
Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati, tetapi kita lari darinya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan, atau yang lain mengejar, untuk berbuat jahat atas namanya.
[ Kahlil Gibran ]
~••°..🍁..°••~
"Ini tidak mungkin, apa semua tabung sihir ini adalah yang kau maksud Carina?"
"Benar Dewi."
Aletha diam dengan tubuh yang menegang. Seribu, bukan! Lebih tepatnya ada sejuta tabung sihir yang didalamnya terdapat tubuh Troll raksasa dan juga Goblin yang sedang hibernasi menuju perubahan wujud monster mengerikan.
"Jadi ini yang dinginkan Octopus, saat memanfaatkan Tahlia? Dunia Imorrtal telah menjadi kotor, beraninya mereka!"
Aletha berjalan turun dan mengamati semua yang ada diruangan ini. Ada begitu banyak data dan berkas lusuh mengenai rancangan dari temuan gila ini, hingga Aletha menemukan sebuah buku yang menjadi permasalahannya.
Semua berkas dan buku ini, memang benar adalah hasil dari temuan seseorang apalagi terukir nama pemilik dari buku ini. 'Carzie Manhive', mereka membunuhnya hanya untuk mengambil kesempatan ini.
Octopus telah dikuasai oleh nabsu bodohnya, tapi untuk menjatuhkannya, tidaklah semudah itu. Mereka perlu bebrapa langkah lagi untuk mengungkap kelicikannya.
Untuk saat ini, mereka harus fokus ke Tahlia yang menjadi juru penggerak semua konflik tidak masuk akal ini.
"Ketemu." Ucap Aletha saat dia berhasil menemukan apa yang dia cari.
"Itu dia! Tahanan ada di ruang reset."
"Cepat tangkap, sebelum Lady Tahlia kembali."
Melihat musuh telah menangkap basah dirinya, dengan cepat Tahlia merobek beberapa bagian dibuku itu. Lalu memberikannya kepada Carina untuk disimpat, di kantung sihir.
Mereka menyerang Aletha dengan senjata dan kekuatan fisik. Bila menghunakan sihir, takutnya serangan itu akan menghancurkan tabung-tabung yang ada diruangan ini.
Tapi, kalian akan kalah jika melawan Aletha dengan kondisinya yang seperti ini. Karena, bertarung menggunakan pedang tanpa kekuatan manna, itu adalah keahliannya juga.
Semua serangan yang mereka berikan hanya menjadi angin lalu. Dengan mudahnya dia bergerak dengan sangat ringan, sembari melumpuhkan prtahanan musuh menggunakan pedangnya.
Separuh dari mereka tumbang, karena ulahnya. Lemah! Itu yang ada dibenak Aletha saat ini, sepertinya musuhnya ini tidak tahu siapa Aletha? Atau karena dia pergi terlalu lama, jadinya mereka melupakan seorang Polemou di Imorrtal ini.
"Dewi, jangan gunakan tenaga dalammu, sebisa mungkin hindari pertarungan. Kondisimu masih sangat lemah, bahkan manna-mu saja tidak sanggup memulihkan luka dilenganmu itu. Kita harus segera pergi, setidaknya menuju tebing ujung pulau ini. Sebentar lagi, pasukan bantuan musuh akan datang, jumlahnya semakin banyak."
Aletha juga tahu, jika dipaksa bertarung. Akan sulit baginya untuk mengulangi gerakan berpedangnya, karena tenaganya suduh cukup terkuras saat dia bertarung dengan Tahlia di Lorddark's Zone.
Ditambah manna-nya sejak awal memang tidak banyak, meski begitu walau manna-nya habis pun, itu tidak akan membunuhnya. Baiklah, lebih baik dia menyimpan manna yang tersisa. Siap tahu, dia akan menghunakannya lagi.
Aletha, berjalan kearah balkon berukuran kecil, lalu melihat kebawah. Benteng ini cukup tinggi dan juga masih ada banyak lagi bangunan besar yang tersebar diatas darat pulau melayang ini. Apa dibangunan lain terdapat ruang reset juga?
"Kau tidak bisa lari lagi!"
Aletha melirik kearah krumunan pemberontak yang sudah mengepunya. Dia tersenyum sinis, masih ada cara untuk pergi dari sini.
"Kalian, tidak sebading denganku."
Tiba-tiba saja, Aletha melompat dari balkon tinggi itu. Semua pasuka Titania berkerumunan melihat aksinya dari atas balkon.
Ternyata, Alteha berhasil mengimbangi dirinya. Dia meraih bendera panjang yang terpasang di dinding Benteng, lalu mengayunkan dirinya kesebrang lantai yang lebih rendah.
Saat posisinya telah pas, Aletha melepaskan pegangannya. Dan menutupi wajahnya dengan tangannya.
PRANG!!
Aletha menghantam jendela kaca yang saat ini telah hancur menjadi kepingan beling. Dia jatuh dengan sempurna sehingga tidak ada pecahan kaca yang melukainya.
Senyum kepuasan serta menyindir tercetak, saat melihat sekelompok musuh yang ada dilantai atas, berdecih kesal. Dia kembali berlari kekuar dari benteng lakn*t ini.
Namun dia tidak ingin keluar dengan hampa, sebagian Benteng ini berhasil dia ledakan, hingga mengancurkan separuh darih bangunannya. Saat Aletha sudah berhasil keluar, jarak untuk menuju sisi tebing begitu cukup jauh.
Aku perlu kuda atau hal semacamnya, agar bisa mempercepat menuju sisi tebing.
Hingga tapakan kaki kuda terdengar dengan begitu jelas, sepertinya itu adalah jenis Kuda Fega. Kuda putih yang memiliki spirit kecepatan yang lebih unggul.
"Aku berhasil, memanggil kuda spirit disekitar sini. Kau bisa menggunakan itu, Aletha."
"Kerja bagus, Carina."
Aletha menjinakan Kuda Feganya, lalu menaikinya untuk membawanya kesisi tebing. Tapi, keluar dari benteng musuh bukan berarti mereka akan berhenti mengejar.
Karena wilayah ini masih area kekuasaan mereka, berjarak sekitar 2 kilo meter darinya. Diatas padang rumput ini, berdiri sedikitnya 5 raksasa Troll yang siap menghadang, atau lebih tepatnya ingin menginjak serta menghancurkan Aletha.
Dilihat dari fisik mereka, sepertinya kelima Troll ini tidak termasuk dalam uji coba temuannya. Baguslah, hanya saja Aletha tidak punya pilihan lain selain menggunakan sihirnya lagi untuk bisa lolos dari mereka.
"Aletha, jangan gunaka--"
"Aku tidak akan mati, hanya karena kehabisan manna, Carina." Aletha mempercepat, laju Kuda Feganya.
Pedang ditangannya bersinar, lalu memecah menjadi jutaan bunga Wisteria. Mereka bergerak cepat kemudian menyelimuti raksasa itu.
Mata Aletha berkilat dingin, "Berlutut!"
Bunga Wisteria menebas kaki mereka, sehingga Troll itu jatuh berlutut dihadapannya. Saat Aletha berhasil melewati sekumpulan Troll itu, dengan cepat Wisteria mencabik, menyayat tubuh Troll menjadi sedemikian rupa parahnya.
Hingga rumput dibawah harus ternodai darah anyir mereka. Merubah padang rumput menjadi lautan darah, matahari mulai terbenam. Hari semakin gelap, sedikit lagi Aletha akan sampai pada ujung tebingnya.
Namun...
Boom!
Serangan dadakan dilancarkan dari arah belakang, membuat kuda Fega itu terhempas jauh. Sedangkan Aletha berhasil menghindarinya, hanya saja dibelakangnya adalah jurang.
Karena Pulau ini melayang, tentu akan memiliki ujung daratannya. Dia melirik kebawah, jauh dibawah sana terdapat bebatuan yang meruncing tajam, dengan terselimuti lautan lahar api yang begitu panas
Mereka membuat markas dengan begitu sempurna..
"Aku lengah.., kukira kau sudah tidak memiliki tenaga untuk melarikan diri. Kukira kau benar-benar sudah menyerah saat menusuk Matemu sendiri. Sepertinya cinta merubahmu, apa kau sebegitu inginnya menemui Matemu, Aletha?"
Aletha, kemabali menatap lurus. Dibalik kebulan asap itu, Tahlia berdiri lengkap dengan sabit kematiannya. Dia terlihat murka sekaligus marah. Yah, hal itu sudah pasti jika mendengar kabar Aletha melarikan diri.
"Tentu saja, kau yang tidak pernah merasakan hubungan Mate. Tidak akan tahu, apa aku perlu memasangkanmu dengan Katastrofi? Sepertinya kalian bisa menjadi Mate yang cocok."
"Bagiku, cinta hanya akan menimbulkan kejahatan! Kau benar-benar lincah seperti rubah, harus kuakui kehebatanmu dalam melarikan diri."
"Ini masih hal yang mudah dari pada medan perang, kau perlu banyak belajar lagi untuk strategi pertahanannya, Tahlia."
"Aku benar-benar ingin membunuhmu!!"
"Benarkah? Lalu, apa semuanya sudah siap? Karena kau lama, aku berniat mendatangimu sendiri ke kota Leryvora."
"Jika kau tidak sabar untuk mati, aku akan membantumu menemui Ayah dan keluargamu, terutama Sofia!"
Hugo kembali memecahkan dirinya menjadi kupu-kupu merah, Tahlia merubah sabitnya menjadi dua sabit kembar. Seolah mereka bersiap mencabik Aletha.
"Saat ini, kau sudah kehabisan manna. Itu berarti, sudah tidak ada lagi yang melindungimu, Aletha!!"
Aletha tersenyum sakarstik, "Tahlia, kuberi kesempatan untuk mengakhiri ini semua. Mari kita bertemu dimedan perang yang sebenarnya. jika aku kalah, akan kupastikan tidak akan ada yang membalas dendam ataupun mengganggu rencanamu. Tapi, jika aku menang itu akan menjadi akhir dari kehidupanmu. Perang ini, akan menjadi penentu siapa yang kayak hidup diantara kita!"
"Bagaimana, jika aku menolak?"
"Tapi, sayangnya. Kau tidak punya pilihan untuk menolak pernyataan perangku!"
Aletha menjatuhkan dirinya kebelakang, dimana sudah tidak ada tanah yang akan menopang tubuhnya. Melainkan, tebing yang langsung menghubungkannya kedasar batuan curam di daratan bawah.
Tahlia kaget melihat Aletha jatuh begitu saja dari tempat setinggi ini. Dia melihat kebawah namun, tidak menemukan Aletha yang tengah terjun.
"Lady, Benteng diserang oleh burung aneh!"
"Apa?!!"
Dari jauh Tahlia melihat burung elang berukuran besar dengan diselimuti hawa dingin yang mampu membekukan lingkungan sekitarnya, dengan sekali sentuh. Bahkan saat ini elang itu, tengah bersandar disalah satu bangunan benteng tertinggi miliknya.
Beberapa bangunan telah membeku, dengan ketebalan es yang sulit dihancurkan.
"Bagaiman dengan tabung sihirnya?!"
"Se..sebagian telah hancur, La---"
Crash!!
"Dasar tidak berguna!!"
Tahlia, menggeram kesal. Lalu dia menatap keatas langit, saat menyadari musuhnya tengah melihatnya dengan sangat angkuh.
Saat Aletha jatuh, disaat itu juga Welliam datang lalu menangkub tubuh sang Istri. Lalu membawanya terbang tinggi, melihat kepanikan serta kemarahan Tahlia dari atas. Layaknya menonton sebuah pertunjukan drama teater.
Aletha berpijak pada pola sihir yang dibuat Welliam untuk menahan mereka agar tidak jatuh, Welliam memakaikan jass-nya kepundak Aletha guna menghalau udara dingin di daerah ini.
"Apa aku perlu menghancurkan pulau ini?"
"Memangnya kau bisa?"
"Kau tidak percaya?"
"Em.., sedikit." Aletha terlihat ragu menjawab.
Welliam tersenyum smirk. "Kalau begitu lihatlah. sekalian aku juga ingin menguji, seberapa kuatnya pedangmu ini."
Aletha melihat pedang hitam ditangan Welliam. Dia tersenyum bangga, Aletha tahu pria yang dia cintai bukan Pria yang lemah. Bahkan, pedangnya saja mengakuinya.
"Pedang itu sudah menjadi milikmu, sekarang kita bisa berjalan dengan adil untuk menyimbangi dunia ini. Jadi, buktikan kepada mereka siapa Raja diatas segala Raja, My Lord."
"Setelah ini, akan kubuat perhitungan denganmu, Ratuku!"
Welliam mengangkat pedangnya, mata merah segelap darah berkilat terang. Kekuatan manna Welliam menguar hingga bisa dirasakan musuh. Kobaran api hitam memutari pulau itu, seolah tengah membuat jeruji sel penjara terbesar.
Zymba terbang kelangit, agar tidak ikut terkurung. Pola-pola sihir besar berwarna merah mengelilingi pulau melayang itu, mereka semua telah terjebak dibawah kendali Welliam.
"Tahlia, mumpung masih ada waktu kau harus melarikan diri! Lord Demon itu, sangat kuat! dia akan mampu menghancurkan satu pulau ini."
"Aku tidak lemah, Hugo!"
"Apa kau sudah lupa? Darah Vasilissa dan Vasilias mengalir di dalam tubuhnya, kau belum sebanding dengan mereka. Saat ini efek sihir dari temua Carzie, belum sutuhnya sempurna. Jika kau paksakan melawan mereka, tubuhmu akan hancur. Kita harus mundur untuk membuat strategi baru lagi! Dan juga, markas benteng di Darkness World telah dihancurkan, oleh salah satu Tetua dari fraksin musuh."
"Apa! Siapa kepar*t itu?!"
"Dia adalah Tetua Briant. Cepat kita harus pergi! Apinya akan segera mengurung kita!"
Tahlia menatap benci kearah Aletha dan Welliam. "Aku terima pernyataan perangmu, Aletha. Seminggu lagi, ditanah Agra mari kita tentukan siapa yang layak diantara kita. Sekaligus, menjadi penentuan akhir dari dendam ini semua!!"
"Aku menantimu, Tahlia."
Lalu Tahlia menghilang menjadi beberapa kupu-kupu. Tepat disaat itu, Welliam menggunakan pedang hitamnya untuk menebas dalam sekali serangan.
Hasilnya, begitu sangat luar biasa!! Pulau itu terbagi menajdi dua, lalu pola sihir yang terpasang disekelilingnya, mulai mengahancurkannya dan semua yang ada disana, dengan bola sihir mematikan.
Pulau itupun meledak, memecah belah tanah menjadi bebebrapa bagaian sebelum akhirnya jatuh kedaratan yang ada dibawah mereka.
"Tenggelamkan!"
Welliam bertitah mutlak, lahar api yang ada dibawah sana menggulung menjadi gelombang tsunami, lalu menghantam pulau porak-poranda itu hingga menenggelamkan tanpa ada sisa yang utuh.
Dengan kata lain, mereka yang ada dipulau itu, tidak ada yang selamat dan mati dalam sekali pembantaian. Aletha sedikit gemetar takut, meski dia kuat, meski dia bisa juga menghancurkan pulaunya.
Tapi, level Welliam terlalu kuat. Lebih mengerikannya lagi dia mampu memerintahkan alam yang ada di Imorrtal. Tidak kah ini sama saja dengan sosok Raja terkuat? Sebenarnya sekuat apa Welliam ini?
Pantas saja, dulu setiap Aletha bersama Welliam dia tidak bisa memberontak. Kekuatannya seakan hilang dan menjadi lemas, itu karena dia memiliki kekuatan lebih tinggi darinya.
Jadi ini yang ditakutkan Octopus, bahwa kaum Demon bisa menjadi ancaman bagi Imorrtal. Pantas saja, Tahlia mencoba menunduki bangsa Demon.
"Apa kau takut, sayang?" Bisik Welliam.
Aletha melihat sang pujaan kekasih, sekilas dia melihat lambang aneh dikening Welliam. Lambang yang sama persis dengan milik Zymba.
"Aku sudah menikahimu. Lalu apa lagi yang harus kutakutkan. Yah, walau kau kadang memang menyeramkan sih.."
"Syukurlah.., kalau begitu sekarang tinggal membuat perhitungan denganmu."
"Apa?"
"Beraninya kau memutuskannya sendiri tanpa meminta pendapatku, bahkan kau sampai menusuk Suamimu sendiri?!"
"Kan, aku sudah bilang. Kita juga harus bermain drama. Alasannya juga kau sudah tahu, kan? Lagipula, kau sendiri datangnya teralalu lama! Apa sesuah itu untuk mengingatku?!"
"Aku tidak mungkin melupakanmu, jika kau ingin marah salahkan saja Thana, dia sendiri yang mengganti ujiannya. Tapi yang aku syukuri, aku masih melihatmu, Aletha.." Ucapnya seraya memeluk sang Mate.
"Bukankah, kau sendiri yang bilang. Aku hanyabpunya pilihan hidup bersama, jika kita mati bersama. Bisa-bisa aku ke surga kau yang ke neraka.."
"Asumsi macam apa itu?!"
"Hanya ungkapan kata saja. Lagipula, Tahlia memang tidak bisa menghukum mati diriku, kau lupa? Persyaratannya, kan. Jika aku memberitahu kalian bukan jika kalian mengetahui jati diriku! Tapi, karena ini aku juga tidak perlu menyembunyikannya lagi. Jadi, terimakasih telah menepati kata-katamu, Welliam."
"Aku akan selalu disismu, kau juga. Jangan coba-coba mengambil keputusan sendiri!"
"Baik, Baik, Paduka Lord.." Aletha tersenyum.
Welliam menangkub wajah sang kekasih, ia pandangi lekat kedua mata biru yang hampir tidak bisa dia lihat lagi. Bisa gila, jika Aletha benar-benar tidak disisinya lagi.
Hanya saja, dia sedikit khawatir dengan keputusan Aletha. melihat dari sebelumnya saja, Aletha masih terpukul dengan kebenaran ini.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu?" Welliam, kembali serius.
"Tentu saja, kita sudah harus menyelesaikan ini."
"Maksudku, apa kau sudah menyiapkan hatimu. Buaknkah perang ini juga akan memaksakanmu, untuk membunuh Adikmu?"
Aletha tahu kekhawatiran Welliam, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Welliam. "Aku harus bersikap adil, meski sedikit berat. Tapi, Tahlia memang harus dihukum, Welliam." Lirih Aletha.
Welliam memeluk erat Aletha, berharap ini bisa menenangkan dirinya. Biasanya orang yang dipercaya, justru adalah musuh yang sebenarnya.
"Kau benar. Mau tidak mau, kita memang harus mebgadili mereka. Karena sudah waktunya, perang yang sebenarnya harus segera dimulai. Demi kedamaian Dunia ini.."
Tahlia, tunggulah sebentar lagi. Kakakmu ini akan segera menarikmu dari penderitaan ini, jadi mimpi indahlah setelah aku membunuhmu...
Aletha tahu, meski dia telah dikhianati. Tapi ini juga salahnya, harusnya dia jelaskan mengenai Ayahnya sedari dulu agar dia tidak salah paham.
Agar Tahlia tidak tersesat dijalannya. Mungkin saja, dia masih akan tetap melihat Adiknya yang begitu polos dan ceria seperti dulu.
--.o🍁o.--
Terimakasih banyak telah menanti cerita ini hingga memasuki fase ending. Author sangat tersanjung, atas dukungan kalian☺❤
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak, Agar Author semangat!!❤
NEXT UP CHAPTER :
" HARI SELASA "
Bila Up tidak sesuai hari, berarti sedang dalam proses review. Mohon pengertiannya..
Salam Manisa
Author 😘