The Queen of Different World

The Queen of Different World
The Test ; Amnesia?!



Apabila cinta memanggilmu…


Ikutilah dia walau jalannya berliku-liku.


Dan, apabila sayapnya merangkummu...


Pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi disela sayap itu melukaimu.


[ Kahlil Gibran ]


~°•° ^.🍁.^ °•°~


Aletha menghunuskan pedangnya tepat di jantung Welliam. Membiarkan keheningan menelan mereka yang menatap tidak percaya, dengan apa yang dilakukan Aletha.


Bahkan Tahlia pun, tidak mengerti kenapa Aletha melakukan itu. Sedangkan Fedrick benar-benar terkejut bahkan ingin marah.


Saat hendak menuju kearah Aletha, namun Rechyla menghadang Fedrick. Seraya memberikan isyarat, untuk tidak melangkah lebih jauh dari tempatnya itu.


"Kuharap kau punya alasan jelas, karena menghentikanku!"


Rechyla menghela nafas, "ini satu-satunya cara agar kita bisa mengikuti alur permainan musuh. Aletha punya alasan tersendiri kenapa dia harus melakukannya."


"Langsung keintinya, Rechyla!"


"Welliam menginginkan Crystal Ekdikisi Tanatho mengakuinya sebagai Tuan nya. Tapi, untuk menjadi Tuan dari Crystal terakhir tidaklah mudah. Crystal itu memiliki arti Dendam Kematian, maka Welliam harus melewati kematian itu sendiri."


"Ujian.."


Apakah itu benar? Tapi Aletha terlihat benar-benar seperti mengkhianati Welliam. Setelah memikirkannya kembali, amarah Fedrick mulai mereda, mungkin dia harus lebih memprcayai mereka.


Meski ini diluar nalar, tapi dia yakin Aletha tidak akan melakukannya tanpa alasan jelas. Harusnya, Fedrick tahu ini juga tidak akan mudah unruk Aletha.


Karena dia harus membunuh orang tercintanya, meski itu untuk kebaikan semua konflik yang tak berujung klimaks. Tapi, kenapa Aletha memilih untuk menyerahkan diri?


"Tidak! Jangan per--ugh! Uhuk!!"


Welliam menutup mulutnya yang penuh dengan darah. Pandangannya mulai mengkabur, seiring Aletha berjalan pergi memasuki portal dimensi itu.


Jangan pergi, Aletha..


Welliam mulai kehilangan kesadarannya, namun sebelum dia tumbang dan jatuh ketanah. Lucy hadir, lalu menangkup tubuh sang Kakak.


Bisa dia rasakan darah kental sang Kakak yang begitu hangat, menodai tangan mulusnya. Ia sungguh tidak menyangka, Aletha benar-benar akan mengambil tindakan ini.


Aletha tersenyum lega saat melihat Lucy datang tepat waktu. Syukurlah, sepertinya Carina telah menyampaikan pesannya. Lucy melihat Aletha, haruskah mereka mengalami hal menyedihkan seperti ini?


Oh, sungguh. Tidak kah ini lebih menyakitkan? Padahal mereka saling mencintai tapi kenapa harus tetap memilih berpisah?


Sedangkan dia yang mengharapkan arti dicintai, tidak pernah dapat kesempatan itu. Tapi, Lucy yakin mereka akan segera bersama.


"Kau harus bisa meyakinkannya, aku akan selalu menunggunya.." Lirih Aletha.


Pedang hitam Aletha menghilang menjadi siluet asap, kemudian menyatu seolah terhisap kedalam pita merahnya yang saat ini ada pada Lucy.


Tepat disaat itu, gerbang dimensi tertutup rapat, lalu menghilang tanpa meninggalkan jejak.


"Aku pasti akan meyakinkannya, kak."


Lucy mendekap erat tubuh Welliam yang mulai dingin. Ia sedikit panik, terlihat Welliam benar-benar tersiksa. Pemandangan ini begitu persis ketika Aletha yang dulu dalam posisi kritis.


"Ayah, kita harus segera menolong Kakak. Kak Aletha bilang, 10 menit setelah Kakak tertususk Crystal-nya akan mulai bekerja untuk menghancurkan jantungnya."


Angin datang berhembus kencang. Luna hadir dalam wujud hewan spirit best-nya, Lucy sedikit terpesona dengan wujudnya yang benar-benar menakjubkan.


Ini pertama kalinya dia melihat sosok tou fos tou febgariou secara langsung.


"Queen Alicia telah mengetahui kejadian ini, kita harus membawa Lord Welliam kembali ke Castle Rosaria."


"Lucy kau bawa kakakmu bersama Luna, Ayah akan menyusul."


Lucy mengerti, dia harus cepat menolong Kakaknya karena Aletha juga saat ini dalam bahaya.


Luna mengepakan sayap keanggunannya, lalu mereka terbang tinggi sehingga Lucy mampu melihat dengan jelas seluruh permukaan daratan dan perairan dunia Darkness World.


Belum lagi langit kelam yang mulai memasuki fajar, cahaya mentari sedikit demi sedikit menampakan sinar gemilangnya.


"Aletha.."


Lucy kembali melihat kearah Welliam, "bertahanlah kak. Kau pasti bisa melewati ujiannya!"


Fedrick yang masih di hutan Lorddark's Zone juga akan bersiap menuju Castle Roseria. Dia melihat Rechyla yang sedang menatap darah Welliam yang tersisa dibeberapa kelopak bunga Wisteria.


"Apa kau akan ikut?"


"Saya tidak bisa keluar dari wilayah ini, Yang Mulia. Tapi, saya akan mendoakan semoga Paduka Lord masih dalam lindungan to iliako fos."


"Kalau begitu, aku pergi dulu.."


Fedrick melebarkan sayap hitam perkasanya, yang menkadi identitas bangsa Demon. Lalu terbang dengan sangat cepat pergi ke tempat Istrinya.


"Entah mengapa, aku masih saja khawatir. Apa menurutmu mereka akan berakhir seperti kita Ardsekar?"


Ardsekar menunjukan sosoknya disebelah Rechyla. Selama ini dia selalu ada disisinya, hanya saja mereka tidak dapat melihatnya.


"Mereka akan baik-baik saja, aku berani bersumpah atas nama matahari Darkness World. Bahwa mereka akan mengakhiri semua pertikaian yang selalu memilin waktu berkepanjangan."


"Semoga saja, kedamaian dan keadilan menyertai dunia ini."


"Itu pasti, karena sekarang dunia ini pun telah sempurna. Dulu saat aku belum menduduki kursi kekaisaran, aku pernah mendengar cerita legenda. Bahwa sebenarnya, Imorrtal dan Darkness World adalah dunia yang saling berdampingan. Setiap Ratu yang berkuasa di Darkness World, memang harus berketurunan Dewi yang terpilih. Begitu juga sebaliknya untuk Imorrtal. Tapi, waktu akan menenggelamkan kebenaran dari kisah fana itu, sehingga kabar itu hanya menjadi angin lalu. Dan sekarang aku percaya terhadap cerita legenda itu, saat melihat mereka hidup bersama."


"Jika saja aku dapat berguna diwaktu itu, mungkin..."


"Kau sudah melakukan tugasmu sebagai Ratu dengan baik, Rechyla. Bukumu, menghantarkan kebenaran kepada mereka yang menjadi generasi kita. Tugas kita pun telah selesai, tepat dihari kematian kita. Karena masa ini, bukan lagi bagian dari sejarah kita."


Rechyla merangkul hangat di dalam pelukan sang kekasih, ia juga tidak perlu cemas. Aletha juga percaya bahwa Welliam pasti akan bisa melewati semua rintangannya.


"Aku yakin.., Welliam tidak akan melepaskan genggamannya kepadaku, dia pasti akan datang kepadaku, karena dia sudah berjanji akan membawaku kembali kesisinya. Kami hanya punya pilihan untuk tetap hidup bersama, itulah yang membuatku percaya pada keberhasilan 1% ini."


Rechyla tersenyum lembut mengingat ucapan Aletha saat dia bersikeras menahan Aletha. Karena takdir mereka, memang akan hidup dibawah cahaya yang membawa sejuta kebahagian.


--.o☘o.--


*Castle Roseria.


Lezzy seberusaha mungkin menolong Putra tunggalnya dengan kekuatan dari Crystal kehidupan miliknya. Setiap kelopak bunga mawar hitam yang mencoba mengobati luka pada jantung Welliam, sihir itu tidak mempan.


Sepertinya Crystal Ekdikisi Tanatho benar-benar telah menjadi kuat, apalagi dia mampu memecahkan segala bentuk sihir dengan mudah.


"Ibunda, bagaimana kondisi Kakak?"


"Sepertinya, kita memnag tidak bisa menolongnya. Welliam sendirilah yang harus mampu bangun dari alam sadarnya. Untuk saat ini, tekan terus darahnya agar Welliam tidak kekurangan darah."


"Baik, Yang Mulia.." Jawab para Alkemis muda.


"Kakak kumohon, bangunlah.."


Lucy menggenggam erat tangan sang Kakak berharap mata yang tertutup itu akan segera terbuka.


.


.


Tring!!


Welliam membuka matanya, mendapati saat ini dia berada disebuah dimensi berbeda. Sekelilingnya begitu gelap, sedangkan dibawah pijakannya terdapat padang bunga Lycoris merah, yang menjadi penerangnya.



Tapi, Welliam tidak akan terlalu terkejut dengan situasi saat ini.


"Kau yang bersikeras menginginkan Crystal-nya, maka aku percaya kau bisa melewati ujian kematian ini untuk bisa diakuinya. Kita juga perlu bermain drama agar bisa mengklabui musuh. Jadi, cepatlah kembali aku akan menunggumu, Welliam.."


Karena sebenarnya Aletha telah memberitahunya, saat dia memperdalam pedangnya sembari berbisik kepadanya.


Welliam harus segera keluar dari tempat ini, Aletha sedang menunghunya. Apa pun ujiannya dia pasti akan menaklukannya.


Welliam melihat sekelilingnya yang benar-benar sangat kosong dan gelap. Hingga pada akhirnya, dia melihat sosok kecil berukuran hanya sejengkal jarinya.


Mahkuk berjenis Fairys perempuan, yang penampilannya dominan berwarna merah kecuali kulit putih dan berambut hitam. Saat ini Fairys itu tengah duduk santai diatas batu permata besar, berwarna hitam keunguan.


Meski dia tidak tahu bagaimana bentuk Crystal-nya. Tapi Welliam berani menebak bahwa Fairys itu ada kaitannya dengan Crystal Ekdikisi Tanatho.


"Apa kau---"


"Sepertinya, aku kedatangan tamu yang tidak diundang. Harusnya kau tidak melangkah ketempat ini, Tuan. Kau hanya akan menggali pemakaman untukmu sendiri."


Meski bertubuh kecil, tapi Fairys ini punya suara lembut yang terdengar sangat dewasa. Hanya saja, sejak tadi dia tidak melihat ataupun melirik kearah Welliam. Malah dia bersantai sembari membaca buku dengan tenang.


"Ak--"


"Lupakanlah jika kau ingin menaklukan Crystal-nya, itu akan sia-sia. Tidak akan ada yang bisa keluar dari kematian ini, atau kau mau seperti Katastrofi yang bodoh itu?"


"Aku tidak berniat meminjam kekuatan dari Crystal itu!"


"Begitukah? Sayang sekali, meski bayarannya adalah kehidupanmu. Tapi setidaknya, kau masih diberi kehidupan bersyarat. Bukankah, kedua caranya tetap sama. Meminjam atau bukan, kau akan tetap mati.."


"Berhenti bercanda, aku sedang membutuhkan Crystal-nya untuk--"


"Lupakan ambisimu, tidak ada satupun yang berhasil kembali dari kematian ini. Ha.., sepertinya akan bertambah satu lagi koleksi bunga Lycoris ku. Kali ini kuletakan dimana ya?"


Koleksi? Mungkinkah, semua bunga Lycoris ini adalah orang-orang yang gagal?


"Aku mengerti, kau adalah wujud asli dari Crystal Ekdikisi Tanatho.., ternyata Aletha membuatmu dengan sangat sempurna, sifatmu itu juga mirip sepertinya."


Fairys itu menutup bukunya, lalu menatap Welliam dengan begitu dingin.


"Aku memang wujud asli dari Crystal-nya, Dewi membuatku dari bagian kecil pada pedang kematiannya, Arcgreo Die. Jika aku bersatu dengan pedang hitamnya dan kembali ketangannya, maka pedangnya akan kembali menjadi sempurna. Tapi, tetap saja aku tidak mengerti. Kenapa Dewi harus mengirimmu kepadaku?"


"Bukankah sudah jelas, bahwa dia ingin kau mengakuiku sebagai Tuanmu."


"Kalian selalu tamak dengan kekuatan. Kalian menafsirkan dengan pola pikir dangkal, bahwa aku bisa digunakan untuk balas dendam. Tapi sebenarnya aku diciptakan bukan untuk menjadi sehina itu.."


"Aku tahu, Ekdikisi Tanatho adalah salah satu pelindung Darkness World. Kau bukan pembawa bencana, hanya saja kematian yang dimaksud adalah menghukum mati semua pendosa yang ada ditanah kegelapan. Menghancurkan dendam-dendam yang membawa kerugian bagi seluruh mahluk yang ada di Darkness World, menuntun Lord atau Queen yang kau akui untuk membukakan kembali kehidupan yang layak, serta membantu untuk menciptalan kedamaian dengan keabadian. Itu adalah tugasmu."


"Saat ini, kau yang pertama dalam menafsirkan garis besar dari tugasku. Jawabanmu, cukup memuaskanku. Tapi, aku hanya mengakui penguasa dari Darkness World bukan dari Imorrtal."


"Apa maksudmu?"


"Kau itu sebenarnya yang mana? Identitasmu memang menyatakan bangsa Demon, hanya saja aku merasakan kau memiliki aura khusus dari bangsa Imorrtal. Apa kau mahkuk setengah dari kedua mahkuk itu?"


Welliam tersenyum smirk. "Mungkin. Kalau secara sil-silah kekuarga, Ayahku adalah Lord dari bangsa Demon sedangkan Ibuku putri dari Selini Thea, hanya saja Ibuku tidak tumbuh besar di Imorrtal. Dan kalau pun kau bertanya, aku yang mana? Tentu saja dengan bangga aku memilih bangsa Demon. Itu lebih cocok untuk ku."


"Kalau begitu, kau adalah Lord yang sekarang. Tapi, kenapa Dewi Polemou bisa mengenalmu? Apa hubunganmu dengan Dewi?! Mungkinkah, kau berniat mengambil kesempatan ini untuk membunuhnya?"


"Kenapa aku harus membunuh Mateku sendiri? Alasanku datang kesini untuk membawa kembali Istriku yang mencoba kabur, dan juga menghabisi musuh yang hanya menjadi hama di duniaku. Jika kau tidak mau, jangan salahkan aku, untuk bermain sedikit kekerasan denganmu!"


Welliam menatap tajam, dengan menunjukan mata dark blood-nya yang begitu menekan jiwa dan batin. Fairys itu sampai merasakan aura kuat, yang sangat mengerikan dari Welliam.


"Ini menarik," Fairys itu terbang mendekat kearah Welliam.


"Jika kau ingin aku mengakuimu, kau harus membuktikan bahwa kau kayak."


"Aku hanya perlu melewati kematian ini, bukan?"


"Tidak, aku akan mempermudah ujiannya. Aku bosan bermain hal yang sama, begini saja, aku akan membantumu keluar dari dimensi kematian ini, sebagai gantinya aku menginginkan ujian lain yang harus kau lewati."


"Ujian pengganti?"


"Kenapa, kau takut?"


"Jangan membuat lelucon, katakan apa ujian itu."


Fairys itu tersenyum menang,


"Kau akan ............., waktumu hanya sampai matahari terbenam. Jika kau bisa melewatinya, aku akan mengakuimu dan mengabdi setia kepadamu, Yang Mulia Lord."


Welliam benar-benar terkejut dengan ujian yang diajukan. Namun, saat dia hendak membantah, Fairys itu menjetikan jarinya membuat dimensi tempat itu seakan menarik keluar jiwa Welliam dari sana.


"Aku ingin lihat sebesar apa kau mencintainya. sekarang bangunlah, Yang Mulia Lord!!"


Tring!!


.


.


Lucy masih setia disebelah Welliam, ini sudah lewat 30 menit. Darahnya juga kian semakin banyak yang terus keluar, banyak Alkemis yang kewalahan menangani hal ini.


Sihir penyembuh terus dikerahkan, agar jantungnya tidak rusak hingga ketirik parah. Lucy sudah sangat takut, bagaimana jika dia kehilangan kedua kakak tersayangnya. Terlebih mereka adalah pasangan Mate yang begitu harmonis baginya.


Tapi rasa khawatir itu tak berangsur lama, perlahan jemari Welliam bergerak. Dan yang paling membuat Lucy diam tertegun, saat dia menyaksikan sendiri bagaimana darah pada luka di dada Kakanya terselimuti cahaya.


Prlahan darahnya membentuk bunga Lycoris dan membantu menyembuhkan luka fatal itu. Ajaibnya, luka tusukan pedang itu sembuh total seperti tidak pernah terluka sedikitpun, lalu bahaimana dengan jantungnya?


"Ayah, Ibu, cepatlah kemari!!"


Mendengar suara jeritan sang Putri, Lezzy dan Fedrick yang sedang berbincang dengan Alkemis Haikal, buru-buru mendatangi Lucy.


Sama halnya dengan Lucy, mereka tak kalah terkejutnya. Apa Welliam berhasil melakukanya?


"Tuan Haikal, tolong kau periksa jantungnya?!"


Haikal melakukan seperti apa yang dikatakan Lucy, " Ini sungguh luar biasa, Yang Mulia. Saya be---"


"Langsung katakan intinya!"


"Pa-paduka Lord benar-benar telah sembuh, bahkan tidak ada luka kecil yang tersisa."


"Sungguh? Kakak ku sungguh telah sembuh to--"


"Kenapa kalian begitu berisik?!"


Mereka semua menoleh kearah Welliam yang mulai tersadar dan mencoba bangun.


"Kenapa begitu ramai disini? Dan juga sejak kapan kamarku berubah?"


"Kakak, saat ini kita sesang ada di kediaman kakak, Castle Roseria."


"Roseria? Aku tidak pernah berniat tinggal disini, meski aku telah menkadi Lord. Loise!!"


Loise memasuki kamar itu, saat Tuan nya memanggil. "Ya Paduka."


"Apa kau yang membawaku kemari? Lain kali jika aku kelelahan bekerja jangan pernah bawa aku ke Castle ini! Kita kembali ke Violence sekarang."


"Apa?"


"Apa kau sekarang tuli?"


"Tapi paduka, tempat ini adalah kediaman anda. Beberapa saat yang lalu anda hampir saja mati, jadi kami berusaha menolong and--"


"Mati? Apa kau fikir aku selemah itu? Sebenarnya ada apa dengan kalian semua?"


Lezzy dan Fedrick saling bertatapan, ada yang aneh dengan Welliam. Melihat sikapnya yang acuh dan dingin seperti ini. Mengingatkan mereka dengan sifat Welliam, jauh sebelum bertemu dengan Aletha.


Dengan kata lain, dia kembali pada saat dirinya dijuluki sebagi tiran tak berbelas kasih.


"Putraku, apa kau mengingat kami semua?"


"Ya, tentu saja aku ingat kalian. Kenapa Ibu bertanya seperti itu?"


"Ka-kakak, apa kau ingat dengan Matemu?"


"Apa kau membuat lelucon untuk ku, Lucy? Bukankah kau tahu, aku paking tidak suka di dekati perempuan manapun, termasuk istilah Mate seperti itu!"


"Tidak, coba kakak ingat baik-baik. Kakak telah menemukan belahan jiwamu, bahkan saat ini kalian sudah menikah. Apa kakak lupa, Aletha Wisteria adalah Istrimu dia adalah Queen yang bersanding denganmu."


"Berhenti bercanda, aku tidak suka candaanmu ini, Lucy. Dan juga, siapa itu Aletha?"


Lucy diam, mungkinkah ini yang dimaksud Aletha pada pesannya. Bahwa kemungkinan, Welliam akan melupakannya jika dia berhasil melewati kematiannya.


..~.•°•🎍•°•.~..


"Kau akan melupakan seseorang yang paling berharga dalam hidupmu, waktumu hanya sampai matahari terbenam. Jika kau bisa melewatinya, aku akan mengakuimu dan mengabdi setia kepadamu, Yang Mulia Lord."


--.o🍁o.--