
"JADI CEPATLAH MATI! AHAHAHAHA!!"
Kupu-kupu, terbang mengelilingi mereka semua, secara perlahan semakin menghipit ruang gerak. Beberapa prajurit Lucifer Kingdom telah banyak mati meninggalkan tulang berlumuran darah. Briant, Styvn, dan Loise, Fivian tidak bisa menghunakan kekuatan mereka. Efek kekuatan wanita keji itu begitu sangat menggetarkan hati! Haruskan mereka berakhir di sini dengan begitu saja?
Welliam tersenyum merendahkan. Meski diawal dia sangat terkejut, tapi baginya ini bukanlah sesuatu hal yang besar. Jika benar serangga itu bisa melukainya, maka berikan lah rasa sakit itu. Karena bagi Welliam hal yang menyakitkan adalah dia tidak bisa melihat Mate nya lagi!
"Paduka Welliam, pergilah dari sini biarkan ka-uhuk! Kami yang mengatasinya." Ujar Styvn yang diangguki Briant dan Loise.
"Pergi? Aku tidak suka kata-kata itu. Kalian pikir aku akan mati dengan begitu mudah? Jangan bodoh! Aku tidak akan mati ditangannya, karena aku masih belum bisa merelakan Aletha bersama pria lain jika aku tidak ada disisinya!"
"Ha?"
Mereka berempat diam dengan wajah bingung. Padahal kondisi saat ini sangat buruk dan berbahaya, tapi bisa-bisanya pangeran Demon ini masih memikirkan Matenya. Sepertinya dia benar-benar sudah jatuh hati.
"Jadi.. cepat selesaikan ini, lalu pulang untuk bertemu wanitaku!"
Mata iblisnya berkilat dengan sangat dingin. Angin berhembus lembut disekitaran Welliam, dia melangkah maju dan saat satu langkah Welliam berpijak diatas tanah, saat itu juga pola sihir berwarna biru terukir dengan sangat besar di bawah pijakannya. Bahkan kalung Crystal biru milik Aletha yang masih setia Welliam kenakan, ikut bersinah dengan sangat terang.
Sring..
Crash! Crash!!
Kupu-kupu merah itu langsung mati dan hancur berkeping keping saat mereka memasuki daerah yang telah terkontraminasi oleh sihir Welliam. Bahkan Briant, Styvn, Loise, dan Fivian serta prajurit Lucifer Kingdom. luka parah pada sekujur tubuh mereka telah sembuh dengan sangat cepat. Akibat Sihir penyembuh dari kalung milik Aletha, yang ikut memberikan kekuatan kepada Welliam.
Great Lady diam membatu, apa sejak awal bertarung, Welliam masih belum terlalu serius dalam menyerangnya? Kekuatan ini begitu besar, jemarinya sampai bergetar kecil. Tapi ada sesuatu hal yang membuatnya jauh lebih ketakutan.
Kekuatan Welliam bercampur dengan sihir kuat dari kalung yang dia gunakan, dan kalung itu begitu sangat mengusiknya. Aura besar ini.. Tidak salah lagi, ini milik seseorang yang dulu telah dia singkirkan 98 abad tahun yang lalu. Bagaimana bisa dia memiliki kalung itu?
Great Lady mengeratkan deretan gigi putihnya. Tatapan penuh kebencian kembali terukir. Kenapa.., kenapa saat dia ingin bergerak pemilik kalung itu harus kembali. Atau jangan-jangan selama ini perempuan itu bersembunyi?
"Dari mana kau mendapatkan kalung itu?!"
Kalung?
Welliam melirik kalung milik Aletha. Kenapa dia menanyakan kalung ini, apa dia ada hubungannya dengan Aletha? Welliam kembali memutar memori ingatannya mengenai Aletha, sosok Matenya masih sangat mysterius dan kini Great Lady malah bertanya tentangnya.
Wajah datar penuh karisma serta tatapan dingin. Welliam menarik sudut bibirnya lalu kembali menatap musuhnya.
Menarik!
"Katakan kepadaku. Apa pemilik kalung itu masih hidup?"
"Kenapa aku harus memberitahukannya kepadamu? Ini milik ku sendiri."
"Katakan yang sebenarnya, berengse---"
Wush...
Buagh! Boom!!
Welliam tiba-tiba sudah berada di hadapan Great Lady dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari kilatan petir. Akibat serangan tiba-tiba itu Great Lady terhempas cukup jauh dan jatuh ditumpukan pohon-pohon yang telah tumbang.
"Briant kirim pesan kepada Lord besar mengenai dia dan rencananya, sekarang juga!"
"Baik Yang Mulia." Ucap Briant sembari pergi meninggalkan area pertarungan.
"Dan untuk kalian, masuk ke dalam dinding itu, biar aku yang menghabisi wanita gila itu!" Ucap Welliam kepada Fivian dan Loise.
"Akan kami laksanakan, Yang Mulia."
"Suruh, seluruh pasukan mundur dan kembali ke perkemahan!"
Kali ini giliran Styvn yang bergerak pergi. Saat semua telah pergi, Welliam mengeluarkan sayap perkasanya dengan sangat gagah. Lalu dengan cepat terbang menuju ke tempat sosok yang dipanggil Great Lady.
.
.
Darah mengalir segar di sudut bibirnya, hantamannya cukup besar, bahkan tendangan dari Welliam berhasil menghancurkan sihir pelindungnya. Argh! Sial. Akan dia balas serangan ini, Fajar akan segera hadir akan lebih baik jika dia mundur terlebih dahulu.
Great Lady, berjalan tertatih sembari memegangi lengannya yang terluka.
"Jadi, bisa kau menyerah?"
Great Lady diam lalu melirik kekanan, tanpa melihat pemilik sosok itu. Welliam berdiri diatas batang pohon, dengan sayap yang masih terbuka merkah.
"Aku masih belum menyerah, pertarungan kita kali ini hanya sebatas salam pertemuan. Aku akan kembali dan saat itu juga, akan kubuat kau menderita hingga ingin membunuh dirimu sendiri!"
Welliam mengangkat sebelah alisnya. Kemudian wanita itu mengangkat tangan kanannya, kobaran api hijau menghadirkan sabit kembar kematiannya kembali, lalu dengan cepat menyabit leher Welliam sebelum pergi menghilang menjadi puluhan kupu-kupu.
Welliam tersadar akan sesuatu, serangan dari wanita itu terasa sangat aneh, Welliam meraba lehernya. Tunggu, dimana kalung Aletha apa wanita itu berhasil mengambil darinya? Sial!
Welliam melihat keseluruh lingkungannya, bagaimana ini wanita itu pergi begitu saja dan tak bisa di deteksi keberadaannya. Yang dia risaukan adalah reaksi Aletha jika mengetahui kalungnya hilang, Welliam sedikit berkeringat dingin. Bagaimana jika wanitanya semakin membencinya?
Tidak.., itu cukup mengerikan bagi dirinya sendiri!
Tring...
Tring...
Suara lonceng merdu itu terdengar sangat lembut pada pendengaran Welliam. Hari yang mulai memasuki Fajar membuat cahaya Matahari kembali menyinari daerah itu, beberapa pohon perlahan berdiri kembali. Hutan yang telah hancur perlahan mulai di tumbuhi tumbuhan hijau yang lebih indah.
Angin berhembus lembut, menggoyangkan dedaunan pada pohon dan ilalang, seolah mereka tengah menari. Nyanyian peri hutan yang di sebut Fairys, melantuh dengan melodi yang sangat lembut. Suasana hutan jauh lebih baik. Welliam menatap takjub pada seekor Rusa putih yang bercahaya terang ditengah-tengan rawa kecil.
Rusa itu melompat-lompat kecil sembari melihat kearah Welliam, seolah dia ingin menunjukan sesuatu kepadanya. Welliam berjalan ke tengah rawa tepat pada posisi Rusa putih itu. Air yang begitu jernih dan suasana hutan yang sangat sejuk, begitu sangat nyaman untuk Welliam rasakan.
Apa Rusa ini yang merubah kondisi hutan disini, menjadi lebih layak? Rusa itu menggerakan kaki kanannya seperti mengorek sesuatu pada air dibawahnya.
Welliam sadar apa yang ingin ditunjukan Rusa ini. Ternyata kalung Aletha terhempas ke dalam air rawa ini. Depertinya Welliam bisa merasa legah, karena untungnya wanita itu tidak membawa kalung ini.
Welliam mengambil kalung itu dan saat setetes air dari liontin Crystal biru itu jatuh ke air rawa. Welliam melihat bayangan sesosok wanita cantik, berambut silver dengan mata sebiru langit. Wanita itu begitu terlihat sangat jelita dan begiru tangguh, tapi sekilas dia terlihat mirip dengan...
"Aletha?"
"Salam Yang Mulia."
Tring!
Loise dan Fivian datang setelah kembali dari daerah dinding. Mereka melaporkan apa yang ada di balik dinding itu.
"Yang Mulia, disana kami tidak menemukan adanya Desa Gerium seperti pada peta. Kami hanya menemukan benteng tua yang sudah lama tak terpakai." Ucap Loise.
"Tapi saat kami ingin memasukinya, tiba-tiba saja Benteng itu sudah menghilang. Sepertinya ini ulah sosok wanita itu, Yang Mulia."
"Kita masih belum bisa bersikap santai, masih banyak masalah yang bemum terpecahkan di Darkness World ini. Cari tahu lebih labjut mengenai sosok itu maupun tempat ini."
Byurrkh..
Styvn mendorong seorang pria yang terlibat berusia 28 tahun, meski dia terlampau jauh lebih tua. Dia adalah calon Duke yang memimpin kota Zainthor. Ayahnya adalag Senat tingkat II yang di utus Lord generasi Ke-3 untuk memerintah dan mengelola di kota utama Darkness World. Kenapa dia di seret kehadapan Welliam?
"Lapor Yang Mulia, saya telah berhasil menangkapnya. Seperti kata anda untuk memeriksa dokumen mengenai para Tetua yang berkaitan dengan Carlitos, Putra Duke Efran juga terlibat dan mencoba menutupi lalu memberikan investor besar kepada militer Carlitos."
Welliam menatap tajam kearah Putra Duke Efran itu. "Siapa saja yang terlibat?"
"Ha-hamba tidak tahu apa pun Yang Mulia, kami tidak ada sangkut pautnya dengan Carlitos. Hamba ber---"
"Styvn! Seret semua keluarga Duke Efran termasuk Duccess dan Putrinya, kehadapanku!"
"Perintah anda akan saya lakukan, Yang Mulia."
"Ti-tidak. Sungguh kami tidak memberontak, Yang Mulia!!"
"Bawa dia ke ruang bawa tanah!"
"Tung-tunggu, Yang Mulia.. Yang Mulia!!!"
Felixs der Efran. Putra Duke Efran dan Duccess Efran itu dibawa secara paksa oleh Loise. Welliam kembali melihat kebelakang, Rusa itu sudah tidak ada dan juga sosok bayangan samar pada genangan air telah hilang. Apa wanita yang dia lihat di rawa ini adalah Aletha? Tapi bukankah rambut Aletha berwarna hitam?
"Aku mewarnai rambutku..."
Welliam kembali mengenakan kalung itu, siapa pun Aletha. Itu tidak akan merubah perasaannya kepada Mate tercintanya.
"Kita kembali ke Kerajaan!"
--.o🍁o.--
Apakabar, Readrs.
Untuk sementara, cerita ini akan Up seminggu sekali. Dengan minimal 2 chapter Up dan Maksimal 3 chapter Up.
kalau lebih berarti Bonuss. Author sebentar lagi akan menghadapi simulasi UNBK, jafi dimohon pengertiannya ya..
salam manis..
AUTHOR❤❤