The Queen of Different World

The Queen of Different World
Suspicion ; The Enemy Has Moved!!



"Sebenarnya, kau bukan Manusia biasa, kan?"


Aletha berhenti memetik bunga, lalu melirik pelan kearah Welliam dari posisi duduknya.


Angin berhembus kencang menerbangkan bunga Dandelion lebih banyak, bahkan rangkaian bunga Dandelion ditangan Aletha ikut berhamburan di tengah udara.


Mengelilingi kedua insan yang masih saling menatap dalam keterjutan dan menunggu jawaban.


"Welliam...."


Aletha berdiri dan menatap intens mata samudra Welliam yang penuh dengan kecurigaan.


"Aku selalu penasaran dengan dirimu,"


"Apa yang membuatmu penasaran?"


Welliam memperdekat lagi jarak diantara mereka. Kedua alisnya bertaut sembari menajamkan matanya mencoba membaca pikiran Aletha.


Aletha mencoba menenangkan dirinya tanpa mengalihkan matanya dari tatapan Welliam.


"Kau memiliki sesuatu hal yang masih dirahasiakan dariku, sebuah sisi lain yang kau sembunyikan dari masa lalumu."


Aletha nampak terlihat sedikit terkejut, ia menggenggam kuat rangkaian bunga Dandelion yang ada ditangannya.


"Kau mencari tahu masa laluku?"


"Ya, aku menca----"


"Memangnya kau siapa? Setiap makhluk memiliki rahasia hidupnya sendiri. Dengar Yang Mulia, meski kau seorang Raja tertinggi sekali pun. Kau tidak berhak untuk mengetahui privasi hidup seseorang."


Kini giliran Welliam yang terpaku diam, saat melihat tatapan Aletha begitu menikam tajam seolah memberi sebuah peringatan kepada Welliam untuk berhenti ikut campur dalam masa lalunya.


Nada lembut yang terdengar dingin membuat Welliam sadar, bahwa Matenya bukanlah sosok Manusia lemah yang selalu merengek seperti yang terlihat dari luar. Namun ada sisi lain di dalam dirinya yang begitu sangat kuat, yang masih belum Welliam ketahui.


Aletha berjalan melewati Welliam yang masih belum bersuara, sepandai apa pun dia menyembunyikannya selama ini. Tapi ia tahu Welliam bukan lah Manusia yang bisa di tipu dengan mudah.


Makhluk seperti mereka lah yang paling ingin Aletha hindari. Namun sayang, dia malah mendapatkan sesuatu hal yang paling merepotkan.


Itu sebabnya Aletha harus segera pergi dari sini terutama dari cengkraman sang Pangeran Demon itu.


Aletha berhenti lalu kembali melihat Welliam, yang kini sudah menatapnya dengan wajah dinginnya.


"Kuharap kau mengerti maksudku, Welliam." Ucap Aletha sembari tersenyum manis, lalu berjalan pergi.


Meski dikatakan dengan sangat lembut tapi ada maksud lain dari artinya, bahwa Welliam harus berhenti menggubsir hal privasi Aletha.


Masih dalam menatap kepergian Aletha yang semakin menjauh dan lama-kelamaan hilang dari pandangannya. Saat itu juga, Welliam tersenyum smrik, ia tidak menyangka semakin ditutupi maka semakin pula Welliam ingin mencari tahu sosok Aletha yang sebenarnya.


Tapi Welliam juga sedikit bingung, semua petunjuk tentang Aletha hilang tanpa ada jejak yang bisa Welliam gali lebih dalam.


"Menarik! Semakin banyak rahasia yang kau simpan, semakin besar pula aku menginginkanmu, Aletha."


Sejak awal semua memang sudah penuh dengan teka-teki, meski dikatakan sedikit merepotkan tapi bagi Welliam sisi lain dari Matenya bukanlah hal besar yang patut untuk dikhawatirkan.


Mau Aletha Manusia atau bukan, Welliam tidak akan pernah melepaskan milikknya begitu saja. Meski pun takdir melawan! Hanya Welliam sendiri yang berhak mengatur takdir hidupnya sendiri.


Dengan serangan cepat, Welliam memukul setengah kuat kepada pohon yang berdiri gagah yang berada disebelahnya.


Sebenarnya sejak tadi ia sudah mengetahui kehadiran serangga pengganggu ini, hanya saja ia tidak mau merusak momen indah bersama Aletha meski akhirnya mereka akan bertengkar.


Pada batang pohon itu, terukir retakan yang hampir menumbangkan pohonnya akibat dari tindakan Welliam.


Perlahan Welliam melihat serangga kupu-kupu emas yang hampir beregenasi mencoba memulihkan kondisinya, tapi dengan cepat Welliam membakar kupu-kupu itu dengan api hitamnya.


"Mereka mulai bergerak."


"Hamba memberi hormat kepada, Yang Mulia Welliam."


Tak lama, Briant dan Alberd hadir memberi hormat kepada Welliam. Sepertinya kehadiran kedua tangan kanan Ayahnya yang kini telah menjadi Tetua terkemuka di Darkness World, merupakan berita buruk yang harus ditangani sendiri oleh Welliam.


"Yang Mulia, kami telah mengecek semua dokumen mengenai para pemberontak dari tahun ke tahun, seperti yang anda inginkan." Ucap Briant.


"Apakah ada yang kalian temukan?"


"Dari semua data reset yang kami selidiki, sepertinya para pemberontak dan penyusup akhir-akhir ini... tidak salah lagi itu adalah mereka. Perang 524 tahun yang lalu masih belum bisa dikatakan bahwa kita adalah pemenangnya, meski Lord Besar Fedrick telah mengalahkan musuh terbesar Kerajaan, tapi sepertinya masih ada sesuatu hal yang mengganjal dari hasil akhir pertempuran itu." Ujar Alberd memperjelas informasi.


"O theo tis Katastrofi.., meski penasaran dengan wujudnya tapi secara garis besar aku sudah mengetahui tentangnya dan kelompok Carlitos sejak usia dini. Perang itu pun bukan lagi menjadi rahasia umum, bahkan kita membutuhkan waktu 20 tahun untuk bisa bangkit kembali setelah mengalami kehancuran yang fatal."


"Meski begitu, untungnya Katastrofi telah kalah." Ucap Briant.


"Kalah ya? Sepertinya dia belum kalah."


"Tidak Yang Mulia, Katastrofi telah kalah saat bertarung dengan Lord Fedrick. Lagi pula Lord Fedrick berkata dia berhasil membuatnya menghilang di---"


"Justru itu yang paling aneh, bukan kah kalian bilang sejak awal kita belum sepenuhnya menang karena ada sesuatu hal yang mengganjal pada akhir pertarungan? Jika Ayah berkata dia Menghilang, bukan kah ada satu hal arti yang berbeda?"


"Maksud anda, Yang Mulia?"


"Kata menghilang berarti tidak merujuk pada arti pergi atau mati. Dengan arti lain dia menghilang untuk bersembunyi lalu kembali pada waktu yang tepat."


"Tapi jika dia benar masih ada, kami tidak bisa menemukan sosoknya selama ini." Alberd sedikit bingung dengan yang dikatakan Welliam.


"Begini saja, coba fikirkan kembali. Ayahku tidak berkata, dia berhasil mengalahkan Katastrofi dengan cara membunuhnya, hasil yang mengganjal dari pertempurannya adalah Katastrofi hilang begitu saja saat setelah terkena serangan. Berarti masih ada sesuatu hal yang belum diketahui semua orang, dan hanya Ayahku saja yang mengetahuinya."


Alberd dan Briant saling menatap, sepertinya mereka mulai mengerti maksud dari Pangerannya. Waktu itu saat mereka menghampiri Lord, mereka memang tidak melihat jasad Katastrofi tapi yang terlihat hanya Lord yang diam menatap langit dengan tatapan murka.


Seolah ada satu hal yang membuat Fedrick menemukan fakta mengenai Carlitos, tapi apa?


Mereka memang belum pernah bertanya mengenai kejadian ini. Hanya saja, yang mereka ketahui, Lord berhasil menyingkirkan Katastrofi.


Tapi Lord pernah bilang, bahwa mereka masih belum bisa tenang. Hal ini juga yang membuat mereka baru bisa mengembalikan kondisi Darkness World kesedia kala setelah 20 tahun, dan selama itu juga Lord baru bisa membawa Ratu Lezzy kembali ke Kerajaan.


"Sepertinya kalian sudah paham. Meski aku juga tidak tahu apa yang terjadi di waktu itu, tapi aku menduga bahwa masih ada satu peran yang belum sempat terlibat di layar utama atau sebenarnya dia sudah menampilkan diri hanya saja dia bersembunyi dibalik layar. Bukan kah musuh yang sebenarnya suka permainan yang rumit untuk bisa menemukannya?"


"Jadi maksud anda, Katastrofi bukanlah pimpinan Carlitos yang sebenarnya?"


"Ya, Katastrofi adalah bidik catur Ratu yang paling tepat untuk mengklabui lawan dan saat kita berhasil teralihkan, kita akan melupakan bidik Raja yang berdiri diam diposisi paling belakang. Cih, aku jadi ingin lebih cepat menghancurkan mereka tanpa sisa."


Alberd dan Briant benar-benar terpukau dengan analisa Welliam yang begitu sangat detail, bahkan hal yang tak terpikirkan bisa ia teliti tanpa ada celah sedikit pun.


Mereka memang tahu Pangeran Demon ini memiliki sisi yang 100% mirip Lord nya, tapi tetap saja mereka memiliki perbedaan keunggulnya masing-masing.


Mereka berdua tersenyum, sepertinya Pangeran yang dulu masih sangat belia kini tumbuh dengan sangat kuat dan jauh sangat ganas dari Lord nya dulu. Kejeniusan di usia 4 tahun membimbingnya menjadi sosok pemimpin yang tak terkalahkan.


"Kalau begitu, perintah anda selanjutnya, Paduka Yang Mulia!"


Alberd dan Briant berekuk lutut, menunggu perintah dari sang Pengeran dalam menyusun strategi selanjutnya.


"Untuk saat ini, kumpulkan semua informasi Carlitos dari tahun ketahun. Terutama daftar Bangsawan yang pernah menjdai Tetua sebelumnya. Aku sendiri yang akan memeriksanya, beritahu juga kepada Styvn untuk menyusul Fivian di wilayah barat daya. Satu lagi, beberapa hari ini Zymba akan kulepas untuk patroli keseluruh wilayah Lucifer Kingdom, sepertinya mereka mulai menjadi lalat di wilayahku. Pergi dan laksanakan perintahku!"


"Akan kami laksanakan, Yang Mulia!"


Briant dan Alberd pergi, sedangkan Welliam masih menggenggam kuat pada tangan yang terdapat kupu-kupu emas tadi meski telah menjadi abu.


"Brianties noe!"


( postion penghalang )


Pola sihir berwarna merah kehitaman terukir dengan sangat besar di langit wilayah Lorddark's (Lucifer Kingdom).


Beberapa tulisan abstrak yang menjadi mantra kuno Lorddark's, berderet bagaikan pilar-pilar disetiap sisi batas wilayah, lalu membentuk benteng perlindungan besar tak kasat mata.


Welliam mencoba membuat sihir pelindung agar serangga yang mencoba memasuki kawasan inti Darkness World tidak memata-matai lebih jauh lagi.


"Untuk bisa membaca strategi lawan, aku perlu mengikuti alurnya dulu. Karena masalahnya belum ada yang tahu sosok Raja dari musuh sebenarnya, jika mereka menerobos masuk wilayah Lorddark's Zone berarti benda yang mereka cari ada disana? Tapi apa?"


"Yang Mulia, semua persiapan telah siap."


Loise datang memberi kabar.


"Hn. Kita akan pergi saat malam hari."


"Baik, Yang Mulia."


--.o☘o.--


*Castle Violence


~Kediaman Aletha.


Hari berlalu dengan begitu cepat, entah mengapa setiap Aletha mulai merasa nyaman pasti akan segera hilang. Rasanya baru tadi dia bangun dan kini malah malam menyapanya lagi, apa kerjaannya disini hanya makan, tidur dan jalan-jalan saja?


Mana untuk beberapa hari kedepan ia tidak bisa bertemu dengan Fivian, karena katanya saat ini ada urusan yang mengharuskannya pergi keperbatasan wilayah. Meski sedikit berisik tapi Aletha mulai nyaman dengan Fivian, tapi malah digantikan dengan pelayan baru.


Fivian


"..... aku jadi merindukanmu,"


"Merindukan siapa?"


"Uwah!"


Hup!


Aletha hampir saja terjatuh dari balkon lagi, karena posisinya saat ini sedang duduk diatas pagar balkon tempat kamarnya dulu.


Jika saja Welliam tidak sigap menahan tangan Aletha sudah dipastikan, Aletha akan jatuh untuk kedua kalinya dari lantai atas yang sangat tinggi.


Welliam menarik Aletha kepelukannya, membuat kepala mungilnya menghantam dada kokoh Welliam. Kedua mata biru mereka saling bertemu dalam satu tatapan.


"Sedang apa kau disini, apa kau berniat melompat lagi?"


"Tentu saja tidak!" Ucap Aletha sembari melepaskan diri, lalu berdiri disebelah Welliam.


"Masuklah, malam ini udaranya sangat dingin. Gaun tidurmu tidak bisa menghangatkanmu, aku tidak mau memanggil Alkemis istana lagi jika kau sampai sakit dan tidur untuk waktu yang lama."


"Memangnya aku putri tidur ha! Meski sakit, paling juga hanya flu."


"Tetap saja, aku tidak mengizinkanmu sakit walau itu hanya flu ringan."


"Benar-benar pria yang kejam !"


Welliam memakaikan Aletha mantel hangatnya, lalu kembali memainkan surai rambut sutra milik Aletha. Beberapa desiran rona merah terkukis tipis dipipinya, Aletha memalingkan wajahnya mencoba menutupi rasa gugupnya.


"Untuk beberapa hari kedepan, aku tidak bisa menemuimu."


"Eh, kenapa?"


Welliam tersenyum arti mendengar ucapan Aletha, yang seolah terdengar tidak ingin ia pergi.


"Ada beberapa masalah dibeberapa wilayah. Jangan khawatir aku akan segera kembali, lagi pula kau bisa mati bosan karena merindukanku."


"Ha?! Aku malah bersyukur kau pergi, dengan begitu aku bisa bebas melarikan diri."


"Ho.., sepertinya kau lupa ancamanku Aletha."


Aletha merinding saat melihat senyuman penuh sindiran yang mengingatkannya dengan peristiwa Welliam membawanya ke Villa pribadinya. Tidak itu lebih buruk jika sampai Iblis ini mengurungnya lagi.


"A-aku bercanda, lagian seberusaha apa pun aku melarikan diri, kau pasti akan menangkapku!"


"Tentu saja, apa yang menjadi milikku harus tetap disisiku."


"Kata-katamu terdengar bahwa aku hanyalah barang pajanganmu."


"Kenapa kau berfikir begitu? Padahal yang kumaksud adalah menjadi Ratuku hingga akhir hayat kita."


Jika dikatakan dengan nada lembut serta senyuman tulus, malah membuat Aletha merasa mual karena menurutnya image-nya tidak sesuai dengan karakter sadisnya.


"Pergilah, aku ingin istirahat!"


"Kau tidak mau menatapku lebih lama?"


"Kenapa?"


"Malam ini juga aku akan pergi, dan sepertinya tidak bisa kembali lebih cepat. Baiklah, istirahatlah.., aku akan siap-siap untuk pergi."


Saat hendak melangkah pergi, secara reflek Alethan menarik baju kemeja putih Welliam untuk menghentikannya. Aletha sendiri bingung, tapi tubuhnya tidak bisa ia kendalikan.


"Apa sekarang kau takut kutinggal sendirian?"


"H-ha! Mana mungkin. Tadi hanya ada lalat saja, cepatlah pergi!" Aletha benar-bebar malu, kenapa dia bisa melakukan hal itu sih.


Walau jujur saat Welliam bilang tidak akan bisa menemuinya, rasanya ada perasaan sakit di dadanya. Tapi kenapa begitu?


"Baiklah, aku akan disini untuk beberapa saat."


Tiba-tiba saja, Welliam sudah berbaring diatas kasur Aletha, dengan tangan kanan menopang kepalanya.


"Apa! Tidak kau harus cepat pergi, jangan tidur disitu aku tidak suka!"


"Tapi aku suka."


"Aku bilang pergi!"


"Baiklah, aku akan pergi jika kau menyanyikan sebuah lagu untukku." Ucap Welliam dengan wajah yang menantang.


"Ha?"


--.o🍁o.--