
Pesisir Utara, Dunia Darkness World.
Di ruangan besar dan gelap, terdapat seorang wanita tengah terduduk di singgah tertinggi, pada benteng tua yang sudah separuh termakan oleh alam.
Wajahnya yang begitu jelita tertutup tudung hitam, hingga hanya bagian bibir ranum merahnya saja yang terlihat.
Kedua matanya tertutup membiarkan bulu mata lentiknya yang begitu lebat terlihat sangat indah.
Tangan kanannya menyanggah kepalanya, membiarkan wanita jelita itu menikmati kesunyian yang sangat tenang. Beberapa kupu-kupu kecil bercahaya emas terbang bebas diseluruh ruangan, menjadi satu-satunya penerangan di ruangan itu.
Sudah hampir 20 menit setelah kehadirannya untuk menunggu kabar dari bawahannya. Sudah berkali-kali juga jari telunjuk terbalut perhiasan kuku emas, mengetuk dengan pelan mengikuti tiap detik yang terlewat dikebosanannya.
Tuk..
Jarinya berhenti mengetuk saat dirasa bawahannya telah datang untuk menghadapnya.
"Sa-salam hormat untuk anda, Great Lady."
Ucap seorang pria bernama Zien yang berasal dari kaum Witch, bersama 4 temannya yang berasal dari ras yang berbeda.
"Ka-kami tidak menyangka, Great Lady akan da-datang sendiri."
Wanita yang memiliki kedudukan tinggi itu perlahan membuka kedua matanya, menatap bawahannya dari balik tudung hitam yang sedikit menerawang.
"Kenapa? Kalian tidak suka, aku awasi secara langsung?" Suaranya yang begitu lembut terdengar dengan sangat dingin.
"Ti-tidak seperti itu, kami ha..nya tidak mau merepotkan anda, Great Lady."
"Kalau begitu, mau sampai kapan kalian membiarkanku terus menunggu seperti orang bodoh! Sudah 26 abad berlalu dan sudah semakin lama juga kalian tidak berguna! Haruskah aku menghabisi kalian dan menggantinya dengan yang baru?"
"Great Lady, mo-mohon ampuni kami. Kami masih dalam tahap perkembangan untuk bisa membentuk Carlitos yang kuat, terlebih semenjak perang 524 tahun yang lalu banyak dari kami yang mati terbunuh, bahkan Yang Mulia Katas----"
"Lalu aku harus perduli, begitu? Itu bukan kesalahanku, itu semua karena kebodohan yang dilakukan oleh Katastrofi! Setelah bangun dari tidur panjangnya, dia malah dengan beraninya bergerak sendiri tanpa mendengarkan perintahku. Kalian ingin mengkhianatiku?!"
"Ka-kami tidak bermaksud seperti itu, Great Lady mohon beri kami kesempatan lagi, kami dengar anda sedang mencari pedang milik mendiang Yang Mulia Katastrofi?"
Wanita itu menaikan sebelah alisnya.
"Pedang? Ah.., benar aku sedang mencari pedangku, pedang itu kuberikan kepadanya agar bisa mempermudah dalam misinya tapi dia malah kalah dengan sangat menyedihkan. Meski begitu aku masih menduga bahwa pedang itu belum seutuhnya hancur, hanya saja... dia berada ditempat yang sulit kudeteksi."
"Great Lady anda tidak perlu khawatir. Hari itu Katastrofi kalah dalam genggaman Lord Fedrick, jadi kemungkinan besar pedang itu ada di Lucifer Kingdom." Ucap Greu dari bangsa Wolf.
"Dan kami mengirimkan pasukan terbaik Carlitos untuk mencari keberadaan pedang itu, yaitu tempat terlarang di Lucifer Kingdom."
Gin meyakinkan lagi wanita dihadapannya, untuk saat ini mereka harus hidup dari terkamannya.
"Tidak kah, itu sama saja seperti bunuh diri?"
"Lady, pasukan kami yang sekarang sudah jauh lebih kuat meski dalam tahap perkembangan. Bahkan kami telah mempelajari tulisan sihir kuno milik kaum Demon, jadi sebentar lagi mereka akan memba---"
"Tuan! Tuan Grue!"
"Dasar bodoh! Tidak tahukah sikapmu ini tidak sopan kepada Great Lady." Ucap Grue kepada bawahannya.
"Saya mohon maaf, tapi ada kabar dari mata mata mengenai pasukan Carlitos creap. Bahwa mereka semua mati terbunuh oleh Putra Mahkota tanpa menemukan dimana pedang itu berada.."
DEG
Glup!
Ke empat pasukan tinggi Carlitos, meneguk ludahnya dengan sangat susah, keringat dingin menurun bagaikan aliran waktu terakhir kehidupan mereka.
Mereka berempat benar-benar sudah ketakutan, apa yang harus mereka jelaskan mengenai berita ini kepada wanita itu.
Sialnya mereka malah berbicara dengan sangat angkuh dihadannya.
"Tuan?"
"Ahahaha..., kalian semua sungguh mainan hiburanku yang sangat lucu..."
Gelak tawa wanita itu, yang begitu menggema di ruangan gulita.
"La-Lady.., ka-kami bisa menjela---"
Zreetsss....
Dukh!
Ketiga pasukan tinggi dan prajurit yang membawa pesan diam dengan sangat terkejut, saat melihat kepala dari Zien terputus dan jutuh kebawah lantai.
Yah wanita itu baru saja membunuh Zien dengan sangat cepat, bahkan sangking cepatnya pergerakan tanggannya saja tak terlihat.
Lalu terlihat tetesan darah menurun dari perhiasan kuku runcing berwarna emas dari telunjuk wanita dihadapan mereka.
Hanya menggunakan satu jari dia mampu membunuh dengan mudah, benar seperti yang dikatakan Tuan mereka (Katastrofi) dia bukanlah wanita lemah yang bisa dipandang dengan sebelah mata.
Kalau diingat lagi, wanita ini yang memberikan semua rencana Tuan nya sejak 26 abad tahun yang lalu, dia juga yang menyarankan untuk membentuk Carlitos.
Mereka tidak tahu apa tujuan wanita ini membantu mereka, bahkan sampai detik ini juga mereka tidak tahu siapa sosok sebenarnya wanita bertudung hitam ini. Karena hanya Katastrofi lah yang tahu asal usul wanita ini.
"Hem, jika sudah begini bukankah mereka akan curiga dan mulai mencari tahu tentang kita lagi? Sekarang bagaimana caraku membunuh kalian, ada yang punya saran?" tanyanya dengan nada lembut.
"Lady, mohon berikan pengampunan untuk kam--tidak! Untuk saya saja, semua ini salahnya Denil, dia yang memberikan saran dan hamba tidak mengetahui apa pun." Ucap Grue sembari menunjuk Denil.
"Apa! Kau pengkhianat, padahal ini rencanamu."
"Aku tidak pernah bilang seper---"
"καταστρέψτε το !"
Semua diam saat mendengar wanita itu berkata sesuatu, mereka tidak tahu dan belum pernah mendengar bahasa itu sebelumnya. Apa itu mantra sihir kuno yang sangat besar?
Wush...
"Mungkinkah...mungkinkah, anda adalah pe-pemimpin Carlitos yang se-sebenarnya, so-sosok yang selalu Tuan Katastrofi agungkan? Sang De---"
"να πεθάνει !"
"He?!"
Kupu-kupu itu merespon perintah Tuan nya lalu mulai mencabik-cabik dan menggrogoti tubuh mereka hingga menyisihkan tulang-belulang mereka yang masih terlumur oleh darah pekat dan berbau anyir.
Melihat aksi gila wanita itu, saat membunuh para petinggi kuat dengan sangat keji dan begitu mengerikan, bahkan ke tiga orang itu sampai tidak sempat berteriak menyerukan suara penderitaan mereka.
Brukh!
Prajurit tadi langsung terjatuh melihat kekejian yang dilakukan wanita itu, bahkan sangking takutnya sampai menangis dan berteriak histeris.
Dia mencoba merangkak untuk kabur karena kakinya benar-benar sudah lemas ketakutan.
Wanita itu tersenyum sinis melihat aksi menggelikan dari prajurit Carlitos, ini sebabnya kenapa mereka bisa kalah dari kaum Demon.
"Menjijikan!"
"Arghh!"
Prajurit itu ikut menyusul seperti Tuan nya sedangkan wanita itu berjalan keluar dengan sangat santai, seolah kejadian tadi bukanlah sebuah peristiwa yang besar yang patut disesalkan.
Berjalan sendirian menyusuri lorong-lorong tua yang berlumut hingga terselimuti suluran tanaman liar, hentakan dari sepatu high heeles menjadi suara yang paling nyaring di benteng tua itu, beberapa cahaya rembulan masuk dari celah berlubang dinding benteng.
Tiga sampai enam kupu-kupu emas selalu terbang menyelimutinya, seolah mereka akan melindungi Tuan nya tanpa ada luka segores pun.
Selama dia mengatur dan mengamati Carlitos, wanita itu tidak pernah selalu berada di mansion Carlitos atau bisa dibilang hanya 1 atau 2 kali sekali dalam 26 abad ini, setelah terusirnya Katastrofi dari dunia Imorrtal.
Yah mereka tidak perlu tahu apa yang dia mau, cukup diam sebagai kelinci percobaan dan ikuti semua rencana yang telah dia atur dengan sangat detail.
Greeet.....
Pintu besi berkarat terbuka dengan sangat nyaring, menampilkan sebuah ruang rahasia yang tidak pernah di ketahui anggota Carlitos saat ini.
Wanita itu berjalan mendekati sebuah ruang reset sihir dan kebangkitan, banyak lembaran bahkan coretan hasil strategi selama ini terukir dengan jelas meski sedikit berdebu.
Dia berhenti lalu membuka tudung hitamnya, memperlihatkan wajah cantik berparas seorang Dewi.
Apalagi yang mampu menyihir adalah kedua bola matanya yang berwarna hijau bagaikan permata alam, mata indah yang selalu menatap tajam bergemilang cahaya akibat cahaya rembulan malam.
Dia tersenyum sinis sembari menatap licik pada seseorang yang berada di dalam tabung sihir berwarna jingga.
"Kau masih membutuhkannya?"
Ucap seekor kupu-kupu hijau yang hinggap di atas alat labotarium kuno.
"Karena dia masih berguna, akan sangat disayangkan jika dia mati begitu saja ditangan Demon itu."
"Tapi dia berniat mengkhianatimu."
"Kau tahu, sepintar apa pun majikan menjinakkan peliharaannya, suatu hari nanti anjing peliharaan itu pasti akan menggigitmu meski tanpa direncanakan. Peliharaan itu tidak salah dia hanyan ingin rantai yang mengikatnya terlepas, bukan kah akan lebih baik? Karena itu akan mempermudahkannya untuk mengejar para musuh?"
"Meski begitu tidak ada jaminan jika peliharaan tidak menggigit untuk ke dua kalinya?"
"Jika terjadi lagi, aku tinggal membunuhnya, kan? Lagi pula dia tidak tahu bahwa nyawanya terikat kontrak kepadaku.."
"Kau sudah bergerak sampai sejauh ini, membiarkan Katastrofi sebagai peran Antagonisnya dan kau yang menikmati hasilnya dari balik layar. Sejauh ini perjanjian apa yang kau buat dengannya?"
"Aku hanya membuat naskah imingan dongeng penghantar tidur, kubantu dia merebut Darkness Word lalu kugiring dia untuk melawan kaum Imorrtal, dan saat Imorrtal hancur disitulah aku yang akan berdiri dan melakukan revolusi ulang terhadap dunia para Dewa."
"Bagaimana jika para petinggi menyadarinya?"
"Mereka bukan lah masalah besar, karena orang yang paling merepotkan di Imorrtal pun sudah ku singkirkan 95 abad tahun yang lalu, saat itu juga aku mengambil Pedang pusaka Dewanya dan kubiarkan Katastrofi memilikinya seperti rencanaku.."
Wanita itu membuka jendela sembari menyenderkan kepalanya di bingkai jendela, lalu menatap benci pada rembulan yang bercahaya terang.
"Aku akui, menyingkirkan keturunan Selini Thea dan Lorddarks itu sangat menyusahkan! Tapi hanya cara itu lah yang paling cepat. Namun sebelum itu, aku perlu mendapatkan kembali pedang milik Thea Tou Polemou. Setelah itu biarkan aku muncul ke halaman utama dalam skenario yang kubuat sendiri, ahahahhaha....."
"Kau sungguh Dewi yang licik, membiarkan Darkness World sebagai altar teatermu, yang kapan pun bisa kau rubah kisahnya sesuka hati."
"Sejak awal Darkness World tidak akan pernah tunduk di bawah kendali para Dewa, lagipula Iblis dan Dewa tak bisa bersama atau pun sebaliknya bagi kaum Manusia, karena kita adalah kasta yang paling tinggi."
"Meski begitu, bukankah kau sudah mendengar bahwa Putri Seleni Thea masih hidup?"
"Ya! Dewi Alice, Putri Yang Mulia Seleni Thea. Dia menjadi Vasilissa dan memiliki Mate dari seorang Demon ! Menyebalkannya lagi, dia sekarang malah memiliki keturunan yang begitu sangat merepotkan!"
PRANG!
"Mereka semua harus mati!"
Wanita itu tersenyum licik, wajah jelitanya tak mampu menutupi watak sadisnya sebagai pelaku tersangka yang sebenarnya.
"Baiklah, sembari menunggu perkembangan Carlitos dan kebangkitannya, aku harus kembali ke Imorrtal sekarang. Masih ada hal yang ingin kulakukan disana dan untukmu kupu kupuku, menyebarlah kesuluruh Darkness World dapatkan informasi mengenai Putra Mahkota dan temukan juga keberadaan Pedang itu."
Kupu-kupu hijau itu membagi tubuhnya menjadi ratusan hingga milyaran kupu-kupu tak terhingga, lalau terbang menyebar sesuai perintah Tuan nya.
Wush....
Dalam satu detik wanita itu kini berpindah tempat dan berdiri dipaling tinggi, terbang melayang dihamparan angin tak berwarna, menatap tajam semua permukaan daratan dan perairan dunia yang selalu menjadi hal tabu di Imorrtal.
"Meski Dunia kegelapan, bagaimana bisa mereka begitu damai dibandingkan Imorrtal yang hampir kacau balau akibat kosongnya tahta? Meski begitu, tidak ada yg berani mendudukinya karena Vasillisa Bulan masih hidup. Padahal dia tak memiliki hak penguasa sepenuhnya di Imorrtal, akibat tindakannya kepada manusia itu. Yah.. cepat atau lambat dia juga pasti akan mati di tanganku.."
Gerbang portal dimesni terbuka lebar dihadapannya, wanita itu memasuki portal dimensi. Sebuah pintu yang akan membawanya ke Imorrtal, dunia para Dewa Agung.
.