
--
Arc. Cover Novel { 4 }
⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ꕤ꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷.🍁.꒷ ͝͝͝ ꒦ ͝ ꒷ ͝͝ ꒷ ⃟۪۪⃕᎒🦋⃟ꕤ
Bagaimanapun, hidup ini sangat sederhana ; kita sendiri yang menciptakan keadaan menyulitkan itu.
[ _Anonymous_ ]
──────────── · · · · · ✦
.
*Imorrtal, Kuil Olimpic.
~Villa Crotopus.
Tidak jauh dari Kota Leryvora. Berdiri sebuah bangunan megah yang melayang dengan sangat gagah, di wilayah bintang timur dunia Imorrtal.
Tempat yang dijadikan sebagai kuil suci sekaligus kediaman para ke-12 Tatua Agung. Terbagi menjadi 3 bangunan kuil, yang akan dihuni masing-masing 4 Tetua Agung.
Ada Kuil Meriposca, Kuil Diamysos, dan yang terakhir sekaligus tertinggi kedudukannya adalah Kuil Olimpic. Kuil Olimpic, dikenal sebagi yang paling mendekati kekuatan suci { Matahari dan Rembulan } dan tak bisa dimasuki sembarang orang.
Namun, entah bagaimana Tahlia dapat memasuki kuil agung ini tanpa diberi hukuman berat. Dia juga selalu berhasil menemukan sebuah ruang rahasia, di Villa Crotopus.
Ruang rahasia ini, selalu dijadikan tempat penelitian dari berbagai macam sihir buatan, yang dikembangkan oleh pemimpin Tetua. Sudah lewat 3 hari sejak pernyataan perang Aletha.
Dihari itu, situasi benar-benar sangat kacau, dia tidak menyangka, Welliam telah mempersiapkan penyerangan dadakan dua hari sebelum dia datang ke Lucifer Kingdom.
Penyerangan itu sangat sempurna, Harlie dan Betanya sedang tidak ada dimarkas, itu karena Briant selalu mengawasi daerah itu sehingga mereka tidak bisa berkontak dengannya.
Sedang Katastrofi masih harus sering berada di tabung sihir buatannya, agar kondisinya dalam keadaan baik. Itu sebabnya, Briant menggunakan kesempatan ini untuk memporak-poranda wilayah kekuasaanya.
Ini mengecewakan, saat anggota Carlitos masih saja lemah. Untungnya mereka tidak terlalu banyak yang gugur, sedangkan untuk Titania? Sepertinya dia perlu meminta bantuan pasuka dalam, karena Welliam telah membantai hampir setengah dari jumlah keseluruhan.
Tahlia sedang melihat semua yang ada di ruangan reset milik orang ternama di Imorrtal, terlebih dia melakukannya tanpa sepengetahuan seluruh penghuni Imorrtal.
Atau bisa dikatakan ini rahasia para Tetua, Tahlia juga menggunakan kesempatan ini untuk mengendalikan mereka. Bisa gawat jika rahasia ini diketahui seluruh rakyat, itulah yg ada dipikiran para Tetua.
Mereka selalu ingin melebihi status penguasa sehingga mereka menggila untuk menciptakan kekuatan lebih dari kata maksimal.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku perlu beberapa pasukan Titania mu, Octopus." Ucap Tahlia tanpa mengalihkan dirinya dari beberapa berkas penelitian.
"Kau masih ingin melawannya? Tidak'kah ini merugikanmu? Kau telah kehilangan sebagian pasukanmu."
"Itu sebabnya, aku ingin kau mengirim pasukan Titania yang kusisakan di kediamanmu, untuk bergabung dalam perang ini."
"Kau masih saja tidak puas, dengan apa yang kau capai. Waktu itu kau benar-benar menjebakku. Kukira dihari saat kau menyamar menjadi polemou untuk membunuh Manusia, kita benar-benar telah bekerja sama, tapi dihari itu dengan tenangnya kau melaporkan aksiku kepada Selini Thea, untuk menghukum Dewi Aletha. Peranmu begitu licik diatas panggung ini."
"Selama mereka masih hidup, aku tidak akan puas! Tapi, mengenai kata tidak puas, tidak'kah itu lebih cocok untuk kalian?"
"Apa maksudmu?"
"Oh, lihat ini, kau saja harus berpura-pura bodoh. Dengar Octopus, kau tidak bisa memanfaatkanku unruk kepentingan rencanamu."
"Benarkah? Apa kau fikir, dirimu bisa mengendalikan kami para Tetua, Tahlia?"
"Jangan lupa, aku bisa saja menghancurkan rencanamu. Semua rahasia kalian akan bisa diketahui seluruh penghuni bangsawan, terlebih pnelitianmu itu tidak akan berhasil jika tidak ada bantuan dariku."
"Kau sedang mengancamku?"
"Jika kau berfikir begitu, kebapa tidak? Lagipula, kita mang tidak memihak untuk tujuan yang sama. Saat ini, kau membutuhkan aku dan aku membutuhkanmu, kedekatan kita hanya sebetas membantu satu kali sebelum mengakhirinya. Jadi, kirim saja pasukannya!"
"Ahahaha! Kau benar-benar perempuan egois, aku berani jamin rasa percaya dirimu ini akan segera mengakhiri masa jayamu."
"Aku tidak perduli, jika aku tidak bisa membunuh mereka semua. Setidaknya biarkan aku membunuh satu nyawa yang paling berharga didalam kisah cerita ini! Bila aku gugur di medan perang ini, aku juga tidak akan rugi. Karena setidaknya aku lebih berani dan berhasil daripada kalian, cih."
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"
"Octopus, kalian selalu beranggapan untuk bisa menduduki sebuah tempat suci yang disebut surgawi. Tapi lucunya, kalian semua paling takut dengan kematian, lalu bagaimana kau akan kesana? Apa kau fikir kau layak disana? Bahkan jika kau bertemu Hades sekalipun, gerbang neraka tidak akan terbuka untukmu. Pada akhirnya, semua yang dikatakan Selini Thea akan terwujud untukmu."
"Tahlia! Ingat batasanmu untuk berbicara denganku!!"
"Kurasa sudah cukup pembahasannya. Kau hanya punya pilihan untuk mengirimkan pasukannya, setelah itu kita tidak punya urusan untuk saling bertemu!"
"Tunggu, sebelum kau pergi. Kau perlu memberikan darahmu, seperti yang kau bilang kita hanya saling membutuhkan sekali, sebelum akhirnya pergi tanpa ada pertemuan lagi."
Tahlia tersenyum merendahkan, dia meraih belati pisau dan menyayat telapak tangannya. Membiarkan darahnya mengalir jatuh kedalam cawan emas.
"Apa kau tahu, Tuan Carzie tidak benar-benar mati. Saat ini, dia menggabungkan jiwa kehidupannya pada Soul Of Life milik sang Selini. Aku memberitahumu, agar kau tidak kaget bila melihatnya hidup kembali."
"Jadi maksudmu, ada kemungkinan Manusia itu hidup kembali?"
"Entahlah, tapi itu bisa jadi sebuah kemungkinan. Kita tidak tahu akan seperti apa masa depan. Meski telah kau ramalkan, takdir bisa sajah berubah Octopus." Tahlia mengambil gulungan peta dan berjalan melewati Octopus.
"Kau sungguh ingin menggunakan strategi itu?"
"Ya! Ini satu-satunya cara untuk memisahkan mereks. Oya, kekhawatiranmu kepada mahluk Demon itu, sepertinya perlu diwaspadai. Kaum Lorddark's tidak bisa kau anggap remeh, mereka begitu mengerikan. Bisa-bisa, mereka yang menjadi langit malam akan menelan jutaan bintang yang bersinar. Berhati-hatilah dalam berurusan dengan mereka, Ini nasehatku untukmu, Tuan Agung.."
Tahlia pergi, sedangkan Tetua Octopus mengumpat kesal. Jika Tahlia sampai berbicara sampai seperti iru, dia harus segera menyelesaikan temuan resetnya!
"Aku tidak kan membiarkan, kaum hina itu kembali berada di Imorrtal lagi!!"
Octopus melihat sebuah lukisan seseorang yang telah rusak. Terutama untuk bagian wajah pada lukisan itu, yang terdapat besatan pisau hingga berlubang, sehingga lukisan itu tidak lagi sempurna(?)
--..•°• ☘ •°•..--
Sorak teriak penuh semangat membara terdengar dengan sangat ricuh, beberapa pasukan musuh dan sekutu bertarung digaris depan. Membuat tanah Agra kembali diselimuti darah penuh dendam.
Aletha melihat dengan jelas peperangan ini, namaun kehadirannya seperti tidak dianggap. Dia melihat Tahlia menarik busur panah kearah seseorang.
"Kau akan melihat Mate yang paling kau cintai mati, Aletha."
Aletha melihat Welliam yang bertarung sengit dengan Katastrofi, tidak jauh dari mereka. Ia melihat kondisi Welliam dalam keadaan terluka sangat parah.
Bagaimana jika Welliam tidak bisa mengelak?!
"Tahlia!"
Saat Aletha hendak menghentikan aksi Tahlia, dia sudah dihadang kupu-kupu yang mampu menawannya. Tidak, keadaan semakin gawat.
Tahlia membidik dengan sempurna lalu melepaskan busurnya. Membiarkan panah itu mendeteksi sendiri keberadaan Welliam.
"Tidak! Jangan!" Aletha sudah terlihat frustasi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Tugasku, telah selesai Aletha.."
"Welliam!!"
.
TRING!
Aletha bangun dari tidurnya, dia duduk dengan nafas yang mengalun sangat terburu-buru. Rasanya dada ini sesak dan begitu menakutinya, bebrapa keringat menurun dari dahi jatuh hingga kesudut dagu.
Apa dia sedang bermimpi buruk? Tapi mimpi ini begitu sangat menyeramkan, mimpinya juga terlihat begitu nyata bagaikan bayangan versi rule. Seolah mimpi ini memberikan sebuah pertanda buruk yang mungkin saja bisa terjadi.
Aletha sedikit mengusap rambut silvernya, yang sudah sangat berantakan. Tidak, dia harus tenang. Itu hanya sebuah mimpi dan bila itu petunjuk, maka dia harus membuatnya jangan sampai terwujud!
"Aku tidak boleh terlalu memikirkanya.."
Aletha kembali sadar, dia melihat lingkungan sekitarnya. Dan..kenapa kamarnya begitu sepi? Biasanya Fivian, akan membangunkannya sebelum hari semakin terang.
Tunggu, ada yang aneh! Aletha melihat kamarnya sedikit berantakan. Sadar akan situasi saat ini, dia mengingat kembali apa yang terjadi semalam.
Oh, YANG BENAR SAJA?!
"Akhirnya Kakak bangun juga."
Aletha menoleh. "Lucy?!"
Lucy bangun dari posisi duduknya, lalu menghampiri Aletha yang masih diam terbingung melihatnya. Tentu saja, Aletha akan bingung apalagi dia ada disaat situasi kurang enak seperti ini.
Lucy menatap lekat Kakak Iparnya. Dilihat begitu, membuat Aletha kian menarik selimut dan sedikit memundurkan tubuhnya.
"Wah, aku tidak menyangka. Kukira selama tiga hari ini tidak ada yang melihat Ratu, itu karena Kakak sedang membutuhkan Istirahat. Tapi ternyata, diluar dugaan kalian malah bermesraan. Pantas saja Kak Welliam melarang siapapun menjenguk Ratu.."
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Em, saat Kak Welliam membawa kak Aletha pulang, saat itu kondisi Kakak sangat lemah, dan setelah Kakak dibawa ke kamar. Tidak ada satupun yang boleh menjenguk Kakak, kecuali orang yang diberi izin saja. Lucy khawatir dengan Kakak. Jadi, Lucy nekad menjengukmu.."
"Apa kau tidak bertemu dengan Fivian di depan kamar?"
"Tidak, Lucy kira Kakak sedang beristirahat, jadi aku masuk saja. Tapi ternyata.., em apa kakak semalam sangat buas? Atau ka---"
"Oh, Lucy.., berhati-hatilah dalam berbicara. Disini masih ada pembaca dibawah umur!"
"Mereka'kan tidak bisa melihatnya. lagipula, pembahasanya masih normal."
"Mereka memang tidak bisa melihat, tapi mereka bisa membacanya! Dan juga, kau yang tidak normal tiba-tiba ada dikamarku, sepagi ini?!"
"Apanya pagi, sekarang sudah hampir siang?"
"Siang? Ah! Pokoknya sekarang kau keluar dulu dan jangan lupa panggilkan Fivian."
"Kenapa harus Fivian? Lucy juga bisa membantu Kakak bersiap?"
"Tidak, aku tidak membutuhkanmu. Kumohon keluarlah dulu, Lucy."
"Memangnya kenapa?"
"Karena aku akan membuatmu melupakan semua yang kau lihat. Jadi, cepatlah keluar!"
"Kalau begitu Lucy tidak mau keluar, ini bisa dijadikan bajan referensi untuk menggoda kalian. Terutama Kak Welliam."
"Lucy!!"
"Baiklah-baiklah, Lucy keluar.." Lucy berjalan menuju pintu keluar, namun dia berhenti didepan pintu.
"Apa aku menyamar menjadi Fivian saja?"
"Jangan coba-coba melakukan itu!"
"Iya..iya, Lucy pergi sekarang. Ish, senitif banget hari ini. baru juga bertemu.. "
Lucy kekuar dari kamar Aletha. Tepat saat pintu tertutup, Aletha langsung menghela nafas penuh kelegaan. Kejadian ini jauh lebih menyeramkan dari pada mimpi buruk itu!
Ini semua salah Welliam! Setiap hari, dia selalu membahas perhitungan hukuman untuknya. Apa sebaiknya dia hilangkan saja pintu kamarnya itu?
Ah, memalukan sekali!!
Tok..tok..
"Salam Yang Mulia Queen. Ada yang bisa saya bantu?" Fivian memasuki kamar.
"Kenapa kau tidak ada diposisimu? Dan juga kenapa tidak membangunkan aku?"
"Ah, itu karena.. Paduka melarang kami mendekati kediaman anda, Queen."
"Kalau begitu dimana Paduka Lord?"
"Beliau sedang berada di ruang rapat Dewan, untuk membahas perang yang akan berlangsung 4 hari lagi."
Benar, hamoir saja dia lupa kalau masih ada perang yang harus mereka siapkan dengan sangat matang, walau janganka waktu begitu singkat.
"Bantu aku bersiap, lalu antar aku keruang rapat."
"Baik, Yang Mulia."
--..•°• ☘ •°•..--
*Aula Utama.
~Ruang Rapat Dewan Bangsawan.
Meja bundar berukuran sangat besar dengan diputari 40 kursi bangsawan, yang saat ini hanya terisi 37 kursi. Karena 3 kursi lainnya harus kosong karena utusan King Merrmeid tidak hadir.
Masih banyak yang berdebat mengenai keputusan perang yang begitu mendadak, apalagi waktunya hanya tinggal 4 hari lagi. Umumnya perang akan berlangsung 2 hingga 3 bulan, lebih sedikitnya 1 bulan.
Tapi apa-apaan ini? Mereka hanya punya seminggu sejak pernyataan perang itu. Tidak kah ini sama saja menyerahkan diri kepihak lawan? Sebenarnya apa yang difikirkan Queen!
"Paduka, perang ini akan merugikan kita."
"Benar, kita saja tidak tahu bagaiman bentuk wilayah Agra ini?"
"Ini terlalu mendadak, persediaan makanan akan kurang. Jika kita memaksakan terus berperang dengan Carlitos dengan tenggang hari yang kurang, mungkin kita tidak punya harapan."
"Bahkan, kita tidak tahu berapa lama kita berada dimedan perang. Sebulan? Enam bulan? Atau bisa saja satu tahun? Tolong fikirkan lagi, Yang Mulia. Kami tahu, Queen mengkhawatirkan dunia ini karena kehadiran Carlitos. Tapi, tetap saja, ini terlalu buru-buru."
Ini sudah dua jam setelah rapat kedua ini diadakan, banyak keluhan dari berbagai bangsawan yang sedikit keberatan dengan tempo perang yang begitu cepat.
Fedrick, Welliam, maupun orang-orang kepercayaannya. Terus menghela nafas dan melirik bosan, kenapa tidak? Jika mendengar ocehan mereka yang membual takut dengan perang ini.
Setiap hari mereka mengeluh kepada kerajaan. Agar segera menyingkirkan Carlitos yang menjadi hama terbesar di dunia ini, tapi saat diberi solusi jalan keluarnya mereka malah keberatan.
"Tolong jangan seperti ini, Paduka. Bukankah anda baru saja merenofasi kedudukan bangsawan? Jika banyak bangsawan yang mati gugur dimedan perang, akan sangat sulit mengisi bangku dewan ini kembali."
"Benar, darah biru bangsawan tidak boleh mati sia-sia. Bahkan saya yakin, jika ada Dewa perang. Dewa itu tidak akan merestui pera----"
"Sayangnya, Dewa itu telah merestui perang ini!"
Semua orang yang ada diruang rapat itu, menoleh kebelakang. Menatap Aletha yang saat ini berdiri dilantai dua dari pintu masuk.
--"••>.o🍁o.<••"--