
“Aku, Thea tou Polemou, telah hadir...”
Mereka yang mendengar suaranya bagaikan kicauan kematian, diam dengan ketakutan yang sangat luar biasa.
Bagaimana tidak ketakutan, jika mendengar nama dari salah satu makhuk terkuat, yaitu Thea tou Polemou.
Seluruh Manusia yang menatap kehadiran sosoknya, mulai berkeringat gelisah. Mereka tidak menyangka peperangan ini bisa memicu kehadirannya.
Padahal mereka berfikir kisah dan sosoknya hanya menjadi alunan permohonan yang sangat abstrak.
Yang berarti, makhluk terkuat yang lebih tinggi dari kaum Manusia antara ada dan tiada.
Namun, tidak ada kata menyerah, sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan. maka, peperangan harus tetap dilanjutkan.
"Dewi, kehadiranmu untuk menghentikan kami, atau ingin memihak diantara kami?"
Para petinggi. Raja, Jendral, Mentri, Kolonel dan hal yang menjadi pemimpin dari peperangan. Masih berpegang teguh pada pencapaiannya untuk meluaskan wilayah kekuasaannya.
Dibalik tudung putihnya, ia tersenyum sinis dengan dua iris matanya berwarna biru tengah berkilat tajam, kepada makhluk yang tidak pernah kenal puas pada pencapaian yang didapatnya(Manusia).
"Mari kita mulai pertempurannya."
Tanpa memberi jawaban, sang Dewi The tou Polemou mengangkat tangan kanannya, menunjukan senjata artefak legendanya.
Lalu secara perlahan sebuah pedang panjang dan meruncing tajam berwarna hitam kemerahan, terwujud dengan begitu jelas di genggamannya.
"Kedamaian dan kekuasaan yang kalian pertaruhkan, bukanlah untuk rakyat dan Negara! tapi kalian jadikan untuk menghilangkan kehausan akan sebuah ke dudukan, membiarkan rakyat menderita akibat ulah nafsu kalian!"
Pedang itu mulai bercahaya, membuat pola-pola sihir besar diangkasa. Bumi berguncang dengan sangat kasar, membuat tanah dibawah pijakan mereka terangkat ke udara.
"Peperangan yang kalian buat, tidak termasuk dalam kedamaian untuk rakyat. Maka aku tidak bisa mengijinkan kalian yang penuh dengan dosa, melakukan peperangan di altar agra!!"
Mereka membulatkan mata dengan sangat terkejut. Jemari kokoh menggenggam kuat senjata, mulai melemah dengan iringan jatuhnya keringat ketakutan.
Para pemimpin tamak, saling berfikir keras mencoba menyelamatkan diri, dari kematian yang berpotensi 99% akan merobek jiwa dan raga mereka.
"Hancurkan!"
Pola-pola sihir itu mulai berubah menjadi sihir mematikan, lalu dengan cepat jatuh ke bumi dengan sangat agresif, merobohkan barisan-barisan terkuat milik militer Manusia.
Dalam waktu singkat, lautan darah menggenang dengan sangat kental di bawah sang Dewi.
Suara penyesalan, ketakutan, kesakitan, dan bahkan penderitaan yang teramat pedih. Terdengar dengan sangat nikmat untuknya.
Nyawa mereka adalah penebusan yang setimpal dengan dosa yang mereka lakukan.
"Aku tidak butuh, perang yang di dasari oleh ketamakan!"
Aletha turun membiarkan kakinya menyentuh lautan darah pada tanah dibawahnya, secara serentak darah itu berubah menajdi padang bunga Lycorys merah.
Seolah bunga-bunga itu ingin menutupi peristiwa kematian yang meratakan pertiwi. Menyadari ada sosok yang memperhatikannya dari ujung tanah peperangan ini, membuat Aletha menghampirinya.
"Perang telah berakhir, mereka telah dihukum dengan semestinya. Kau bisa kembali Membangun kotamu, bersama penduduk yang lain." Ujar Aletha lalu membuka gerbang portal dimensi.
"Tunggu, apa Sofia boleh bertemu dengan Dewi lagi?"
Aletha diam sembari berjalan memasuki portal dimensi, "Namaku Aletha, bukan Dewi. Ingatlah itu dipertemuan berikutnya.."
Sofia tersenyum penuh berseri, "Hm! Akan kuingingat nama Kak Aletha, Sofia juga akan menunggu kedatangan Kakak. Hehe..."
Sejak saat itu, entah apa alsannya sehingga Aletha rutin mengunjungi Sofia. Berbaur dan bermain bersama, hal itu lama-kelamaan merubah sifat Aletha yang sedikit mulai bersikap santai di sisi Sofia.
Bahkan ia sering meminta tolong kepada Adiknya, untuk menggantikannya di rapat Tetua.
Tahlia yang melihat itu tentu menerimanya, dia suka melihat Aletha bisa tersenyum bila bersama gadis manusia itu.
Namun tanpa sadar, hal itu dipergunakan seseorang yang ingin menjatuhkan martabat Aletha.
Di suatu hari, dimana Aletha memiliki tugas keluar wilayah Imorrtal.
Hadir sebuah berita buruk kepadanya...
"Kakak! Ini gawat, aku menerima pesan dari Carina, burung Canaria yang selalu mengawasi Sofia. Dia bilang, Kota Margencia telah di serang!"
"Apa! Bagaimana dengan Sofia?!"
"Tidak ada laporan mengenai dirinya."
"Tidak, aku harus mencari Sofia!"
Aletha beranjak dari meja kerjanya, dia membuka sihir portal menuju dunia Manusia. saat ia telah sampai, alangkah kagetnya Aletha melihat kota Margencia telah berubah menjadi lautan api.
Banyak korban jiwa, bukan! Tapi semua Manusia di kota itu telah dibantai hingga ke titik darah terakhir. Aletha panik, dia terus berusaha mencari keberadaan Sofia.
Namun sayang, saat dia berhasil menemukan Sofia. Gadis itu sudah tak bernyawa lagi, ia menyesal! Harusnya Aletha menurutinya untuk pergi menemaninya. Tapi disisi lain, dia juga harus mengerjakan tugasnya sebagai Danke.
"Sofia!!"
Tap!
Aletha mengeratkan dekapannya pada Sofia, dia menatap serius pada sekumpulan Dewa Penegak Hukum, yang saat ini tengah mengepungnya.
"Dewi Aletha, kau menyalah gunakan posisimu lalu membantai semua kaum Manusia di kota Margencia. Maka, para Tetua Agung akan memberikan hukuman kepada Thea tou Polemou!"
"Aku? Siapa yang berani mengucapkan omong kosong itu! Bukan aku yang membunuh mereka! Atas dasar apa kau menuduhku?"
"Kami telah menerima bukti, bawa dia!"
Seorang Raja dari kerajaan Charlotte diseret paksa untuk memberikan bukti berupa lisan dan penglihatan, kepada mereka.
"Kau.."
Lucas menunduk ketakutan, saat mata kebencian Aletha menyelimutinya.
"Katakan, siapa yang melakukan ini?"
Dengan tubuh yang gemetaran, Lucas menunjuk Aletha. "Dia..., dia yang mem-membunuh seluruh rakyatku!!"
"Ini tidak bisa dijadikan bukti! Ucapan bisa berdusta, sedang mata tak dapat mengenali kebenaran dari apa yang terlihat! Aku menolak tuduhan ini!"
"Kau tidak punya hak untuk menolak!"
Para Dewa penegak hukum berlutut hormat kepada pemimpin Tetua Agung. Aletha bedesis benci, apa yang di lakukan Dewa tua ini disini?
"Kaulah yang membunuh mereka, Dewi Aletha!"
"Apa kau punya bukti jelas, Tetua Octopus?"
Tetua Octopus menunjuka reka adegan dari pembantaian mereka, Aletha tidak bisa mempercayainya bahwa sosok yang membunuh mereka adalah dia.
Tidak, pasti ada yang menyamar menjadi dirinya, sepertinya ada yang ingin menjatuhlan Aletha.
"Itu bu---"
"Bagaimana bisa bukan dirimu! Ini adalah Crystal Takdir yang merekam semua kejadian di Bumi. Apa kau juga ingin bilang bahwa Crystal ini adalah rekaman palsu? Kau ingin bilang bahwa sistem takdir alam salah?!"
"Tidak, tapi bukan aku yang membunuh mereka!"
"Bukti telah terlihat jelas, aku tidak menyangka kau bisa melakukan ini. Bawa Thea tou Polemou, dia harus di hukum mati!"
Para Dewa Penegak Hukum memisahkan paksa Sofia dan dia. Lalu mencoba membawa Aletha ke penjara Meriyola di Imorrtal.
"Jangan sentuh dia, lepaskan tanganmu dari Sofia!"
"Cepat bawa dia!"
"Hentikan! Kau tidak punya hak menghakiminya, Octopus!"
Semua diam saat mendengar suara lembut penuh tekanan memerintah. Octopus menatap tidak suka, pada wanita yang saat ini tengah berdiri menatapnya.
"Salam Agung untuk anda, Queen Vasilissa."
Selini Thea hadir untuk menghentikan hukuman sepihak tanpa mencari tahu kebenarannya.
Meski Imorrtal tidak memiliki Raja, tapi Imorrtal memiliki Ratu penguasa sebagai Maharani dunia suci.
Octopus yang tidak pernah memihak Vasilissa Selini, selalu memedam benci. Lalu dia melirik peremuan disebelah Selini Thea, pasti dia yang melaporkannya.
Tahlia bergegas menghadap Selini Thea dan menceritakan semua yang terjadi di Margencia, untunglah mereka tepat waktu.
"Kakak, kau baik-baik saja?"
"Tahlia, bawa pergi Sofia. Bisakah kau memakamkannya disebelah makam orang tuanya?"
"Kakak jangan khawatir, Tahlia akan melakukannya." Kemudian Tahlia membawa pergi jasad Sofia, untuk dimakamkan.
"Kali ini apa yang kau inginkan, Yang Mulia?"
"Octopus, aku ingin kau menarik kembali dalih hukuman untuk Aletha."
"Tidak mungkin! Dia adalah penjahat, pendosa harus dihukum."
"Dia bukan pendosa."
"Kau selalau bertindak semaumu. Vasilissa!"
"Aku penguasanya, aku berhak menentukan hukuman untuk Aletha."
"Lakukan apa yang mau kau lakukan, tapi Aletha adalah pendosa dan aib bagi Imorrtal! Aku memiliki buktinya!"
"Kau selalu buta dengan kebenaran, Octopus. Suatu hari kau pun akan mati pada asumsi omong kosongmu, tidak selamanya Dewa menjadi penentu takdir hidup makhkuk rendah. Kita bukan sang pencipta!"
"Cih! Sistem alamku adalah yang paling Mutlak, Yang Mulia. Ayo kita pergi."
Bahwa, pembantaian ini memang telah menjadi cacatan kematian bagi kaum Manusia.
"Ini sudah menjadi takdir mereka, Aletha." Lirih Selini Thea.
Hari berlalu dengan begitu cepat, suda satu bulan berlalu setelah peristiwa itu. Tidak ada yang berubah dari Aletha, dia terus-terusan mengurung diri karena rasa penyesalannya.
Bahkan apa yang diinginkan musushnya telah tercapai, sedikit demi sedikit para bangsa Dewa mulai bergosip dan menyindir dirinya.
Tapi ucapan itu tidak terlalu berpengatuh bagi Aletha, saat yang paling membuatnya tertekan adalah kilas ingatan di peristiwa itu.
Seakan itu menjadi mimpi buruknya, seakan itu menjadi hukumannya, dan seakan kematian Sofia adalah penanggungan dosa yang yang harus ia bayar.
Aletha lelah dengan bayangan kematian yang terus menghantuinya.
Sehingga Aletha memutuskan untuk mengambil tindakan, sebagai bayaran karena tidak mampu menyelamatkan Sofia dan seliruh warga di Margencia.
"Telah kuputuskan, aku akan meninghalkan Imorrtal, Dewi.."
Selini Thea yang sedang memandangi Luna, dengan cepat mengalihkan perhatiannya kearah Aletha.
"Kenapa kau harus meninggalkan Imorrtal Aletha?"
"Dewi, ini adalah dosa yang harus kubayar. Aku lelah dengan semua rasa penyesalan yang terus menghantuiku, aku hanya ingin beristirahat dari ini semua.."
Selini Thea paham, bahwa Aletha terpukul dengan lika-liku konflik pada hidupnya. Seolah dia adalah tawanan dunia, tapi apa memang harus seperti ini?
"Jika itu sudah menjadi keputusannmu, tapi semua ini bukan salahmu. Jangan pergi.. Kembali lah, Aletha."
"Aku tidak bisa kembali, Imorrtal bukanlah tempatku lagi."
"Semua yang meninggalkan Imorrtal, akan dianggap pengkhianat bangsa. Apa kau siap dengan itu, Aletha?"
"Aku tidak perduli dengan asumsi mereka, Octopus terus mengatur alam sesukanya. Di panggil pengkhianat juga lebih bagus, dari pada disebut pembunuh."
"Mau ampai kapan, kau ingin seperti ini? Kau dan Tahlia. Adalah Dewi kepercayaanku, aku tidak bisa kehilanganmu.."
"Tahlia akan selalu bersamamu Dewi, aku juga berniat menjadikannya Arthena di kediaman Wisteria. Tolong bimbing dia, dia masih sangat ceroboh dalam urusan politik."
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya. Tapi Alet---"
"Kumohon Dewi, tolong hargai pilihanku.."
Selini Thea menghela nafas pasrah, dia juga tidak punya hak untuk melarang Aletha. Jika ini pilahan terbaiknya, maka dia akan mendukungnya.
"Baikalah. Tapi, Aletha, saat kau akan pergi, ingatlah ada satu syarat yang harus kau lakukan. Yaitu, jangan beri tahu jati dirimu kepada siapa pun atau kau akan mati ditangan mereka."
"Mati? Aku tidak perduli, jika Octopus dan musuh yang ingin menjatuhkanku, ingin aku mati, maka lakukan lah. Lagipula sudah tidak ada yang berarti bagiku."
"Apa Kakak sungguh berangapan seperti itu?!"
"Tahlia.."
"Kakak masih ada Tahlia, hiks. Bisa-bisanya Kakak berfikir ingin mati begitu saja! Apa Kakak tega meninggalkan aku sendiri?"
"Tahlia, ini sudah menjadi keputusanku. Jika aku terus berada disini, Imorrtal akan semakin buruk."
"Kalau begitu, ajak Tahlia juga."
"Hentikan omong kosongmu, aku tidak bisa membawamu. Ini masalahku, dengar Tahlia, kau Adikku satu-satunya."
"Kalau begitu kenapa Kakak harus pergi? Apa aku tidak berarti untukmu?"
"Justru karena kau berarti aku tidak ingin membawamu. Kau jauh lebih baik berada disini, kau harus memimpin Wisteria! Gantikan aku untuk melindungi Dewi Selini Thea. Belajarlah Dewasa, dunia ini tidak selamanya akan berjalan mulus. Kakak percaya kepadamu, Tahlia."
"Apa Tahlia, masih bisa bertemu Kakak?"
"Ya, suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi. Tapi kuharap kau tidak mendatangiku, aku takut Octopus akan melukaimu juga."
Aletha kembali melihat Selini Thea.
"Dewi Vasilissa, aku ingin meninggalkan pedang ini kepadamu, Crystal Ekdikisi Thanato juga kuberikan padamu. Meski ini melindungi Darkness World, tapi pedang dan Crystalnya memiliki hasrat membunuh yang sangat besar. Akan lebih baik jika tidak jatuh ketangan yang salah, aku akan mengubur dalam nama Dewiku, dan mencoba hidup dengan tenang."
"Dewi Aletha, kau tidak perlu khawatir. Aku dan Alexa akan melindungi Darkness World dari Tetua Octopus."
"Semoga kau segera mendapatkan, Tuan yang mampu menjadi Ratu di Darkness World, Luna."
"Tuanku psti akan hadir."
Selini Thea memeluk Aletha dengan sangat rindu.
"Aletha, jika kau telah menemukan pasangan Mate yang berarti bagimu, kuharap kali ini kau tetap bersamanya. Dimasa depan, akan hadir keluarga yang menerimamu dengan hangat. Dan juga, jangan pernah berfikir untuk melakukan segala hal sendiri. Pasti kebenaran akan memihakmu.."
Selini Thea melepas pelukannya, sembari memberikan seutas pita merah yang terdapat dua bola bell kecil di ujungnya, kepada Aletha.
' Mate ya? Sepertinya itu tidak akan pernah hadir di dalam hidupku! '
Aletha mearih pita itu, "Sampai berjumpa lagi, Dewi.."
Aletha pergi meninggalkan orang-orang terkasihnya di Imortal. Memilih Bumi sebagai tempat tinggal barunya.
Mengamati setiap perkembangan dari peradaban Manusia, yang begitu berkembang pesat setiap lembaran tahun yang terlewati.
Serta hidup dalam bayangan sebagai, Megumi Wisteria.
--.🍁.--
Aletha menceritakan semua kenangan masa lalunya, namun tidak semua ia ceritakan, hanya bagian pertemuannya hingga kematian Sofia lalu mengenai perjanjiannya dengan Selini Thea.
Tanpa menyebutkan gelar Dewinya sebagai, Polemou!
Kini Welliam paham dengan apa yang dimaksud ucapan Neneknya diwaktu itu. Rasa ingin tahunya dapat membunuh Aletha, tapi Aletha tidak mengatakan jelas sosok aslinya.
Walau begitu Welliam telah menela'ah sendiri dan mengambil garis besar, bahwa Aletha bersosok wanita tangguh di depan garis medan pertempuran.
"Jadi, aku tidak bisa mengatakan secara jelas sosok ku kepadamu."
"Aku mengerti,"
"Kau mengerti? Maksudku, kau sungguh tidak merasa ingin tahu atau ingin mengembalikan ku ke bumi?"
"Kenapa kau beranggapan seperti itu? Asalkan aku tidak tahu, kau akan baik-baik saja. Atau meski aku tahu pun, kau fikir mereka bisa membawamu? Dengar, aku tidak pernah mengkhianati kata-kataku. Jika aku bilang disini, maka kau tak punya hak untuk pergi dariku!"
"Bagaimana jika Darkness World dalam bahaya, karena aku?"
"Saat ini kau Ratunya, semakin tinggi pohon yang tumbuh. Maka semakin banyak juga angin yang ingin menumbangkannya, konflik tidak akan pernah lepas dari hidup seseorang Aletha. Entah itu Imorrtal, Bumi, tau pun Darkness World. Semua akan berjalan di titik kehidupannya masing-masing."
Jika dulu aku beranggapan, tidak ada seseorang yang berarti untuk ku. Kini aku memilikinya, Dewi.. Inikah yang ingin kau tunjukan kepadaku? Bahwa masih ada cara lain untuk menikmati kehidupan ini.
"Baiklah, aku percaya padamu."
"Berhenti memikirkan masa lalumu, jika ingin mati maka mati bersama. Jika ingin hidup maka hidup bersama, kau hanya punya dua pilihan, Aletha."
"Aku pilih hidup bersama, bagaimana jika kita ruba peraturannya. Bukan mereka yang menghakimi, tapi kita yang mengadili mereka!"
"Aku suka cara bicaramu, Ratuku." Welliam mengecup lembut pucuk kepala Matenya, dengan sayang.
.
.
Malam mulai beralih fajar, dimana surya masih berada di ufuk timur. Mencoba berhati-hati dalam menerangi dunia kegelapan ini.
Welliam menatap langit fajar dari balik bingkai jendelanya. Berbeda halnya dengan sang Istri yang sejak malam, telah terlelap tidur.
Mungkin karena ia kelelahan dalam berdongeng. Tapi Welliam, tidak bisa beristirahat walau hanya menutup matanya semenit pun. Ia masih berfikir keras dengan semua ucapan dan masalah yang ada.
Mungkin kali ini, dia harus berhadapan dengan kaum Imorrtal juga. Apa Great Lady juga bagian dari kasta Dewa? Semua, pasti telah direncanakan.
Ada begitu banyak pemain yang menjadi tersangka, padahal semua masalah hanya tertuju pada satu antagonis yang sebenarnya.
Pertanyaannya, siapa pemepran Antagonis yang sebenarnya? Kapan dia akan menunjukan diri lebih jelas, di hadapan Welliam?
Welliam pun tidak akan sabar untuk segera menghabisi mereka. Sebenarnya Welliam sudah tahu, nama asli yang mungkin berkaitan dengan sosoknya, namun semua masih dalam keterdugaan.
Pada liontin kalung Aletha, terukir dengan sangat Jelas nama lain Aletha.
' Aletha tis Polemou Wisteria. '
Meski terukir dalam bahasa Arclanta, bukan berarti dia tidak dapat membacanya.
Ia lirik Aletha yang masih tertidur, lalu dia menggerakan pion Raja pada miniatur catur di hadapannya.
Memposisikan pion itu tepat di barisan terdepan, sembari menatap tajam.
"Kini giliranku, yang bergerak! Sudah waktunya bagi kalian untuk tidur selamanya!"
--.o🍁o.--
🌸 Info Novel!
Meriyola : Nama Penjara Kerajaan yang menampung pengkhianat bangsa Imorrtal.
----🌸----
Karena Sebentar Lagi, Akan Memasuki Fase Ending. Author ucapkan terimakasih sebesar besarnya, kepada kalian semua atas dukungan dan masukannya💐💐💐
Terus ikuti kisah mereka hingga akhir ya❤
Sampai berjumpa di Chapter selanjutnya!