
--.•°•.~oO🍁Oo~.•°•.--
Bertemu denganmu mungkin adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, tapi jatuh cinta denganmu benar-benar di luar dayaku.
~°•°🍁°•°~
' Bagaimana jika para Dewa Alam yang membawaku pergi.. '
"Aletha!!"
Welliam mengunci tangan Katastrofi, dia berpijak pada pohon Wisteria lalu dengan cepat menendang kuat hingga Katastrofi terhempas cukup jauh.
Sembari meraih sesuatu yang ada pada Fedrick. Welliam dengan cepat melesat kearah mereka, sebelum Tahlia merebut nyawa Aletha darinya.
"Welliam, berhenti!"
CRASSHHH!!!
Sebuah tebasan terukir hingga beberapa cairan kental berupa darah pekat, berhasil menyiprat keberbagai arah terdekat.
Beberapa buliran darah jatuh kewajah Aletha lalu mengalir turun hingga menetes kedasar tanah.
Tidak! Darah ini bukan milik Aletha, melainkan milik...
"Berani kau sentuh wanitaku, maka kuhancurkan kau tanpa ada satu organ tubuhmu yang tersisa!"
Welliam murka, mata Iblisnya berkikat benci kearah Tahlia. Untunglah, dia masih sempat menghentikan Tahlia untuk membunuh Mate-nya, jika tidak, entah apa yang akan terjadi kepada Welliam nanti.
Tahlia diam setengah terkejut, pergerakan sempurna Welliam mampu menghentikannya. Bahkan karena kecepatan dan kehadiran yang tidak terduga, Welliam berhasil menebas lengan dan sedikit memperdalam luka dipinggang Tahlia.
Secara reflek, Welliam tadi meraih pedang emas milik sang Ayah, lalu mempergunakannya untuk membatalkan rangkaian sihir listrik pembunuh itu. Bahkan sabit Tahlia sampai terjatuh dari tangannya.
Meski tahu itu berbahaya, tapi Welliam tidak ada pilihan lain selain menganbil tindakan nekad, dari pada harus kehilangan Istri tercintanya.
Aletha benar-benar terkejut, perlahan dia melihat kearah Welliam yang telah mendekap erat raganya. Lalu dia melirik pedang emas yang berlumuran darah Tahlia, yang tadi juga menjadi dalang wajahnya ternodai darah.
Tahlia bergerak mundur membuat jarak aman diantara mereka. Ini menyebalkan sekaligus menyusahkannya, dari hasil pengamatannya dipertarungan waktu itu. Harus ia akui Welliam sama merepotkannya dengan Kakaknya.
Haruskah aku menggunakan Artefak Dewa itu, untuk menyingkirkannya?
Tapi apa yang terjadi kepada Aletha, kenapa dia bisa secepat itu kehabisan manna? Padahal dia adalah Dewi yang paling pintar dalam mengendalikan Manna-nya hingga ketitik kesempurnaan jiwa sihir.
Apa mungkin..., Tahlia melirik kalung berliontin crystal biru yang ada pada Welliam.
Itu pasti penyebabnya, demi menyembunyikan hawa keberadaannya dia pasti harus menyegel kekuatannya sendiri. Jika saja seranganku berhasil, sekarang tinggal Mate dan keluarganya yang harus kuhabisi.
Hugo muncul disebelah Tahlia, dia membantu mengobati luka Tuan nya. Sudah waktunya, dia sudah harus menyelesaikan ini semua.
Tidak selamanya sutradara dapat mengendalikan para pemain. Dalam sebuah naskah, akan ada masanya dimana semua cerita tidak akan berjalan mulus.
Tapi jika memang naskahnya harus berhenti sampai sini saja, Tahlia sudah sangat senang bahkan jauh lebih baik dari kata cukup. Karena pasti, semua ini akan menekan seseorang untuk bertindak diluar kendalinya.
"Ha.., kalian sungguh pasangan yang mengerikan ya. Tadi itu benar-benar keberuntunganmu, tapi tidak akan ada kesempatan kedua untukmu."
"Kau tidak akan pernah bisa membunuh ataupun menyentuhnya, selama aku masih hidup! Lagipula dia sudah bukan bagaian Imorrtal, kenapa juga dia harus mengikuti peraturan disana. Jika kau ingin bermain eksekusi, harusnya kau mencobanya dulu pada pria bodoh yang ada disana." Welliam menunjuk Katstrofi dengan ucapannya yang begitu santai.
Tidak perduli mau Tahlia Dewa ataupun Adik kandung Aletha. selama dia berniat membunuh Mate-nya, maka Welliam pun punya alasan jelas untuk membunuhnya juga!
"Queen Althenia.., hem. Benar, kau sudah menjadi rembulan di dunia kegelapan ini. Baiklah, hukumanmu karena menikahi kaum bawah akan kuhilangkan. Tapi.., apa kau bisa menghindari hukuman dari perjanjianmu dengan Dewi, Aletha?" Tahlia mencoba memancing keadaan.
"Kau harus Mati bila mereka mengetahui jati dirimu dari gelar Dewimu. Ops, tadi aku tidak sengaja memanggilmu dengan sebutan, Thea tou Polemou.."
Nada bicara yang terdengar seperti sengaja diucapkan, membuat Welliam dan Fedrick muak!
"Aku tidak akan mati, Tahlia."
"Sungguh? Walau begitu, tetap saja kau oasti akan mati. Tapi sebelum itu, aku harus lebih menyiksa jiwa dan batinmu, sehingga kau benar-benar muak dengan ini semua!"
Luka pada tubuh Tahlia mulai sempurna membaik, saat Hugo terus mengaliri sihir healty kepada Tahlia.
"Ditanah ini, seperrinya aku harus membunuh Queen dan Lord Darkness World lagi.."
"Lagi?"
"Owh, kalian tidak tahu? Apa kau tidak menyadarinya? Aku rasa, Rechyla si manusia lemah itu telahen menceritakannya. Bahkan sekarang aku bisa merasakan kehadirannya, ini aneh apa dia sudah menjadi bagian hutan kematian ini? Tidak kusangka, Lorddark's Zone adalah tempat dimana dia menghembuskan nafas terakhirnya."
Fedrick mengerutkan keningnya, "sepertinya kau berusaha mengendalikan bangsa Demon?"
"Kau benar Vasilias Fedrick. Ardsekar itu bodoh, dia terlalu buta dengan cinta buatanku. Demi mengendalikan kaum Demon, aku menjadikan Rechyla sebagai kartu As untuk merebut hati Ardsekar. Tapi tanpa di duga, mereka justru malah pasangan yang ditaktdirkan (Mate). Awalnya semua berjalan dengan sangat lancar, tapi To Fos Tou Fengariou malah malah memperingati Rechyla. Dewi selini Thea melakukan kesalahan! Karena dia aku tidak dapat mengendalikan Lord di dunia ini, jadi kuputuskan untuk menyingkirkan mereka."
"Aku menghasut Katstrofi, bahwa Rechyla adalah Ratu yang terpilih. Dan hasilnya sesuai dengan harapan, mereka menggila terutama untuk Ardsekar yang benar-benar sudah terpuruk dengan kematian Mate-nya. Ah, perlu kuberitahu, sebenarnya yang membunuh Rechyla adalah aku, bukan Katastrofi! Sama seperti aku menjadi dirimu untuk membunuh Sofia. Lalu kubiarkan, Katastrofi yang menjadi pemeran antagonisnya. Kalian fikir, siapa Dewa Alam yang menghukum Ardsekar, jika bukan aku? Lagipula, jika Ardsekar bisa membunuh rakyatnya itu bisa menjadi keuntungan untuk kaum Imorrtal."
"Tapi aku tidak akan menyinyiakan kesempatan ini. Setelah dia mati, aku pun merubah cerita sebenarnya, dengan mencuci otak para Tetua terdahulu. Akhirnya aku bisa tenang kembali, kubiarkan mereka menjalankan rencanaku. Setiap generasi Lord mereka harus merelakan Ratu mereka untuk ditumbalkan kepada Katastrofi. Dan kau tahu Fedrick? Ibumu, Ratu Vexana adalah Ratu yang begitu cerdik. Karena dia sadar bahwa ada permainan di dalam kekaisaran dia mencoba melawan kami, tapi hasilnya dia pun mati ditanganku HAHAHAHA!!!!"
Tahlia terus beragumen, memberitahukan kejadian yang sebenarnya pada sejarah kelam penguasa Lucifer Kingdom.
Ini gila, Tahlia adalah perempuan yang penuh kelicikan. Dia yang terlihat menawan ternyata membawa racun bagi orang lain, betapa tidak membayangkannya, semua rencana Tahlia benar-benar sangat sempurna!
Siapa yang akan tahu, jika semua kejadian dan peristiwa yang terjadi, berbeda pada waktu masa dan dunia. Ternyata adalah ulah dari satu orang yang begitu haus akan sebuah dendam lama.
Sebenarbya apa yang membuatnya terobsesi seperti seorang physico yang gila dengan dunia darah! Lalu, apa yang dilakukan Ayah Aletha hingga merubahnya menjadi keji seperti itu (?)
Apakah Tahlia, masih menjadi dalang diberbagai peristiwa tak terduga lainnya? Ini tidak bisa dibiarkan. Dosa yang dia lakukan telah merugikan, bahkan merusak keharmonisan tatanan hidup pada sistem Alam.
"Maski begitu, aku tidak menyangka kau akan membantai habis keluargamu Fedrick. Karena perbuatanmu, aku menjadi tidak bisa mengendalikan kekaisaran dari jauh lagi. Apalagi, kau bertindak sesukamu Katastrofi." Tahlia melirik sinis kearah Fedrick dan Katastrofi.
Meski tidak terima bahwa dia hanya dijadikan umpan, tapi Katastrofi tidak dapat melawannya. Tahlia perempuan yang kuat, sehingga dia mampu menjalankan semua rencana liciknya!
Sudah cukup! Fedrick tidak dapat mengontrol emosinya lagi, jadi selama ini Tahlia lah yang mengendalikan Lord terdahulu bukan para Tetua.
Apalagi, yang membuat Fedrick muak adalah kematian Ibunya disebabkan oleh Tahlia.
Fedrick sudah cukup bersabar, dia benar-benar murka! Hancurkan semua hama yang mengganggu di dunianya.
"Hoo.., sepertinya akan ada yang mengamuk." Tahlia terus memancing amarah mereka.
Dengan begini dia akan lebih mudah membunuhnya. Karena emosi yang di dasari nabsu bisa dengan mudah dimusnahkan, mereka yang mengandalkan nabsu tidak akan pernah berfikir untuk melakukan taktik rumit.
Bagus, teruslah frustasi. Aku paling suka melihat lawan bergerak seperti hewan buas yang tidak berakal, dengan begitu panah buruanku tidak akan melesat, karena kalian tidak akan menghindarinya!
Sedetik kemudian, Fedrick menyerang Tahlia dengan buas. Bebeapa sihir penyerang berhasil ditahan oleh sabit kematiannya, pertarungan mereka membuat tanah lembab itu hancur hingga menyemburkan tiap pasirnya keudara.
Pohon Wisteria tumbang satu demi satu, bahkan ada yang sampai hancur. Bisa gawat jika perlawanan ini terus dilanjutkan, ternyata Tahlia pintar dalam memprofokasi lawan.
Welliam melihat Aletha. "Kau baik-baik saja?"
Aletha mengangguk, "Tapi ini tidak akan baik untuk mereka, jika aku mendeteksi Manna Tahlia berada yang paling unggul. Tapi aku merasa Manna-nya tercampur oleh sesuatu, sehingga membuatnya memiliki kekuatan yang melebihi maksimal. Jika kita bertarung dengannya, itu akan sedikit sia-sia karena Tahlia akan dengan mudah menyembuhkan dirinya."
"Lalu, apa kita hanya akan menonton saja?"
"Aku tidak pernah berniat untuk kalah, Welliam."
"Aku juga tidak berniat menjadi pecundang, Aletha! Lalu adakah cara lain?"
Aletha terlihat sedang berfikir, pasti dia punya kelemahan. Ayo Aletha, kenapa disaat genting otak penuh strategimu tidak dapat bekerja!
Tidak bisa! Dia tidak bisa berfikir jernih. Sial, sekarang harus bagaimana? Pertarungan ini akan berdampak buruk bagi pihak mereka, karena mereka tidak memiliki strategi yang akurat.
"We--"
"Aletha!"
Welliam membawa Aletha berpindah tempat dari posisi berdiri mereka, sepertinya Fedrick dan Tahlia sudah mulai menikmati pertarungan ini.
Hingga mereka tidak melihat lagi kearah mana serangan itu akan ditujukan. sekali lagi, Fedrick berhasil mengelak dari serangan Tahlia dan serengan itu kembali tak terarah.
Saat sihir itu malah kearah mereka, dengan cepat Welliam membuat sihir pelindung, sedangkan Aletha mengeluarkan pedang hitamnya dan menebas bola sihir itu.
Tapi....
"UHUK!!"
Darah segar keluar dari mulut Aletha, dia sudah tidak bisa bertarung menggunakan tenaga dalam. Itu akan sangat berbahaya untuk dirinya.
"Aletha..."
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja."
Aletha kembali mengamati keadaan, dia masih mencari cara. Sedangkan Welliam melihat pedang emas ditangannya, lama-kelamaan pedang ini menjadi berat, apa karena dia bukan Tuan nya?
Namun selang beberapa saat, terlintas sebuah cara yang sepertinya akan berhasil.
"Crystal mu, memiliki caranya sendiri untuk menjadi Tuann ya, bukan?"
"Apa?"
"Maksudku, bagaimana caranya agar Crystal mu mengakuiku sebagai Tuan nya?"
Aletha melirik pedang hitam ditangannya. Sejak awal, hanya para keturunan penguasa Darkness World yang dapat menjadi Tuan dari ketiga Crystal itu.
Itu sebabnya Kastastrofi tidak bisa menjadi Tuan nua, karena Crystal itu tidak akan mengakui para Dewa selain hanya meminjamkan kekuatannya.
Tapi, untuk menjadi Tuan dari Crystal Ekdikisi Thanato, akan sedikit berbeda dengan kedua Crystal lainnya.
"Katakan."
"Ada sebuah rintangan yang harus kau lewati, untuk bisa diakuinya."
"Lakukan!"
"Tapi, kau harus me--"
"Sudah cukup bermesraannya, aku sudah tidak bisa menunggu untuk membunuh kalian." Katastrofi mulai geram dengan ini semua.
Beberapa serangan ditunjukan kearah mereka. Sehingga Welliam dan Aletha harus bergerak mundur secara terpisah.
Welliam tidak bisa menyeret Aletha disituasi berbahaya seperti ini, dia sudah kehabisan Manna bisa celaka jika Katastrofi menyerangnya.
"Aletha, jawabanku tidak akan berunah untuk Crystal itu. Lakukan! Hanya ini satu-satunya cara. Sekarang kau kembalilah dulu, ini akan berbahaya untuk kondisimu."
"Tapi, Welliam---"
"Aku bilang pergi!"
Welliam menghadang Katastrofi, mereka bertarung dengan sangat agresif.
"Tidak, Welliam!!"
Ini memusingkannya, kenapa keadaan malah menajdi menyudutkannya.
Dilihat dari pertarungan Fedrick dan Tahlia, sepertinya Fedrick mulai terpukul mundur. Sedangkan Welliam masih dalam kondisi baik, hanya saja..
CEPAT ATAU LAMBAT MEREKA AKAN MEMASUKI BATASANNYA!
"Kau memang tidak punya pilihan lain selain melakukannya, Dewi..."
Aletha menoleh, "Kau..."
--.o🍁o.--