The Queen of Different World

The Queen of Different World
Presence of Old Friends; Olyfia



Aletha keluar dari kamar mandi, sembari berjalan kearah balkon kamarnya. Karena mulai hari ini dia akan tinggal di kerajaan Lucifer, jadi untuk sementara Fivian tidak bisa menemaninya dulu, Aletha tidak keberatan lagipula dia tidak terlalu memerlukan pelayan.


Semenjak pembicaraannya dengan sang Ratu, Aletha terus memikirkan bagaimana jadinya saat dia benar-benar sudah ketawan. Apa dia harus kembali ke Bumi untuk bersembunyi lagi?


Dalam perasaan dilema Aletha menatap lara rembulan malam, meresapi sunyinya malam. Gaun tidurnya berkibar akibat ulah angin, membuat anila berhbus dingin hingga menusuk kulit porselinnya.


Disaat Aletha tengah merenung, tiba-tiba saja sepasang tangan kekar melingkar dipinggang Aletha. Tidak perlu menoleh, tidak perlu merasa curiga, karena Aletha sudah tahu siapa seseorang yang berdiri dibelakangnya.


Welliam menyandarkan kepalanya dibahu Aletha, menghirup lembut aroma dari wanitanya yang begitu menggoda. Aletha sedikit merasa geli, saat tetesan air dari rambut Welliam jatuh dan mengalir pelan dibahunya.


"Kau tidak mengeringkan rambutmu?"


Aletha menatap Welliam yang masih diam.


"Kemarilah," Lanjutnya sembari menarik tangan Welliam untuk mengikutinya.


Aletha duduk diatas kasurnya sedangkan Welliam duduk dilantai, mempermudah Aletha untuk mengeringkan rambut Welliam dengan handuk kecil.


Dengan gerakan pelan Aletha mengeringkan rambut Welliam, ini pertama kalinya dia mengeringkan rambut seseorang selain rambutnya sendiri.


Kalau dilihat dari dekat seperti ini, rambut Welliam benar-benar sangat gelap apalagi saat Aletha menyentuh rambut klimis itu, begitu sangat lembut dan yang paling ia suka adalah wanginya seperti campuran daun cemara dan bunga aremisc. Membuat Aletha begitu terpikat dengan aroma Welliam.


Sepertinya mereka menggunakan bahan alami untuk membuat rambut jadi lebih lembut dan wangi. Hem, kalau di Bumi namanya..ah! Shampo? Sepertinya aku bisa untung besar kalau kuproduksi barang seperti ini, bahkan tidak ada zat kimia jadi bisa aman digunakan untuk semua kalangan usia. Bisa-bisa perusahaanku melejit dan menduduki peringkat satu--


"Sudah puas kau memainkannya?"


Hm?


Aletha bingung saat mendengar pertanyaan Welliam. Perlahan Aletha melihat kedua tangannya dan alangkah terkejutnya Aletha dengan apa yang ia lakukan saat ini.


Tanpa sadar Aletha sudah mengelus bahkan sampai mengacak-ngacak rambut Welliam. Loh, kemana handuknya?!


"Kau mencari ini?"


Welliam memberikan handuk kecil berwarna abu-abu yang tadi jatuh, kepada Aletha.


Memalukan, sekali..


"Ma-maaf," Sembari meraih handuk pemberian Welliam.


"Kenapa meminta maaf? Jika kau suka, aku tidak keberatan."


Welliam menyandarkan kepalanya diatas pangkuan paha Matenya, membuat Aletha menunduk menatap jelas wajah karisma dari Welliam.


Tangan kekar hanyatnya meraih helaian rambut silver Aletha yang terselip dikuping mungilnya, meresapi aroma dari rambut Matenya.


Jujur sejak ucapan Aletha tadi sore. Welliam begitu sangat gelisah, ia tidak tahu apa yang dibicarakannya dengan Ibunya, hanya saja Welliam tidak suka saat dia berkata akan pergi, seolah ucapannya mengartikan bahwa Aletha bisa saja tidak akan pernah kembali lagi.


Penuturannya bukan ditunjukan untuk melarikan diri. tapi, mungkin, ada sesuatu yang mengharuskan dia pergi. Apa ini masih berkaitan dengan sosoknya? Welliam tidak menuntutnya untuk berkata jujur mengenai dirinya, tidak perduli siapa Aletha selama dia bisa selalu bersamanya itu sudah cukup untuknya.


Welliam melirik wajah jelita wanitanya. Aku ingin memilikinya. Mata biru secerah langit itu begitu menenangkan, bibir ranum mungilnya yang tersenyum lembut, rambut silver yang bersinar bagaikan cahaya rembulan, terlebih tangan halusnya yang selalu memberikan kehangatan untukku. Aku ingin memiliki semuanya!


Bukan! Tapi, semua yang ada pada Matenya adalah miliknya seorang. Hanya untuknya dan tidak akan pernah melepaskannya.


"Bagaimana jika para Dewa Alam yang membawaku pergi?"


Welliam sedikit menggeram benci pada ucapan Alwtha. "Bahkan, Dewa pun, tidak berhak membawamu pergi dariku!"


"Kau mengatakan sesuatu?"


Welliam tersadar dari khayalannya, "Tidak."


Welliam bangun dari posisi manjanya, berdiri dengan gagah menatap Aletha yang masih duduk manis diatas kasur queen zize-nya.


"Beristirahat lah. Malam ini masih ada yang ingin kukerjakan, jadi tidak bisa menemanimu."


"Memangnya, aku memintamu untuk menemaniku? Kan, sudah kubilang untuk tidak menyelinap masuk ke kamarku, Welliam."


"Kau ini dingin sekali. Tidak bisakah kau membaca situasi saat ini?"


"Tidak."


Welliam melirik kesal, "Baiklah, aku tidak akan mengganggumu malam ini."


"Kalau begitu cepatlah pergi!"


Welliam tersenyum, ia suka wajah Matenya yang sedang kesal seolah tengah menantangnya.


"Kau benar, sebaiknya aku cepat pergi sebelum menjadi gila, mungkin bisa saja aku malah bermain liar kepadamu."


Aletha sedikit merona merah saat mengerti ucapab Welliam, ia meraih bantal dan bersiap melempar bantal itu kearah Welliam yang masih bertampang mengejek.


Bukh!


Bantal itu menabrak dinding saat Welliam menghilang tepat saat Aletha melemparnya.


"Menyebalkan!" Umpat Aletha sedikit malu.


Hari ini sangat melelahkan sebaiknya dia tidur lebih awal. Aletha bangun dan berniat meletakan handuk kecil itu di tempatnya, tapi saat ia hendak berjalan, tidak sengaja Aletha menendang sesuatu.


Sebuah patung kecil berukuran 10 centimeter dan berbentuk singa hitam bersayap emas, ada dua permata merah di mata singa itu dan satu permata besar bagaikan biji delima di kaki kirinya. Benda apa ini? Sepertinya tidak ada miniatur seperti ini di kamarnya?


Aletha mengidikan bahu tidak perduli, ia meraih benda aneh itu. Namun sesaat ia merasakan ada sesuatu yang sedang mengamatinya, Aletha menatap waspada dengan lingkungan disekitarnya.


Kemudian dengan gerakan cepat Aletha menyerang sosok menyelinap itu dengan sihirnya. Namun serangan itu berhasil dihalau dengan sekelebat tanaman belukar mencoba melindungi Tuan-nya dari serangan Aletha.


"Jadi ini sungguh dirimu, Dewi Aletha." Ujar sosok yang bersembunyi dibalik tanaman.


Aletha meredam kekuatannya, "Olyfia Krisian?"


Sosok itu menunjukan wujudnya. Dia adalah Olyfia, pemimpin bangsa Fairy.


"Sudah kuduga ini memang dirimu, tapi apa yang kau lakukan disini? Tidak kah ini sangat berbahaya untukmu?"


"Paduka Welliam? Aa!! Jangan bilang kau..kau..kau Matenya?!!" Teriak Olyfia dengan heboh.


Aletha tidak menanggapinya dia kembali duduk diatas kasurnya, sedangkan Olyfia terbang menghampiri Aletha.


"Oh sungguh? Aku tidak percaya, ini terjadi lagi."


"Lagi?"


"Kau sudah bertemu dengan Ratu Alicia?"


"Ya."


"Apa tanggapanmu tentangnya? Tidakkah kau merasa dia mirip dengan Dewi Selini Thea?"


"Ratu sudah memberitahukan bahwa dia adalah Putrinya. Tapi kenapa aku tidak tahu apa pun tentangnya? Olyfia, ceritakan semua apa yang terjadi selama aku pergi."


Olyfia diam lalu dia terbang dengan rendah kemudian berdiri diatas meja yang tak jauh dari Aletha.


"Akan kuceritakan, mungkin saja ini ada kaitannya denganmu."


Aletha mendengarkan dengan sangat serius setiap hal yang dikatakan Olyfia. Sejak Aletha meninggalkan Imorrtal semua telah berubah, seolah kepergiannya membawa rencana terbaik bagi lawan untuk mulai bergerak.


Olyfia menceritakan semua hal tanpa ada yang terlewat. Mulai dari Katastrofi yang diasingkan ke Darkness World, mengenai kisah balas dendamnya dengan Imorrtal.


Bahkan kisah asmara Dewi Selini Thea dengan seorang manusia yang di tentang keras oleh para Tetua Dewa Alam, hingga kelahiran Lezzy yang membawa sejuta rintangan yang tersirat pesan tersembunyi tiap permasalahnya.


Aletha sungguh tidak menyangka dengan ini semua, ia kira dengan kepergiannya Imorrtal akan jauh lebih baik. Tapi hal yang paling membuatnya terkejut adalah mengenai kisah cinta Selini Thea, yang benar-benar sudah melanggar peraturan nomor satu di Imorrtal.


Apalagi dia adalah seorang penguasa dengan Gelar Maharaninya sebagai Vasilissa. Mungkin karena itu Ratu Alicia ada disini sebagai bentuk hukuman, tapi bukankah harusnya pihak Imorrtal sadar bahwa putri berdarah setengah Dewi masih hidup?


Lalu kenapa tidak ada yang mencoba menghukumnya dengan kematian? Bukan, sepertinya karena sang Ratu mendapatkan gelar Vasilissa seperti Ibunya.


Jadi begitu, dulu saat dia masih menyandang gelar Dewi nya, Aletha selalu di hormati dan juga selalu melindungi sang Maharani dari segala bentuk masalah dan bencana.


Ia tak menyangka semua menjadi bertolak saat dia pergi selama puluhan abad. Tidak hanya untuk Bumi, Darkness World, bahkan Imorrtal pun turut berubah seiring berjalannya waktu.


Jika saja peristiwa dulu tak terjadi dia tidak mungkin meninggalkan Imorrtal dan tetap menjadi tangan kanan Dewi Bulan. Rasanya ia sedikit menyesal dengan keputusannya dulu.


"Meski dulu semua masalah yang dihadapi Alice sangatlah berat, tapi aku sangat bahagia bisa melihat mereka tetap bersama bahkan sampai memiliki anak yang sama hebatnya dengan mereka. Dewi, kejadian yang aku katakan terulang lagi kepadamu, adalah saat kau sebagai seorang Dewi murni menjadi Mate Paduka Welliam, itu bisa menjadi sebuah pertanda baik untuk seluruh dunia."


"Aku tidak tahu, apa kehadiranku bisa dikatakan sebagai pertanda baik, karena--"


"Oh, ayola, apa yang membuatmu segelisah itu? Dengar, sejak awal Dewi Selini Thea memang sudah berniat melawan peraturan Imorrtal dan mencoba menolong semua makhluk. Dengan dia yang sudah jatuh hati pada seorang Manusia itu adalah langkah awal untuk membawa kedamaian bagi seluruh dunia, kita masih berselisih hanya karena ketakutan akan sebuah tahta penguasa. Bahkan putri Dewi Seleni Thea pun mengikuti langkah Ibunya dengan keputusannya yang tepat, dan lihatlah Darkness World jauh lebih baik dari yang dulu. Semua butuh proses dengan perlahan tapi mencapai hasil yang sempurna, apa kau sudah lupa dengan gelar Dewi mu?"


Aletha tidak mungkin melupakannya karena itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Ia menghela nafas, lalu berjalan kearah Olyfia dan meletakan benda kecil yang ia pungut tadi disebelah Olyfia, kemudian berjalan menuju sisi yang berlawanan.


Olyfia melihat heran dengan patung singa, sepertinya dia pernah lihat benda ini. Tapi dimana?


Aletha memandangi buku dongeng yang di tulis oleh Ratu Alicia. Semua cerita Olyfia dan kisah dari buku ini terasa ada yang aneh, kisah mereka seperti saling berkaitan meski dalam moment yang berbeda.


Ia juga penasaran dengan Katastrofi yang begitu terobsesi hingga sampai menunggu 2000 tahun lamanya hanya untuk sebuah balas dendam.


Setahunya, Katastrofi yang ia lihat dulu begitu pendiam bahkan dia tidak pernah berani untuk unjuk taringnya. Ia akui kalau dulu kehadirannya selalu di hina dan di tolak di Imorrtal karena dia berasal dari bangsawan kelas rendah.


Kebiasaan buruk kaum Imorrtal adalah saat mereka menilai orang lain dengan kasta dan tingkat kekuatan. Tunggu, ada yang aneh disini. Aletha kembali menatap buku itu.


"Akh!"


Tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit, saat bayangam cepat kisah pada buku ini dan beberapa masalah yang diucapkan Olyfia terlukis sempurna di benak Aletha.


Seolah ada sihir yang memberikan potongan petunjuk. Aletha sedikit mengatur nafasnya, saat ingatan itu memutar dengan cepat. Semua memang saling berkaitan, ada satu masalah yang membuat kedua dunia ini tidak bisa berdampingan dengan damai.


Sesuatu yang mungkin saja bisa menjadi hal pembawa bencana besar untuk kedua belah pihak. Jadi begitu, mungkin saja kehadirannya ke dunia ini untuk memecahkan masalah ini.


Meski dengan ketidak sengajaan, tapi Aletha paham dengan maksud yang dikatakan Dewi Selini Thea waktu itu. Aletha juga sudah bertekad untuk tetap bersama Welliam dan memecahkan masalah di kedua dunia, karena dia juga perlu membersihkan namanya atas tuduhan pada peristiwa itu.


"Olyfia, sekarang aku meng----"


"Aaa!!!"


Olyfia berteriak histeris sembari memandangi patung singa itu. Bahkan teriakannya mampu membuat Aletha melompt kecil karena kaget.


"Oly--"


"Waa!! Dewi, Dewi.. Ini..benda ini anda dapat darimana?!!"


"Benda?" Aletha memiringkan sedikit kepalanya.


"Anda tidak tahu, benda ini sangat.., sangat.., sangat! Huwa!!!"


"Bisakah kau berhenti berteriak?"


"Baru pertama kali aku melihat benda berharga ini dari dekat. Dewi ini adalah Sta---"


"Aletha, apa kau sudah tidur? Maaf mengganggu tapi sepertinya aku meninggalkan barang tak penting disini."


"Hick! Pa-Paduka..."


"Welliam?"


Olyfia sedikit gelagapan saat melihat Welliam memasuki kamar Aletha. Ops, sepertinya Aletha merasakan aura sensitif dari Welliam.


Welliam menatap tajam kearah Olyfia yang saat ini sedang menyentuh petung kecil itu.


"Apa yang kau lakukan di kamar Mateku, Olyfia?!!"


--.o🍁o.--