The Queen of Different World

The Queen of Different World
Towards The End Point Of War



__•••°°¢ .' oO🍁Oo '. ¢°°•••__


Aku hanya ingin cinta dari Mate ku, aku hanya ingin kehidupan bahagia seperti mereka, aku hanya ingin diakui, bahwa aku ada layaknya pasangan Mate yang lain.


Jika para Dewa sungguh ada, bisakah kau kabulkan harapan kecilku ini? Harapan sederhana, yang ingin dicintai Mate yang telah ditakdirkan untukku.


Kumohon ...


~ [ Lucy Dainan Lorddark's ] ~


__•••__•••__•••__•••__•••__•••__•••__•••__


.


"Semua telah berak----"


CRASH!


Tangan Harlie yang sedari tadi mencekik kuat Lucy jatuh ketanah, saat dirasa ada sesuatu yang begitu cepat memotong separuh dari tanggannya.


Harlie mundur beberapa langkah sembari memegang tangan kirinya yang terluka parah, ia menggeram dengan sangat kesal. Namun, saat dia melihat Lucy kembali alangkah terkejutnya dia melihat sesosok berjubah putih yang begitu megah dengan mendali emas.


Dilihat sekilaspun tahu, bahwa sosok itu seorang laki-laki, tapi siapa? Tidak sampai disitu, Harlie memberikan salam tatapan dinginnya kepada pria aneh itu. Pria itu menutup telinga Lucy dengan kedua tangannya, lalu melirik tajam kearah Harlie.


Melihat tatapan peringatan itu cukup membuat Harlie merinding, terlebih energi kekuatannya begitu berbeda dengan kaum Demon, bahkan sangat kuat. Siapa pria asing ini?


"Kau yang berasal dari buih lautan, jangan pernah sentuh milik ku!" Ucapnya seraya memberikan tatapan maut yang kian terlihat mengerikan.


Lucy yang tidak mengetahui ucapan pria itu, mulai merasa heran. Tapi, satu hal yang membuatnya terasa nyaman dan begitu hangat. Saat pria itu menatapnya dengan kedua mata permata merah yang sulit untuk dihindari.


Pria itu melepas lembut tangannya dari telinga Lucy, lalu berdiri disebelahnya tanpa mengatakan apapun. Sadar akan situasi, Lucy menjauhkan dirinya lalu melihat panik Harlie yang sedang menahan kesakitan.


Dengan mengabaikan sosok itu, Lucy berlari kecil menghampiri sang Mate, dia hendak menyentuh tangan Harlie namun lagi-lagi Harlie menepisnya.


"Jangan sentuh aku!" Bentak Harlie.


Lucy kembali menarik tangannya, dan kembali diam namun masih dengan raut khawatir.


"Brengs*k! Aku akan membunuhmu!" Maki Harlie sembari menunjuk pria itu, namun bukannya takut justru pria itu malah tertawa merendahkan.


Merasa terhina, Harlie bersiap menyerang sosok itu dengan sangat marah. Bola sihir air terkumpul menjadi sihir kuat yang bersiap menumbangkan musuhnya.


"Aku akan membu--"


"Yang Mulia King!" Tiba-tiba saja Karlos datang dengan tubuh penuh luka fatal.


"Yang Mulia anda harus segera pergi, Ariel telah mencurigai anda. Saat saya melawannya, saya tak dapat mengalahkannya untuk membungkam mulutnya mengenai kecurigaanya terhadap dengan Carlitos. Jadi, anda ha---"


"Kau sempat melawan Ariel, tapi tidak bisa membunuhnya? Karlos apa kau bodoh!"


"Yang Mu---"


"Dasar tidak berguna! Kenapa kau tidak mati saja disana jika kau tidak bisa membunuhnya, bodoh!!"


Harlie yang masih terselimuti api kemarahan secara spontan menyerang Karlos dengan sihir ditangannya. Sihir itu terlalu kuat bagi Karlos untuk dia tahan, sehingga Harlie membunuh Beta nya sendiri hanya demi menutupi jejak mengenai dirinya.


Ia kian benci dengan orang-orang Lucifer Kingdom, teruta pada Lucy. Dia bisa saja kembali menyerang Lucy untuk membunuhnya, tapi sepertinya pria sialan itu pasti akan kembali menyerangnya.


Baiklah, untuk saat ini aku harus mundur.


"Sampai aku mati, aku akan selalu membencimu Lucy!" Harlie melangkah pergi.


"Tunggu, Harl----" Lucy berhenti melangkah saat dirasa tangan kanannya kembali ditahan oleh pria misterius itu.


Pria itu masih setia menutupi dirinya dengan jubah mewahnya, tanpa berniat menunjukan wajah aslinya. Sebenarnya diapa dia?


"Aku ucapkan terimakasih karena telah menolongku, tapi bisakah kau melepaskan tanganmu?" Pinta Lucy yang sedikit risih dengan sikap pria itu.


Namun sepertinya, permintaan Lucy kali ini tidak dituruti, karena pria itu masih setia menggenggam tannya. Lucy menatap heran, dia berusaha melepaskan dirinya. Tapi percuma saja, karena ia tidak bisa melepaskan diri.


Lucy lelah karena terus berontak, akhirnya fia kembali menatap pria itu "Apa kau bangsawan yang mengikuti perang ini?"


".........." Tidak ada respon, pria itu tetap bersikukuh dengan sikap dingin yang tidak banyak bicara.


"AKU TA--Ahk!" Lucy menyentuh lehernya yang masih terasa sakit saat dia meninggikan nada bicaranya.


Cengkraman Harlie meninggalkan bekas memar yang sangat jelas. Rasanya bisa Lucy rasakan tulang lehernya seakan mau retak, ini sungguh menyakitkan.


Tapi, rasa sakit itu hanya terasa sebentar, karena tak lama dari ia merintih sebuah sihir penyembuh memilin Lucy. Sehingga, semua luka yang terukir pada dirinya menghilang tanpa meninggalkan satu bekas pun.


Tunggu dia tidak menggunakan sihirnya, apa mungkin ..., pria ini? Lucy kembali melihat mata merah milik pria itu. Ini aneh, kenapa dia lebih sering menatap matanya? Apa karena begitu indah seperti permata?


"Jangan pernah menangis untuknya,"


"Iya?"


"Itu membuatku kesal!"


"Aku tidak mengerti, kau datang secara tiba-tiba layaknya pahlawan. Tapi, sikapmu ini sungguh tidak bisa aku mengerti."


"Kau tidak perlu mengerti, karena cukup diriku saja yang mengerti pada takdirmu."


"Takdirku?"


Seulas senyum terukir tipis pada wajahnya, melihat Lucy dari dekat. Mungkin, bintang yang ingin dititipkan oleh Vasilissa itu adalah Lucy.


Ini menarik ....


Sosok misterius itu mendekap erat tubuh Lucy, seakan memberikan pengakuan tersirat terhadapnya.


" Aku yang akan mengabulkan semua harapan kecilmu itu, bintang fajar ku "


Di dalam pelukan kejutan itu, Lucy hanya dapat diam. Semua menjadi sunyi, yang terdengar hanyalah degupan jantungnya saja.


Ini aneh, untuk sekali lagi aku merasakan perasaan aneh ini kembali. Bukankah jiwa yang bergejolak senang ini, berarti pertemuan Mate untuk pertama kalinya?


Lalu kenapa aku merasakan seluruh pembuluh darahku begitu bergejok riang terutama pada degupan jantung ini. Ini membuatku risih tapi begitu nyaman, kali ini permainan apalagi yang ingin kau tunjukan, wahai takdirku?


Ini sungguh menyakitiku, hubunganku dengan Mateku sendiri tidak seharmonis Ayah dan Ibu atau bahkan Kedua Kakak ku, kami tidak sehangat mentari dan tak selembut bulan.


Lalu, kenapa aku bisa terluluh oleh pria ini? Bukankah aku telah memiliki Mate? Cih, ini lelucon yang tidak menarik! Aku ingin tahu siapa Dewa yang mempermainkan takdirku hingga semenyedihkan ini.


"Lepaskan!" Lucy mendorong pria itu untuk membuat jarak. Entah mengapa, hati ini terasa panas bila terus mengungkit mengenai kehidupan rumitnya.


"Kau sungguh tidak sopan terhadap seorang perempuan!" Lucy mengalihkan pandangannya.


"Bila wak---"


"Tuan!" Langkah serta ucapan pria itu tertahan saat rekannya yang sepertinya adalah bawahannya datang menghampiri mereka.


"Tuan, seperti yang anda duga. Yang Mulia Vasilissa telah tiada, beliau mengorbankan dirinya demi Arthena Polemou."


Vasilissa? Polemoau? Sepertinya aku pernah dengar ....


Pria itu tidak menggubsir laporan bawahannya. Dia kembali melihat Lucy yang sepertinya sangat tertarik dengan ucapan bawahannya.


"Kau ingin bilang apa tadi?"


Untuk sesaat pria itu menimbang sesuatu pada pikirannya, lalu dengan cepat melepas jubah putihnya dan memakaikannya kepada Lucy. Karena ukuran yang begitu besar, jadinya jubah itu terlihat seperti menutupi seluruh tubuhnya.


Terutama pada tudung kepala yang meraup wajahnya, sehingga dia tidak dapat melihat apapun.


"Bila kau mengikuti arah matahari terbenam dibelakangmu, kau akan segera menemukan Aletha."


"Ale--tunggu, anda mengenal kak Aletha?" Buru-buru Lucy membuka tudung kepala itu untuk mempermudahnya melihat.


Akan tetapi pria itu sudah berjalan pergi memasuki portal sihir yang sepertinya itu adalah gerbang menuju ketempat lain.


Meski Lucy tidak dapat melihat wajahnya karena ia membelakanginya, tapi akhirnya Lucy dapat mengenali satu hal lagi dari pria misterius itu.


Warna rambutnya yang berwarna kuning ke'emasan begitu sangat kontraks dengan pantulan sinar matahari.


Dia seperti cerminan matahari ....


"Ah! Tidak, aku tidak boleh memikirkan pria aneh itu. Sekarang waktunya mencari kakak, bisa gawat jika Kak Aletha dalam bahaya!"


Lucy menatap matahari terbenam, ia menghela nafas. Ternyata perang ini sungguh memakan banyak waktu, bahkan senja pun menyapa mereka.


"Aku harus cepat sebelum malam tiba. Molie ayo!"


---••. ♦ .••---


Gemerisik dari suara dedaunan yang terus terombang-ambing di atas pohon begitu merisih bagi hewan bersyap. Beberapa pohon jatuh tumbang bahkan memporak-poranda bagian dasar tanahnya.


Hingga satu diantara mereka harus kalah, bukan! Mereka tidak akan puas jika mendengar kata kalah dari lawannya melainkan, musuh mereka harus mati hingga tak menjadi hama dalam hidupnya!


Aletha dan Welliam benar-benar terpisah dalam melawan musuh kerajaan. Demi menjauhkan korban lebih banyak lagi, Aletha memancing Tahlia dan membawanya ke tengah hutan Agra.


Sudah banyak sihir manna yang mereka kerahkan untuk melawan. Mungkin bagi Tahlia ini tidak terlalu masalah, tapi bagi Aletha ini sangat bahaya.


Karena jika dia terus menerus menggunakan sihir, itu akan mempengaruhi kekuatan Manna-nya untuk bisa menjaga buah hati pada kandungannya


Sekarang saja Aletha sudah sangat lelah, apa ini pengaruh wanita hamil? Dia harus cepat mengakhirinya dan juga Tahlia tidak boleh tahu bahwa dia sedang mengandung.


Tahlia berdiri diatas ranting pohon menatap kebawah Aletha yang sedang mengatur nafasnya.


"Kau masih saja kuat meski sudah lama tidak berada di medan perang, Aletha ..."


"Begitukah? Aku tersanjung kau masih menjunjung diriku sebagai yang terkuat."


"Kau selalu sombong!"


"Kata sombong adalah ideologi bagi bangsa Imorrtal, sudah sewajarnya Dewi seperti kita memiliki sikap tinggi karena kastanya."


"Ahahahaa..., kau memang yang terbaik Aletha. Tidak hanya untuk Callister saja kau buat mengamuk di medan perang ini, bahkan kau juga bisa membuat mate mu menunjukan taring penguasanya. Tapi, aku penasaran bagaimana bisa Demon itu memiliki spirit best? Kau membantunya?"


"Suamiku adalah pria yang kuat, apa yang tidak mungkin darinya? Jika aku seorang Dewi tertinggi tingkat III, bukankah, itu bagus jika Mate-nya adalah sosok yang kuat juga? Kenapa, kau iri karena Dewi sepertimu tidak memiliki hewan spirit?".


" DIAM!! Hanya karena aku bangsawan rendah bukan berarti aku tidak bisa disamakan dengan kastamu, Aletha! Dari pada memikirkan untuk membunuku, kenapa kau tidak memikirkan rakyatmu di Darkness World Queen Althenia..."


"Jadi begitu, sejak tadi aku selalu penasaran ..., dimana pasukan Titania berada. Seluruh dimensi ini telah kubaca setiap jaraknya, tapi aku tidak mengetahui dimana pasukan pemberontak Imorrtal. Rupanya kau kirim mereka ke Darkness World."


"Ya, untuk bisa mengalihkan perhatianmu, aku membagi kedua pasukan intiku. Carlitos berada di Agra, sedangkan Titania akan menyerang dunia kegelapanpan tanpa ada perlindungan darimu. Terlebih To fos tou fengariou dan juga to iliako fos tidak ada, karena Dewi telah tiada, ahahhaha!!"


"Sepertinya kau cukup senang dengan rencana sia siamu itu."


" ..........." Tahlia langsung diam tidak mengerti.


"Biar kubantu kau memahaminya, mungkin saat ini Yang Mulia Vasilissa telah tiada tapi sayangnya Alexa dan Luna masih hidup untuk menjadi penjaga di dunia itu, kau lupa mereka ada di Darkness World karena Dewi Selini Thea melepasnya sebagai pelindung Lord serta Queen, dan akan selalu seperti itu hingga generasi selanjutnya!"


"Bagaimana bisa? Seharusnya spirit best akan hilang jika Tuan nya mati!"


"Jika Tuan nya mati, tapi tidak berlaku bila Tuan nya masih hidup! Saat ini Queen dan Lord Darkness World masih ada bahkan sedang berhadapan denganmu."


"Kalian semua brengs*k! Aku benar-bebar kesal! Mungkin Luna dan Alexa bisa bertahan, tapi apakah mereka bisa menahan serangan 10.000 Titania ku ? Kaum Imorrtal sangat kuat Aletha, mereka akan segera menghancurkan Darkness World Ahaha-----"


"Ahahahaha! Kau pikir aku bodoh, Tahlia? Dengar kau melupakan satu hal dari diriku."


"Aku?"


"Dulu, Imorrtal kuat dari serangan musuh karena sihir pertahananku. Bunga Wisteria adalah perlindungan yang tak terbantahkan di seluruh dunia fana, tapi sudah 98 abad Imorrtal bebas membuka gerbang dimensi karena hilangnya sang Wisteria. Kau tahu, kenapa aku tenang saja padahal kau memiliki pasukan Imorrtal?"


Tahlia berpikir keras, dia turun dari atas pohon. Mencoba membaca pikiran Aletha.


Pertahanan? Ini juga aneh, dia bisa setenang ini padahal ada jutaan rakyat dalam bahaya jika aku meme---tunggu, jangan jangan ....


"Melihat dari raut wajahmu, kau sepertinya mengerti. Saat ini, Darkness World telah ditumbuhi Wisteria sebagai pertahanan dunia serta kekuatan manna terbesar, Titania tidak akan bisa memasuki Wilayah otoritasku tanpa seizinku. Aku berjanji, tak akan kubuarlan kalian menyakiti atau bahakan memyentuh rakyatku!"


"Aletha !!! Kenapa kau selalu mengganggu rencanaku!"


Duar!!


Boom!


Boom!


"Aku sudah muak denganmu, lihatlah bagaimana aku yang berasal dari kasta rendah memenggal kepalamu. HUGO!!"


Hugo menjadi ribuan kupu-kupu hitam, dia menyatukan dirinya dengan Tahlia. Lalu sebotol kaca kecil mencul di genggaman Tahlia, senyum penuh makna terukir dengan sangat mengerikan.


Aletha yang mengetahui rencana Tahlia berusaha menghentikannya, untuk tidak meminum ramuan dari reset temuan Carzie. Bisa jadi, ia ingin Tahlia menggunakan tubuhnya sebagai kelinci percobaan dari sihir terlarang itu.


"Tahlia jangan!!!"


PRANG!


Terlambat.


Tahlia meneguk habis ramuan itu tanpa mendengarkan ucapan Aletha. Hanya butuh beberapa detik saja, sihir gelap itu bekerja.


Angin kian merusung ombak yang memaksa hutan untuk menari dengan kasar, langit menggelap tanah berguncang. Bahkan Aletha hampir kehilangan keseimbangannya akibat ulah dari kombinasi sihir gelap yang sepertinya kekuatan itu melebihi dari kata kuat!


" Σηκωθείτε, αίμα του σκότους! "


( Bangkitlah, wahai darah kegelapan! )


Dalam satu perintah pada mantra sihir terlarang terucap, seluruh darah yang tergenang hingga tumpukan mayat dari pasukan sekutu maupun musuh ikut terserap kedalam diri Tahlia.


Ini gawat dia menggunakan sihir dari temuan Carzie lalu merubahnya menjadi sihir gelap yang begitu mematikan, menggatikan jutaan mayat dan darah sebagai transaksi untuk membuka sihirnya.


Malam menyapa kedustaan matahari mengenai perang yang melibatkan jutaan nyawa, merubah bulan purnama yang tak memiliki Vasilissa-nya sebagai perantara cahaya kehidupan, dikala mahluk menjadi buta akan kebenaran.


Disela transformasinya menjadi sosok sempurna, Tahlia menjerit kesakitan karena ia akan merasakan tubuh yang tercabik-cabik. Mata hijau menyerupai alam mengaliri air mata kebohongan, darah yang terserap perlahan membentuk sayap berbentuk kupu-kupu di punggung Tahlia.



( ilustrasi )


.


Aletha hanya dapat menatap ketakutan, ia tidak menyangka ambisi palsu akan sebuah kekuatan merubah adik jelitanya menjadi seorang Monster.


Tahlia telah melawan hukum langit yang melarang keras mereka para kaum Imorrtal menghunakan sihir gelap sebagai perantara kekuatan.


Ini bisa mengguncangkan jagat raya bila Tahlia kehilangan kesadarannya. Pada akhirnya, semua ini berjalan sesuai keinginan Octopus untuk menjadikan adiknya sebagai kelinci percobaan, hanya keluarga Tahlia lah yang mampu membuka sihir gelap.


Karena ini bisa beresiko fatal, Ayah Tahlia memilih untuk mati daribpada menggunakan sihirnya. Tapi kini Tahlia malah termakan buaian Octopus.


"Saat surya berkhianat dan rembulan berdusta, kau mungkin akan menjadi dewi perang yang paling adil untuk menghukum para penguasa. Tapi, Tahlia adalah ........."


Ayah benar, masih ada satu cara untuk mengakhiri dusta antara pemimpin dan rakyat yang berkhianat, yaitu hapuskan akar permasalahannya ...


"Tahlia harus mati!" Guman Aletha menahan kecamukan pikiran dari ingatan masa lalunya bersama Ayahnya.


Tahlia menyerang Aletha dengan brutal, sihir kupu-kupu merubah menjadi belati pisau yang bergerak sangat cepat. Pisau itu bahkan menggores lengan serta pipi Aletha, semakin dibiarkan Tahlia menjadi hilang kendali.


Maka dari itu, Aletha hanya punya satu cara untuk dapat memutuskan rantai kehidupan Tahlia, tapi ..., itu juga dapat membahayakan kandungannya jika dia memaksa untuk melakukannya.


Aletha menatap rembulan, ia merindukan kehadiran Selini Thea yang mampu memberikan petunjuk kepada mereka yang tersesat pada pilihan. Waktu terus berjalan, ia tidak ingin kejadian pada Sofia terulang lagi dan merugikan banyak mahluk alam.


Tring !!


Satu langkah Aletha membawa kegelapan pada lingkungan disekitar mereka. Pedang putih yang membawa keadilan bercahaya mengikuti pantulan langkah sang Wisteria.



( ilustrasi II )


Dunia tidak seadil dulu.. tegaslah, bahwa kau ada untuk mengadili mereka, Aletha tis Polemou !


"Tidurlah Tahlia ..., Ayah dan Ibu pasti menyambut malam mu, karena kau juga adalah Wisteria!"


Aletha bergerak dalam sekali serangan cepat, pedang setipis angin itu memecahkan sayap berlumir darah, lalu meneban kuat tubuh sang Timorias.


Serangan cepat itu terlalu sempurna hingga Tahlia tak dapat menahannya, hingga ia pun tumbang dengan luka fatal di lehernya ....


"Aku hanya ingin keberadaanku diakui, kakak ..."


---.•°_~🍁~ _°•.---



Hai apa kabar?


Maaf, selain menulis author juga ada kesibukan lain di dunia nyata hehehehe.....


sudah seminggu lebih, author biarkan kalian menunggu, maaf atas kurang nyamannya.


author baru ada jam istirahat untuk melanjutkannya, jangan khawatir masih ada kejutan lainnya disepanjang menuju EPILOG.


jadi tunggu terus ya❤


salam manis


Author🍁