
⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ ꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷.🍁.꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷ ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟
Bila waktunya telah tiba, bisakah kau tetap bersamaku? Memelukku seraya membisikan kata-kata indah layaknya sihir penghantar tidur.
Hingga ........
──────────── · · · · · ✦
.
*Darkness World
~Lucifer Kingdom.
Lezzy ...
PRANG!!
Lezzy menjatuhkan secangkir teh ditangannya. Perasaan gelisah, sesak dan begitu menyakitkan menyeruak kedalam belenggu hati terdalamnya.
Entah mengapa, ada sebuah perasaan perih yang memilin jiwanya. pikiran Lezzy kian menjadi tak karuan, ada sesuatu yang begitu lembut perlahan mulai menghilang dari batin euphoria-nya.
Jemari kecilnya mencengkram kuat kerah gaunnya, seakan menggenggam jantung yang berdetak sesak. Panggilan kecil itu membuatnya begitu ingin menangis, saat seseorang yang berarti baginya akan pergi meninggalkannya.
"Lezzy, ada apa denganmu?" Fedrick menghampiri sang kekasih saat melihat ada yang aneh dengan belahan jiwanya.
Namun, Lezzy tidak menanggapinya. Kini yang dia pikirkan hanya satu, 'aku ingin bertemu dengannya ...' berulang kali, Lezzy mengatakan kalimat itu pada pikiranya.
Lezzy tidak mengubsir kehadiran Fedrick, lalu tiba-tiba saja dia berlari keluar kerajaan. Sesaat dia mengabaikan sosoknya sebagai Ratu yang selalu bersikap anggun dan menawan.
Ia berlari melewati koridor istana mengabaikan tatapan heran dari semua penghuni kerajaan Lucifer, termasuk panggilan Fedrick. Tapi Lezzy tidak mau mendengarkannya, dia hanya ingin cepat-cepat bertemu dengannya(?)
Kumohon ...,
Lezzy membuka paksa pintu utama kerajaan. Menapilkan halaman kerajaan yang luas, dengan disambut langsung oleh Luna serta Alexa, yang sudah ada dihadapannya. Seakan mereka mengerti apa yang digelisahkan sang Vasilissa, mereka mencoba menghadangnya.
Beberapa sihir penghalang dipasang disekeliling kerajaan, agar Lezzy tidak pergi. Tapi, kenapa mereka melakukannya?
"Anda tidak boleh pergi, Alice."
"Kenapa aku tidak boleh pergi? Mungkinkah, kalian telah mengetahui hal ini?!"
"Kami ..."
"KATAKAN!!"
Alexa dan Luna saling melirik, "Alice, ini keputusannya. Kami hanya menuruti perintahnya, jadi, kumohon tetaplah di kerajaan."
"Menyingkir, aku tetap ingin pergi!"
"Maaf 'kan kami, Queen Alicia." Alexa memperkuat sihir pada penghalangnya.
"Alexa!"
"Lezzy, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat begitu gelisah?!"
"Fedrick ..., Fedrick tolong bantu aku, hiks. Aku harus pergi!" Tangis Lezzy pecah meruah, dia sudah tidak bisa menahan perasaan sakit yang menjalar kedalam sukmanya.
Tapi, Fedrick masih tidak mengerti mengenai kondisi sekarang. Dia juga semoat kaget, melihat Alexa dan Luna menunjukan wujudnya tanpa perintah dari mereka berdua.
"Aku ingin pergi ..., hiks. Aku ingin per..pergi Fedrick, hiks!"
"Alice ....," Seakan Luna meraskan kesedihan Lezzy. Ia pun menitihkan air mata untuk pertama kalinya.
"Lezzy tenanglah. Katakan kepadaku, kau ingin pergi kemana? Dan, kenapa kau memangis, sayang?"
"Fedrick, di-dia akan segera pergi ..., hiks."
"Pergi? Siapa yang akan pergi, Lezzy?"
Lezzy kian terisak sakit, saat berusaha mengatakannya. "Aku, aku tidak mau kehilangan ........., Fedrick."
Fedrick diam mendengar kalimat terakhir dari Lezzy. Dia sungguh akan mati?
--.••🌷••.--
Tidak! Aku tidak mau kehilanganmu, Welliam.
"Ketemu! Akhirnya aku menemuka---"
JREB!!!!!
CRASHH!!!
"UHUK!"
Olyfia diam menegang dengan tubuh hampir mati rasa. Seakan sayap perinya tak sanggup mengepak, dia mulai terbang merendah dengan sangat lemas, melihat apa yang saat ini terjadi kepada mereka.
Panah itu berhasil menusuk hingga menembus jantungnya. Darahnya yang begitu pekat menodai pakaiannya, serta surai rambut putihnya yang ikut tercemar warna merah darah.
"Dewi ..."
BUKAN! Panah itu tidak melukai Welliam ataupun Aletha! Memang Aletha berniat melindungi Welliam dengan dirinya. Tapi, sepertinya, tidak akan sempat karena kecepatan panah yang tidak bisa Aletha imbangi.
Dan ditengah itu juga, dia melihat ada seseorang yang lebih dulu melindungi Welliam. Seorang wanita jelita yang selalu menjadi Maharani bagi Imorrtal, dan selalu menjadi bulan bagi kegelapan malam.
Dia adalah Selini Thea Crownsiamoer.
Sang Dewi Bulan, yang memimpin dengan keagungan Vasilissa-nya.
Darah sang Dewi yang sempat menodai wajah Aletha begitu membuatnya shock berat. Ini tidak pernah terpikirkan baginya, bahwa sang Maharani akan hadir untuk mengorbankan dirinya sendiri.
"Σεήνη..."
(berhenti)
Seketika waktu berhenti, semua yang tidak dikehendakinya tidak bergerak sedikit pun. Itu karena dia membuka dimensi waktunya sendiri untuk dapat berbicara dengan keturunan langit yang terpilih.
pikiran Aletha menjadi kosong, dia hanya bisa diam dengan tubuh yang begitu ketakutan. Kedua mata langitnya mulai dipenuhi air mata, seraya melangkah dan bergumam bahwa yang dia lihat adalah kesalahan.
Selini Thea menutup mulutnya untuk menahan darah yang terus keluar di iringi batuk berat. Perlahan, ia mulai kehilangan keseimbangannya dengan sayup mata yang kian meredup.
Namun, sebelum tubuh mulia itu jatuh menghantam tanah, Welliam dengan sigap menangkub Selini Thea yang telah lama mengawasinya selama beranjak dewasa.
"Dewi ..., hiks. Dewi ..., hiks." Aletha menggenggam tangan sang bulan, sembari menagis terisak.
"Lama tidak ber-uhuk! Ber..temu, Aletha ..."
Meski ia menahan sakit yang teramat menyakitkan, Selini Thea berusaha tetap menunjukan senyuman terhangatnya.
Aletha semakin menggenggam erat tangan sang Ratu yang pernah dia layani dan lindungi dengan segenap nyawanya. Tapi, kenapa sekarang dia malah membiarkannya dalam keadaan sekarat?
"Tugasku telah selesai, Aletha ..."
"TIDAK! Tugas anda belum selesai. Yang Mulia, anda masih harus meminpin Imorrtal, anda masih harus menjadi Vasilissa bagi kami, hiks. Kita masih harus mendamaikan kedua dunia ini, hiks.., kumohon Dewi jangan pergi."
"Ini bohong! An-anda tidak boleh mati, DEWI!!!" Olyfia menghampiri mereka. Dia ikut bersedih melihat Selini Thea tengah merenggang nyawa.
"Olyfia ...,"
"Tetaplah bertahan hidup, Dewi. Aku akan mencoba menyembuhkan lukannya." Aletha kelewat panik.
Tangan Selini perlahan menggapai wajah Aletha, yang masih senantiasa menitihkan air mata. Ini pertama kalinya bagi sang Vasilissa sepertinya, melihat Dewi Perang menagis hingga seberat ini.
"Harus ada yang berkorban mati demi kedamaian dan kesempurnaan dunia ini, Aletha ..."
"Aku muak mendengar kata-kata itu! Sebenarnya, takdir ingin kita melakukan apa, Dewi?! Disaat kita menjadi Dewa pun, kita tetap tidak bisa melakukannya! Mau sampai kapan kita berada di dalam roda takdir ini?! Kita melakukan sesuai dengan takdir inginkan, mencoba sebisa mungkin untuk memberikan kedamaian bagi seluruh mahluk. Tapi nyatanya, tetap harus ada yang berkorban mati. Kenapa? Kenapa aku juga harus terlahir sebagai Dewi perang? Aku tidak pernah ingin membunuh mereka di tanah penuh darah ini. Meski mereka bersalah, meski mereka berdosa, tapi akau tetap mendapat makian dari keluarga mereka yang telah ditinggal pergi karena diriku."
"Semua pasti berubah, mau tidak mau. Semua pasti berpisah, ingin tidak ingin. Dan semua pasti berakhir, siap tidak siap. Jangan pernah menyalahkan keadaan Aletha ..., kita hanya mahluk yang diberi perantara untuk mengembalikan susuan alam yang rusak ini. Semakin banyak kau diberi cobaan hidup, maka semakin banyak juga pemahaman baru yang kau dapat. Ambil hikmahnya, terkadang untuk bisa menciptakan satu senyuman di wajah seseorang, kau perlu mengorbankan semua yang kau punya. Tapi, saat kau melihat senyuman tulus itu terlahir dari mereka, kau akan paham betapa indahnya hidup yang sedang kau jalani ini, sayang."
"Aku tidak mengerti, kenapa anda terlihat sangat bahagaia? Kenapa anda seperti tidak ada beban. Padahal Dewi akan pergi meninggalkan kami! Kenapa? Kenapa aku-hiks, aku tidak bisa seperti dirimu Dewi ..."
"Kita hidup saling memandang dan dipandnag. Mungkin saat ini kau melihatku sangat bahagia, tapi saat aku melihatmu justru kaulah yang paling bahagia Aletha. Aku ..., aku juga punya beban hidupku sendiri. Aku masih ingin hidup untuk mengulang waktu. Mengembalikan waktu, dimana aku bisa merawat putriku Lezzy, menggeam jemari mungilnya sejak dia lahir, membiarkan mata polosnya mengenaliku untuk pertama kalinya. Bahkan aku.., hiks, aku juga ingin melihatnya berjalan kearahku sembari menghilku Ibu. Aku juga ingin Lezzy bertemu dengan Carzie, a-aku juga ingin keluarga sesederhana itu. Aletha ..."
Selini menyentuh wajah cucu pertamanya yang tidak pernah punya kesempatan untuk memiliki waktu bersama mereka, bermain dan bercerita selayaknya keluarga.
"Aku juga ingin Welliam dan Lucy, dapat mengenaliku sebagai nenek mereka. Tapi inilah hidup, kita berada di dalam roda kehidupan. Tugasku telah selesai untuk memberikan petunjuk kepada kalian yang terpilih, agar bisa merubah dunia kejam ini. Kini sudah waktunya aku harus pergi dan menutup kisahku sendiri, masa ini sudah bukan untukku. Lezzy telah menggantikanku sebagai Vasilissa, dan juga harus ada yang terlahir menggantikanku sebagai Maharani yang baru, Aletha ..."
Aletha sedikit tenang, dia juga jadi sadar. Bahwa sebenarnya setiap orang ada masanya. Kita diberi kehidupan untuk menilai dan mempelajari arti kehidupan yang sebenarnya.
Dia juga pasti akan memliki akhir dari masa berjaya dan kehidupannya sendiri. Karena Manusia ataupun mahluk seperti mereka, bukanlah mahluk abadi yang diberi kesempurnaan.
Betapa bodohnya dia menyalahkan takdir yang terasa tidak adil, padahal sang pencipta telah memberikan kebahagiaan tiada tara saat ini.
Benar, Selini Thea hanya benang merah untuk memperkuat hubungan mereka agar tidak terjadi kerentanan. Baik Lezzy, Fedrick maupun Aletha, Welliam. Berkali-kali mereka hampir menyerah pada keadaan, dan berkali-kali juga dia membantu mereka untuk saling percaya.
Bahwa masa depan yang cerah, akan hadir dikehidupan mereka. Selini Thea mengakui kesalahan dan dosanya dulu, tapi dia tidak akan menuntut balas pada takdir yang juga memisahkannya dengan Putri berharganya.
Ini sudah cukup baginya, keturunanya telah memiliki akhir hidup yang jauh lebih bahagia dari pada dia.
ini juga sudah cukup baginya sebagai seorang wanita, yang pernah merasakan panggilan Ibu dan juga panggilan nenek tersayang dari mereka.
Rasanya semua bebanya perlahan menghilang, ia bisa tenang untuk menutup mata dan tidur selamanya dalam kedamaian.
"Aku tahu kau selalau mengawasi kami, aku tahu kau selalu mengkhawatirkan kami, dan aku juga tahu kau selalu ada untuk kami. Sejak dulu, Ibu selalu menceritakan sosokmu yang lembut kepada kami. Sejak dulu, Ayah selalu bilang ada satu Dewi yang menjadi penyelamatnya untuk tetap bisa bersama Ibu. Dan aku sadar sosok itu adalah dirimu, aku bahagia bahwa Nenek ku adalah wanita yang kuat. Terimakasih telah membantu Ayah dan Ibu untuk tetap bersama, sehingga kami lahir menjadi Putra Putrinya. Dan terimakasih juga, telah mempertemukan ku dengan Aletha. Maaf, karena aku masih belum bisa menjadi cucu yang baik untukmu."
"Dewi, aku akan berusaha untuk mewujudkan impianmu dalam mendamaikan kedua dunia ini. Aletha berjanji ..."
"Olyfia ..., hiks, Olyfia sangat berterimakasih atas segala pertolonganmu kepada kaum Fairy Dewi. Anda jangan khawatir, Alice dan seluruh keturunanmu akan selalu Fairy lindungi, hiks. Maaf ..."
Begitu sederhananya kata-kata indah itu terucap dari mereka, jadi ini yang disebut perpisahan ?
Tapi aku tidak menggap kepergianku sebagai perpisahan menyakitkan, ini membuatku bahagia saat mereka mendapatkan pemahaman baru dari akhir sejarahku.
"Welliam, tolong jaga Aletha baik-baik. Aku juga me-mempercayakan kepadamu mengenai dunia ini. Ingatlah, langit menjungjung kalian dan daratan menerima kalian. Penguasa yang sesu...ngguhnya harus dapat bersikap adil dalam memerintah, dengan be-begitu alam akan mematuhi kalian." Suara lembut itu kian terdengar lemah.
"Dewi ...,"
"Olyfia, berikan kalung ini kepada Lezzy, katakan kepadanya bintang fajar akan segera bertemu dengan sang matahari, takdirnya sebagai rembulan semakin dekat, bimbing dia." Olyfia menerima kalung milik Selini Thea.
Tubuh Selini Thea mulai bersinar, dia sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Perlahan lambang bulan sabit dikeningnya memudar, layaknya rembulan yang kehilangan cahaya gemilangnya.
Selini Thea berusaha tersenyum di akhir hidupnya. "Uhuk! Sampaikan salam perpisahanku kepada Lezzy, maaf ..., maaf..., Ibu tidak bisa men-menjadi Ibu yang baik dalam kehidupannya. Kalian ju..ga, harus tetap hidup, Darkness World membutuhkan khalian.. uhuk! Uhuk! Selamat malam putra-putriku, semoga rembulanku menjangkau kegelapan hidup ka..lian."
Perlahan, kedua mata sang Maharani mulai menutup seraya tersenyum lembut kepada mereka yang ia kasihi dan cintai.
Waktu kembali berputar, membuat mereka yang berhenti kembali menyaksikan keadaan. Tahlia, Katastrofi dan seluruh orang yang sedang bertarung berhenti sesaat. Dimana alam dan seluruh mahluk menjadi saksi penutupan sejarahnya sebagai Dewi Bulan.
Awan hitam mulai menjadi cerah sembari menjatuhkan air mata pepisahan, daratan yang tandus mulai ditumbuhi bunga Nemophila Menziesii.
Bunga berwarna biru keunguan dengan kelopak bunganya yang lebar, dilambangkan sebagai kedamaian. Hujan yang turun dengan lembut, begitu terlihat seperti serpihan cahaya bintang.
Seakan Alam berduka, seakan alam menghantarkan kepergiannya, dan seakan alam memberikan kematian yang begitu damami kepada Vasilissa agung dunia fana.
Sang Selini Thea mulai menghilang menjadi butiran cahaya kecil, menghilang untuk selamanya dan akan menjadi salah satu bintang di angkasa malam.
Karena, Dewa atau Dewi akan menjdi bintang untuk menunjukan arah pada gelapnya kehidupan, bila mereka sudah tiada.
Aku bersyukur atas karunia-Nya, atas kehidupan indah yang diberikan lewat orang-irang tersayangku, terutama untuk dirimu ...
Akhirnya, waktu mempertemukan kita kembali Carzie ...
Welliam mengepalkan tangan kananya yang masih tersisa serpihan cahaya sang nenek. Dia bertekad untuk mengakhiri penderitaan alam dan membebaskan dunia ini dari tawanan mereka!
"AHAHAHA!!! Akhirnya Vasilissa Bulan telah Mati! Dengan begitu kekuatanku yang telah di segelnya kini telah kembali sempurna kepadaku, AHAHAHHA!!!"
Tawa menggema datang dari Katastrofi yang sepertinya merasa bahagia dengan kematian Selini Thea. Karena dulu, sebelum dia diasingkan Selini Thea menyegel Manna kekuatannya.
Tapi kini, sang Vasilissa sudah tiada, dengan begitu Katastrofi telah menjadi O theo tis Katastrofi dengan sempurna! Tahlia yang masih sedikit shock hanya bisa diam, dia tidak tahu harus bahagia atau justru sedih. Karena jujur, saat mengetahui panah itu mengenai Selini Thea.
Perasaan menyesal hadir dan bersinggah dihati kecilnya. Entahlah, kenapa dia bisa punya perasaan simpatik menyedihkan ini, apa dia harus membunuh Aletha dan Welliam baru perasaan ini hilang?
Lupakan! Sekarang Selini telah mati, dengan begitu musuhku tinggal mereka saja. Apalagi pionku bertambah kuat, dengan begitu kemenangan berpihak padaku!
Aletha berdiri kembali, kini dia sudah sangat marah dan kekewat dingin. Seakan jiwanya yang sempat tercabik dengan kepergian Selini Thea, membangkitkan sosoknya sebagai Polemou!
"Welliam ..."
Welliam yang mendengar perkataan Aletha tersenyum sakarstik. "Baiklah, mari kita akhiri mereka bersama-sama. Kau bisa mempercayakannya kepadaku dan aku mempercayakan Tahlia kepadamu, kita pasti menang karena kaulah Dewinya. Buktikan kepada musuh siapa penguasanya, Ratuku!"
Aletha tersenyum, dia kembali menatap Katastrofi dan Tahlia dengan tatapan menusuk yang begitu tajam. Aletha mengangkat pedang Wisteria-nya keatas, seketika aura kuat kembali dirasakan oleh seluruh mahluk.
"Kesabaranku telah habis!"
Mata Aletha memicing tajam dan tepat disaat itu, dia membangunkan sosoknya sebagai seorang Dewi Perang yang sesungguhnya.
Pakaianya telah berganti dengan gaun Dewinya, berwarna biru laut hanya sebatas lutut yang terbalut jubah putih panjang berajut daun dionysus dari benang sutra emas. Sedangkan bunga Wisteria menjadi baju zirah yang hanya menutupi dari bahu hingga pinggang.
Lambang bunga Lycoris terukir dikeningnya, menambah satu kesempurnaan lagi dari sosok tangguhnya yang begitu menawan. Bahkan, Welliam dibuat terpukau dengan sosok asli dari Istrinya ini.
"Ditanah Agra ini, aku memutuskan sebagai Thea tou Polemou. Untuk menghukum mati Dewi Thea tis Timorias serta Dewa O Theo tis Katastrofi, sebagai pengkhianat bangsa Imorrtal dan mengancam kedamaian dunia! Maka hadirlah, wahai kaisar langitku Callister Apramotta Dorragone!!"
Aletha memerintah, dan tepat disaat itu. Langit cerah kembali menggelap, petir-petir menjalar layaknya tirai kematian. Angin bergemuruh kencang, bunga Nemophila Menziesii telah berganti menajdi padang bunga kematian (Lycoris).
Aletha tidak akan mengampuni mereka! Pendosa harus segera di adili dengan sangat adil, agar masa jaya penuh noda darah mereka dapat segera di tebas habis hingga ke akarnya!
GRUUUOOOOO!!!
BLEDAR!
Semua orang dikejutkan dengan suara menyeramkan yang begitu besar di iringi dengan guntur dilangit gelap. Tahlia dan Katastrofi dibuat merinding dengan sesosok bayangan aneh, yang telihat sekilas dari balik awan.
Seekor hewan buas bertubuh besar, namun tak kunjung menunjukan wujudnya. Mahluk apa itu?
"Waktunya kematianmu, Tahlia tis Timorias!"
"ALETHA !!!" Tahlia berteriak marah, saat mendengar musuhnya menginginkan kekalahan dengan cara kematiannya!
.
---.••°.🍁.°••.---
.
~°••.🌛.🌕.🌜.••°~
Bila waktunya telah tiba, bisakah kau tetap bersamaku? Memeluk ku seraya membisikan kata-kata indah layaknya sihir penghantar tidur.
Hingga aku bisa memejamkan mataku, agar mimpi indah menyambutku dengan lembut. Menyisihkan seulas senyum kepadamu, dan kau balas dengan satu air mata perpisahan.
Selamat Tinggal kasihku ...
Dan terimakasih untuk kehidupan ini, Tuhan ...
[ Selini Thea Crownsiamoer ]
_________-..°•🌕•°..-__________