The Queen of Different World

The Queen of Different World
Designation; Nightmare!



"Kau ingin membawa Aletha keluar dari alam sadarnya? Akan kubantu.."


Seorang Wanita cantik rupawan, berambut persis seperti Aletha dan bermata biru, dengan satu tanda bulan sabit dikeningnya. Tatapannya begitu lembut, seolah dia cerminan dari wajah Ibunya.


Wanita itu berjalan mendekati Welliam. Dia menatap intens wajah Welliam, terukir senyum lembut dari wajah jelitanya.


"Bila dilihat dari dekat, mata Savier-mu begitu persis seperti Alice. Sangat indah," wanita itu terlihat senang melihat Welliam.


Namun tak lama ia sedikit terkejut saat Welliam merubah warna klorofil matanya, menjadi khas mata bangsa Demon.


Terlihat ia sedikit kecewa melihat perubahan warna mata itu, "Sayang sekali, padahal aku suka dengan warna matamu yang sebelumnya. Indah seperti samudra."


Wanita itu melihat Aletha yang masih tak sadarkan diri di dalam pelukan Welliam.


"Kau menjaganya dengan begitu sayang, sepertinya dunia ini masih memiliki harapan, untuk memiliki masa depan."


"Jika kau berniat untuk berpuitis pergilah, tapi bila kau tahu bagaimana menolong Aletha, maka beritahulah sekarang juga."


Mendengar penuturan tegas Welliam, membuat wanita itu menghela nafas lelah, "Jika kau berbicara seperti itu, kau malah lebih mirip dengan Ayahmu. Ha.., mau bagaimana lagi, kau memang mewarisi darah murni bangsa Demon."


"Memangnya kau berharap, aku ini mirip siapa?"


"Tentu saja mirip Ibumu, bukankah Alice sangat lemah lembut dan begitu cantik?"


"Cih, aku tidak berniat menjadi cantik. jadi, kau datang untuk membantu atau tidak!"


Wanita itu sedikit cemberut, "Sikap menyebalkanmu ini, benar-benar turunan dari Lorddark's. Biarlah, lagipula itu ciri khas dari karisma tampanmu." Ucapnya dengan sangat bahagia.


Sejak tadi, Welliam tidak mengerti dengan ucapan wanita ini, siapa dia? Tiba-tiba saja datang tanpa memperkenalkan diri.


"Jika ingin membawa jiwa Aletha yang terkurung akibat sihir gelap, kau harus menandainya agar sihir pengendali itu bisa hancur. Tapi disatu sisi, kau akan membangkitkan sosok yang sebenarnya dari Aletha, meski tidak sempurna."


"Jati dirinya? Jadi maksudmu, aku harus melakukan penandaan Mate kepada Aletha. Dan hal itu bisa saja membangkitkan jati dirinya, begitu?"


"Ya, dan mungkin saja kau bisa melihat ingatan Aletha."


"Lalu apa hubungannya dengan bunga Wisteria?"


"Wisteria, adalah bentuk nyata dari jiwa Aletha. Jika bunga itu masih bermekaran berarti menandakan dia masih hidup, berbeda dengan bunga Wisteria yang ada di Bumi. Pohon Wisteria yang ini jauh lebih langka, dia bisa menyimpan kekuatan sihir Alam yang sangat besar. Bahkan bunga Wisteria sudah tidak tumbuh lagi ditempat asalnya," Wanita itu menatap rindu pada pohon Wisteria.


"Bunga itu tidak tumbuh? Memangnya dari mana asal Aletha?"


"Aku menghancurkan bunga Wiateria, agar pihak musuh tidak bisa menemukan Aletha. Jika kau penasaran, lakukan lah penandaan Mate. Dan bagaimana dia bisa tumbuh disini, itu karena sebagai tanda bahwa kalian memang pasangan yang telah ditakdirkan. Dengan kata lain, alam mengakui kalian sebagai penguasa yang mampu melawan sistem alam yang telah dibuat oleh para Dewa yang haus akan kekuatan."


Welliam melihat wajah Aletha yang sudah kelewat pucat. Tapi bila dia melakukan penandaan Mate tanpa persetujuannya, bisa saja Aletha akan membencinya.


Meski begitu Welliam juga tidak mau kehilangan Aletha, apa yang harus dia pilih?


"Jika kau bertekad untuk tetap bersamanya, harusnya tidak ada keraguan di dalam dirimu. Rasa takut terkadang juga bisa membunuhmu, bukankah kau sudah berjanji untuk membuat Aletha berada disisimu, meski dia melarikan diri? Maka lakuka lah, kaulah penguasanya, maka ambilah langkah bijak, Lord Welliam."


Welliam melihat wanita itu yang sedang menatapnya dengan sangat serius, seolah dia tengah menguji dirinya. Benar dia tidak boleh ragu, lebih baik dia dibenci dari pada harus melihat Matenya pergi dari sisinya.


Lagipula selama ini, dia telah menekan Aletha untuk bersamaya. Tidak perduli meski Aletha menolak dirinya sebagai Mate. Welliam menyingkirkan helaian rambut silver milik Aletha, menampkan jenjang leher putihnya yang begitu menggoda.


"Maafkan aku Aletha, tapi aku lebih tersiksa bila tidak bisa melihat kehadiranmu lagi."


Dua taring gigi Welliam yang begitu tajam, mengigit kuat tengkuk leher Aletha. Membuat darah segara mengalir dari celah gigitan.


Welliam meminum darah Matenya secukupnya, rasanya begitu manis dan yang pasti Welliam menikmatinya.


Setiap darah yang masuk ketubuh Welliam, maka ia bisa melihat semua ingatan masa lalu Aletha meski bayangan itu tergambar dengan buram.


Meski tak semua ingatan bisa ia lihat dan ia pahami, setidaknya Welliam tahu bahwa Matenya berasal dari dunia yang dilegendakan sebagai bangsa yang berkasta tinggi.


Jadi ini yang membuatnya tidak bisa mengatakan sosoknya yang sebenarnya kepada Welliam?


Welliam menyudahi aksinya meminum darah dari Matenya, lalu dia menggigit sudut bibir dalamnya. Mengumpulkan darahnya secukupnya, kemudia ia mencium Aletha membantunya untuk meminum darahnya.


Luka gigitan di leher Aletha menghilang, lalu perlahan mengukir lambang sebagai tanda kepemilikan, Mate. Berbentuk sebuah bunga Lycoris merah, dengan dikingkari ukiran kecil bunga Wisteria berwarna hitam.


"Kau yang berdiri digaris paling depan, sebagai pelindung fajar. Tapi kau juga menjadi sabit kematian, dikala senja menutup usia. Menentukan keadilan dari Matahari dan Rembulan, memimpin kaum malam dan siang. Aku memanggilmu untuk kembali memimpin dunia, Dewiku Aletha."


--.o☘o.--


Tring!


Aletha membuka matanya, ia sedikit menyipitkan kedua mata langitnya. Akibat paparan sinar mentari dari balik celah dedaunan.


Pandangannya sedikit buram sebelum ia bisa melihat dengan jelas pohon rindang yang cukup menyejukan.


"Lagi-lagi, tertidur dibawah pohon ini. Apa anda menyukai tempat ini, Kak Aletha?"


Aletha melirik gadis kecil berusia 8 tahun, berambut pendek berwarna hitam. Ia berpakaian sederhana dengan tas keranjang buah ditangan mungilnya.


"Seperti biasa, Kak Aletha tidak suka banyak berbicara. Hem, Karena hari ini cukup cerah cobalah tersenyum. Seperti ini, hii.."


Gadis kecil itu menunjukan senyum lebarnya dengan kedua jari telunjuknya menekan kuat pipi gembulnya.


"Nah sekarang co--"


"Sofia?"


"Iya, ada apa Kak?"


"Sofia, ini sungguh dirimu?"


Gadis kecil itu mengangguk, "Iya, ini Sofia. Kenapa dengan Kakak?"


Aletha terlihat terharu lalu ia memeluk tubuh mungil Sofia. Ia merindukan sosok gadis kecil ini, entah kapan terakhir kali dia bisa memeluk raga gadis manis ini.


Tunggu, ini aneh.


Aletha melepas pelukannya, dia melihat gusar lingkungan disekitarnya, seolah dirinya tengah tersesat.


"Sofia ini dimana? Bagaimana bisa aku ada disini?"


"Kak Aletha bicara apa sih, tentu saja kita ada di Kota Margencia. Sebuah Kota kecil yang berada di pinggir Kerajaan Charlotte."


Aletha diam, lalu tak lam dia melihat penampilannya yang berbeda dari sebelumnya. Ada apa ini, bukankah tadi dia sedang minum teh dan juga rasa sakit pada jantungnya telah hilang.


Apa ini mimpi? Aletha melihat gadis kecil itu lagi. Tidak mungkin, harusnya gadis dihadapannya telah mati puluhan abad yang lalu.


"Kak Aletha!"


Aletha meraih pisau kecil yang ada di keranjang buah, ia menggores telapak tangannya. Hasilnya darah Aletha mengalir, terlebih dia juga bisa merasa sakit yang terasa nyata pada luka itu.


Jika bukan mimpi, lalu sebenarnya ada apa ini? Semua terasa nyata hanya untuk dikatakan sebuah mimpi. Apa dia sudah mati? sepertinya itu yang paling tidak mungkin.


"Kak Aletha, kenapa kakak melukai tangan Kakak? Sofia tidak suka melihat darah, So-Sofia..hiks tidak mau mengingat perang itu lagi..hiks..hiks."


Aletha mengehla nafas, saat luka pada tangannya sembuh dengan sendirinya. Aletha mengelus lembut pucuk kepala Sofia.


Mau mimpi atau bukan yang pasti Aletha ingin tetap seperti ini. Tragedi itu tidak boleh terulang lagi! Dia pasti akan melindungi semua Manusia yang ada disini. Terutama untuk Sofia, dia harus tetap hidup.


Mungkin, aku diberi kesempatan untuk merubah semuanya.


"Maaf, aku lupa. Berhentilah menangis, sebagai gantinya, kau ingin apa?"


Sofia terlihat riang kembali. "Saat ini Kota Margencia sedang mengadakan Festival, sebagi tanda syukur atas pertolongan Kak Aletha. Sofia ingin kesana, ada beberapa tempat menarik."


Aletha lega saat melihat senyum riang pada gadis itu, "Baiklah, kita kunjungi semua tempat yang kau inginkan."


"Hore.., Sofia harap Kak Aletha selalu bersama Sofia. Terimakasih telah hadir dalam kehidupan Sofia, hehe.."


Sofia berlari dengan sangat gembira sepanjang perjalanan. Setahu Aletha, Sofia gadis yatim piatu. Kedua orang tuanya telah meninggal saat perang antar kerajaan, bencinya lagi perang itu dipicu akibat keserakahan.


Bila dia kembali pada masa itu, berarti saat ini dia berada di Bumi abad pertengahan, dimana kerajaan adalah otoritas sebagai pemimpin Negara.


Disebuah wilayah benua eropa, berdiri sebuah kerajaan besar bernama Charlotte. Dengan beberapa Kerajaan tetangga yang tak kalah besar.


Meski tempat tinggal Sofia disebut Kota, tapi sebenarnya ini hanyalah Desa yang berada dipinggir Kerajaan.


Kota ini dikenal sebagai ladang kemakmuran bagi pangan dan penghasilan para bangsawan, karena tanah dan hasil pertanian sangat makmur membuat para Kerajaan seberang menginginkan wilayah ini.


Bodohnya lagi, Raja Lucas yang memimpin Charlotte malah menjadikan wilayah ini sebagai barang berniaga hanya untuk sebuah tambang permata, yang menurut Aletha tambang itu hanya berisi batu berkilau, tapi tidak memiliki nilai jual yang tinggi.


Kesempatan itu digunakan para Kerajaan lain sebagai kartu emas dan hasilnya perang pun terjadi. Kerajaan Charlotte dikianati dan di serang secara tiba-tiba oleh fraksin musuh, sehingga menyebabkan korban jiwa yang sangat parah.


Hingga suatu hari, ada sebuah permohonan kecil terdengar sangat tulus bagi Aletha.


"Oya kak, tadi utusan Raja menemui Sofia."


"Bedebah itu menemuimu lagi?!"


"Ahaha.., Kak itu terdengar kasar."


"Biarkan, mereka memang bedebah yang serakah! Jadi apa yang dia katakan?"


"Mereka bilang, Raja ingin bertemu dengan Kak Aletha. Kalau tidak salah ingin memberikan penghargaan sebagai tanda terimakasih, siapa tahu itu adalah gold, permata, pakaian mewah, rumah, oh atau gelar bangsawan." Ucap Sofia berseri-seri.


"Aku tidak butuh! Tapi, jika Raja bodoh itu mau memberikan penghargaan.., bagaimana jika kepalanya saja?"


Aletha terlihat puas. Namun sesaat dia sadar kalau ucapannya tidak baik untuk didengar anak kecil, Sofia terlihat ketakutan.


"Ah, mak-maksudku. Sebagai kepala Negara, Raja harus bersedia menggunakan Mahkotanya untuk lebih rendah hati lagi."


Aletha bangga, meski usia Sofia sangat muda tapi pola pikirnya begitu dewasa.


"Baiklah, aku akan coba bicara dengan pihak Kerajaan."


"Sungguh? Terimakasih banyak Kak."


.


.


Festival berlangsung sangat meriah dan ramai, sudah beberapa kali dia tersenyum melihat wajah ceria Sofia.


Berkeliling, mengunjungi kedai satu ke kedai yang lain telah mereka datangi. Hingga Sofia berhenti pada satu permainan memanah, bila kita berhasil menembak semua kaleng yang tersedia maka akan mendapatkan hadiah.


"Kau ingin boneka itu?"


"Ti-tidak kok, Sofia hanya lihat-lihat saja."


Meski anak kecil berkata tidak, tapi wajah polosnya tidak mungkin membohongi keinginannya.


"Tunggu sebentar,"


"Eh?"


Aletha menerima panah dari pemilik permainan tersebut, ia memposisikan tubuhnya dengan tepat lalu saat busur panah terlepas, panah itu berhasil mengenai susunan kaleng dengan sempurna.


Gerakan aletha begitu cepat sehingga dalam waktu beberapa detik semua busur telah menjatuhkan semua kaleng yang tersusun.


Sepertinya kemampuan memanahnya belum tumpul. Sesuai persyaratan, Aletha berhasil melakukannya membuat pemilik toko itu memberikan sebuah boneka kelinci berukuran sedang.


"Ini untukmu Sof--eh?" Sofia tidak ada disebelah Aletha.


"Sofia, Sofia! Kau dimana?"


Aletha mencari Sofia ditengah kerumunan masyarakat yang berlalu-lalang, semakin lama tempat ini semakin ramai. Ini sudah 30 menit tapi Aletha tidak menemukan Sofia.


Hinga...


BOOM!!


Sebuah ledakan besar terjadi dari arah belakang, Aletha menutup matanya, dengan tangan kanan yang membatu menghalau dari desiran angin kuat.


"Argh!!"


Aletha melihat lingkungan disekitarnya, semua telah berubah menjadi lautan api. Bangunan kokoh habis dilahap oleh api yang membara, semua orang berlari dengan sangat ketakutan.


"Tidak! Ini tidak mungkin. Sofia, aku harus mencari Sofia!"


Aletha berlari tanpa tujuan arah, meski kota kecil tapi tempat ini cukup luas. Sial, bagaiman bisa tragedi pembantaian ini terjadi lagi? Banyak mayat bergeletakan, semua orang mati dengan luka tebasan yang sangat fatal.


Aletha berhenti berlari, dia sudah mencari Sofia kemana saja tapi masih belum bisa menemukannya. "Sofia!!"


"Kak Aletha..."


Aletha berbalik melihat Sofia berdiri tak jauh darinya, syukurlah dia hanya mendapat luka kecil. Aletha berlari menghampiri gadis kecil itu.


"Sofia!"


Crash!!


"He?"


Aletha diam sembari menangkub tubuh Sofia, darah mengalir dari wajah Aletha. Itu bukan darahnya melaikan dara Sofia yang menyiprat kewajahnya.


"K-kak Aletha.., kenapa, ke..napa Kakak meng-mengkhianati kami?"


Gadis itu berusaha berbicara, padahal nafasnya berada diujung sabit kematian.


"Tidak, Sofia buka matamu.."


"Sofia sa-sayang Kakak, tapi ke-kenapa Kakak membunuh ka..mi," Lirih gadis itu sebelum akhirnya ia menutup mata untuk selamanya.


"Tidak, tidak!! Bukan aku, bukan aku yang membunuh kalian. Sofia!! Hiks..."


"Kau memang seorang pembunuh!"


DEG!


Gelap. Semua menjadi gelap saat suara itu berbisik ditelinganya, Aletha tidak melihat kota Margencia yang telah hancur tak karuan, api-api yang menyulut sadis hilang entah kemana.


Bahkan saat ini Aletha tidak lagi memeluk tubuh mungil Sofia, semua menjadi hitam kekosongan.


"Kaulah yang membunuh mereka, Aletha."


Aletha mengangkat wajahnya menatap perempuan yang berdiri sembari menatap dingin kearahnya.


Tapi sosok itu begitu mirip dengannya bahkan lengkap dengan pakaian Dewinya. Hanya saja matanya berwarna merah.


"Bukan aku pelakunya, aku tidak pernah membunuh seseorang dengan alasanbyang tidak jelas!" Teriak Aletha dengan sangat lantang.


"benarkah? Coba lihat dirimu baik-baik, Aletha."


Aletha melihat dirinya, pakaiannya telah berubah. Ia menjadi terlihat persis dengan sosok cerminan darinya.


Beberapa bercak darah menghiasi baju keagungannya dengan pedang berlumuran darah, ditangan kananya.


Tidak! Aletha menjatuhkan pedang itu. Tepat pada saat itu semua yang ada dibawahnya berubah menjadi lautan darah, dengan beberapa tangan terlihat dipermukaannya.


"Jangan bunuh kami."


"Kami tidak bersalah!!"


Bisikan siren terus menggema dengan suara yang melirih seram.


Aletha menutup telinganya "Tidak.., bu-bukan.., bukan aku...."


"Kumohon jangan!"


"Tolong! Tolong! Tolong kami!"


"Bukan a-aku yang mem-membunuh kalian, pergi..pergii..."


Aletha berjalan mundur dengan sangat ketakutan. Ia melihat sekelilinya, banyak tumpukan mayat yang tergeletak tak bernyawa.


Suara bisik yang begitu mengganggu, menuntutnya untuk mempertanggung jawabkan sebuah tindakan yang ia lakukan. Tapi sungguh bukan Aletha yang melakukan itu semua, dia dituduh.


Kumohon hentikan, aku lelah dengan semua mimpi buruk ini! Entah sampai kapan ini akan terus menghantuiku.


semua bukan salahnya bukan..bukan! Aletha terus menutup telinga sembari bergumam dengan sangat ketakutan.


"Kak Aletha.."


DEG!


"Sofia?!"


"Aku membencimu, kak Aletha!"


"Sofia.."


"SOFIA BENCI PEMBUNUH SEPERTIMU!!"


Tangan-tangan yang melambai dengan menyeramkan, meraih tubuh Aletha dan memegangnya dengan sangat kuat.


Genangan darah pada pijakannya perlahan mulai menenggelamkan tubuhnya, Aletha mencoba meronta tapi tidak bisa.


Ini mengerikan! Mau mimpi atau bukan, tapi ini jauh lebih mengerikan dari mimpi sebelumnya.


Siapa saja, tidak adakah yang menolongnya? Aletha lelah dengan kegelapan kebebcian ini. Bukan dia yang membunuh, tapi kenapa harus dia yang menanggung dosanya.


Sosok lain dari Aletha tadi mendekatinya, ia memandang Aletha dengan senyuman sinis penuh merendahkan.


"Tidurlah Aletha. Aku adalah jati dirimu, aku yang paling tahu dirimu. Kita tidak diinginkan, Imorrtal membuangmu, Bumi menolakmu, bahkan Darkness World akan membencimu. Lupakan mereka, waktunya untuk kita pergi menghilang." Bisiknya mencoba menghasut Aletha.


"Waktunya, bagi kita untuk menghilang..."


Aletha mulai terhasut, mata secerah langit tak lagi bergemilang. Tatapannya kosong, dia mulai tenggelam kedalam jurang kegelapan hatinya sendiri.


Wanita itu tersenyum puas, mimpi buruk ini adalah bentuk bagian dari rasa takut Aletha. Semakin dia takut maka semakin pula sihir kegelapan itu menjeratnya.


"Selamat tinggal, Aletha Wisteria.."


--.o🍁o.--



Info Novel :


*Alkemis : Sebutan Tabib Kerajaan, tapi telah mencapai tingkat tinggi.


*Bunga Lycoris : Dikenal sebagai Bunga kematian.