
"Sepertinya, sudah waktunya...."
Angin berhembus kencang. Liontin biru milik kalung Aletha yang masih dileher Welliam kembali bersinar.
Begitu juga dengan bungan Wisteria yang turut bercahaya, dengan cahayanya yang menyerupai kilauan permata. Bahkan sinar rembulan merubah batang pohonnya menjadi gemilang perak.
Nyanyian peri hutan yang tertidur ribuan abad terdengar kembali, setelah terakhir kalinya Lezzy membangunkan mereka 524 tahun yang lalu.
Puluhan bunga teratai berganti menjadi padang bunga Lycoris yang tumbuh di dalam danau, membuat air danau bagaikan lapisan kaca yang menjaga keindahan bunganya.
Pilar-pilar yang tadi memutari daratan kecil itu, hancur menjadi ribuan burung kecil Canaria berwarna biru. Terbang sembari membawa kelopak bunga Wisteria keseluruh Darkness World.
Setiap kelopak bunga yang jatuh ketanah, diikuti dengan satu burung Canaria berubah menjadi air seolah menyiraminya. Tumbuh menjadi pohon Wisteria, seluruh penghuni Darkness World terpukau melihat fenomena tumbuhnya bunga indah yang baru pertama kali mereka lihat.
Lucy tersenyum melihat hujan tiap kelopak bunganya. Sepertinya akan ada perbincangan hangat di perjamuan kalangan bangsawan nanti, sedangkan Lezzy dab Olyfia yang melihat dari balkon Kerajaan juga turut lega.
Rasa khawatir yang sejak tadi tak hilang akhirnya sirna juga. Lezzy mengadahkan tangannya, membiarkan dia menggenggam kelopak bunga Wisteria.
"Sepertinya kau telah bertemu dengan Putraku, Ibu.."
Berbeda halnya diposisi Fedrick, meski kagum tapi itu tidak terlalu menarik perhatiannya. Sejak ia meninggalkan kamar Putranya, Fedrick pergi menuju Lorddark's Zone untuk melihat pedang hitam yang masih dijaga olehnya hingga pemiliknya tiba, seperti yang diucapkan Selini Thea.
Sebelum ribuan bunga Wisteria menghujani dunianya, pedang ini bersinar seolah ikut bereaksi dengan keadaan ini. Mungkinkah pemilik pedangnya telah hadir?
Fedrick keluar dari tempat penyimpanan pedang itu, bahkan seluruh hutan Lorddark's Zone yang sebelumnya gelap dan tandus. Turut berubah menjadi taman bunga Wiseria, melihat tumbuhnya bunga ini membuat Fedrick tersenyum smrik.
Ia jadi ingat saat Fedrick hendak menikam Aletha. Aletha berhasil mengelak dan menghilang dari hadapannya, dengan menyisihkan kelopak bunga seperti ini ditanah.
"Jadi, ini yang dinamakan bunga Wisteria? Ck. Benar-benar menarik seperti dia."
.
.
Welliam menatap tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ini terlalu menakjubkan, bahkan kalung yang sebelumnya retak telah kembali normal.
Welliam melirik wanita mysterius yang duduk di ayunan. Apa wanita itu yang melakukannya?
"Jika kau berfikir aku yang melakukannya, pendapatmu salah."
"Lalu?"
"Perubahan ini merupakan bentuk dari kembalinya Aletha."
"Maksudmu?"
"Seperti yang sudah kukatakan, Wisteria dan Aletha adalah satu jiwa. Bunga ini telah tumbuh diseluruh penjuru wilayah, menandakan bahwa alam ingin memberitahu sosok Aletha yang telah lama bersembunyi, kini telah kembali. Kau telah melihat sendiri siapa Aletha meski tidak semuanya dijelaskan." Ucapnya sembari berjalan kearah Welliam.
"Aku memang tahu bahwa dia bukan seorang Manusia apalagi bagian dari Darkness World. Tapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari bangsa Imorrtal, kalau begitu apakah Aletha juga seorang Dewi?"
"Dengar ini baik-baik, Welliam. Rasa ingin tahumu itu bisa membunuhnya suatu saat nanti. Ingatlah, jangan cari tahu apapun mengenai sosoknya yang sebenarnya, bila kau masih ingin bersamanya."
"Jadi maksudmu, bisa saja dia pergi kapanpun hanya karena identitasnya Dewinya terungkap?"
"Ya, asalkan kalian tidak tahu gelar Dewinya dia akan aman. Meski aku yang membuat persyaratan itu, tapi aku mungkin bisa saja mengikarinya. Hanya saja, tidak untuk mereka.."
"Mereka?"
"Welliam, kau sudah tahu semua permasalahan di Darkness World. Mulai dari kisah Rechyla hingga kisah kedua orangtuamu, buku Darkness World dan buku milik Ibumu adalah kuncinya. Kau telah diberi petunjuk, bahwa sebenarnya masalah Darkness World berkaitan juga dengan masalah yang ada di Imorrtal. Kalian adalah yang terpilih. Alam ingin kalian membebaskan seluruh dunia dari peraturan tak beradil yang dibuat oleh orang-orang tamak."
"Cih, bahkan para Dewa yang mengira dirinya paling benar pun, bisa memiliki konflik yang rumit."
"Dewa bukanlah sang pencipta, Welliam. Tidak ada yang abadi di seluruh dunia. Makhluk seperti kita hanya diberi waktu kematian jauh lebih lama dibandingkan Manusia, dengan diberikan anugrah berkekuatan besar. Dewa akan menjadi bintang, Demon akan menjadi langit malam, Vampire akan menjadi abu, Fairy akan menjadi tumbuhan, Warewolf akan menjadi serpihan salju, Merrmaid akan menjadi buih dilautan, Elf akan menjadi langit fajar, Witch akan menjadi kabut, Mirach akan menjadi air, dan Manusia akan menjadi tanah. Semua akan kembali menjadi susunan alam, meski kita berbeda dunia. Nabsu akan sebuah ketamakan adalah penyakit yang tidak pernah ada obatnya, jika bukan dirinya sendiri yang sadar akan sugesti keinginan arrogantnya. Kau harus bisa menjadi pemimpin yang adil Welliam, setidaknya hentikan pertikaian ini."
Welliam cukup tertegun, seolah dia telah mendapatkan pemahaman baru mengenai hukum alam dan pemimpin.
"Bukankah alam harusnya menentang aku yang seorang Demon dengan Aletha yang seorang Dewi, untuk bisa bersama? Lalu kenapa kami yang terpilih?"
"Kalian tidak melawan alam, kalian memang ditakdirkan untuk terlahir menjadi seorang penguasa. Jika pun memang harus mengikuti peraturan yang dibuat oleh Dewa Alam, kalian juga tidak melanggar karena kau pun bagian dari Imorrtal meski tidak resmi. Ah, kau tidak pernah perduli mengenai itu. Karena ada atau tidaknya peraturan itu, kau pasti akan tetap bersikeras untuk membuat Aletha tetap disisimu.."
"Aku bagian Imorrtal?"
"Kau akan paham, Welliam. Aku hanya ingin kalian yang terpilih bisa merubah sistem peraturan kejam, yang terlalau membeda-bedakan kasta hanya untuk kekuasaan. Dan juga kalian bisa menghentikan sosok yang menjadi dalang dari ini semua, agar dia tidak tersesat dalam kebencian dan dendam."
"Aku pasti akan membongkar semua rahasia ini, dan menyeret kekuar tokoh antagonis yang sebenarnya!"
Wanita itu tersenyum lega, "setidaknya, kau mewarisi jiwa pemimpin Vasilias dari Ayahmu."
Welliam sedikit heran dengan ucapannya, tapi ia tidak terlalau memperdulikan soal itu. "Jadi, bisa kau sebutkan namamu? Walau terlihat muda tapi aku yakin kau wanita tua yang berwajah seperti nenek-nenek. Katakan siapa kau?"
Ucapan Welliam membaut wanita itu menggeram kesal, ia menarik kuping Welliam sedikit kuat. "Kau dan Ayahmu adalah Demon yang paling menyenalkan ya!"
"Akh! Apa yang kau lakukan, tidak tahukah kau siapa diriku?!"
"Aku tahu! Tapi sepertinya kau anak muda yang perlu diberi pelajaran, agar bisa berbicara sopan kepada yang lebih tua! Harusnya aku memberitahu Alice untuk mendidikmu sebagau Crownsiamoer bukan sebagai Lorddarks! Wah, kesabaranku sudah habis!" Wanita kian menarik kuping Welliam dengan sangat geram.
"Aa..argh! Lepaskan, Kau--"
"Egh!"
"Aletha.."
Mendengar lenguhan lembut dari Aletha, membuat Welliam kembali fokus kepada Matenya. Sepertinya kesadaran Aletha mulai kembaki, syukurlah..
"Sepertinya, sudah waktuku untuk pergi.."
Wanita itu beranjak pergi, kabut putih dengan dua ekor Rusa putih kembali menyelimuti sosok rupawan itu.
"Kuharap, kau tidak melupakan pembicaraan kita di hari ini. Yang Mulia Lord."
"Setidaknya, beritahu aku namamu?"
"Namaku, Selini Thea Crownsiamoer."
"Selini Thea," Welliam tersenyum.
"Jika saja aku punya banyak waktu untuk bertemu dan bermain bersama kalian sedari kecil, pasti akan sangat menyenangkan saat kalian mengenaliku se--"
"Kau selalu bersama kami, kau selalu mengkhawatirkan kami, dan kau selalu melindungi kami. Meski aku tidak tahu sosokmu yang sebenarnya, tapi hanya dengan nama itu aku bisa mengenalimu."
".............." Selini Thea menatap lirih.
"Dulu saat Lucy hampir jatuh dari pohon, kau yang memberitahuku untuk segera menyelamatkannya. Mungkin Lucy belum menyadarinya tapi aku suda tahu semuanya walau masih dalam keterdugaan, dan saat kau memberitahukan namamu aku jadi mempercayainya."
"Kau tahu siapa aku?"
"Tentu saja, namamu yang merupakan cerminan rembulan. Seorang wanita hebat yang telah mengirimkan malaikat pelindung untuk kami sebut orangtua, kau adalah .............."
Selini Thea diam tertegun. Meski tidak diucapkan sangat lantang, meski tidak dikatakan dengan sangat jelas. Tapi Selini Thea dapat membaca pergerakan bibir Welliam, bahwa dia baru saja berkata 'Nenek kami'.
Ia tidak menyangka akan bisa mendengar cucunya memanggilnya seprti itu, bahkan dulu ia juga tidak menyangka bahwa Lezzy memanggilnya dengan sebutan Ibu.
Selini Thea takut kalau saja dia ditolak sebagai Ibu karena ia tak pernah bersama Lezzy. ia juga sempat khawatir bagaimana jika cucunya tidak menerimanya sebagai Nenek, karena dia tidak pernah bertemu mereka.
Tapi kini rasanya lega hanya karena dia bisa dipanggil dua nama itu. Ia tidak pernah memperdulikan kedudukannya yang tertinggi sebagai Vasilissa di Imorrtal.
Asalkan dia bisa membuat keturunannya bahagia dan tidak berakhir seprtinya, itu sudah cukup untuknya. Selini Thea tersenyum, lalu kembali berjalan pergi.
"Kau sudah tahu siapa diriku, tapi masih bersikap acuh seperti itu. Sungguh Cucu yang nakal.."
Kabut itu menghilang begitu juga dengan sosoknya. Semua kembali hening menyisihkan kehangatan antara Welliam dan Aletha. Tapi haris Welliam akui, bahwa ia bangga memiliki Nenek dari garis Ibunya yang sangat cantik dan hebat.
"Akhirnya aku mendengar suaramu lagi, Aletha.."
Mata biru langit penuh gemerlap cahaya, tangan mungil yang menyentuh wajahnya. Membawa kehangatan bagi Welliam, Aletha menatap rindu kekasihnya.
"Kau membuatku takut setengah mati, kukira aku tidak akan bisa melihat kehadiranmu lagi, Aletha."
"Aku tidak akan pergi dari sisimu lagi, Welliam. Tapi, ini dimana?"
Aletha terlihat bingung, melihat lingkungannya yang berbeda dan juga tempat ini begitu sangat indah.
"Ini adalah tempat yang menyimpan kenangan kita, bukan benang merah yang menghubungkan kita. Tapi bunga Wisteria yang mempertemukan kita."
"Kau jadi pintar dalam berpuitis ya,"
"Benarkah? Mungkin karena ajarannya."
"Ajaran siapa?"
"Ekhem! Lupakan, sekarang waktunya aku meminta bayaran sebagai gantinya kau telah membuatku khawatir!"
"Ba-bayaran yang seperti apa?"
Welliam tersenyum smrik. Melihat senyuman dan mata Demonnya, membuat Aletha memeluk tubuhnya sendiri dan sedikit memundurkan dirinya dari Welliam.
"Jangan coba-ckba kau berfikir mesum terhadapku, Welliam!"
"Kenapa? Jika kita ingin mendapat restu Ayahku, kita harus memberikan cucu untuknya."
Aletha menggeleng cepat, "tidak mau, kau terlalu buas. Lagipula, kita belum resmi. Jadi menjauh lah dariku sedi...kit!"
"Baikalah, karena aku juga sudah lelah bersabar. Seminggu lagi akan kuadakan acara pernikahan kita."
"Apa?!"
"Kenapa? Kau tidak suka?"
"Kenapa secepat itu? Dan juga.. lamarannya sungguh tidak asik( ͡°³ ͡°)"
"Lalu kau ingin yang seperti apa?"
"Ekhem! Saat aku menjadi Megumi, aku selalu di lamar dengan sangat berfariasi dan romantis.."
"Cih, jadi maksudmu. Aku harus mengikuti gaya mereka dari sekelompok Pria yang kau benci, Aletha?"
"Aa..m, tidak."
Sial, Aletha lupa mengenai itu. Dia menolak lamaran Manusia karena tidak suka sikap angkuh yang hanya menginginkan kekayaannya saja, tapi maksud Aletha bukan begitu-,-
Masa Welliam tidak paham dengan keinginananya, tidak masalah kalau mereka harus menikah cepat. Toh dia juga sudah bosan hidup sendiri, tapi Aletha juga ingin merasakan yang namanya romantis. Apalagi dengan orang yang disukainya.
"Cih, Callister jauh lebih baik dalam memahamiku dibandingkan dirimu!"
"Callister? Siapa dia?!"
"Hanya rekan, luapakan lah. Aku lelah.." Aletha berdiri laku berjalan pergi.
"Aletha tunggu, apa dia pernah melamarmu?"
"Dia tidak mungkin melamarku!"
"Aku tidak percaya, kau bahkan mengingat namanya!"
"Ah, kepalaku sakit. Welliam kita bahas dilain waktu, aku sungguh sedang sakit..".
" Melihat kau sudah bisa bertingkah, menandakan kau telah sembuh! Sekarang katakan, siapa dia?"
"Oh, ayolah. Aku baru saja terbangun dati mimpi buruk yang menyeramakn! Sudah lah.."
"Aletha!!"
Aletha menutup kupingnya kemudian berlari mencoba menghindari Welliam. Padahal nama Callister adalah hewan legenda milik Aletha, yang sudah beberapa abad ini ia suruh bersembunyi selama kepergiannya. Tapi boleh juga untuk bahan usilnya.
Mulai hari ini dengan bangkitnya setengah dari kekuatannya, pasti akan mulai menimbulkan konflik baru lagi. Maka dari itu Aletha tidak akan melarikan diri, ia harus bisa menghentikan ketidak adilan ini semua.
Terutama untuk musuh mereka yang sebenarnya!
--.o☘o.--
Disisi lain.
PRANG!!
Great Lady menghempas semua makanan yang ada diatas mejanya. Bahkan ia sempat melempar pisau makan kearah cermin diruangannya, sehingga membuat cermin itu tidak lagi sempurna.
Ia menggeram kesal, Great Lady benci dengan jenis bunga ini. Sudah lebih dari 98 abad dia tidak lagi melihat bunga Wisteria tumbuh, bahkan di Imorrtal tidak pernah ditemukan lagi jenis bunga ini.
Ia melirik sinis pada kelopak bunga Wisteria yang memasuki ruangannya dari jendela. Perhiasan emas yang membaluti jari telunjuknya, menggores dalam meja di hadapannya karena aksi kesalnya.
"HUGO!!"
Kupu-kupu hijau terbang memutarinya, ia dapat merasakan kekuatan dari Tuannya sangat kacau. Wanita itu membuka jubah hitamya, menampilkan sosok asli Dewi Great Lady.
"Dia ada disini, apa kau sudah menemukan pedang hitam itu?!"
"Pedang itu ada di Lucifer Kingdom, Pangeran Demon itu juga telah memberikan lapisan sihir pelindung diseluruh batasan wilayah Lorddark's. Aku masih bekum bisa menembusnya."
"Apa aku perduli? Dengar, dia telah kembali, wanita jal**g itu masih hidup!! Selama ini sosoknya lah yang paling merepotkan! Sudah susah payah aku mengusirnya dari Imorrtal. Kukira dia sudah tidak berani lagi menunjukan dirinya, tapi hari ini! Aku merasakan kehadirannya telah kembali!!"
"Aku rasa, dia ada kaitannya dengan Pangeran Demon itu. Ingatkah anda bahwa kalung milik Dewi Agung itu ada padanya?"
Great Lady memutar kembali ingatan dihari itu. Benar, kalung itu terdapat spirit dari wanita itu.
"Jadi selama ini dia bersembunyi di Darkness World?"
"Bukan, selama aku mencari informasi. Aku mendengar berita hangat dari berbagai kalangan ras."
"Apa yang kau dapat?"
"Mereka bilang Pangeran Demon telah menemukan Matenya."
"Pangeran Welliam menemukan Matenya, lalu secara bersamaan juga wanita itu hadir.., ha! Jadi maksudmu, mereka adalah pasangan Mate?"
"Benar."
"Aku perlu bukti. Aku ingin melihatnya dengan kedua mataku sendiri, bahwa dia memang masih hidup! Rencanaku tidak boleh gagal hanya karena kehadirannya, dia yang paling tidak boleh hidup! Hugo, bagaimana pun caranya masuki wilayah Lorddarks. Cari tahu keberadaan dia dan juga pedangnya!!"
Kupu-kupu hijau itu terbang meninggalkan tuannya. Sedangkan Great Lady berjalan keluar balkon, menatap benci pada sekumpulan kelopak bunga Wisteria yang ada di balkonnya.
"Itu berarti dia telah berhasil lepas dari sihir hitam itu! Tapi bagaimana caranya?"
Great Lady meraih bunga Wisteria sembari menggenggam kuat, membuat cairan kental berwarna merah pekat mengalir dari celah jemarinya. Perhiasan kuku itu berhasil menggores tangan lembutnya.
"Tidak ada cara lain, selain menyingkirkannya. Aletha Wisteria harus MATI!!"
--.o🍁o.--