The Queen of Different World

The Queen of Different World
Answer Aletha's Heart



"Aku sudah pernah bilang kepadamu, jangan pernah mencari tahu tentang masalalu ku, terutama untuk jati diriku, Welliam!"


.


.


Apa yang telah kulakukan, sangking terkejutnya aku sepontan mendorong Welliam. Apa aku terlalu berlebihan? Sepertinya aku terlalu membentaknya.


Tunggu, kenapa jadi aku yang merasa bersalah, kan dia yang mulai duluan. Lagipula ini bisa gawat jika dia memaksa untuk tahu. Ah, lupakan itu. Sebaiknya aku meminta maaf dan mencoba menjelaskannya, agar dia tidak terlalu curiga.


"Aletha?"


"Aku membencimu. Tidak bisakah kau berhenti mengusik hidupku!"


Wah!! Bukan itu yang ingin kukatakan. Argh! Rasanya aku ingin mati saja. Bagaimana ini, apa yang harus kukatakan? Ck kenapa mulutku tidak bisa menurutiku sih.


Welliam masih diam tanpa sepatah kata, biasanya dia akan langsung marah. Tunggu, kenapa aku yang jadi khawatir sih. Sungguh ini benar-benar bukan diriku. Tapi, bukankah bagus jika aku memgatakannya, akan lebih baik juga bila semua berakhir di hari ini.


Ayo Aletha, akhiri semua ini sebelum semua benar-benar berat bagimu. Ingat alasanmu untuk selalu bersembunyi dari mereka, jika perasaanmu terombang-ambing hanya karena ikatan Mate. Itu akan semakin membahayakan keadaan, katakan..katakan sekarang juga!


"..........."


Tidak bisa, bibir ini benar-benar sudah sangat kelu. Kenapa susah sekali mengatakannya, sebenarnya apa alasanku tetap dibiarkan hidup? Jika saja waktu itu hukumanku adalah hukuman mati, mungkin semua tidak akan menjadi seperti ini. Dewi Selini Thea, ini sungguh tidak adil untuk ku.


"Aletha, aku tidak bermaksud memaksamu. Jika kau ti--"


"Diam, aku sedang tidak ingin memabahasnya."


Dengan tatapan datar, aku meraih kalungku yang terjatuh. Lalu berjalan melewati Welliam, suasana benar-benar sangat canggung. Padahal cuacanya cerah, nuansanya juga indah.


Tapi kenapa, kenapa kami tidak pernah bisa merasa nyaman untuk satu sama lain. Apa karena dia seorang bangsa Demon? Apa karena insiden dimasa laluku? Atau apa karena aku terlalu takut, bila jati diriku terungkap?


"Berhenti.."


Aku mengabaikan ucapan Welliam, dan masih terus berjalan.


"Aku bilang berhenti, Aletha!!"


Dia menarik ku lalu sedikit mendorong tubuhku dengan kasar kearah pohon, yang hanya menjadi satu-satunya miniatur penghias ditengah danau.


Dia terlihat sangat kacau, bukan lebih tepatnya marah. Tatapan lembutnya tadi seketika berubah menjadi lebih tajam, seolah dia ingin menuntut sesuatu dariku.


"Kenapa kau selalu menolak ku? Apa yang kurang dariku? Katakan, katakan Aletha!"


"Semuanya memuakan!!"


Sudah cukup! Aku lelah, aku lelah dengan semua konflik hidupku yang tidak pernah berhenti. Ya, aku memang bukan manusia. Aku hidup jauh lebih lama darimu, tapi kau tidak tahu Welliam.


Selama hidupku, aku sudah cukup banyak menderita hanya untuk menanggung takdir yang selalu mendesak ku, dengan rasa bersalah.


Tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku takut jika terus seperti ini, perasaanku kepadamu akan benar-benar serius. Dan bila itu terjadi hanya ada satu kata yang akan mendesak kita, yaitu berpisah.


"Apa yang membuatmu, muak?!"


"Semuanya, aku muak dengan semua ini. Kau bukan siapa-siapa untuk ku, tetapi kau memegang kendali dalam hidupku! Menyuruh sesukamu, dan berbuat sesukamu!! Kau pikir aku suka dengan semua ini, hah?"


"Aku sudah pernah bilang, kau adalah ma--"


"Mate mu. Kau selalu bilang aku adalah pasangan yang ditakdirkan untukmu, itu semua tidak benar! Perasaanmu kepadaku itu tidak nyata, kau menyukaiku karena kita saling terikat dalam hubungan Mate. Ini konyol! Kita baru bertemu, kau tidak tahu apapun tentangku, begitu juga denganku. Kau tidak pernah tulus kepadaku."


"Aletha.."


Welliam diam, dia tidak tahu dan benar-benar sangat bingung. Ia tidak mengerti, kenapa Aletha bisa punya pikiran seperti itu.


Bukankah sudah sangat jelas mereka memang pasangan Mate, apa selama ini dia tidak merasakannya juga? Sebenarnya apa yang dia lewati selama hidupnya ini.


Sudah cukup. Jika kau terus bersikap sangat kacau seolah kaulah yang terluka, maka aku adalah orang yang paling terkuka, Aletha.


"Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku, aku selalu menepati kata-kataku. Jika aku bilang kau adalah Mate ku, maka itu harus terjadi. Tidak perduli siapa dirimu, darimana asalmu, masalah apa yang sedang kau alami. Karena yang aku tahu, wanita yang saat ini kucintai ada dihadapanku. Meskipun aku harus melawan takdir sekalipun! Aku akan tetap memilihmu."


Ini menyebalkan, kenapa kata-kata itu terdengar sangat tulus tapi secara bersamaan juga, menakutiku.


Welliam memeluk ku, ini menyakitkan pelukan ini melukai hatiku. Semakin aku menolak, rasanya ada ribuan pisau yang menggores hatiku. Aku menangis perih, argh! Aku ingin berteriak, aku ingin marah, aku..aku benci dengan perasaan ini.


"Ini tidak adil, kau tidak boleh berkata seperti itu, Welliam."


Bisik ku dengan sangat lirih, kedua tanganku membalas pelukannya. Meresapi kehangatan, yang selalu membuatku nyaman.


"...apakah Kak Aletha bisa terus-terusan membohongi perasaan yang sebenarnya?"


Tanpa sadar aku telah larut dalam kehadirannya, aku selalu menolak bahwa aku memang merindukan sosoknya. Aku ingin dia selalu bersamaku, tapi secara bersamaan aku juga takut dia pergi dariku, mengingat masih ada satu masalah besar yang sampai saat ini tidak bisa kutangani.


"Ini tidak adil.., aku benci! Aku benci mengakuinya, bahwa aku bebar-benar sudah terlanjur mencintaimu!!"


TCRING!!


Wush....


Seakan alam menjadi saksi, seakan bulan menjadi wali, dan seakan dia, sang Dewi yang menuntun jalanku hingga kedetik ini melihatnya. Merekam jelas dengan apa yang kukatakan, pada malam yang sungguh menyebalkan untuk ku.


Lonceng pada pita merahku kembali berainar terang, bunga teratai kian bercahaya. Angin berhembus lembut, bulan tetap menyinari kami. Perlahan pohon tua yang berada dibelakangku, terselimuti cahaya kecil bagaikan kunang-kunang.


Lalu tumbuh puluhan hingga ratusan bunga Wisteria, yang merambat bagaikan tirai-tirai bunga, berwarna ungu kebiruan.


Warnanya yang menyamai dengan sinar dari To Fos tou Fengariou, begitu sangat indah. Bebeberapa kelopak bunganya yang berjatuhan diatas permukaan danau, menjadi pelengkap yang sempurna untuk tempat ini.



Kami yang masih dalam pelukan hangat tak bergeming sedikit pun, terlihat sedikit samar pada pandanganku. Aku melihat seekor rusah putih berdiri diatas danau, tentunya Welliam tidak dapat melihatnya karena posisinya yang membelakangi rusa itu.


Apa ini juga termasuk hukuman untuk ku, Dewi?


Rusa itu melompat-lompat, lalau menghilang menjadi seluwet cahaya biru. Ah.., mungkin sudah waktunya aku harus menyarungkan pedangku dan mencoba kehidupan baru. Tapi, apa bisa kami melewatinya?


Welliam melepaskan pelukannya dan menatapku, ia mengelus lembut wajahku. Mata samudranya yang begitu indah sangat menenangkan.


"Aku memiliki segalanya. kepintaran, kekuatan, tahta, atau bahkan seluruh dunia ini. Tapi entah mengapa hanya mendengar kata sederhana darimu, itu sudah sangat membahagiakanku. Biarpun kita makhluk yang berbeda, biarpun mereka berkata kasar, dan biarpun takdir menentang hubungan kita. Aku akan tetap selalu bersamamu, akan kusingkirkan semua yang berani memisahkanmu dariku! Kurasa tidak masalah jika aku sedikit berfikir kekanak-kanakan. Karena memang semenjak aku bertemu denganmu, kau sudah membuatku gila, Aletha."


Untuk pertama kalinya dalam hidupku. 


Ada seseorang yang berani menarik ku keluar dari persembunyian malam hidupku, dan mencoba merubah tata kehidupan yang telah ditetapkan. Meski takdir berkehendak melawan. 


Dia sang penguasa Kegelapan, seorang Crown Prince bangsa Demon. Yang mungkin saja akan membawa perubahan pada sistem alam ini.


Itulah namanya. Seorang pria yang akan menyandang gelar besar sebagai penguasa. Matanya yang selalu memancarkan keyakinan, selalu bisa menundukanku. Ucapannya yang bagaikan sebuah titah tak terbantahkan, selalu tidak bisa kulawan.


Meski begitu, aku juga tidak tahu kedepannya akan seperti apa. Karena bila dia mengetahui kebenarannya, dan juga tentang sosok ku yang sesungguhnya.


Apakah dia masih akan mengatakan hal yang sama? Apakah dia akan tetap berdiri disebelah ku, tanpa melepaskan genggamannya?


"Welliam, bersamaku berarti kau sudah harus siap dengan konsekuensinya, semua masalah yang akan kau hadapi begitu berat. Aku hanya akan menjadi beban untukmu."


"Aku tidak perduli, selama kau bisa tetap disisi ku. Aku akan membereskan mereka, sebesar apa pun masalahnya, aku berjanji kita akan tetap bersama."


"Kuharap, itu benar-benar terjadi."


Welliam memainkan helaian rambut silverku, sepertinya sejak awal dia memang sudah tahu kalau warna itu memang alami. Kalau tidak salah juga, sejak awal dia bilang, mungkin saja warnanya akan menyebar. Ah.., bahaimana bisa aku tidak menyadari ucapannya-_-


"Aku akan berhenti mencari tahu tentangmu, meski begitu aku ingin mendengarnya langsung darimu sendiri, Aletha. Jadi sampai kau sudah siap untuk mengatakannya, aku akan menunggu."


Tapi sepertinya, untuk yang ini aku benar-benar tidak bisa mengatakannya, Welliam. Karena aku masih terikat janji dengan sang Dewi Bulan.


"Aletha, aku selalu penasaran. Kenapa bunga-bunga ini selalu muncul saat kita sedang bersama? Apa kau tahu sesuatu?"


"Entahlah, tapi yang kutahu nama bunga ini adalah Wisteria. Di dunia Manusia, mereka banyak tumbuh dan sering dijadikan hiasan rumah."


"Wisteria.., bunga ini persis sepertimu. Terlihat cantik tapi juga berbahaya."


"Apanya yang berbahaya?!"


"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Saat itu aku penuh dengan luka, itu karena bunga ini yang memberikan luka kecil itu kepadaku. Bahkan aku butuh waktu 4 jam untuk bisa mengobatinya."


"Sungguh? Biasanya tidak seperti itu kok, atau karena kau seorang Iblis."


"Apa hubungannya denganku, yang seorang iblis, hah?"


"Di dunia Manusia, tepatnya di Jepang. Masyarakat disana percaya kalau, bunga Wisteria adalah pelindung dari para Ayakashi. Em.., semacam roh jahat."


"Tapikan aku tidak jahat."


"Cih, kau membawaku ke dunia ini, itu sudah termasuk rencana kejahatan!"


"Benarkah? Kurasa bukan itu artinya."


Welliam berjalan dan memperhatikan bentuk dari bunga Wisteria. Aku memandang bulan, seolah tengah menatap Luna yang masih selalu mengamati kami. Sepertinya tidak perlu disembunyikan lagi tentang ini kepada Luna maupun sang Seleni Thea.


Karena sejak awal pun, Dewi telah mengetahui segalanya. Sekelopak bunga Wisteria terbang melayang lalu saat hendak jatuh, aku menjadikan telapak tangan kananku, sebagai alas jatuhnya bunga itu. Kalau tidak salah, ditempat asalku. Bunga Wisteria dilambangkan sebagai,


Takdir yang membawa, cinta abadi.


Aku tersenyum sarkastik, lalu melihat Welliam yang masih penasaran dengan jenis bunga Wisteria. Pohon tua yang kini telah menjadi pohon Wisteria, bercahaya terang seolah menjadi duplikat dari bulan. Aku menghampirinya dan berdiri disebelah, Welliam.


"Ini menarik."


"Apanya yang menarik?"


"Di Darkness World, tidak ada jenis tanaman ini. Sekalinya tumbuh langsung ditempat istimewa untuk kita."


"Istimewa?"


"Kau bilang alam bisa merekam segala peristiwa disekitarnya, jadi pohon ini adalah hal yang istimewa. Lebih tepatnya lagi, Wisteria tumbuh sebagai bukti pernyataan perasaanmu kepadaku." Welliam tersenyum smrik, sembari melihat Aletha.


"Ha? Itu tidak benar. Wisteria ini tumbuh karena ingin melindungiku dari Iblis jahat sepertimu!"


"Ahaha.., kau ini benar-benar tidak bisa jujur ya."


"Ber-berhenti tertawa!"


"Tidak mau."


"Aku membencimu!"


Welliam tersenyum mendengar perkataan, Aletha.


"Aku bilang, aku membencimu!"


"Iya, iya."


"Kau tidak dengar, aku membencimu, Welliam!"


"Iya, aku dengar, kau mencintaiku."


"Cih, menyebalkan!"


Jantungku berdebar dengan sangat kencang, mungkin sangking kencangnya. Welliam bisa saja mendengarnya, ah.., ini sungguh memalukan. Bagaimana bisa aku mengatakannya secara terang-terangan tadi.


Welliam memperpendek jarak diantara kami, aku menyandarkan diri pada pohon Wisteria. Sedangkan Welliam berdiri sangat dekat dihadapanku, ia menempelkan tangan kanannya pada pohon Wiseria, diatas kepalaku.


Sedangkan tangan kirinya mengusap lembut wajahku. Lalu secara perlahan mendekatkan diri semakin mengikis jarak, kemudian mengecup singkat bibir ranumku.


Angin berhembus lembut, membawa terbang puluhan kelopak bunga Wisteria. Seakan bulan menatap malu-malu, ia bersembunyi dibalik awan malam. Serangga malam terbang meninggalkan, kedua insan yang masih saling terbuai oleh perasaan.


Warna rambut silver Aletha yang tadinya hanya sebagian, perlahan memenuhi seluruh rambutnya. Merubahnya menjadi warna silver putih, mirip seperti rembulan.


Sepertinya keputusannya untuk kembaki ke Castlenya, sangat tepat. Jika saja tadi Welliam masih mengurusi para pemberontak, apakah dia masih sempat mendengar ungkapan hati Aletha?


Bagimana ini, rasa sukanya terhadap Aletha kian semakin besar. Semakin lama ini membuat Welliam gila.


Welliam menyandarkan kepalanya di bahu sebelah kanan, milik Aletha. Ia sedikit menyembunyikan rasa malu, dan rona pada wajahnya.


"Welliam.."


"Sebentar saja. Aku kelelahan, selama seminggu ini sibuk mengurusi musuh, dan juga masalah diberbagai wilayah."


"..sepertinya pangeran Iblis ini juga bisa kelelahan, ya?"


"Bukankah, itu hal yang wajar."


Aletha mengakat kepalanya, menatap bunga Wisteria yang juga menjadi nama lain darinya. Ia mencoba menerimanya, meski berat tapi untuk kali ini saja dia mengikuti kata hatinya. Seperti yang disarankan oleh Dewi Bulan.


Aku harap, semua akan baik-baik saja untuk kedepannya. Dan bila dia memang ditakdirkan untuk ku, kumohon.. jangan pisahkan dia dariku, Dewi..


--.o🍁o.--