelas yang ramai dengan para siswa siswi yang sibuk dengan budayanya masing-masing. Seketika langsung hening karena suara tegas berat Irgi.


Mengangkat satu tangannya sampai membentur atap pintu."Wooowwyyy....".


"Astaghfirullah, anak orang kesurupan pare."Ujar Rara menyangga dagunya duduk di kursi depan Nana yang sudah bobok pagi .


Nana yang tidurnya terganggu,"Siapa yang berisik itu?".


"Intinya kali ini bukan Dani."Ucap Rara.


Nana memutar posisi duduknya untuk melihat si pelaku.


"Yohan hari ini akan traktir kita semua makan bakso Bu Hani."


"Seriusan lu?".Tanya Jian yang duduk di kursi tepat di samping pintu Irgi teriak-teriak.


"Iya."Timpal Ian mempertegas.


"Jumlah kita banyak loh."


"Lu suka bakso kan jadi diam saja."Kata Ian pada Rara.


Rara membulatkan matanya,"Iya suka tapi kan kasihan Yohan bagaimana nanti dia bayarnya. Baksonya saja 10 ribu satu porsi itu belum es nya 2 ribu satu gelas."Nada marah meninggikan nada bicara nya.


Lucunya yang menjadi topik berdebat justru bersikap seperti tidak pernah ada apa-apa. Aku dengan tenang berlalu melewati keributan ini dan duduk di bangku ku dengan tenang.


Vano datang dan memastikan langsung,"Lu serius mau traktir kita semua."


"Iya, untuk hadian kemenangan kemarin."


"Tapi tim kita juara dua."


"Terus..".Nada bicara ku yang tetap terdengar dingin.


Menyeret Vano agar kembali duduk di bangkunya sendiri,"Sudah ayo duduk bro gurunya datang."Kata Ian pada Vano.


Jam pelajaran di mulai aku membuka isi tas ransel sekolah ku untuk mengambil buku pelajaran pertama. Atensi ku yang terfokus mencari bolpoin. Dan nada bicara ku berkata,"Gurunya di depan bukan di samping."


Nana berpaling cepat, fokus pada pelajaran.


Next.....


Jam istirahat telah tiba. Semua teman-teman sekelas ku berlomba-lomba ke kantin untuk memesan bakso Bu Hani.


Sementara yang lain makan. Irgi dan Ian yang membantu mengantar kan pesanan. Aku yang ada di dalam warung menunggu total jumlah yang harus ku bayar.


Aku rogoh celana ku untuk mengambil dompet dan mengambil beberapa lembar uang di sana. Sebelum ku berikan pada Bu Hani.


Bu Hani yang menerima lebaran uang ini,"Kebayang mas."


"Tidak papa Bu buat yang nambah es atau baksonya."Kata ku berlalu meninggalkan dalam warung.


"Aduh terimakasih mas. Alhamdulillah."Mendekap uang itu menangis haru bahagia dagangannya laku dengan cepat di tambah dapat komisi tambahan.


Kembali bergabung dengan yang lain dengan membawa mangkuk bakso ku sendiri.


"Habis berapa?".Tanya Vano pada ku yang baru duduk di depan nya.


"Harga tidak penting. Nambah saja aku bayar lebih tadi."Kata ku sibuk memberikan sambal, kecap ke dalam bakso ku.


Vano yang ingin bicara lagi, namun keburu kepotong dengan ucapan Ian,"Makan saja Vano. Yohan dan gue punya pekerjaan paruh waktu yang bayarannya lumayan."


Selepas makan-makan dan ribut mengambil alih seisi kantin. Akhirnya rombongan kelas ku berlahan-lahan membubarkan diri entah hilang kemana.


Yang jelas saat ini aku masih ada di tempat yang sama bersama dengan Ian, Vano, Irgi, Brian, dan Billal.


"Dani kemana?".Tanya ku memecahkan kesibukan mereka masing-masing pada gawai atau sekedar terdiam mengembung mencerna makanan.


"Gue tadi jemput dia, sampai sana rumahnya sepi."Balas Brian.


"Pantes lu datang siang."Saut Irgi,"Kenapa lu jemput Dani?Rumah lu kan tidak sejalan dengan rumah Dani."


"Dia yang minta. Motor lu tidak bisa nyala."Balas nada dingin Brian.


Tertawa renyah,"Iya, haha...lupa anjing."


"Padahal motor listrik tapi masih bisa saja rusak."


"Akinya mungkin."Timpal Vano.


"Itu motor listrik bang***sat."


"Oh."


"CK."


Next.....


Selepas pulang sekolah tadi. Aku dan Ian tidak langsung pulang. Kami berkeliling lebih dulu untuk membeli beberapa makanan luar. Tentu bukan atas keinginan ku akan tetapi tidak perlu di jelaskan.


Motor ku saat ini berhenti di depan penjual sate. Sembaring menunggu Ian menunggu pesanannya selesai. Aku duduk di atas motor dengan kedua tangan yang sibuk memainkan gawai.


Jaman yang semakin modern tidak membuat orang-orang sadar akan semakin canggih nya teknologi. Titik kecil berjejer tiga di jam tangan ku salah satu nya menyalah kuning tiba-tiba membuat atensi ku mulai bergerak memutar mengawasi sekitar ku. Tanpa merubah posisi duduk ku.


Ting....,"Gini amat punya sepupu dekat juga masih kirim chat."Batin Ian menyalahkan layar ponsel untuk melihat isi notifikasi itu.


Sepupu Es


*Cepat ada yang mengawasi kita."


Membaca isi pesan ini lantas atensi Yohan langsung bergerak memperhatikan sekitar nya,"Bang belum apa?".


Memberikan pesanan ku,"Udah mas, 50 ribu."


Selesai melakukan pembayaran. Ian bergegas menghampiri Yohan.


Aku yang melihat Ian bergegas mengenakan helm ku. Mengambil alih menyetir motor. Mendapatkan Ian sudah duduk dengan benar, aku segera tancap gas meninggalkan teman ini.


Sudah jauh dari tempat tadi,"Dia masih mengikuti kita."Kata Ian terdengar samar akan tetapi masih dapat gue denger jelas.


Fokus menyetir motor,"Pegangan yang kuat gue tambah kecepatan nya."Tanpa menunggu balasan gue langsung menambah kecepatan penuh motor ku.


Ian yang kaget hampir terjungkal berpegangan sekuat tenaga pada gagang belakang jok motor,"Wuww....".Sendawar Nya merasakan langsung bahwa kecepatan motor ini tidak normal.


Melihat target yang pergi jauh lebih cepat dari dugaan nya,"Sial sepertinya mereka menyadari keberadaan ku."Batin seseorang yang memang betul ada jika ada yang mengikuti Yohan dan Ian.


Aku masih belum mengurangi kecepatan berkendara ku. Mendahului mobil-mobil, truk-truk besar, bus-bus besar. Bahkan sampai lewat di antara jalan sempit antar truk besar dan bus pun aku trabas. Walaupun nyawa ku akan tertinggal di sana.


Brumm......... Kecepatan motor Vario ini dapat di bilang sangat hebat dari motor besar lainnya. Bisa di bilang om ku sudah banyak memberikan perubahan pada mesin motor Vario kesayangan.