
Jika kau tanya seberapa besar aku mencintaimu? Aku tidak akan menjawab sepatah kata pun. Aku hanya akan meraih tanganmu, mengenggam jemarimu sampai keraguan itu sirna.
-AndreaNl
~.•°•._🍁_.•°•.~
*Imorrtal
~Wilayah Bagian Bintang Timur.
[ Benteng Titania ]
Sebuah pulau berukuran minimalis, tidak terlalu besar dan kecil. Melayang diatas angkasa dunia Imorrtal, sebuah pulau yang jauh dari wilayah kota suci utama Leryvora.
Dijadikan mereka sebagai markas yang pas untuk tempat di dunia para Dewa. Tahlia membangun pasukan Titania yang menjadi sebutan Carlitos untuk kaum Dewa, yang berada dibawah kendalinya.
Dengan kata lain Imorrtal pun mulai bermunculan kelompok yang tak beradab saat ini. Banyak kupu-kupu emas yang mengelilingi pulau ini, layaknya mata-mata atau cctv yang siap merekam semua kejadian disana saat Tahlia tidak ada.
Bahkan daerah ini, tidak sedikitpun dilirik matahari. Seolah cahaya agung enggan untuk menyinari wilayah musuh penuh dosa itu, sehingga hanya terlihat seperti akan memasuki waktu fajar dan senja saja.
Dan disini lah mereka membawa Aletha. Meski dia sedikit bersyukur karena dia tidak dibawa ke penjara Meryola. Karena disini akan dengan mudah dia melarikan diri.
Meski dia adalah tahanan. Namun, tidak ada rantai yang merangkai ditangan atau pun dikakinya.
Aletha justru malah dengan tenang duduk dikursi tua dengan nyaman, seolah tidak ada rasa takut bila musuh melakukan tindakan lebih dati kata menyiksa.
Sel tahanan ini pun begitu kecil, banyak tembok yang menutupi udara masuk, kecuali pintu sel yang terbuat dari jeruji besi sebagai fentilasi udaranya.
Begitu sangat pengap dan panas, belum lagi hanya sebatang obor kayu yang menjadi penerangnya. Semua sunyi, tanpa ada sedikit atau sekecilpun bunyi yang terdengar.
Hingga kedua mata Aletha terbuka saat merasakan akan ada seseorang yang memasuki sel tahanannya.
"Aletha, dimana Crystal dan pedangnya?!!" Tahlia memasuki sel tahanan sang Kakak dengan begitu marah.
"Lima puluh, ini kelima puluhnya kau menannyakan hal yang sama, Tahlia.."
"Selagi aku masih berbicara baik-baik, katakan."
"Aku katakan atau tidak. Kau pun pasti akan tetap membunuhku, bukan?"
Tahlia kesal sekaligus frustasi, saat Aletha tetap pada pendiriannya. Ini aneh, bukankah tadi pedangnya masih ada padanya? Kenapa sekarang Aletha tidak memilikinya.
"Kau benar, aku akan mengeksekusi mati kau tepat ditengah kota Leryvora. Akan kusuruh Selini Thea menontonmu, aku ingin lihat tersiksanya dia. Saat melihat Dewi kesayangannya mati dihadapannya."
"Aku sudah bilang Tahlia, aku tidak akan mati. Setidaknya bukan ditanganmu, kau tidak akan bisa melakukannya. Meski aku dianggap penghianat, tapi di Imorrtal masih banyak yang memihakku. Aku Dewi ke-3 yang memiliki kuasa otoritas di kalangan bangsawan."
"Sikapmu begitu persis seperti Ayahmu. karena namamu lebih bersinar dihadapanku, jadinya mereka memandang sebelah mata diriku sebagai bayanganmu."
"Tapi aku tidak pernah memandangmu sebelah mata, kau memilih jalan yang salah Tahlia. Kau Adik ku, aku akan selalu berada disiaimu. Jadi, hentikan semua remcanamu ini.."
"Adik? Selalu beramaku? Lalu kenapa kau memilih pergi meninggalkanku, hanya karena bocah manusia itu?!! Tidak tahukah kau, aku semakin menderita setelah kepergianmu. Mereka menghargaiku hanya karena memandang statusmu sebagai Polemou! Tapi semua tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku Dewi yang terlahir dari kalangan menengah. Meski aku sang Arthena yang baru, mereka para sekutu Wisteria tidak pernah menganggapku ada. Aku muak dengan sistem pemerintah yang mengahruskan para Dewa membagi kasta mereka."
"Itu juga yang dirasakan semua korban yang kau hancurkan, rasa sakitmu adalah dosa yang harus kau tanggung dari kejahatanmu."
"Lalu bagaimana dengan Ayahmu? Dia yang membunuh kedua orangtua kandungku, tidak ingatkah kau bahwa sistem pembagian kasta itu adalah usulan dari Ayahmu?"
Aletha berfikir dan mengingat pada bagian yang diucapkan Tahlia, dia akui memnag Ayahnya yang membuat peraturan seperti itu. Tapi sungguh bukan maksudnya untuk membedakan status kalangan tinggi dan rendah.
"Ayahku tidak pernah membunuh seseorang tanpa alasan yang jelas."
"Begitukah? Aku yang melihat jelas dia membunuhnya, ibuku mati tepat setelah melahirkan aku dan karena ibu kita saling bersahabat, aku mulai di asuh oleh ibumu. Tapi disuatu hari, Ayahmu datang mengepung kediaman kami dia menebas Ayahku dihadapanku, lucunya lagi dia malah membawaku dan menjadikanku sebagai Putri keduanya. Kalian fikir, kaum bangsawan seperti kalian bisa mengambil seenaknya?"
Membunuh? Kalau difikir, Aletha tidak pernah tahu naman Ayah kandung Tahlia. Waktu itu, Ayahnya bilang dia sedang menangani sesuatu agar tidak membahayakan Imorrtal, tapi setelah kembali, dia membawa Tahlia pulang.
Jika sesuatu yang dimaksud Ayahnya adalah pria itu, mungkinkah dia Ayah Tahlia?
"Siapa nama Ayahmu?"
"Lihat, kau saja tidak pernah mengingatnya. Nama Ayahku, Scouther Alferd Rescount!"
Rescount? Bukankah itu nama keluarga yang ingin dijadikan Octopus sebagi budak yang akan dituduh sebagai pengkhianat Selini Thea?
Meski waktu itu aku masih berusia 9 tahun, tapi dunia politik telah menjadi kehidupan pergaulanku sejak dini.
Jadi begitu, ada kesalah pahaman. Aku yakin ada seseorang yang menghasut Tahlia..
"Lihat kau saja tidak ingat, Putri kebanggaan Wisteria memang tidak akan bisa mengingat keluarga rendahan."
"Kau salah paham, Tahlia. Ayahku membunuh Ayahmu karena itu permintaan beliau sendiri, ha--"
"Omong kosong!! Kalian sama saja, kasta Imorrtal ditentukan dari kekuatan manna mereka, semakin kuat maka kau akan semakin dihormati. Bahkan Selini Thea yang sebagi Maharani saja, tidak merespon kasus ini! Itu sebabnya aku benci kalian, Selini Thea tidak layak menjadi penguasa!"
"Ini baru dugaanku, mungkinkah kau yang melaporkan asmara Dewi kepada para Tetua. Hanya karena dendam mu?"
Tahlia tersenyum "Ya! Aku yang melaporkannya."
Tahlia mendekatkan dirinya ketelinga Aletha.
"Aku bekerja sama dengan Octopus. Aku juga, yang mengusulkan Carzie harus mati. Bahkan, aku juga yang mengasingkan sendiri Putrinya ke Darkness World saat usianya masih 7 bulan. Dihutan gelap dimana musim dingin menyelimuti dunia itu, aku selalu berdoa akan ada yang memakan habis Putrinya disana.."
Tahlia menarik diri kembali. " Sejak dia mengetahui bahwa aku dalang dari ini semua, dengan paksa Dewi menjauhkanku darinya. Namun, karena dia tidak bisa membawa Alice kembaki ke Imorrtal, dia hanya bisa melindunginya dengan memberikan Rusa disisinya. Tapi, sayangnya dia tidak mati, aku berharap Fedrick akan memakannya, tapi dia malah memberikan darahnya kepada Putri itu. Tak lama setelahnya, Ratu Fairy membawanya ke Bumi. Aku masih tidak rela dia hidup! Lalu aku berusaha membunuhnya untuk kedua kalinya. Genap saat Alice berusia 11 tahun, dia dan keluarga angkatnya, yang tidak lain adalah adik Carzie, pergi liburan bersama. Apa kau tahu kelanjutannya?"
Aletha punya firasat buruk, pasti berakhir dengan tidak baik. "Apa?"
"Aku mengendalikan mobil yang mereka pakai, lalu kubuat mereka bertabrakan dengan mobil lainnya. Padahal, hari itu mobilnya terbakar hangus, tapi nasib Alice begitu sangat beruntung. Kenapa dengan wajahmu, Aletha? Alice tidak mati tapi kedua orangtua angkatnya lah yang mati. Itu semua karena Fedrick melindunginya, argh!! Sejak saat itu, aku menargetkan juga bangsa Demon harus dihabisi!!"
"Tahlia!! Kau sungguh kejam! Bukankah kita berjanji akan selalu setia dan melindungi setiap keturunann Maharani?"
"Itu hanya untukmu, tapi aku tidak. Lagipula mereka bersalah karena mentang hukum alam! Apa kau tidak mau mengadili mereka jika diposisiku? Ah, aku lupa kau pun melakukan kesalahan yang sama, seperti Dewi."
"Tapi, Alice tidak bersalah, Tahlia. Octopus hanya ingin mengendalikan dunia. Semua peraturan alamnya hanya asumsi bodoh, kita harus sadar bahwa dunia ini ada bukan untuk berlomba menjadi tinggi. Sebenarnya, Octopus menghapus peraturan mengenai Darkness World dan Imorrtal yang sebebarnya. Kita harus hidup berdampingan dengan mereka, bukan memusuhi mereka."
"Aku tidak perduli, aku hanya akan melihat sistem yang kuanggap benar. Yang membunuh Ayahku harus diberi hukuman setimpal!"
"Kau salah paham! Yang membunuh Ayahmu bukan Ayahku, tapi hari itu Octopus telah menjadikan ayahmu sebagi uji cobanya dalam menggunakan sihir gelap. Dia tahu bahwa Ayahmu bisa saja melukaimu, jadi dia memohon kepada ayahku untuk membunuhnya, lalu membawamu untuk melindungi kau dari Octopus. Karena hanya keturunan Rescount yang dapat membaca mantra hitam yang paling dilarang di dunia para Dewa."
Meski sekarang, kau pun telah dimanfaatkan oleh Octopus. Aku lengah dalam mengawasi Tahlia..
"Diam!! Aku tidak perduli dengan kebenarannya mau seperti apa. Aku tetap tidak akan menghentikan rencanaku!! Kalian semua pasti akan kubunuh, lalu kurubah semua peraturan memuakan ini."
"Kau telah berhasil dimanfaatkan oleh Octopus, kau fikir dia mau membiarkanmu merubah peraturan alamnya? Meski kami berada yang paling tinggi, kami masih harus mencari cela untuk menjatuhkannya itu sebabnya kami tidak menyerangnya secara langsung. Tapi kau dengan bodohnya mudah terhasut?"
"Itu karena kalian lemah, dan aku tidak dibodohi Octopus dia yang membantuku mengatur Imorrtal, meski Dewi tahu bahwa aku dalangnya dia juga tidak bisa berbuat apapun karena dia sudah tidak memiliki hak penguasa!"
"Tahlia, hatimu telah menjadi gelap. Sikap angkuhmu akan menundukan kepalamu atas apa yang kau perbuat! masih belum terlambat, Tahlia. Kembalilah aku pas---"
PLAK!!
Thlia menampar Aletha, ia bebar-benar kesal dengan ucapan Aletha. "Aku tidak akan memihakmu!"
"Ini pilihanmu, maka aku juga tidak akan memandang lembut dirimu sebagai Adik ku lagi. Akan kupastikan kau mimpi indah dalam tidur panjangmu!"
Deg!
Tatapan dingin yang memancarkan kekecewaan itu sempat menggoyahkan Tahlia, bukankah itu berarti mereka akan menjadi musuh tanpa mengingat bahwa mereka adalah saudara?
Tidak, kenapa kau jadi ragu? Bukankah sejak kau mengusir Aletha, kalian memang sudah menjadi musuh. Tahlia kau hanya perlu melakukan apa yang kau yakini.
Mereka musuh yang sebenarnya, Octopus bilang Selini Thea ingin menghilangkan keturunan keluarganya agar tidak menggoyahkan posisinya dengan sihir spesial mereka. Dan Wisteria pun membantunya!
"Sejak lahir, kita ditakdirkan untuk menjadi musuh. Sebaiknya kau katakan saja, dimana Crystal dan pedangmu?"
"Sampai aku mati, aku tidak akan mengatakan ataupun memberikannya kepadamu."
"Baiklah, kalau begitu diamlah baik-baik disini sampai persiapan eksekusimu selesai, Aletha." Tahlia beranjak pergi, meninggalkan kembali kesunyian diruangan itu.
Berhenti memikirkan masa lalu, dunia tidak seadil dulu. Kau ada untuk mengadili mereka!
Cuit..cuit..
Carina mendatangi Aletha "Seperti dugaanmu, semua pulau ini sangat aneh. Tahlia mengembangkan sihir gelap dengan temuan dari Carzie, bahkan di Benteng ini banyak tabung sihir dan reset untuk mencoba membuat mahluk baru yang dapat mengguncangkan dunia."
"Maksudmu?"
"Mereka melakukan revolusi terhadap Troll dengan sihir hitam, sehingga tercipta mahluk aneh itu untuk menghancurkan Imorrtal. Mereka juga ingin menjadikannya sebagi tentara saat dia berhasil menghasut Darkness World untuk menjadi kambing hitamnya. Sepertinya semua data mengenai temuan Carzie tidak dihancurkan, tapi dimanfaat Octopus dan membiarkan Tahlia yang mengembangkannya."
"Baik."
Aletha bangkit, meski hanya sedikit manna yang dia punya. Bukan berarti dia lemah! Aletha mengeluarkan pedang Dewinya yang lain.
Pedang putih yang memiliki kekuatan sama persis seperti induk pohon Wisteria, sebuah pedang yang melambangkan kehidupan dan Keadilan bersiap mengancurkan Benteng hina ini.
BOOM!!!
--.o☘o.--
Di posisi Welliam.
Welliam memijat kepalanya, sejak pagi hingga siang Lucy terus-terusan bersikeras mengikutinya, sembari mengatakan masalah yang sama.
Memangnya siapa perempuan itu, bikin pusing saja. Jika dia bertemu dengannya, akan lebih baik kalau Welliam langsung membunuhnya.
Welliam tidak habis fikir kenapa mereka semua berubah, dan lebih mencekatnya lagi saat Welliam melihat foto pernikahannya dengan perempuan bernama Aletha itu.
Padahal dia sama sekali tidak mengingat apapun tentangnya. Mate? Itu sesuatu yang lucu dan paling dia benci, karena dia tidak terlalu suka perempuan yang mengincar tahta dengan angkuh. Cih!
"Lucy, mau sampai kapan kau berbicara seperti itu?!"
"Sampai Kakak ingat dengan kak Aletha!"
"Aletha, Aletha, Aletha! Apa aku harus membunuhnya agar kau berhenti berbicara omong kosong?!"
"Kakak, Lucy tidak berbohong. Aletha adalah perempuan yang sangat kau cintai, bahkan jika dia terluka sedikit saja, kau langsung seperti orang gila."
Lezzy dan Fedrick terus menonton pertengkaran kedua anaknya, mereka juga sudah berusaha sebisa mungkin. Semua sihir memories tidak mempan terhadap Welliam, seolah Crystal itu benar-benar tidak terbantahkan.
Tapi, Lucy masih tetap berjuang demi janjinya kepada Aletha, dia juga tidak ingin mereka berpisah seperti kisah cintanya.
"Sudah cukup! Aku tidak mau mendengarnya lagi. Loise ayo kita pergi ke ruang rapat. Dan kau Putri Lucy, kembalilah kekamarmu."
Welliam melewati Adiknya begitu saja. Lucy lelah, harus bagaimana lagi caranya agar Kakaknya ini mengerti. Tapi, dia harus mengembalikan ingatan Kakaknya secepat mungkin.
"...disebuah tempat yang menyimpan kenangan kami."
Itu dia, mungkin saja tempat itu bisa membantunya. Dulu, Aletha kembali dari keadaan kritisnya karena tempat itu. Tempat yang menjadi penyimpan kenangan mereka.
"Pecundang!"
Welliam berhenti berjalan saat mendengar ucapan Adiknya, begiti juga Lezzy dan Fedrick. Welliam membalikan badannya sembari menatap tidak suka.
"Siapa yang kau bilang pecundang?"
"Kau, kau adalah pria yang pecundang. Baru seperti ini saja Kakak kalah dengan tantangannya? Kau lemah, karena tidak bisa keluar dari maslah ini. Percuma saja kau memaksanya habis-habisan untuk tinggal disisimu, kalau akhirnya kau tidak menganggapnya ada!"
"Lucy, jaga bicaramu denganku, saat ini yang ada dihadapanmu adalah seorang Lord."
"Lord? Tapi yang aku lihat hanyalah Kakak yang bodoh! Sudah cukup, aku muak! Ikut aku sekarang."
"Sikapmu sungguh tidak sopan, sepertinya aku terlalu memanjakanmu! Loise, bawa Pu---"
"AKU BILANG, IKUT AKU SEKARANG JUGA!!"
Semua yang ada disana terdiam, saat melihat Lucy meninggikan nada bicaranya. Bahkan, untuk pertama kalinya, seorang Lucy Daiana Lorddark's. Menunjukan dirinya sebagai Putri bangsa Demon.
Kedua matanya berkilat berwarna merah pekat, Lezzy maupun Fedrick pun tidak kalah terkejutnya. Mereka kira Putri sekaligus anak bungsu mereka, tidak akan pernah bisa menunjukan sisi itu. Karena memang, selama ini belum pernah mereka lihat Lucy dalam wujud Demon nya.
Tapi kini mereka melihat jelas, bahwa ternyata Lucy bisa mengaktifkan jiwa Iblis yang menjadi status rasnya. Terlebih, Lezzy merasakan ada sesuatu yang lain di dalam diri Lucy, yang tidak kalah kuat seperti Welliam.
Mungkinkah, Lucy juga...
"Kita tidak punya banyak waktu lagi kak, Istrimu dalam bahaya! Kau harus segera mengingatnya atau jika tidak Matemu akan mati ditangan para Dewa!"
Lucy menarik paksa kerah pakaian Welliam, lalu membawanya menggunakan teleportasi sihir ke danau Wisteria.
"Fedrick, bagaimaan jika mereka bertengkar lebih parah lagi?"
"Aku yakin, Lucy bisa mengatasi ini. Aku tidak mengerti kenapa mereka memilih tindakan yang tidak pasti seperti ini?"
"Paduka Lord, saya membawa berita mar---dimana Paduka Welliam, Loise?"
Akhirnya setelah genap seminggu, akhirnya Briant kembali dengan pasukan Asassin, dari mengamati wilayah musuh dan mencoba menghancurkan pertahanan mereka.
"Ceritanya panjang, untuk saat ini jangan temui Lord dulu, Tetua Briant." Ucap Loise.
"Eh?"
.
.
Welliam mengamati semua lingkungan yang baru pertama kalinya dia lihat, terlebih pada pohon yang dilebati dengan sejuta bunga yang dia sendiri tidak tahu, jenis bunga apa itu?
Sejak kapan danau dibelakang Castle-nya jadi seperti ini? Bahkan didalam danau ada tanaman bunga berwarna merah, yang juga belum pernah dia lihat. Sebenarnya kenapa Lucy membawa Welliam kesini?
"Apa kakak masih belum ingat?"
"Tidak, dan aku tidak pernah berniat, untuk mengingat wanita itu."
"Kak, kumohon sadarlah! Jangan seperti ini..."
"Kenapa kau begitu bersikeras seper---"
"Karena aku tidak ingin, kalian berakhir seperti diriku!! Cukup Lucy yang merasakan pedihnya berpisah, cukup Lucy yang merasakan cinta sepihak! Kumohon, jangan berpisah kak, hiks..."
Akhirnya, Lucy katakan juga isi hatinya. Dia mendambakan hubungan kakaknya, akan terjadi juga kepadanya.
Tapi mereka malah seenaknya saja memilih berpisah. Walau dia tahu, ini ujian untuk kebaikan mereka. Tapi tetap saja, dia tidak suka melihat mereka harus tersiksa seperti dirinya.
Welliam diam, saat melihat adik tersayangnya harus menagis, dia terlihat begitu tersiksa.
Kenapa Lucy bisa semenderita ini?
Lucy meraih tangan Welliam, dia memberikan seutas pita merah yang terdapat dua buah bell kecil diujung pita itu. Tulisan nama Welliam pada pita itu bersinar.
Tring!
"Welliam.., aku merindukanmu."
Deg!
Bisikam suara lembut itu begitu menyentuh hati, dalam bayangan mata merahnya, Welliam melihat seorang perempuan tengah bersandar dipohon Wisteria. Tepat dibelakang Lucy.
Perempuan itu tersenyum lembut, bersama hembusan angin yang menebarkan tiap kelopak bunga Wisteria.
Seakan dia pernah mengalaminya, seakan pemandangan ini begitu familiar. Beberapa ingatan buram hadir secara paksa kedalam pikiran Welliam.
"Welliam, apa kau ingat semua janjimu kepadaku?"
.
".... Aletha aku tidak tahu apa yang ingin kau katakan, tapi satu hal yang harus kau percaya, aku tidak akan pernah melepaskanmu meski harus melawan kehendak para Dewa Alam. Bila perlu aku ingin menghancurkan sistem kejam mereka!"
.
"Kuharap kau menepati kata-katamu, Welliam."
Beberapa pecahan ingatan seseorang mulai tersusun kembali, menyusun layaknya potongan puzzle yang ingin memberikan gambaran tentang seseorang yang sangat berharga untuknya.
"....buktikan semua janjimu kepadaku, sabagai tanda bahwa kau mencintaiku."
Tring!
"Aletha..."
--.o🍁o.--