The Queen of Different World

The Queen of Different World
Concern ; Aletha's Toughest Choice




--


Arc. Cover Novel { 5 }


  ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ꕤ꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷.🍁.꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷ ͝͝ ꒷  ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ꕤ


Pertahankanlah dia yang tetap bertahan bersamamu, dalam kesulitan dan kekurangan.


[ _Anonymous_ ]


──────────── · · · · · ✦


.


Welliam dan Aletha masih berada di ruang rapat, meski semua orang telah pergi. Mereka masih harus memikirkan beberapa rencana lain, bila Tahlia menggunakan serangan tidak terduga lainnya.


Aletha meletakan berkas laporan lalu berjalan menuju jendela kaca. Hari ini, Darkness World tengah diguyur hujan lebat.


Beberapa kilatan terlukis paksa dilangit kelabu, begitu sangat menyilaukan mata. Jendela kaca yang mengembun akibat air yang mengalir dari atap, menjadi permata buram disaat hujan datang bersinggah.


Hari ini Aletha terlihat kurang sehat, terkadang diwaktu yang tak menentu ia sering merasa pusing. Tubuhnya juga akhir-akhir ini mudah kelelahan, mungkin karena dia terus-terusan kepikiran masalah Tahlia.


Melihat Troll dan Goblin yang akan turun andil, dengan temuan gila Adiknya. Itu sudah cukup membuatnya resah, sepertinya dia perlu beberapa hewan spirit untuk menumbangkan Troll. Tapi, di Darkness World hewan spirit petarung sangat jarang ditemukan.


Udara dingin dari hujan berangin lebat ini, menyeruak ke kulit porselinnya. Membuat Aletha sedikit kedinginan, namun rasa dingin itu berhasil ditepis. Saat Welliam memakaikan kain hangat kepundak sang kekasih.


"Jangan terlalu di dekat jendela, udaranya sangat dingin."


Aletha menoleh, lalu memeluknya mencari kehangatan didalam dekapan Welliam. "Jika aku memelukmu seperti ini, rasanya malah jadi hangat."


Welliam memeluk erat, memberikan kehangatan sebisanya. Sembari mengusap sayang, kepala Aletha.


"Welliam, apa menurutmu kita bisa melewati perang ini?"


"Tentu saja, selama kau ada disisku. Aku bisa melewati semua rintangan dan masalah ini!"


Aletha menatap Welliam dengan raut khawatir, tiba-tiba saja dia teringat mimpi buruknya pagi tadi.


"Apa yang sedang kau resahkan, Aletha?"


"Aku memang yakin kita bisa meraih kemengan. Hanya saja, aku merasa kalau.., kalau sepertinya akan ada sesuatu yang membuatku takut."


Welliam menuntun Aletha untuk duduk disalah satu kursi, lalu dia mengambil kursi dan duduk dihadapan Aletha sembari menggenggam tangannya.


"Aletha, berbagilah rasa takutmu denganku, biarkan aku merasakan apa yang sedang kau resahkan."


"Aku bermimpi buruk mengenai perang ini..."


"Itu hanya mimpi, Aletha. Semakin kau fikirkan mimpi itu akan terus menakutimu. Bukankah kau sudah belajar dari mimpi burukmu yang dulu?"


"Aku tahu, tapi ini jauh lebih menakutiku. Soalnya kau---"


"Aletha, percayalah. Tidak akan terjadi sesuatu kepadaku. Dari pada itu, sebenarnya aku tidak setuju jika kau harus turun kemedan perang. Aku tahu kau kuat, hanya saja aku takut kehilanganmu. Tidak bisakah kali ini saja kau diam di istana menungguku?"


"Tidak, aku tidak mau seperti itu. Justru itu yang membuatku takut, jika kau khawatir denganku. Lalu bagaimana dengan aku yang juga khawatir denganmu?! Kumohon, jangan paksa aku tetap disini.."


"Baiklah, tapi berjanjilah bahwa kau tidak akan membahayakan dirimu lagi. lalu, jika aku mendapatimu terluka kau harus segera mundur kebarisan belakang. Tidak perduli sesulit apapun situasinya, kau harus menuruti perintahku dan jangan pernah ambil keputusan sendiri!"


"Tapi.."


"Aku tidak mau dibantah. Kau harus kembali bersama Fivian, kali ini aku yang akan melindungimu dan semua orang di Darkness World. Aku Lord mu yang harus kau patuhi!!"


Aletha masih ragu, tapi Welliam meyakinkan kembali Mate tercintanya. "Kau kelemahanku, Aletha. Aku paling takut jika kau terus tertidur tanpa pernah membuka matamu lagi. Aku ingin segera mengakhiri ini semua, kau tujuanku untuk tetap hidup. Menghabisi waktu bersama, menyempurnakan kekuarga kecil kita dengan kehadiran putra-putri kita, dan menciptakan kehidupan damai untuk semua orang. Aku hanya ingin hidup sesederhana itu bersamamu, mengertilah..."


Aletha tersenyum, "aku janji, jika aku terluka aku akan mundur dari garis depan. Tapi, kau juga harus berjanji kepadaku. Tetaplah hidup demi diriku, aku juga ingin segera meninggalkan dunia peperangan ini, dan menjalani kehidupan sempurna bersamamu.."


"Jangan khawatir, kau akan menjadi Istri dan Ibu yang sempurna untukku dan juga anak-anakku. Keinginanmu pasti akan terwujud, karena aku juga menanti tibanya hari itu."


Sesaat mereka melupakan hal terbesar yang akan datang dalam waktu empat hari lagi, mencoba mengikat janji bahwa mereka akan selalu nersama meski maut memisahkan!


"Oya Welliam, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tidak biasanya kau bertanya sampai meminta izin?"


"Em, aku ingin tahu, apa penandaan Mate bisa membuat seseorang teringin meminum darah?"


"Tidak semua pasangan Mate ingin meminum darah. Tapi, bagi kaum Demon dan Vampire yang menjalin hubungan Mate dengan berbeda ras, kemungkinan hal itu akan terjadi. Tapi akan lebih kuat jika pasanganmu adalah bangsa Demon, sedangkan Vampire tidak semua dari pasangan mereka akan menyukai darah. Sebenarnya saat ini kau tidak bisa dikatakan Dewi yang sempurna karena di dalam dirimu mengalir darahku meski hanya 10%"


"Apa?! Jadi, apa aku juga akan menajdi Demon sepertimu?"


"Tentu saja tidak, kau bukan Manusia. Meski terdapat darahku, tapi tidak bisa menutupi fakta bahwa kau adalah keturunan bangsa Dewa. Jangan khawatir.."


"Huft.., aku kira, aku juga akan berubah."


"Kenapa? Apa kau tertarik untuk meminum darah?"


"Aku bukannya tertarik, hanya saja beberapa hari ini.., aku penasaran dengan minuman itu."


"Kalau begitu cobalah sendiri."


"Eh?"


Welliam bergerak cepat kearah meja didekat jendela, menuangkan darah segar kedalam gelas ramping lalu kembali ketempat Aletha, dengan sekali langkah cepat.


"Minumlah.."


Aletha meraih gelas itu dari tangan Welliam, dia menghirup pelan aroma yang menurutnya itu sangat anyir. Bahkan perutnya saja sudah mual.


Tapi...


"Selain penandaan Mate dan penobatanmu sebagai Ratu, kau tidak pernah lagi meminumm darah. Jadi cobalah meminumnya dengan per----".


Glup!


"Ah.." Aletha menghabiskan minuman itu dengan sangat cepat, tidak lupa ia bersihkan sisa darah dibibirnya menggunakan tangannya.


"Aku tidak menyangka, ternyata rasa darah semanis ini. Apa masih ada, boleh aku memintanya lagi?"


"Kau sungguh menikmatinya, ya? Apa kau baik-baik saja?"


"Tentu aku baik-baik saja, memangnya aku kenapa? Apa akan ada efek samping setelah kita meminum darah?"


"Memang tidak ada efek samping, hanya saja ini---"


Tok..Tok...


"Permisi.., ah! Akhirnya aku menemukan Kakak."


Aletha dan Welliam menoleh kearah pintu masuk, melihat Lucy yang sudah sangat riang menghampiri mereka.


"Ada apa Lucy?"


"Kak Aletha, Ibunda ingin bertemu denganmu. Karena selama 3 hari ini, Kakak Ipar dikurung dan kami tidak boleh menjenguk, jadi mumpung ada kesempatan, ayo kita temui Ibunda.."


"Kau ini benar-benar tidak sopan ya? Padahal ada Kakakmu yang berstatus Lord disini. Tapi masih saja mengabaikanku?!"


"Aku bosan memberi salam dengan Kakak, nanti saja saat Kakak ingin pergi pe--ah! Sakit kak!!"


Welliam menyentil kening Lucy, membuat Lucy menginjak kaki Welliam dengan sepatu haknya yang meruncing super tajam. Sebagai serangan balasan.


"Kau ini, bena---"


"Sudah, suadah. Kenapa kalian masih seperti anak kecil? Tiap bertemu berdebat terus! Sebaiknya kita segera pergi ketempat Ibunda Suri."


"Kakak benar, ayo kita pergi sebelum Kak Welliam kembali menjadi monster."


"Lucy!!"


"Ahahaha...," Lucy berlari menuju pintu keluar.


"Sisanya kuserahkan ladamu dalam mempersiapkan perangnya. Tapi, jangan terlalu memaksakan diri, seperti lembur kerja.."


"Baiklah, aku pergi dulu, sampai nanti Yang Mulia Lord." Ucap Aletha sembari mengucup singkat bibir Welliam. Lalu dengan cepat pergi menyusul Lucy.


Welli sempat diam, sebelum akhirnya dia sedikit merona merah "sial, aku kecolongan. Cih, bisa gila aku jika seperti ini terus.."


Welliam melihat tumpukan berkas laporan yang harus dia selesaikan secepat mungkin sebelum hari peperangan.


"Apa kusuruh Briant menggantikanku, untuk mengerjakannya, ya? Ekhem! Itu ide bagus."


.


.


"Kenapa Kak Aletja senyum-senyum sendiri?"


"Ah, itu..itu karena hari ini sangat cerah."


DUAARR!!


Mereka diam membisu saat mendengar suara petir yang cukup besar, belum lagi hujan kian bergemuruh kuat.


"Ba..baikalh, tidak terlalau cerah."


"Hem, kalian ini 24 jam kerjaannya bermesraan terus. Menyebalkannya lagi sering dihadapanku, inikan jadi tidak adil -.-"


"Em, Lucy. Apa kau ingat saat datang kekamarku pagi tadi?"


"Kamar? Aku tidak pernah kekamar Kakak."


Huft.., Aletha bernafas lega. Sepertinya sihirnya bekerja dengan sangat baik, untuk menghapus ingatan Lucy mengenai kejadian pagi tadi yang sangat memalukan baginya.


"Bukan apa-apa. Lucy, aku sangat berterimakasih, karena kau sudah menepati janjimu.."


"Jangan khawatir, Lucy tidak mau Kakak Ipar lain, selain Kak Aletha. Lagipula, aku tidak ingin kalian sepertiku.."


"Lucy, aku ingat. Hari disaat Tahlia datang, kau bilang King Harlie mengirimimu surat. Apa yang dia katakan?"


"............"


"Lucy?"


"Ki--kita sudah sampai, lihat Ibunda sudah menunggu ditaman. Ayo Kak.."


Seakan Lucy mengelak, dia buru-buru mendatangi Lezzy yang sudah berada ditaman lengkap dengan jamuan teh kecil untuk keluarga. Ada yang Aneh, apa mungkin Harlie berkata kasar lagi? Atau bisa saja dia mengancam Lucy?


"Tunggu, Lucy--akh!"


Tiba-tiba saja kepala Aletha terasa nyeri dan pusing. Pandangannya kian mengkabur, kedua kakinya terasa lemah hingga tak mampu menyanggah tubuhnya.


Lucy dan Lezzy melihat ada keanehan terhadap Aletha langsung berdiri dan menghampirinya, namun keseimbangan Aletha mulai hilang hingga ia jatuh pingsan.


"Kakak!"


--•°•.☘.•°•--


Akan ada yang berkorban mati demi kedamaian dan kesempurnaan dunia ini, Aletha.


Tring!


Aletah menegang ketakutan. Saat dia melihat medan perang penuh dengan suara teriakan, suasana yang sama persis seperti mimpinya pagi tadi. Apa benar, mimpi dapat berkelanjutan?


"Ini hanya mimpi, ini hanya mimpi.." Aletah terus berusaha mengelak kilas gambaran pada mimpinya, yang mungkin saja adalah petunjuk untuknya.


"Kau akan melihat Mate yang paling kau cintai mati, Aletha."


Aletha kembali melihat pemandangan menakutkan ini lagi, disaat kondisi Welliam dalam keadaan buruk, dengan luka yang sangat parah.


Tahlia membidik dengan sempurna lalu melepaskan busurnya. Membiarkan panah itu mendeteksi sendiri keberadaan Welliam.


"Tidak! Jangan!" Aletha sudah terlihat frustasi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Tugasku, telah selesai Aletha.."


"TIDAK!!"


Aletha bangun dari mimpi buruk mengerikan ini, sudah kedua kalinya dia memimpikan hal yang sama. Sebenarnya apa maksud dari mimpi ini? Walau Aletha dapat menebaknya, tapi dia sungguh berharap tebakannya dari mimpinya ini salah!


"Kau baik-baik saja, Aletah?"


Aletha melihat Lezzy yang duduk diseblahnya dengan perasaan khawatir. Dia kembali sadar, lalu menerawang dan dapat mengenali bahwa saat ini dia ada dikediaman kamarnya.


Beberapa saat yang lalu, dia tiba-tiba saja pingsan. Mungkin karena terlalu kelelahan dan tekanan pikaran.


"Kau mau minum?"


Aletha mengangguk kecil. Karena disini hanya ada Lezzy, jadi Lezzy melayani sendiri Aletha. Sepertinya dia habis mimpi buruk hingga membuatnya shock begit, fikir Lezzy.


"Pelan-pelan, minumnya."


"Dimana Lucy, Ibu?"


"Dia sedang memanggil Welliam, Lucy terlihat begitu khawatir denganmu. Apa kau akhir-akhir ini banyak tekanan?"


"Ya, ada beberapa masalah yang sedang kufikirkan. Terutama perang ini, Ibu jangan khawatir, aku hanya kelelahan saja kok..."


Raut wajah Lezzy terlihat sangat khawatir, dia juga seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Aletha.


"Ada apa, Ibu?"


"Aletha.., haruskah kau turun kemedan perang? Maksudku, lebih baik kau berada di Istana dan biarkan Welliam yang mengurusnya."


"Tidak bisa Ibu, aku harus berada dipeperangan ini. Tahlia dia---"


"Aku tahu kau sangat kuat Aletha. Hanya saja, aku.. aku tidak bisa mengizinkanmu pergi kemedan perang, dengan kondisimu yang sedang mengandung."


PRANG!!


Gelas ditangan Aletha jatuh kelantai menjadi kepingan kaca, seolah mewakili kata-kata yang tidak dapat diucapkan. ini sungguh mengejutkannya.


"Ibu, bilang apa?"


"Saat ini, kau sedang hamil Aletha!"


Kalimat itu, begitu jelas terdengar olehnya. Entah dia harus bahagia atau justru malah takut? Akhirnya apa yang mereka dambakan hadir kedalam hidup rumah tangga kecil mereka. Tapi, kenapa harus hadir disaat waktu yang tidak tepat?


Aletha tidak menyalahkan anugrah Tuhan ini. Tapi jika Welliam tahu dia sedang mengandung, sudah pasti dia tidak akan diizinkan turun kegaris depan.


Kau akan melihat mate yang paling kau cintai mati, Aletha!


DEG!!


Tidak! Jika dia tidak ada disebelah Welliam. Mimpi itu.., mimpi itu mungkin saja akan terwujud, dimana Tahlia akan membunuh Welliam menggunakan senjata Artefak Dewa. Yang mampu membunuh seseorang dalam sekali serangan, meski itu adalah Dewa sekalipun!!


Kenapa? Kenapa cobaan untuk mereka tetap bersama semakin sulit, seolah ini tidak ada habisnya. Masih belum cukupkah takdir menyiksanya? Sedkit lagi, hanya tinggal sedikit lagi, semua masalah akan benar-benar terselesaikan!


Tapi..


Kehadiran bayi yang akan membawa sejuta kebahagiaan didalam keluarga kecil mereka, harus menjadi rintangan juga buat mereka, untuk tetap bersama. Dimana, masalah sedang dalam posisi puncak klimaks diakhir kisah.


Aletah lelah, Aletha bingung, ini menyakitinya! Untuk sekali lagi, takdir menguji mereka dengan pilihan-pilihan baru, dimana ia dipaksa untuk memilih satu diantara dua yang dia sayangi. Agar bisa memberikan kedamaian yang sempurna untuk dunia ini!


Tapi, siapa yang harus Aletah pilih?


Welliam atau Bayi yang ada didalam kandungannya?


AKAN ADA YANG BERKORBAN MATI DEMI KEDAMAIAN DAN KESEMPURNAAN DUNIA INI, ALETHA.


"Kumohon, jangan renggut mereka dariku.."


-->"••.🍁.••"<--