
Selesai dengan pembagian tugas kemarin. Kini aku bergerak seorang diri dengan cara ku sendiri. Membuat permainan baru untuk mereka yang belum menyadari keberadaan ku. CK, aku tersenyum miring di depan cermin, teringat dengan cara iblis-iblis itu tertawa.
Aku yang tengah berganti pakaian selepas mandi. Bergegas mengenakan kemeja ku, bergegas berpakaian kerja untuk segera berangkat ke kantor.
Tidak lupa aku juga menarik mantel hangat yang tergantung. Untuk melindungi diriku dari suasana dingin di musim bersalju. Bisa di bilang sudah tiga hari ini Kota New York turun salju. Membuat darah-darah jejak mereka membunuh lenyap dengan mudah.
Sepertinya salju yang tenang lebih mengerikan dari hujan yang berisik. CK, aku bergegas keluar dari kamar ku. Berlalu pergi setelah selesai menutup kembali pintu rumah apartemen ku.
Kaki bercelana panjang biru navy ini berjalan cepat keluar Liv setelah sampai di lantai satu gedung apartemen.
Aku hampir lupa menceritakan secara detail tepat di mana gedung apartemen yang ku tempati berada. Gedung ini berdiri di tengah Kota. Tempat yang sangat mudah di jangkau oleh para penjahat. Sayangnya tidak semudah itu untuk mereka menghancurkan gedung ini. Karena gedung ini di lengkapi dengan sensor perlindungan berupa tapir baja. Yang akan muncul saat ada serangan mengancam dari luar. Seperti pengeboman kemarin, tapir baja ini langsung muncul dari bawah tanah menutup seluruh gedung dengan gerakan cepat 5 detik gerakan.
Next.....
Aku pergi ke Kantor ku seperti bisa. Sayangnya saat baru pertama kali aku menginjakkan kaki ku masuk ke dalam Kantor. Sekelompok gangster mafia FD menyambut kedatangan ku. Menyandar semua karyawan ku akan tetapi tidak merusak sedikit pun fasilitas di sana,"Kegiatan yang rapi".Batin ku.
Aku terdiam tenang melihat raut wajah ketakutan para karyawan ku. Tidak terkecuali Mark yang kepalanya di todong senapan laras panjang yang dapat meledak isi kepalanya.
Menyambut ku dengan nama yang lebih di kenal,"Welcome Tuan Narendra".Sapa pria berjaket hitam polos pada ku. Pria ini berjalan mendekati ku, dan mengulurkan tangannya pada ku.
Ekspresi wajah ku yang tetap dingin dan tenang seperti di situs biasa,"Lepaskan mereka."Ucap ku.
Yang di balas senyum miring oleh Daniel,"Cik...crazy bit***ch."Umpatnya pada ku.
Aku bergerak melepaskan sarung tangan yang masih ku kenakan. Di barengi,"Urusan mu dengan ku tidak dengan mereka."Memasukkan sarung tangan ke dalam saku mantel hangat,"Jangan kau melukai mereka walau setitik goresan."Ucap ku.
Mengabaikan nada bicara sedikit mengancam ku,"Aku bilang....,"Ucap Daniel menjedah ucapan nya,"Potong rambut perempuan manis itu. Dia terlalu cantik memiliki rambut seindah itu."Suruh Daniel pada anak buahnya.
Salah seorang karyawan ku yang rambutnya tergerai panjang di tarik paksa agar tubuhnya maju ke depan,"Aaa....Tuan..Tuan."Memohon sembaring berusaha untuk melepaskan surai rambut nya yang tertarik paksa.
Bakk......Aku bergerak cepat ke arah pria kasar itu. Aku tendang wajahnya sampai tubuhnya terpental menjauh dari karyawan ku. Perempuan yang tengah menangis tersedu-sedu ketakutan.
Aku kembali berpaling ke arah Daniel berdiri. Diam ku jelas sudah menjelaskan semuanya. Kaki ku bergerak berjalan ke arah Daniel berdiri. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba satu peluru tembakan lewat sangat dekat, di samping wajah ku.
Langkah kaki ku terhenti. Tangan kanan ku tergerak terangkat tinggi ke atas dan Bang....jrakkk.....Pria yang baru saja menembakkan peluru ke arah ku tumbang. Membuat rekan-rekan nya terdiam syok.
Tidak terkecuali Daniel yang sudah berpaling ke arah ku.
Bernada bicara tenang aku berkata,"CCTV dengan kemampuan sensor perlindungan otomatis untuk perdamaian pemiliknya."
"Mau lihat lagi?".Aku kembali mengangkat tangan kanan ku. Bang....jrekk...Satu pria kembali tumbang dari sisi lain lobi ini.
Melihat Daniel yang masih terdiam di tempat. Akan tetapi tatapan tajam nya tertuju pada ku membunuh.
"Lepaskan mereka".Minta ku kembali,"Jika kau ingin mengobrol aku bisa siapkan tempat yang nyaman."Lanjut ku.
Suasana masih mencekam. Diam ku juga Daniel membuat mereka yang tersandar ataupun yang tidak ketakutan.
Daniel mulai bergerak. Berjalan tenang lewat di samping ku. Ia berganti berdiri di belakang aku berdiri,"Bebaskan mereka".Ucapnya.
Bekk.....Aku menahan kaki kanan Daniel dengan lengan tangan ku. Insting kewaspadaan ku melindungi ku dengan cepat.
Daniel hendak menendang ku dari belakang. Sayangnya aku lebih dulu menyadarinya. Alhasil aku bisa menahan serangannya. Aku mendorong kakinya membuat tubuhnya terdorong ke belakang beberapa langkah.
"Ayo bicarakan baik-baik sebelum kau malu di sini."Tawaran terakhir ku pada Daniel.
Tidak ada balasan,"Kalian lanjut pekerjaan. Beberapa jam lagi aku ingin melihat hasil kerja kalian."
Beralih melihat Mark. Sekertaris ku yang keenakan duduk di atas ubin lantai ubin ini,"Siapkan ruangan tamu nya."Kata ku.
"Okay, siap tuan."Mark yang baru tersadar dari lamunannya bergegas beranjak berlalu pergi dari sana. Tidak lupa dengan menarik tangan salah seorang perempuan untuk ikut bersamanya.
++++
Daniel hanya terdiam. Bahkan saat Mark datang membawakan nampan minuman untuk nya.
Selepas kepergian Mark aku membuka suara lebih dulu. Membuka topik obrolan untuk menariknya masuk ke dalam permainan ku. Tanpa ia sadari. Ck, licik sekali diriku.
++++
Usai sudah dengan kekacauan tadi pagi. Saat ini aku tengah dalam perjalanan kembali pulang ke apartemen mengendarai mobil pribadi milik ku.
Baru aku membuka pintu apartemen sedikit. Jerry, anjing robot ku tiba-tiba muncul melompat ke dalam pelukan ku. Membuat tubuh ku sedikit terhuyat.
Aku mengendong tubuh anjing berat ini masuk ke dalam apartemen. Menutup kembali pintu apartemen. Dan menurunkan Jerry dari gendongan ku. Aku berjongkok di depannya mengacak-acak lembut bulu-bulu halus di lehernya,"Jerry."Ucap ku tiba-tiba,"Apakah kau lapar?".
Gok...Gogg...Gogh....Jerry menggonggong kayak anjing normal yang merespon ucapan majikan.
Aku beranjak dari tempat ku berjongkok, berlalu ke dapur untuk mengambil susu khusus untuk anjing robot. Sementara Jerry terus mengikuti langkah kaki ku pergi.
Selesai menuangkan susu aku yang masih menemani Jerry meminum susunya,"Maaf, seperti besok aku harus menitipkan mu pada pak tua".Bastian sering kali ku panggil dengan sebutan pak tua jika sedang mengobrol santai.
++++
"Kau menyetujui nya. CK penghianat".Pria ini meninju dinding di depan kuat.
"Bukan penghianat. Karena dengan bantuan dia kita bisa bertemu dengan baji***ngan Qiong."
"Aku tidak mau pembalasan dendam ku ada campur tangan orang lain."
"Dia tidak ikut campur tangan. Dia hanya membawa kita pada baji***ngan Qiong."
"Tidak mungkin. Karena dia juga punya dendam kesumat dengan Breng***sek gembel itu".
Masih belum menyudahi perdebatan,"Bukan Baji****ngan Qiong musuhnya. Tapi Tuan Wolf."
Atensi tajam ini langsung terfokus pada sumber suara,"Dia ingin menghancurkan Tuan Wolf."
"CK, sudah gilakah dia".Ujar nya tertawa sumbang.
"Iya."Namun sang adik masih berwajah tenang,"Dia orang gila yang genius dan berotot baja."
"Bit***ch".
++++
Malam-malam aku keluar apartemen mengemudi seorang diri membawa Jerry dalam mode mati. Aku membelah jalanan bersalju seorang diri untuk pergi kekediaman Bastian.
Beberapa jam mengemudi akhirnya aku sampai di kediaman Bastian. Sayangnya, sesampainya aku di sana aku tidak bertemu dengan Bastian. Aku justru bertemu dengan anak buahnya. Yang memberitahu ku untuk ke pergi ke rumah utama Bastian.
Baru aku akan melangkah kan kaki pergi dari sana. Anak buah Bastian mengejar ku dan menawarkan diri untuk mengantar ku pergi ke kediaman rumah utama. Atas perintah dari Bastian.
Aku mengiyakan saja. Dari pada aku harus ambil ribet mengambil mobil listrik yang dapat terbang pergi ke Kota Fly New York yang ada tepat di atas gedung Demon tempat produksi robot-robot.
Aku beranjak masuk ke dalam mobil bersama dengan Jerry yang masih belum ku hidupkan kembali. Belahan-lahan mobil ini mulai terangkat sebelum akhirnya terbang ke atas sana.
Perlu kalian ketahui. Semakin tua usia bumi. Semakin maju peradaban manusia. Juga semakin kecil nilai hukum dan semakin besar nilai kejahatan. Kesimpulan nya? Kejahatan akan jauh di hormati dan di hargai dari pada kebaikan.
Jadi tidak heran ataupun kaget saat aku melihat seorang pembunuh berantai di biarkan bebas berkeliaran. Dengan alasan dia anak seorang wali kota yang harus di hormati. Walaupun dia seorang penjahat. CK, sepertinya mereka tidak memperlakukan mata. Mereka sudah hebat mengambil keputusan dari katanya dan terima suap nya. Jadi seharusnya mereka tidak perlu memiliki mata untuk melihat hasilnya.
Next.....
"Yohan putra ku."Bastian yang langsung merangkul ku tanpa memperdulikan aku yang tengah mengendong Jerry anjing robot ku.
"Ada keperluan apa kesini?".Tanya Bastian merangkul bahu ku mengajak ku berjalan beriringan dengannya.